Seusai menyantap hidangan suguhan dari Mas Bait, ternyata malam telah memuncak. Sejak dari tadi Mas Bait minta izin untuk keluar rumah sebentar. "Mau menengok tembakau", katanya. Dan dari situ aku tahu, Mas Bait adalah seorang petani tembakau. Memang biasanya pada tengah malam begini para petani tembakau menjereng rajangan tembakau di luar, diangin-anginkan dan dibiarkan terpapar udara dingin malam hingga dini hari. Alasannya agar rajangan tembakau menjadi lembab sehingga tidak kering dan sepa ketika sudah dilinting menjadi rokok kretek.
Masalah baik atau tidaknya rokok, nanti dulu. Aku tidak punya hak judging apakah rokok itu baik atau tidak. Soalnya aku sendiri adalah Atlet Rokok. Maka ketika kubilang merokok itu baik, orang-orang tidak ada yang akan percaya. Begini saja, sebaiknya kita mengubah sudut pandang agar perdebatan rokok yang selama ini nyaris tidak menjumpai titik temu menjadi sedikit lerem atau mereda.
Yang aku pahami, benar-salah, baik-buruk, ya atau tidak, bukan terletak pada barangnya, tapi pada cara, sudut, titik, dan jarak pandang kita. Itu pun masih belum cukup, karena setiap orang mempunyai persepsi dan presisinya sendiri-sendiri. Jadi sesungguhnya perdebatan semacam itu akan menjadi batal dan tidak pernah benar-benar ada. Pernah juga aku tulis pernyataan bahwa: perdebatan akan sah jika pihak-pihaknya sama-sama berangkat dari nol, ketidakberpihakan, walaupun pada mulanya yang berdebat adalah pihak yang sedang berlawanan.
Lagi pula, fenomena rokok ini sudah tidak lagi tentang sehat atau tidak sehat. Jika kita mau mencari sejarah rokok kretek, maka akan ketahuan, apa dan siapa serta alasan dibalik pertentangan-pertentangan itu. Polanya mirip dengan penghancuran pertanian olive oil di Nusantara pada masa lampau. Aku hanya merasa kasihan dan tidak tega kepada tumbuhan tembakau, apalagi kepada petaninya. Yang membikin Tembakau itu ya Tuhan sendiri, maka jika kau membenci tembakau, berhati-hatilah, bisa-bisa Sang Pencipta Tembakau tersinggung. Lagian, mbok ya kalau berdebat itu tahu posisi, tahu patrap, tahu empan papan. Petani tembakau itu para kawulo alit, kalau mau 'menyadarkan' para petani ya mohon dicari solusinya dulu, jangan asal mbabat suket tapi kambing pun ternyata belum punya.
"Dul.." aku memanggil Hati.
"Dal dul gundhumu," si Hati sewot, "ada apa?"
"Coba lihat ini," aku menyodorkan bungkus rokok pemberian Mas Bait kepada Hati.
"Kenapa bungkus rokok ini?" Hati membolak-balik bungkus rokok itu.
"Merasa ada yang aneh tidak?"
"Hmm..bungkus rokok biasa, cuman agak enteng karena sampeyan udud nyepur daritadi." tawa hati karena memang isi bungkus rokok itu hanya tinggal separuh.
"Coba kamu lihat tanggal pembuatannya."
"Woh!" Hati pura-pura kaget, "tanggal sekian, memang kenapa?"
"Kamu tahu kan kalau itu hari ini?"
"Wah, saya sudah sejak lama melupakan tanggal, lagian tidak penting penanda waktu semacam itu, karena saya tidak mau terpenjara oleh batas-batas waktu. Saya dan sampeyan kan mencari keabadian."
"Lambemu duuul dul. Kita tidak sedang membahas itu. Apa kamu nggak ngerasa aneh? Sebelum masuk ke belantara ini, kita berjalan selama 2 hari dan hanya semak belukar yang kita jumpai. Lalu, dari mana Mas Bait mendatangkan rokok ini?" tanyaku keheranan.
"Lho, lho, lho... kok sampeyan tanyanya ke saya? pertanyaan salah alamat."
Sejenak aku terdiam.
"Apa Mas Bait itu punya ilmu linuwih ya? semacam sakti atau menguasai klenik"
"Gawaat, gawaaat," Hati menepuk jidatnya, "loh sampeyan ini ngobrol dengan Mas Bait panjang lebar sejak tadi itu masih ndak sadar juga tho? kalau saya sih sejak memandang beliau pertama kali langsung tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu kalau akan disuguhi makanan." jawab Hati cengengesan.
"Lha saya sudah sejak awal curiga Mas Bait bukan orang sembarangan, tapi sekarang saya benar-benar yakin."
"Ya sudahlah" ujar Hati, "sampeyan ini kayak ndak pernah mengalami hal-hal ndak wajar semacam itu. Setelah perjalanan panjang kita, seharusnya sampeyan tidak kagetan, tidak gumunan, tidak jirih. Lha wong kuasa Allah itu sangat besar dan luas, hal-hal semacam itu sepele di tangan Allah." Si Hati malah menasihatiku.
"Aku tidak merasa kaget, apalagi takut. Justru aku gembira, karena aku akan menyadari betapa kecilnya aku di tangan Allah, betapa aku tidak berdaya karena Sulthon Allah yang ditampakkan begitu jelas di hadapanku. Betapa aku menyerah kalah di hadapan Allah."
"Tapi ingat,"
Hati mengacungkan tangannya ke arahku,
"jangan pernah sampeyan menganggap Mas Bait itu yang sakti. Karena saya teramat yakin, Mas Bait juga tidak akan sudi jika kita takdzim kepadanya karena hal-hal ajaib yang terjadi pada kita. Sebab, Mas Bait begitu dekat dan teramat cinta kepada Tuhannya. Sehingga hal ajaib semacam ini di luar kesadaran beliau. Karena beliau selalu sibuk bermesraan dengan Tuhannya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah."
"Kalau itu aku juga paham..."
Jumat, 18 November 2016
Kira-kira
Kira-kira,
siapa gerangan kekasih,
yang merangkai atom-atom itu jadi sebutir Benih?
Yang meramu zat-zat tanah hingga Ibu Bumi dengan bahagia menimang Sang Bayi Benih?
Yang merajut pembuluh dan serat-serat hingga Benih tak lagi menjadi Benih?
Yang merajut pembuluh dan serat-serat hingga Benih tak lagi menjadi Benih?
Yang Ibu Bumi tak memiliki kuasa barang secuilpun atas hak Sang Benih untuk tumbuh?
Namun kekasih,
Namun kekasih,
justru karena itu Sang Benih kecil menikmati kasih sayang tulus Ibu Bumi.
Dan karena itu maka:
Ibu Bumi telah menyerah dan sepenuhnya pasrah kepada Sang Pemilik Benih.
Dan karena itu maka:
Ibu Bumi telah menyerah dan sepenuhnya pasrah kepada Sang Pemilik Benih.
Tahukah wahai engkau,
kini Benih itu tumbuh juga di dalam rongga yang Tuhan ciptakan hanya berjumlah satu.
Apakah itu memang engkau?
Apakah ya?
Atau jangan-jangan tidak?
Apapun itu, kekasih,
ini begitu nyata.
Akulah Sang Ibu Bumi yang telah kalah.
Aku Ibu Bumi yang hanya bisa pasrah.
Apakah itu memang engkau?
Apakah ya?
Atau jangan-jangan tidak?
Apapun itu, kekasih,
ini begitu nyata.
Akulah Sang Ibu Bumi yang telah kalah.
Aku Ibu Bumi yang hanya bisa pasrah.
Sabtu, 12 November 2016
Namanya Mas Bait
Aku dan Hati naik ke atas dipan. Kami bertiga duduk melingkar, jika dilihat dalam termin sudut, posisi kami membentuk bangunan segitiga, tapi aku lebih suka jika menyebutnya melingkar, karena tiga sudut ini sesungguhnya bagian dari garis pada sebuah lingkaran. Lingkaran adalah segi tak terbatas. Tak terbatas karena lingkaran adalah batasan itu sendiri. Sesungguhnya, kalau kita hayati lebih dalam, batasan-batasan adalah rukun kehidupan. Sekali lagi, jika kita hayati lebih dalam.
"Terima kasih Mas," kataku, "Mas mau menjamu kami, padahal Mas nggak kenal siapa kami. Apakah Mas ndak takut jika sebenarnya kami ini orang jahat?"
"Wah, njenengan ini lucu. Mana ada orang jahat yang mau jalan-jalan ke tengah belantara seperti ini? Tempat orang jahat bukan di sini, di sini hanya ada kesunyian, dan itu yang panjenengan berdua cari, bukan? Jalan kesunyian yang agung yang kejahatan seringkali menghindarinya."
Aku menggaruk-garuk kepala dan merasa sedikit malu. Tuan Rumah ini pikirannya sungguh tajam. Tetapi aku bertanya-tanya, apa yang beliau lakukan di tengah belantara seperti ini? Apa yang beliau cari? Dan sejak kapan beliau di sini?
"Maaf, kalau saya boleh tau, Mas ini siapa?" tanyaku.
"Saya bukan siapa-siapa, tetapi njenengan boleh memanggil saya..." kalimat beliau berjeda, "Bait... ya, panggil saya Bait." nada bicara beliau mengisyaratkan bahwa Bait bukan nama yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau mempermasalahkannya lebih jauh akan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih Mas Bait, di samping ini sahabat saya, namanya Hati, kalau nama saya..."
"Sudah, cukup!" Mas Bait memotong perkenalanku, "biarlah saya tidak mengetahui nama njenengan, Dik, hal itu lebih baik untuk kita, terutama saya. Supaya perjumpaan kita tidak terjebak pada batas nama-nama. Supaya saya tercegah dari mengharapkan sesuatu dari panjenengan."
Sungguh aneh. Bukannya tadi beliau sendiri yang menyebut nama kepada kami? namun sekarang malah beliau melarangku menyebutkan namaku. Tapi tak apa lah, yang satu ini juga tidak akan aku permasalahkan lebih jauh.
"Monggo, ini ada Wedang Secang," tebakanku mengenai isi ceret itu salah. Mas Bait menuangkan minuman ke gelas kami, "sudah lama saya tidak menjamu tamu seperti ini. Itu juga ada rokok kesukaan panjenengan, silahkan diudud."
Bagaimana Mas Bait tahu rokok kesukaanku? aneh, aneh, aneh. Kebetulan rokokku habis, aku nyalakan sebatang rokok sambil memandangi sekeliling. Ternyata pandanganku dari luar tadi tidak salah. Lampu! aku memandang lampu! Lalu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau.
"Bait, berarti rumah," pandanganku tajam ke mripat beliau, "nama yang Mas pilih bukan nama yang wajar."
"Pikiran sampeyan runcing," kata beliau, kalimat yang sesungguhnya lebih pantas ditujukan pada beliau sendiri, "saya adalah rumah dari diri saya sendiri, sedangkan siapa tuan rumahnya tentu panjenengan juga sudah paham dan mengerti."
"Tuhan," jawabku pendek, "dan Kanjeng Nabi ajudannya."
"Jika benar begitu, lalu di mana letak njenengan pada rumah itu? Tentu rumah ada bagian-bagiannya, ada fungsinya, dan ada tata letaknya. Njenengan mengerti kan maksud saya?"
"Masih belum paham, Mas." jawabku.
"Begini, di dalam rumah tentu ada dinding, ada pintu, kemudian ada jendelanya, lantainya, atapnya, dan terutama kerangka penopang dan fondasinya. Nah, diri sampeyan terletak di mana?"
Aku melirik ke arah Hati, ternyata dia juga terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Keseluruhannya, mungkin?" aku menjawab sekenanya.
"Baiklah, jawaban njenengan masuk akal." kata Mas Bait sambil mengangguk-anggukkan kepala, "tetapi coba njenengan jawab, jika saya menyebut pintu, apakah itu bagian dari diri njenengan?"
"Ya... " jawabku singkat.
"Lalu, jika saya menyebut serat-serat kayu adalah bagian dari pintu, berarti itu juga bagian dari njenengan?"
"Leres, Mas.."
"Lalu, jika saya menyebut unsur-unsur pembentuk serat-serat kayu, apakah itu juga bagian dari diri panjenengan?"
"Betul."
"Dan jika saya menyebutkan yang lebih kecil hingga lebih kecil lagi berupa senyawa dan atom-atom, dan mungkin lebih kecil lagi berupa quark yang sementara ini manusia hanya mampu meneliti sejauh itu, apakah itu bagian dari diri panjenengan juga?"
"Benar sekali, Mas. Pengetahuan Mas sungguh luas, sebenarnya Mas ini siapa?"
"Berarti," Mas Bait meneruskan bicaranya dan tidak menghiraukan pertanyaanku, "bukankah tembok, lantai, genteng, dan lainnya juga disusun dari hal yang sama, sebutlah, quark itu tadi?"
"Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Mas Bait."
"Bolehlah saya mengarang-ngarang bahwa alam semesta ini terdiri dari bahan yang sama, bumi, langit, semuanya. Jika memang begitu, bukannya menjadi batal pernyataan njenengan tadi?"
"Pernyataan saya yang mana, Mas?"
"Jika diri njenengan adalah kesuluruhan dari rumah."
"Bisa benar, bisa juga salah, Mas."
"Maksudnya bagaimana?"
Aku berhenti sejenak, menyeruput Wedang Secang yang terasa begitu hangat di kerongkongan. Terasa sangat pas karena dingin udara akibat hujan di luar yang masih deras.
Aku menyalakan lagi sebatang rokok karena pembicaraan kami ternyata serius. Dan merokok adalah tanda jika aku sedang serius melakukan sesuatu.
"Begini Mas, jika rumah tadi adalah badan saya, maka akan salah jika saya menyebut itu diri sejati saya. Hal itu sekedar batas kesadaran saya, daerah otonomi saya. Wajah dan jiwa, tubuh dan ruh, dan dikotomi-dikotomi lain yang ada pada saya, adalah pinjaman dari Tuhan untuk syarat hidup di dunia, yang tujuan sejatinya adalah pemilik dari kesuluruhan itu, yaitu Tuhan Sang Khalik. Jika saya ada pada kesadaran itu, berarti pernyataan saya menjadi benar."
"Jawaban yang bagus!" Mas Bait tertawa gembira dan bertepuk tangan.
Aku malah keheranan, ternyata Mas Bait juga bisa meledak-ledak ekspresinya.
"Mari kita kerucutkan," kata Mas Bait, "seberapa besar kewenangan sampeyan dalam kesadaran berupa diri tadi?"
"Hampir mendekati nol, Mas."
"Berarti apakah njenengan ini benar-benar ada?"
"Tergantung dari sudut pandangnya. Jika dari sudut pandang materi, ya. Tetapi dari sudut pandang kesadaran tadi, tidak. Jangankan saya sadar siapa saya, mengenal diri saya sendiri pun saya tidak mampu. Dan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan saya tadi justru membuat saya yakin."
"Yakin mengenai apa?"
"Yakin tentang siapa, apa, di mana, dan bagaimana diri saya."
"Bersyukurlah, Dik." Mas Bait menepuk-nepuk bahuku. "bersyukurlah kepada Allah yang lebih mengenal siapa dirimu melebihi dirimu sendiri dan memperjalankanmu hingga ke titik ini. Dan nanti, ketika Allah bermurah hati membuka sedikit rahasianya kepadamu, bergembiralah."
Aku membalas ucapan Mas Bait dengan senyuman. Sungguh aneh perjumpaan kami. Seakan-akan beliau adalah Dewa Ruci yang pernah aku temui. Tetapi siapapun beliau yang terpenting adalah isi dari ucapan-ucapannya. Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola, begitu Sayyidina Ali pernah berkata.
"Terima kasih Mas," kataku, "Mas mau menjamu kami, padahal Mas nggak kenal siapa kami. Apakah Mas ndak takut jika sebenarnya kami ini orang jahat?"
"Wah, njenengan ini lucu. Mana ada orang jahat yang mau jalan-jalan ke tengah belantara seperti ini? Tempat orang jahat bukan di sini, di sini hanya ada kesunyian, dan itu yang panjenengan berdua cari, bukan? Jalan kesunyian yang agung yang kejahatan seringkali menghindarinya."
Aku menggaruk-garuk kepala dan merasa sedikit malu. Tuan Rumah ini pikirannya sungguh tajam. Tetapi aku bertanya-tanya, apa yang beliau lakukan di tengah belantara seperti ini? Apa yang beliau cari? Dan sejak kapan beliau di sini?
"Maaf, kalau saya boleh tau, Mas ini siapa?" tanyaku.
"Saya bukan siapa-siapa, tetapi njenengan boleh memanggil saya..." kalimat beliau berjeda, "Bait... ya, panggil saya Bait." nada bicara beliau mengisyaratkan bahwa Bait bukan nama yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau mempermasalahkannya lebih jauh akan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih Mas Bait, di samping ini sahabat saya, namanya Hati, kalau nama saya..."
"Sudah, cukup!" Mas Bait memotong perkenalanku, "biarlah saya tidak mengetahui nama njenengan, Dik, hal itu lebih baik untuk kita, terutama saya. Supaya perjumpaan kita tidak terjebak pada batas nama-nama. Supaya saya tercegah dari mengharapkan sesuatu dari panjenengan."
Sungguh aneh. Bukannya tadi beliau sendiri yang menyebut nama kepada kami? namun sekarang malah beliau melarangku menyebutkan namaku. Tapi tak apa lah, yang satu ini juga tidak akan aku permasalahkan lebih jauh.
"Monggo, ini ada Wedang Secang," tebakanku mengenai isi ceret itu salah. Mas Bait menuangkan minuman ke gelas kami, "sudah lama saya tidak menjamu tamu seperti ini. Itu juga ada rokok kesukaan panjenengan, silahkan diudud."
Bagaimana Mas Bait tahu rokok kesukaanku? aneh, aneh, aneh. Kebetulan rokokku habis, aku nyalakan sebatang rokok sambil memandangi sekeliling. Ternyata pandanganku dari luar tadi tidak salah. Lampu! aku memandang lampu! Lalu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau.
"Bait, berarti rumah," pandanganku tajam ke mripat beliau, "nama yang Mas pilih bukan nama yang wajar."
"Pikiran sampeyan runcing," kata beliau, kalimat yang sesungguhnya lebih pantas ditujukan pada beliau sendiri, "saya adalah rumah dari diri saya sendiri, sedangkan siapa tuan rumahnya tentu panjenengan juga sudah paham dan mengerti."
"Tuhan," jawabku pendek, "dan Kanjeng Nabi ajudannya."
"Jika benar begitu, lalu di mana letak njenengan pada rumah itu? Tentu rumah ada bagian-bagiannya, ada fungsinya, dan ada tata letaknya. Njenengan mengerti kan maksud saya?"
"Masih belum paham, Mas." jawabku.
"Begini, di dalam rumah tentu ada dinding, ada pintu, kemudian ada jendelanya, lantainya, atapnya, dan terutama kerangka penopang dan fondasinya. Nah, diri sampeyan terletak di mana?"
Aku melirik ke arah Hati, ternyata dia juga terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Keseluruhannya, mungkin?" aku menjawab sekenanya.
"Baiklah, jawaban njenengan masuk akal." kata Mas Bait sambil mengangguk-anggukkan kepala, "tetapi coba njenengan jawab, jika saya menyebut pintu, apakah itu bagian dari diri njenengan?"
"Ya... " jawabku singkat.
"Lalu, jika saya menyebut serat-serat kayu adalah bagian dari pintu, berarti itu juga bagian dari njenengan?"
"Leres, Mas.."
"Lalu, jika saya menyebut unsur-unsur pembentuk serat-serat kayu, apakah itu juga bagian dari diri panjenengan?"
"Betul."
"Dan jika saya menyebutkan yang lebih kecil hingga lebih kecil lagi berupa senyawa dan atom-atom, dan mungkin lebih kecil lagi berupa quark yang sementara ini manusia hanya mampu meneliti sejauh itu, apakah itu bagian dari diri panjenengan juga?"
"Benar sekali, Mas. Pengetahuan Mas sungguh luas, sebenarnya Mas ini siapa?"
"Berarti," Mas Bait meneruskan bicaranya dan tidak menghiraukan pertanyaanku, "bukankah tembok, lantai, genteng, dan lainnya juga disusun dari hal yang sama, sebutlah, quark itu tadi?"
"Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Mas Bait."
"Bolehlah saya mengarang-ngarang bahwa alam semesta ini terdiri dari bahan yang sama, bumi, langit, semuanya. Jika memang begitu, bukannya menjadi batal pernyataan njenengan tadi?"
"Pernyataan saya yang mana, Mas?"
"Jika diri njenengan adalah kesuluruhan dari rumah."
"Bisa benar, bisa juga salah, Mas."
"Maksudnya bagaimana?"
Aku berhenti sejenak, menyeruput Wedang Secang yang terasa begitu hangat di kerongkongan. Terasa sangat pas karena dingin udara akibat hujan di luar yang masih deras.
Aku menyalakan lagi sebatang rokok karena pembicaraan kami ternyata serius. Dan merokok adalah tanda jika aku sedang serius melakukan sesuatu.
"Begini Mas, jika rumah tadi adalah badan saya, maka akan salah jika saya menyebut itu diri sejati saya. Hal itu sekedar batas kesadaran saya, daerah otonomi saya. Wajah dan jiwa, tubuh dan ruh, dan dikotomi-dikotomi lain yang ada pada saya, adalah pinjaman dari Tuhan untuk syarat hidup di dunia, yang tujuan sejatinya adalah pemilik dari kesuluruhan itu, yaitu Tuhan Sang Khalik. Jika saya ada pada kesadaran itu, berarti pernyataan saya menjadi benar."
"Jawaban yang bagus!" Mas Bait tertawa gembira dan bertepuk tangan.
Aku malah keheranan, ternyata Mas Bait juga bisa meledak-ledak ekspresinya.
"Mari kita kerucutkan," kata Mas Bait, "seberapa besar kewenangan sampeyan dalam kesadaran berupa diri tadi?"
"Hampir mendekati nol, Mas."
"Berarti apakah njenengan ini benar-benar ada?"
"Tergantung dari sudut pandangnya. Jika dari sudut pandang materi, ya. Tetapi dari sudut pandang kesadaran tadi, tidak. Jangankan saya sadar siapa saya, mengenal diri saya sendiri pun saya tidak mampu. Dan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan saya tadi justru membuat saya yakin."
"Yakin mengenai apa?"
"Yakin tentang siapa, apa, di mana, dan bagaimana diri saya."
"Bersyukurlah, Dik." Mas Bait menepuk-nepuk bahuku. "bersyukurlah kepada Allah yang lebih mengenal siapa dirimu melebihi dirimu sendiri dan memperjalankanmu hingga ke titik ini. Dan nanti, ketika Allah bermurah hati membuka sedikit rahasianya kepadamu, bergembiralah."
Aku membalas ucapan Mas Bait dengan senyuman. Sungguh aneh perjumpaan kami. Seakan-akan beliau adalah Dewa Ruci yang pernah aku temui. Tetapi siapapun beliau yang terpenting adalah isi dari ucapan-ucapannya. Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola, begitu Sayyidina Ali pernah berkata.
Selasa, 08 November 2016
Salim salaman
Mendung menggelayut, namun sinar mentari sore ini malah tergaris jelas dan tegas membingkai awan hitam menggumpal. O, ini yang namanya paradoks, ini yang namanya dialektika, jika orang-orang melihatnya ngeri, entah kenapa hatiku begitu riang. Semua terlihat indah di mata kami. Tidak ada yang tidak indah, apapun, kecuali diri kami sendiri.
Begitu malam datang, langit tak lagi hitam, langit justru kemerahan. Nyaliku malah menjadi ciut. Ditambah dengan suara dentuman sesekali. Masih untung tak sampai menggelegar. Berkerlap cahaya bagai ritme musik yang manusia sungguh kesulitan untuk mengerti lagi memahaminya. Seakan seisi langit sedang mewiridkan Asma Penciptanya.
Sialnya, kami, aku dan Hati, sedang berada di tengah rimba. Tetapi jangan bayangkan rimba teduh berpayung pohon-pohon lebat menjulang tinggi. Bukan, ini adalah hutan penuh semak, hanya semak dan tak lebih, tanahnya pun becek akibat hujan yang mengguyur mungkin sehari sebelumnya. Ini belantara. Membayangkan hujan yang datang dan kami terjebak di sini saja sudah membuat gilo sendiri.
Bersamaan dengan kesulitan itu terdapat kemudahan, begitu firman Allah. Yang begitu tegas hingga diulang oleh-Nya sekali lagi. Padahal, kengerian kehujanan itu baru hadir di dalam pikiran dan belum benar-benar terjadi. Kemudahan Allah begitu saja muncul di depan mataku. Min haitsu laa yahtasib.
Aku melihat semak yang mengepungku mulai merenggang dan jarang. Sejak awal kami tak memiliki penerangan sama sekali. Ada pun hanya bara yang menyala di ujung sebatang rokok di mulutku. Semak mulai menghilang dan berubah menjadi sebuah pekarangan yang berdiri sebuah gubuk anyaman bambu di tengahnya. Segera aku mendekati dan ternyata terdapat nyala lampu di dalamnya. Ya, lampu, aku tak salah lihat. Namun yang muncul setelahnya adalah keheranan. Ini di tengah rimba, mana ada listrik yang sampai kesini? pikirku. Sama sekali tak terlihat oloran kabel seperti layaknya di perkotaan. Tapi apalah, rasa ngeriku lebih besar dari rasa heranku, segera aku kulo nuwun kepada pemilik rumah.
"Kulo nuwun", aku sedikit mengeraskan volume suaraku.
Tak ada jawaban.
"Ini rumah tak mungkin suwung." kata si Hati.
"Coba kau lihat ke belakang rumah, barangkali tuan rumah sedang ada di sana." suruhku kepada Hati.
"Siap ndan!" ujarnya sambil tegap sikap hormat bak tentara. Tak pelak aku cekikikan sendiri.
Setelah beberapa saat si Hati muncul lagi.
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
Selasa, 01 November 2016
Jika kelak terjadi
Jika kelak engkau bertanya kepadaku wahai kekasih,
Pahamilah.
"Siapa yang engkau cintai?"
Maka jawabku,
Hanya satu dan tiada lain yang kucintai yaitu Allah.
Kau menganggapnya omong kosong.
Dan kau tahu?
Kau benar, kalimatku sekadar pompong bolong.
Lalu aku yang balik bertanya,
"Adakah omongan dan kata-kata yang tidak kosong, wahai kekasih?"
Kemudian kau menjawab dengan diam tak menjawab.
Aku lihat warna kesedihan di rautmu.
Jika kau berkenan, bolehkah kekasih, aku membelai rambutmu?
Boleh tidak pun, aku akan tetap katakan.
Dengarkan wahai kekasih,
Sesungguhnya tiada yang berhak kita cinta kecuali Allah.
Namun dengan kepala tertunduk kau berkata lirih,
bahwa engkau mengerti, tetapi engkau malah jadi sangsi.
"Lantas mengapa kau memilihku dan mengikat janji denganku, sedangkan cintamu bukan untukku?" katamu.
Kekasih, maafkan aku atas kedirianku.
Akulah makhluk cacat yang masih meraba-raba dinding pencarian.
Tetapi mengertilah wahai kekasih, cinta Allah itu mengalir.
Tidak, tidak hanya mengalir, cinta-Nya memancar muncrat bersinar ke segala penjuru!
Pahamilah.
Aku mencintai Allah.
Sedangkan Allah juga sangat mencintaimu.
Jadi mana mungkin aku tidak mencintaimu wahai kekasih?
Saudara ibumu saja kau sayangi,
Jadi mana mungkin kau tidak menyayangi yang Allah sayangi?
Aku meyakini, cintamu kepadaku tidaklah main-main.
Jadi salahkah jika aku melihat cintamu sebagai cinta Allah yang nyata kepadaku?
Ketahuilah, cintaku kepadamu hanya setetes dari tak terbatas samudera cinta-Nya!
Tetapi cinta Allah padamu melaluiku sungguh tak terkira.
Kekasih, masihkah engkau ragu?
Engkau malah menangis.
Lalu aku berkata lagi,
bahwa cinta hanya satu, yaitu kepada Allah, karena tiada yang selain-Nya.
Kita ini tiada, yang ada hanya Allah.
Jika kita tampak saling mencinta,
maka sebenarnya yang saling mencinta itu adalah wujud cinta Allah.
Karena sekali lagi, kita tiada.
Masihkah kau belum mengerti wahai kekasih?
Ah, sudahlah, lebih baik kau basuh wajahmu, dan tolong buatkan secangkir kopi panas untukku.
Namun sedetik kemudian aku tersadar, perbincangan kita ini masih kelak dan belum terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)