Permohonanku satu,
OlehNya diberikan kepadaku tongkat
pusaka Baginda Musa.
Kalau boleh tiruannya saja.
Dan atas perkenanNya kugunakan untuk membelah belenggu jantungmu.
Kemudian aku akan keluar. Kuambil jarak sejauh bulan dan bumi.
Kubikin bangku ternyaman.
Dan dari tempatku di bumi,
kusaksikan sambil duduk kusulut rokokku,
dirimu menari-riang berguling di padang bebatuan bulan.
Betapa hebatnya.
Betapa jauhnya.
Begitu lama.
Hingga lantas habis nyala rokok di mulutku.
Kucari sisa sekamnya untuk kusimpan di lentera
jauh di kedalaman diriku.
Suatu saat nanti, entah di kehidupan mana lagi.
Jika diijinkan pejam mata melihat kembali,
ingatan itu masih tetap hidup di dalam sel-sel bersama diriku.