Tiba-tiba saya teringat dengan kisah yang cukup populer, yaitu sebuah kisah di mana pada suatu ketika, berjalanlah seorang wanita di daerah gurun yang gersang dan panas. Telah sekian lama Ia berjalan, yang entah tidak disebutkan ke mana tujuannya.
Karena sangat lama Ia berjalan, Ia pun kelelahan dan kehausan, sehingga ia memaksa dirinya memutar sejenak demi mencari sumber air.
Akhirnya setelah sekian lama mencari, Ia menemukan sebuah sumur. Tetapi setelah ia melongok ke dalam, tidak didapatinya tali dan semacam ember untuk mengambil air dari dalam sumur. Ia berpikir sejenak. Kemudian Ia melepas ikat kepalanya, lalu menggunakan sepatunya sebagai pengganti tali dan ember.
Ditimbalah air dari dalam sumur. Dengan susah payah akhirnya ia dapat mengambil sedikit air. Ketika hendak meminum air itu, tiba-tiba datanglah seekor anjing di depannya. Seekor anjing yang kurus kering, memelas, menjulurkan lidahnya seakan mengemis meminta kepada wanita tersebut.
Wanita itu tak tega hatinya. Air itu tak jadi diminumnya dan malah diberikan kepada si anjing itu.
Kisah di atas memang terdengar sangat biasa. Hanya seorang wanita yang sangat kehausan, yang rela memberikan airnya kepada anjing yang juga kehausan. Namun pada hari itu berduyun-duyun malaikat turun ke bumi. Mereka memuji kebesaran Tuhan, karena Tuhan telah mengampuni seluruh dosa wanita itu karena perbuatan "kecil" yang dilakukannya.
Yang membuat kisah ini istimewa: wanita tersebut adalah seorang pelacur.
Kisah ini diambil dari hadist yang saya sendiri lupa diriwayatkan oleh siapa. Yang berarti, kisah ini adalah Kanjeng Nabi sendiri lah yang menceritakan.
Pelajarannya? Silahkan diambil sendiri. Namun bagi saya, kisah ini sangat menyentuh dan membuka pandangan saya tentang kehidupan. Besarnya dosa kami tak sebanding dengan besar dan luasnya semesta ampunan-Mu, Ya Tuhan.
Sabtu, 29 Juli 2017
Kamis, 27 Juli 2017
Tidak takut, tidak khawatir
Kalau tiba-tiba Tuhan menimpakan keburukan kepada saya, alangkah wajarnya saya bersedih, sakit hati, atau mungkin ikut masuk dan tenggelam ke dalam keburukan itu lalu frustasi. Padahal Tuhan sendiri bilang, "...bersamaan dengan kesulitan terdapat kemudahan."
Tetapi Tuhan itu Asy-Syakur, Sang Maha Pensyukur. Tuhan pasti tahu jika saya adalah manusia sewajarnya yang sedang belajar. Wajarlah jika semakin kencang berlari, semakin keras juga saya terjerembab jatuh.
Kemudian ketika kita berhasil menemukan kemudahan itu, kita kembali bangkit. Kembali menjalani kehidupan yang tadinya luas dan bebas yang terkadang malah memenjarakan kita. Kita terpenjara oleh trauma-trauma tentang masalah lampau dan mungkin masalah orang lain. Sehingga untuk melakukan sesuatu, kita jadi semakin hati-hati, atau lebih tepatnya: takut. Padahal Tuhan juga pernah bilang, "Sesungguhnya kekasih-kekasih Allah adalah mereka yang tidak takut atas mereka, ...."
Seseorang yang berani, katanya adalah seseorang yang berhasil berdiri di atas ketakutan mereka. Berani terhadap masalah-masalah yang menimpa atau bahkan yang akan ditimpakan kepadanya. Namun ada juga ketakutan yang lebih halus dan tersamar, yaitu rasa khawatir. Khawatir besok makan apa, makan di mana, bahkan makan siapa. Maka tuhan melanjutkan kalimat di atas dengan; "...dan tidak khawatir atasnya."
Tuhan sungguh Pemurah Hati, karena mau mengajarkan kepada kita cara hidup dengan bermacam-macam cara. Padahal apalah saya, hanya debu yg hidup di sebutir debu, yang mengapung di alam semesta yang tak terhingga luasnya. Mau-maunya Tuhan memperhatikan kita. Namun kemurahan hati Tuhan sering saya sepelekan, sering tidak saya dengarkan.
Tetapi Tuhan itu Asy-Syakur, Sang Maha Pensyukur. Tuhan pasti tahu jika saya adalah manusia sewajarnya yang sedang belajar. Wajarlah jika semakin kencang berlari, semakin keras juga saya terjerembab jatuh.
Kemudian ketika kita berhasil menemukan kemudahan itu, kita kembali bangkit. Kembali menjalani kehidupan yang tadinya luas dan bebas yang terkadang malah memenjarakan kita. Kita terpenjara oleh trauma-trauma tentang masalah lampau dan mungkin masalah orang lain. Sehingga untuk melakukan sesuatu, kita jadi semakin hati-hati, atau lebih tepatnya: takut. Padahal Tuhan juga pernah bilang, "Sesungguhnya kekasih-kekasih Allah adalah mereka yang tidak takut atas mereka, ...."
Seseorang yang berani, katanya adalah seseorang yang berhasil berdiri di atas ketakutan mereka. Berani terhadap masalah-masalah yang menimpa atau bahkan yang akan ditimpakan kepadanya. Namun ada juga ketakutan yang lebih halus dan tersamar, yaitu rasa khawatir. Khawatir besok makan apa, makan di mana, bahkan makan siapa. Maka tuhan melanjutkan kalimat di atas dengan; "...dan tidak khawatir atasnya."
Tuhan sungguh Pemurah Hati, karena mau mengajarkan kepada kita cara hidup dengan bermacam-macam cara. Padahal apalah saya, hanya debu yg hidup di sebutir debu, yang mengapung di alam semesta yang tak terhingga luasnya. Mau-maunya Tuhan memperhatikan kita. Namun kemurahan hati Tuhan sering saya sepelekan, sering tidak saya dengarkan.
Rabu, 19 Juli 2017
Cara Tuhan itu selalu unik. Hari ini saya kembali bersedih hehehe. Di tulisan yang lain saya pernah bercerita tentang udara yang dihembuskan Tuhan ke hati saya. Dan ternyata gelembung udara itu akhir-akhir ini semakin membesar dan membesar, hingga hati ini penuh. Betapa gembiranya.
Tapi karena keluasan hati yang sempit, gelembung itu kemudian pecah. Yang tadinya terasa sangat sejuk, kini menusuk dingin.
Sungguhlah Ya Tuhan, adegan demi adegan yang Engkau tampilkan kepadaku tak mampu sedikitpun kutebak jalan ceritanya.
Allah adalah sutradara terbaik di dunia. Dengan mudahnya hati kita dibolak-balik, dan kita sama sekali tidak berdaya terhadapnya. Sama sekali tidak berdaya.
Ya Lathif, lembutkanlah hati hambamu ini. Sehingga tentang apapun yang sudah dan akan terjadi, hamba mampu bersabar.
Kemudian hamba mohon berilah kelapangan kepadanya. Ialah udaraku, begitupun diri ini padanya. Biarkan udara ini mengisi ruang yang telah kau atur sedemikian rupa. Meskipun itu bukan ruangku, meskipun ruangnya bukan milikku.
Ya Allah, hamba menyerah kalah.
Senin, 10 Juli 2017
Rindu dendam
Lantas, yang mana yang Kau kira? Cinta membuat rindu? Atau rindu yang menyebabkan cinta?
Mungkin selama ini dirimu sedang bercanda. Jangan Kau kecoh apalagi Kau tipu. Terlebih kepada diri dan kesendirianmu. Hanyut dan tenggelamlah Kamu oleh arus gelombangnya. Atau jangan-jangan, dirimu dan diriku hanya mahir merasa. Sedangkan rindu dendam dapat membutakan siapa saja.
Mungkin selama ini dirimu sedang bercanda. Jangan Kau kecoh apalagi Kau tipu. Terlebih kepada diri dan kesendirianmu. Hanyut dan tenggelamlah Kamu oleh arus gelombangnya. Atau jangan-jangan, dirimu dan diriku hanya mahir merasa. Sedangkan rindu dendam dapat membutakan siapa saja.
