huruf yang bagaimana lagi kurangkai kata itu.
Maka kulambungkan doa dalam hening,
terima kasih karena telah banyak mengajariku
bahwa manusia memang tak semahal itu.
Apakah nyawa yang sementara ini tak cukup?
Kau yang terlalu naif ataukah aku?
Mungkin jawabnya hanya sesederhana kau air, sedang aku batu.
Kau lubangi aku.
Dan masih banyak bebatuan lain yang menunggumu.
Tuhan sungguh ajaib, hal yang manis itu jadi asam di lidahku.
Sehingga akalku mulas,
butiran pil macam apa yang harus kutelan lewat rongrongan kebodohanku?
Otakku membatu, badanku beku.
Jangan berani-berani bertanya hatiku, ia telah kubuang jauh ke tempat yang dulu sempat kusebut dirimu.
Cinta hanya sulapan mengubah tahi jadi roti.
Ketika ia hancur, kata orang tumbuh seribu.
Seribu macam bumbu yang ada di dalam mulutmu!
Sayat-sayatan panjang, di setiap mili sekujur badanmu.
Rasakan.
Rasakan, diriku, berani kau berikan semua kepada yang selain aku.
Rasakan.
Ambil pahatmu, ukir di kubah dadamu.
Tataplah sampai bosan sampai habis nyawamu.
Sadarlah bahwa kau sekarang tak lebih dari debu diantara batu-batu.
Sedangkan kehidupan memintamu menjadi menara angkuh penantang badai.
Padahal waktu sebentar lagi usai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar