Begitu malam datang, langit tak lagi hitam, langit justru kemerahan. Nyaliku malah menjadi ciut. Ditambah dengan suara dentuman sesekali. Masih untung tak sampai menggelegar. Berkerlap cahaya bagai ritme musik yang manusia sungguh kesulitan untuk mengerti lagi memahaminya. Seakan seisi langit sedang mewiridkan Asma Penciptanya.
Sialnya, kami, aku dan Hati, sedang berada di tengah rimba. Tetapi jangan bayangkan rimba teduh berpayung pohon-pohon lebat menjulang tinggi. Bukan, ini adalah hutan penuh semak, hanya semak dan tak lebih, tanahnya pun becek akibat hujan yang mengguyur mungkin sehari sebelumnya. Ini belantara. Membayangkan hujan yang datang dan kami terjebak di sini saja sudah membuat gilo sendiri.
Bersamaan dengan kesulitan itu terdapat kemudahan, begitu firman Allah. Yang begitu tegas hingga diulang oleh-Nya sekali lagi. Padahal, kengerian kehujanan itu baru hadir di dalam pikiran dan belum benar-benar terjadi. Kemudahan Allah begitu saja muncul di depan mataku. Min haitsu laa yahtasib.
Aku melihat semak yang mengepungku mulai merenggang dan jarang. Sejak awal kami tak memiliki penerangan sama sekali. Ada pun hanya bara yang menyala di ujung sebatang rokok di mulutku. Semak mulai menghilang dan berubah menjadi sebuah pekarangan yang berdiri sebuah gubuk anyaman bambu di tengahnya. Segera aku mendekati dan ternyata terdapat nyala lampu di dalamnya. Ya, lampu, aku tak salah lihat. Namun yang muncul setelahnya adalah keheranan. Ini di tengah rimba, mana ada listrik yang sampai kesini? pikirku. Sama sekali tak terlihat oloran kabel seperti layaknya di perkotaan. Tapi apalah, rasa ngeriku lebih besar dari rasa heranku, segera aku kulo nuwun kepada pemilik rumah.
"Kulo nuwun", aku sedikit mengeraskan volume suaraku.
Tak ada jawaban.
"Ini rumah tak mungkin suwung." kata si Hati.
"Coba kau lihat ke belakang rumah, barangkali tuan rumah sedang ada di sana." suruhku kepada Hati.
"Siap ndan!" ujarnya sambil tegap sikap hormat bak tentara. Tak pelak aku cekikikan sendiri.
Setelah beberapa saat si Hati muncul lagi.
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar