"Siapa yang engkau cintai?"
Maka jawabku,
Hanya satu dan tiada lain yang kucintai yaitu Allah.
Kau menganggapnya omong kosong.
Dan kau tahu?
Kau benar, kalimatku sekadar pompong bolong.
Lalu aku yang balik bertanya,
"Adakah omongan dan kata-kata yang tidak kosong, wahai kekasih?"
Kemudian kau menjawab dengan diam tak menjawab.
Aku lihat warna kesedihan di rautmu.
Jika kau berkenan, bolehkah kekasih, aku membelai rambutmu?
Boleh tidak pun, aku akan tetap katakan.
Dengarkan wahai kekasih,
Sesungguhnya tiada yang berhak kita cinta kecuali Allah.
Namun dengan kepala tertunduk kau berkata lirih,
bahwa engkau mengerti, tetapi engkau malah jadi sangsi.
"Lantas mengapa kau memilihku dan mengikat janji denganku, sedangkan cintamu bukan untukku?" katamu.
Kekasih, maafkan aku atas kedirianku.
Akulah makhluk cacat yang masih meraba-raba dinding pencarian.
Tetapi mengertilah wahai kekasih, cinta Allah itu mengalir.
Tidak, tidak hanya mengalir, cinta-Nya memancar muncrat bersinar ke segala penjuru!
Pahamilah.
Aku mencintai Allah.
Sedangkan Allah juga sangat mencintaimu.
Jadi mana mungkin aku tidak mencintaimu wahai kekasih?
Saudara ibumu saja kau sayangi,
Jadi mana mungkin kau tidak menyayangi yang Allah sayangi?
Aku meyakini, cintamu kepadaku tidaklah main-main.
Jadi salahkah jika aku melihat cintamu sebagai cinta Allah yang nyata kepadaku?
Ketahuilah, cintaku kepadamu hanya setetes dari tak terbatas samudera cinta-Nya!
Tetapi cinta Allah padamu melaluiku sungguh tak terkira.
Kekasih, masihkah engkau ragu?
Engkau malah menangis.
Lalu aku berkata lagi,
bahwa cinta hanya satu, yaitu kepada Allah, karena tiada yang selain-Nya.
Kita ini tiada, yang ada hanya Allah.
Jika kita tampak saling mencinta,
maka sebenarnya yang saling mencinta itu adalah wujud cinta Allah.
Karena sekali lagi, kita tiada.
Masihkah kau belum mengerti wahai kekasih?
Ah, sudahlah, lebih baik kau basuh wajahmu, dan tolong buatkan secangkir kopi panas untukku.
Namun sedetik kemudian aku tersadar, perbincangan kita ini masih kelak dan belum terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar