Rabu, 22 November 2017

Allah Allah,
Allah Allah,
Maa lana maulan siwallah.

Apa cuma begini, katamu?
Ya, bernafas hanyalah menghirup, lalu menghembus, menghirup, hembus lagi.
Apakah cuma sekian ini, katamu?
Benar, pusing hidupmu, sekarang kenyang, nanti lapar, kenyang lagi, lapar lagi.
Apa yang sedemikian inikah hidup, katamu?
Betul, sekarang sehat, besok sakit, lusa sehat, sakit, sehat, sakit lagi.
Semua hanya berputar dan kembali, katamu.

Tunggu dulu!
Begini saja, hari ini bersedihlah, sehingga esok engkau mampu berbahagia.
Dan ketika nanti tawa terbit di wajahmu, bergegas dan bersiaplah, karena esok lusa tangis bakal membanjiri sungai air mata mu.
Apa itu makna hidup, katamu?
Jangan kau bicarakan makna, karena ketika kau ungkapkan, ia tak lagi menjadi makna.
Diamlah.

Rasakanlah rindu yang timbul mengepak menjadi cinta.
Kemudian cinta itu mengepompong menjadi rindu.
Apa itu saja, katamu?
Tentu tidak, rindu akan menjadi kupu-kupu penebar cinta. Cinta itu menyerbuk, jatuh ke setiap bunga yang juga mekar oleh rindu.
Maka di situ kita akan bertemu.

Kulla maana dzaita Yaa Hu,
Qola yaa 'abdi Annallah..
Qola yaa 'abdi Annallaah.