Rabu, 05 Juli 2017
Rumah
Foto di atas adalah foto sebuah rumah sederhana pada abad ke-6 sampai 7 masehi. Jika kita lihat dari gaya arsitekturalnya, tentu bukan bergaya Jawa atau daerah manapun di belahan bumi nusantara. Tentu pemiliknya adalah orang yang hidup sangat sangat sederhana dan cenderung kekurangan. Replika rumah di atas adalah contoh dari kesederhanaan orang-orang di Jazirah Arab. Tetapi, rumah tersebut mempunyai tempat tersendiri di dalam diri saya.
Replika rumah di atas adalah rumah milik Kanjeng Nabi Muhammad.
Rumah yang ukurannya tidak lebih dari 5m x 3m tersebut mencerminkan hidup manusia dengan ketawadhu'an yang tak tertandingi. Jangankan lantai bata, alas tidur yang Kanjeng Nabi gunakan hanyalah pelepah kurma, yang ketika telah tiba waktu sholat, masih terlihat dengan jelas di mata para sahabat guratan bekas pelepah kurma di permukaan kulit beliau.
Beliau adalah manusianya manusia. Semanusianya manusia. Beliau adalah Nabi, namun jelata. Beliau teladan sekian milyar manusia yang pernah menghirup udara bumi. Bisa saja beliau memohon kepada Allah kekayaan yang tak tertandingi, yang mungkin Allah sendiri juga sudah menawarkan, tetapi beliau sangatlah paham tentang apa yang asli dan tidak asli di kehidupan ini. Beliau memilih menjadi orang biasa.
Hati saya seringkali merasa iri melihat orang yang dapat berjabat tangan dan berfoto dengan idola mereka. Mengkoleksi tulisan-tulisan, tanda tangan, bahkan foto wajah dan berbagai rekaman orang yang diidolai. Sedangkan saya hanya bisa berangan-angan jauh di dalam diri saya sendiri. Kerinduan saya terhalang jarak waktu belasan abad nan jauh di sana. Sampai-sampai rindu itu menjadi dendam, yang saya kebingungan cara melampiaskannya.
Kanjeng Nabi adalah orang agung, makhluk nomor satu di mata Sang Khalik. RI-1 nya alam semesta. Sedangkan saya sendiri jadi manusia pun rasa-rasanya belum mampu. Sangat sering kehidupan menina-bobokan saya.
Beberapa waktu lalu saya sangat asyik berencana, menata cita-cita, hingga hidup saya pun mendadak meletup dan menggebu-gebu. Saya memimpikan hidup mapan meski tak kaya, bermimpi mempunyai rumah dengan pekarangan luas dengan taman dan joglo yang serba indah. Saya susun segala macam strategi, semua saya akali.
Namun Tuhan tetaplah Tuhan Yang Maha Baik. Ditunjukkanlah kepada saya foto rumah Kanjeng Nabi. Seketika hati saya bagai terantuk batu. Beraninya saya mengandai yang bermacam-macam, sedangkan Kanjeng Nabi yang saya idolakan sering mengganjal perutnya dengan batu akibat tak mampu makan berhari-hari.
Bukan berarti saya anti kekayaan, anti duniawi. Tidak. Namun hidup ini sungguhlah palsu jika beralamat di hal semacam itu. Kita kaya, bagus. Tetapi miskin juga tidaklah buruk. Kita berkecukupan adalah baik, namun jika kekurangan lebih sering mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, mengapa tidak?
Baru ketika kita sudah selalu connect dengan Allah, hati kita selalu bermunajat kepada-Nya dan Rasul-Nya, baik dalam terjaga maupun tidur kita, kekayaan dunia bukanlah apa-apa meskipun suatu saat kita miliki sepenuhnya. Namun jika hati ini belum bertaraf itu, alangkah baiknya jangan dulu.
Akan sangat banyak pelajaran yang kita ambil, meski hanya dari secuil kisah dari kesederhanaan Kanjeng Nabi. Beliau adalah pusaka bagi mereka yang meniti jalan kerinduan kesejatian hidup. Maka pusaka itu saya bikinkan rumah di hati. Lalu saya bikin rumah di hati itu sesederhana mungkin sebisa saya. Saya tidak mau yang muluk-muluk. Agar Beliau nyaman dan tidak segan meninggalinya. Shollu 'alan nabi..
Langganan:
Postingan (Atom)
