medali yang mana yang kau mau?
Ambil satu dan bawa pulang ke rumahmu
untuk kau pajang di lemari kaca milikmu.
Ia hanya benda,
kau teramat menyukainya.
Karenanya kau bahagia?
Mungkin iya.
Ia akan berharga bagi sesama pengagumnya.
Usaplah setiap pagi
Gosok dengan kain jerih payah
Agar tak hilang kilaunya
agar pergi debunya.
Bagi pecundang sepertiku
benda semacam itu tentu tak berharga
Karena aku buta.
Mungkin gejala gila.
Karena yang membanggakan untukmu,
Bagiku terlihat bodoh
Sadarlah,
Bahwa yang hebat bukan medali itu,
tapi dirimu.
Penanda kehebatan?
Beri saja bayi medali
ketika ia telah berhasil berdiri.
Patah lehernya sebelum menua
Ya, aku sedang beromongkosong
Jangankan medali, diriku pun palsu
Namun siapa yang tahu?
Berbahagialah dengan bahagiamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar