Kamis, 14 Maret 2019

medali

Diantara lemari-lemari kaca itu,
medali yang mana yang kau mau?
Ambil satu dan bawa pulang ke rumahmu 
untuk kau pajang di lemari kaca milikmu.
Ia hanya benda,
kau teramat menyukainya.
Karenanya kau bahagia?
Mungkin iya.
Ia akan berharga bagi sesama pengagumnya.

Usaplah setiap pagi
Gosok dengan kain jerih payah
Agar tak hilang kilaunya
agar pergi debunya.

Bagi pecundang sepertiku
benda semacam itu tentu tak berharga
Karena aku buta.
Mungkin gejala gila.

Karena yang membanggakan untukmu,
Bagiku terlihat bodoh
Sadarlah,
Bahwa yang hebat bukan medali itu,
tapi dirimu.

Penanda kehebatan?
Beri saja bayi medali
ketika ia telah berhasil berdiri.
Patah lehernya sebelum menua

Ya, aku sedang beromongkosong
Jangankan medali, diriku pun palsu
Namun siapa yang tahu?

Berbahagialah dengan bahagiamu.

Punya siapa?

Kok aku hancur.

Ya Tuhan diri ini milikMu.
Jika engkau menghendaki hancur, maka hancurlah.
Ketiadaan justru membuat semua nyata.
Kau bilang diriku boleh mengeluh.
Kau bilang Dirimu selalu melihatku.
Ya Tuhan, aku percaya.

Jika boleh berpendapat, bukankah lebih baik diakhiri saja?

Kau minta aku memerangi diriku.
Nafsuku mengamuk dan menggebu.
Tak kutemukan kebahagiaanku.

Telapak kakiku lengket di lantai teras rumahmu.
Kupaksa lepas, robek hancur kulitku.

Mimpiku hanya seputaran dirimu.
Wangi nafasmu.
Harum rambutmu.
Jernih matamu.
Mungil hidungmu.
Halus kulitmu.
Hangat badanmu.
Genggaman tanganmu.
Suaramu.

Dan lembut ciumanmu.

Membunuhku.
Perlahan.

Yang mungkin membuatku mati.
Untuk kemudian semoga hidup kembali.

Ya Tuhan, hancurkan aku.
Tapi ajari aku untuk tak peduli.
Hinakan aku di dalam kehidupan bikinanMu.
Taruh aku di sela-sela jelaga keburukan duniaMu.
Agar aku tak lagi malas dan sombong menghadapi diriku.

Allahku, Allahku.. tolong aku.



Senin, 11 Maret 2019

Ketika kalimat pun kau tepis,
huruf yang bagaimana lagi kurangkai kata itu.
Maka kulambungkan doa dalam hening,
terima kasih karena telah banyak mengajariku
bahwa manusia memang tak semahal itu.
Apakah nyawa yang sementara ini tak cukup?
Kau yang terlalu naif ataukah aku?
Mungkin jawabnya hanya sesederhana kau air, sedang aku batu.
Kau lubangi aku.
Dan masih banyak bebatuan lain yang menunggumu.
Tuhan sungguh ajaib, hal yang manis itu jadi asam di lidahku.
Sehingga akalku mulas,
butiran pil macam apa yang harus kutelan lewat rongrongan kebodohanku?
Otakku membatu, badanku beku.
Jangan berani-berani bertanya hatiku, ia telah kubuang jauh ke tempat yang dulu sempat kusebut dirimu.
Cinta hanya sulapan mengubah tahi jadi roti.
Ketika ia hancur, kata orang tumbuh seribu.
Seribu macam bumbu yang ada di dalam mulutmu!
Sayat-sayatan panjang, di setiap mili sekujur badanmu.
Rasakan.
Rasakan, diriku, berani kau berikan semua kepada yang selain aku.
Rasakan.
Ambil pahatmu, ukir di kubah dadamu.
Tataplah sampai bosan sampai habis nyawamu.
Sadarlah bahwa kau sekarang tak lebih dari debu diantara batu-batu.
Sedangkan kehidupan memintamu menjadi menara angkuh penantang badai.
Padahal waktu sebentar lagi usai.