Kamis, 28 Juli 2016

Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi

     Berkali-kali langkahku terhenti. Si Hati pun lebih banyak diam. Entah karena menahan lelah atau merasa tidak enak kepadaku.
     "Bro, nganu",  sekuat apapun Hati menahan diri. Lama-lama dia tak tahan juga, "sampeyan nggak lapar?"
     "Ya lapar to, tapi karena aku ngga bawa bekal, apalagi uang, ya aku diam saja. Toh aku sudah akrab dengan lapar."
     "Kenapa sampeyan nggak bilang dari tadi sih", Si Hati mengeluarkan sebungkus ransum dari tas kecilnya, "sini, sini, mangga dipundhahar sesarengan."
     "Makanan apa ini?"
     "Sega uyah."
     "Heh?"
     "Nasi garam."
     "Bah, mbok ya kalau bawa bekal yang lebih enak. Minimal ayam goreng atau sega ndog."
     "Ndogmu kuwi, mana kita punya makanan selain ini."
     "Jadi nggak selera."
     "Sampeyan nggak mau?"
     "Ya terpaksa saya makan."

     Akhirnya sebungkus kecil nasi lauk garam kami makan berdua. Kebetulan kami duduk di seberang sebuah warung makan kecil yang lumayan ramai. Aku lihat beberapa orang duduk sembari makan gulai kambing yang cukup membikin seret makanku dan membuatku menelan ludah berkali-kali.

     "Enak ya makanannya." ujarku.
     "Nasi garamnya?"
     "Ndak, itu gulai kambingnya."
     "Hahaha sampeyan ini nggak belajar juga."
     "Aku sedang makan, bukan sedang belajar." aku apatis, "anyep cuuk, anyep rasanya makanan kita."
     "Ya jelas nggak enak. Sampeyan ini mbok ya jangan gitu. Kehidupan itu tentang menerima. Kita punyanya nasi garam ya harus disyukuri, dinikmati."
     "Nikmat-nikmat gundhulmu."
     "Coba sampeyan pikir, jika sampeyan tidak merasa cukup dengan yang sampeyan punya, kapan sampeyan sempat merasakan bahagia?"
     "Maksudmu?"
     "Udah gulai kambingnya nggak dapet, nasi garamnya terasa anyep pula. Kan jadi nggak nikmat makan kita."
     "Ya, ya, tumben pinter kamu."

     Perut kami sudah terisi. Tidak sampai kenyang memang. Hakikat hidup di bumi adalah berpuasa. Puasa itu mengendalikan diri. Termasuk masalah perut. Sudah sejak lama aku menghindari rasa kenyang. Karena bagaimanapun rasa lapar itu lebih baik. Begitu yang aku pelajari selama ini.

     "Bro, seret nih, aku cari minum dulu ya."
     "Oke, kalau bisa yang ada rasanya ya."
     "Nah kan mulai lagi."
     "Ya kan kalau bisa, kalau nggak bisa ya sudah."
     "Yooh"

     Sembari menunggu Hati yang tak kunjung datang, aku melihat lalu lalang orang-orang di sekitarku. Sama sekali tidak ada yang memperhatikanku. Lagian kupikir, siapa juga yang bakal tertarik padaku? Dari segi apapun, sudut manapun, tak ada yang bisa diandalkan pada diriku.
 
     "Hmm apa ini?" aku menggumam.

     Aku masih memegang kertas bungkus bekas ransum yang kumakan tadi. Aku bolak balik aku amati. Ternyata aku mengenal kertas ini. "Kurang ajar", batinku. Kertas ini adalah selembar dari tumpukan kertas tulisan-tulisan lamaku. Sudah nampak kusam dan lawas. Mungkin sahabatku Hati asal ngambil sewaktu buru-buru pergi.

     Lalu kubaca sebaris kalimat di situ.
     "...Gusti Kang Murbeng Dumadi..."

     Terhenti sejenak degup jantungku. Aku tak merasa pernah menulis kalimat ini. Bahkan aku tak tahu apa maksud kalimat itu.

     "Gusti Kang Murbeng Dumadi. Hyang Tunggal. Sangkan Paraning Dumadi."

     Mungkinkah? mungkinkah ada hubungannya dengan Dewa Ruci yang kucari. Apakah ini sebuah pesan? Atau aku cuma ke-geer-an. Hmm...

     "Djancuuk!" umpatku. Ada air yang muncrat-muncrat ke wajahku.
     "Ngelamunin apa sampeyan?" wajah Hati yang muncul makin membuatku emosi,
     "Nih diminum"



   


Rabu, 27 Juli 2016

Mencari Dewa Ruci

     "Oi Bro! mau kemana sampeyan?" Wajah pekok Si Hati melongok dari balik jendela.
     "Dasar kepo, bukan urusanmu lah." Sedikit geli rasaku. Aku sering sulit menahan tawa jika lama-lama memandang sahabatku yang satu itu. Mungkin Allah sedang iseng sewaktu mencipta bentuk wajah sahabatku itu. Tetapi sayangnya Allah tak mungkin begitu, itu hanya sebatas anggapanku.
     "Sampeyan kok gitu, ayolah, kalau menarik kan aku bisa ikut hehe."
     "Aku hanya ingin berjalan saja. Terserah kau jika mau mengikutiku, aku tak peduli. Itu pun kalau kamu kuat."
     "Bereees, pokoknya beres, aku ikut, sampeyan tenang saja."

     Memang aku akan pergi dari rumah untuk sementara waktu. Ke manakah aku akan melangkah aku juga belum tahu. Aku hanya merasa bahwa harus pergi, harus berjalan. Yep, karena hidup itu bukan persinggahan, hidup adalah perjalanan menuju. Perjalanan menuju apa ya terserah sampeyan sendiri-sendiri.

     Setelah beberapa jam berjalan, si Hati mulai tak sabar dan penasaran.

     "Sebenarnya kita mau ke mana sih Bro?" pertanyaan Hati menghentikan langkahku.
     "Kan aku sudah bilang, aku juga tak tahu. Kenapa? kau kelelahan?"
     "Lelah is for the weak. Aku hanya butuh istirahat sejenak."
     "Lha berarti kamu lelah?"
     "Tidak, aku hanya butuh istirahat."
     "Berarti lelah kan?"
     "No!"
     "Hahaha Yoh karepmu."

     Sahabatku ini memang jarang berjalan jauh. Aku maklumi, karena nalurinya memang cenderung untuk diam. Aku tuntun dia ke sebuah pohon yang cukup rindang.
   
     "Bro, jujurlah padaku, apa sih yang sampeyan cari?" tanya Si Hati.
     "Bukannya sudah jelas dan kau sudah lama tahu. Aku mencari kesejatian."
     "Bukan itu maksudku, apa yang sampeyan cari di perjalanan ini?"
     "Ya kesejatian. Beberapa waktu lalu sebuah sosok muncul di kepalaku. Dia hanya memperkenalkan dirinya sebagai Dewa Ruci. Sungguh, sosoknya bercahaya. Dan hanya sekejap aku langsung jatuh cinta. Dan kuputuskan untuk mencarinya. Aku ingin bertanya tentang banyak hal kepadanya."
     "Apa benar sosok itu ada?"
     "Loh ya jelas ada kan. Kan aku pernah menemuinya sekali di dalam kepalaku."
     "Tapi kan belum tentu benar-benar ada."
     "Karena kau tidak melihat jisimnya, jasadnya, yang kasat mata, maka kau anggap tak ada? Sejak kapan pikiranmu jadi buntu? Jangan sering-sering kau sumbat kepalamu."
     "Tapi kan..."
     "Sahabatku tercinta, hidup itu luas, berapa persen yang kau ketahui dalam kehidupan ini? Berapa persen yang kau mengerti? maka jangan kau tutup kemungkinan-kemungkinan, jangan buru-buru membenarkan apa lagi menyalah-nyalahkan. Maka berjalanlah biar kau tahu seberapa luas kehidupan ini."
     "Ya ya ya."
     "Ayo, kita berjalan lagi."

     Sebenarnya aku juga tidak begitu mengenal siapa Dewa Ruci. Dewa Ruci di dunia pewayangan adalah sesosok yang dicari-cari oleh Bhima, anggota Pandhawa. Terkisah dalam Serat Dewa Ruci atau apa namanya aku sendiri lupa, yang jelas babad itu ditulis oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Diambil dari kisah Nawa Ruci yang disesuaikan dengan ajaran tauhid islam yang memang disebarkan pada masa itu. Karena sosok yang aku jumpai memperkenalkan diri sebagai Dewa Ruci, maka aku wajibkan diriku sendiri untuk mencari. Maka kucari.

     "Bro, apa sampeyan yakin bisa bertemu dengan beliau?"
     "Ah kau cerewet sekali, jangan buat aku mengusirmu. Kau diam saja, kau cukup menyaksikan."
     "Mana bisa sampeyan mengusirku, kita ini kan tunggal. Aku ada maka sampeyan ada, kalau aku tidak ada ya sampeyan nggak ada."
     "Oke, oke, cukup, aku juga paham. Tentang keyakinanku? Boleh saja kan aku meyakini sesuatu. Toh tak ada yang bisa melarangku. Aku pede saja dengan diriku."
     "Diri sampeyan yang mana? kan ada beribu-ribu diri pada diri sampeyan?"
     "Yang mana saja."
     "Termasuk diri api dan segala diri keburukan pada dirimu?"
     "Ya, yang mana saja. Yang beribu-ribu itu sesungguhnya tunggal. Yang tunggal itu adalah anasir Ilahi. Itu yang aku yakini. Seperti yang kau bilang tadi, kita ini tunggal. Kau adalah diriku dan diriku juga dirimu."
     "Mbuh, mbuuh.."


  

Selasa, 26 Juli 2016

Rahasia

     Aku bangun dari tidurku. Ah, di sini sepi. Tak ada siapapun.
    "Hati..? Akal..?" kupanggil mereka. Kutunggu tetap tak ada jawaban.

     Hening.

     Senyap, sunyi, sepi. Kucari. Tak ada suara-suara kecuali bisikan dari dalam benakku sendiri. Lalu pandanganku terjatuh di sudut ruangan. Aku usap-usap mataku. Kemudian aku bangkit berjalan ke sudut, aku dekatkan kepalaku. Terbaca coret-coretan kata, yang entah apakah ada yang menulisnya.
     Aku usap-usap lagi mataku seakan tak percaya. Apa mungkin hanya halusinasiku? Hmm, aku tak tahu, aku tak pedulikan hal itu. Aku tarik nafasku kemudian kubaca:

Rahasia.
Tersembunyi rapat.
Pesan samar.
Mengetahui.
Tahu yang paham.
Paham yang mengerti.
Mengerti yang menjalani.
Esoteris.
Nyata berjubah maya.
Maya bergaun nyata.
Manusia.
Cahaya.
Cahaya berlapis-lapis cahaya.
Kanjeng Nabi.
Allah Ta'ala.
Rahasia.

     Aku menangis. Mataku menangis. Mata hatiku menangis. Nuraniku menangis. Jangan tanyakan sebabnya padaku. Aku tak mengerti.
     Apa gerangan ini?
     Sebuah rahasia. Yang ternyata dari sebuah itu ada berlapis-lapis rahasia lain di dalamnya.

     "Tuhanku, apakah ini?" Tanyaku kepada siapa. Kepada satu-satunya siapa. Kepada Yang Maha Siapa.

     Plakk, plakk!
   
    "Bro, bangun!" aku dengar selantun suara. Sambil menahan perih di pipi, aku usap-usap mataku yang entah untuk keberapa kalinya.

    "Apa yang sampeyan lakukan?" Oh, ternyata Si Hati yang aku cari sedari tadi.
    "Loh, memangnya kenapa? apa yang kulakukan?" aku heran.
    "Sampeyan tadi ngelindur."
    "Aku ngelindur?"
    "Ya, sampeyan tadi menari-nari. Awalnya lemah gemulai, tapi semakin lama semakin tak jelas sampeyan sedang memperagakan apa. Entah meniru gerakan orang mengamuk atau malah orang kesurupan."
     "Aku? Menari?"

     Mana mungkin? pikirku. Lalu apa yang aku alami tadi?

     "Mungkin aku hanya lelah. Maafkan aku."

   

Minggu, 24 Juli 2016

Butiran-butiran kecil

     Ketika matahari bersiap menuju tidurnya, dari arah barat memunggungi matahari, nampak sesosok berjalan menghampiriku. Semakin dekat. Rupanya Si Hati pulang. Wajahnya cengangas-cengenges tidak jelas.

     "Lama nggak kelihatan jadi edan kamu?" sapaku. Jujur, aku sedikit rindu dengan sahabatku yang satu ini. Lama dia menghilang, yang entah kalau dari kabar yang beredar katanya sedang bertapa, bersemedi, meditasi, atau apalah itu namanya.  
     "Samlekum, gimana kabar sampeyan? he he he.." wajahnya tetap cengengesan, semakin geli rasanya.
     "Salam macam opo kuwi, nggak usah basa-basi cuk. Sekrup-sekrup di kepalamu sudah mulai rontok rupanya. Kenapa kamu?" tanyaku.
     "Alah, apalah arti kata-kata, hubungan kita kan sudah pasca-perkataan. Ini lho, saat sedang berjalan tadi aku kejatuhan sesuatu. Anehnya, aku tidak rasakan sakit sama sekali. Malah perasaanku campur aduk tidak karuan, antara bahagia, ngeri, malu, gabung semua jadi satu."
     "Dasar kenthir, kejatuhan kan sakit to ya. Benda apa yang jatuh ke kepalamu?"

     Hening sejenak.

     "Cinta." jawabnya singkat.
     "Hahahaha ealaaah. Tirakat macam apa yang kamu lakukan? Katanya sedang berdiam diri, menjauhkan diri dari hingar bingar, menelusuri sepi, menyelami sunyi. Bisa bisanya.."
     "Loh, apa sampeyan tidak pernah mengalami sepi di tengah hingar bingar? mengalami sunyi di tengah keramaian?"
     "Ya ya, aku juga sering melakukan tirakat semacam itu. Tapi kok bisa-bisanya kamu malah nyelamur di tengah tirakatmu. Cinta macam apa yang kau alami?"

     Si Hati nampak diam sejenak. Wajahnya seperti sedang merangkai-rangkai sesuatu. Lalu tersimpul senyum di bibirnya.
     
     "Aku mencintai yang lain Bro."
     "Maksudnya..?"
     "Ya aku mencintai hati milik orang lain. Aku jatuh cinta."
     "Waaah gawat ini namanya."
     "Kok gawat?"
     "Ya gawat, bukannya kita sepakat untuk mencintai hanya kepada satu-satunya cinta. Cinta yang menuju abadi. Bisa-bisanya kamu mencintai yang berlainan dengan hal itu. Dasar nggak konsisten kamu. Fokuus, fokuus!" aku toyor jidatnya.
     "Bro, apa pernah sampeyan memaksa mencintai sesuatu? Kan cinta itu datang seperti tamu."
     "Ya benar, tapi ingat, tamu itu selalu datang dan pergi. Terserah-serah bagi seorang tamu memutuskan kapan dia datang dan kapan dia pergi. Apakah kamu sudah siap ditinggalkan cinta yang datang itu?"
     "Sampeyan nggak usah khawatir, aku sudah lama membentengi diri. Akarku sudah kuat. Kejadian semacam itu tidak akan membuatku tumbang."
     "Lantas kenapa tidak sejak awal kau bentengi kemungkinan cinta-cinta lain yang datang itu. Bukannya kau malah menunjukkan betapa ringkihnya akarmu?"
     "Tidak, tidak. Untuk mengetahui cahaya, kita harus melihat kegelapan, putih akan putih jika bersanding dengan yang hitam."
     "Hubungannya?"
     "Laa illaha dulu, baru kemudian kita mampu illalLah."
     "Karepmu."
     
     Sebenarnya aku kaget dengan jawaban Hati. Ada benarnya juga.

     "Jika kamu sudah tahu illalLah yang kamu tuju, untuk apa kamu repot-repot di laa illaha?" tanyaku lagi.
     "Kan aku hanya sekedar tahu, untuk mengerti aku harus menjalani, hingga nanti aku benar-benar mengerti dan sadar bahwa hanya ada satu cinta yang sejati."
     "Siap-siap patah hati dong.."
     "Lhaiya to ya. Aku siap berkali-kali patah hati. Sampai yang patah itu melebur menjadi butiran-butiran kecil. Butiran-butiran itulah cinta sejati. Baru saat itu aku siap mencintai apapun dengan butiran-butiran itu."
      "Sak cangkem-cangkemmu lah."
     
     Matahari telah terlelap. Kemudian aku pergi. Aku ambil air. Aku basuh semua yang ada pada diriku. 
      
     

Selasa, 19 Juli 2016

Obrolan sore

     Sore hari, karena Si Hati masih dalam pertapaannya, sepilah hariku belakangan ini. Maka kuhampiri Akal yang nampak sedang ketawa-ketiwi di bawah pohon talok.
     "Ngapain kamu cekikikan sendirian di situ?" tanyaku.
     "Oh, kamu Bro, ini lho ada yang lucu."
     "Apa to cuk?"
     "Itu, lihat orang-orang di sana sedang berebut sesuatu. Mereka sedang berlomba mengalahkan satu sama lain. Sungguh lucu sekali."
     Aku keheranan, "Bukannya itu hal biasa ya? Bukannya kehidupan sudah umum seperti itu? Dulu saat aku sedang berapi-api, aku juga sering ikut kompetisi semacam itu, dan sungguh mengasyikkan. Melihat lawan terjerembab, iri, putus asa, dengki, sungguh sangat puas rasaku. Apalagi melihatku mengangkat piala dan memakai mahkota kemenangan. Lalu perasaan itu mereka pelihara dan tumpuk-tumpuk menjadi dendam. Tapi bagaimanapun, susah mereka mengalahkanku. Jadi nostalgia ini hahaha."
     "Lalu, mengapa sekarang kau memutuskan jadi pihak yang kalah?" Akal tak kalah heran.
     "Sudah nggak sehat kamu rupanya."
     "Mana ada akal yang tidak sehat? Ngaco kamu Bro."
     "Aku tidak kalah, aku hanya naik ke tangga pertandingan yang lebih tinggi. Sudah kuputuskan tak lagi ikut belepotan di arena penuh lumpur itu."
     "Bagaimana maksudmu?"
     "Jangan pura-pura bodoh, kamu hanya ingin menguji jawabanku kan? sudahlah.."
      Akal berjalan maju beberapa langkah, ia sedekapkan tangan dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia berbalik badan kepadaku. Raut wajahnya berubah menjadi serius.
     "Mengapa kau tak kembali ke sana? Bukannya kamu butuh perlombaan semacam itu? Kau punya naluri dangkal yang harus kau penuhi, kau butuh persaingan, kau manja-manjakan perutmu, memperindah tubuhmu, mementerengkan penampilanmu, membangun mercusuar 'religiusitas'mu, menumpuk-numpuk uang di gudang milikmu? men...."
     "Cukup!!  aku tak lagi tertarik akan hal-hal itu. Jika pun aku tampak melakukan semua hal itu, tak lebih untuk memenuhi kebutuhanku, tanggung jawab kepada pemberi kehidupanku. Sama sekali tak ada secuil ingin-inginku. Aku tak mau lagi merengek untuk yang remeh semacam itu."
     "Kenapa begitu? bukannya kamu akan dipandang, bukannya orang-orang akan sibuk padamu?"
     "Kullu man 'alaiha faan. Apa yang tidak binasa di kehidupan ini? Aku mengejar kesejatian."
     "Raimu Broo.."
     "Yo opo, aku tak mau terlambat menyadari saat aku diberi kesempatan menua nanti. Kebanyakan orang-orang sadar ketika mereka semua sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan baru bisa menikmati esensi kehidupan di sedikit usia hidupnya. Sungguh, aku ingin mengunyah kenikmatan itu mulai dari saat ini."
     "Oh jadi begitu, lantas apa kamu membenci mereka?"
     "Tidak, tidak sama sekali. Justru aku senang berada di sekitar mereka."
     "Agar bisa puas menertawai mereka?"
     "Tidak juga, tapi terserah jika mau beranggapan begitu. Jika berada di tengah-tengah mereka, aku selalu tahu mana yang putih, abu-abu, maupun yang hitam. Tapi sebenarnya aku juga mengambil jarak. Jika tidak, mana bisa aku tahu aku sedang melukis yang putih, abu-abu, atau yang hitam itu. Terdengar egois memang. Tapi apa hakku melarang-larang mereka."
     "Tapi hangan herlehihan hitu hoamm."
     "Ya, aku selalu menjaga porsi dan konteksnya."
     "Aku ngantuk, Bro.."
     "Bagaimana kamu nggak ngantuk, dari tadi kan kamu hanya berpura-pura bodoh. Bagaimanapun berpura-pura itu melahkan."
     "Lha kamu ngapain meladeni kepura-puraanku?"
     "Karena bukan hanya kamu yang sedang berpura-pura."
     "Hehehehe..."


   

Senin, 18 Juli 2016

Musuh sejati, rival abadi, pertandingan hakiki

     Sekarang menurut sampeyan, siapa musuh terbesar dalam hidupmu? tentu kita akan mendapatkan jawaban berbeda minimal beberapa ratus macam jawaban dari ribuan responden. Kalau tidak percaya coba di-survei saja. Kalau saya sih sudah melakukan survei, cuma hanya sebatas responden-responden di alam pikiran saya. Baiklah, coba kita mundur sedikit ke belakang. Bagaimana cara kita mengidentifikasi musuh kita? Perlukah kita mengenal musuh kita? Perlukah kita meladeni apa yang kita anggap musuh itu? Apakah penting kita mengalahkan musuh itu? Apakah, apakah, apakah.. (akan panjang jika diteruskan)
     Lagi, seberapa besar ruang lingkup pertandingan kita itu? Maksudnya begini, seorang petinju bertanding dibatasi ring tinju. Pebalap motor bertanding dibatasi lintasan sirkuit. Sedangkan di wilayah apa sampeyan menghadapi musuhmu?
     Saya tawarkan satu pintu. Pintu menuju ruang pertandingan agung. Menghadapi satu-satunya musuh abadimu. Musuh yang satu ini tidak membencimu sama sekali. Dan mungkin juga tidak punya maksud mengalahkanmu. Menurut sampeyan siapa dia? Bukan, bukan setan. Tapi suatu saat mungkin juga berproduk melahirkan setan.
     Dirimu.
     Hanya dia yang pantas kau sebut musuh. Secerdik-cerdik kamu, selicik-licik kau meng-akali, seluas-luas pengetahuanmu, sedalam-dalam ilmumu, dia akan tetap jadi musuh yang setara denganmu. Ya karena musuhmu adalah dirimu sendiri. Sampeyan bertanding di kosmik milikmu sendiri. Wilayah ini sempit, tak lebih dari sekitaran badanmu, namun sekaligus luas, karena cakrawala dalam dirimu terhampar hampir tanpa batas.
     Tetapi, apakah musuh itu harus kita kalahkan? Ya sumangga kersa. Jika kau menang, dia tak lantas hilang. Lha terus apa poin pertandingannya? Siapa yang kalah, dialah yang takluk. Maka yang menang berhak menggendalikan. Karena dirimu yang lain itu menggebu-gebu. Dia jelmaan api. Tetapi sampeyan juga harus hati-hati. Siapa tahu selama ini dirimu yang ini (bukan yang itu) ada di posisi siluman api.
     Maka merenunglah, identifikasi-lah. Harus sampeyan pilah. Mana dirimu yang akan memimpin keseluruhanmu. Karena jumlah dirimu ada beribu-ribu. Carilah mana yang benar-benar dirimu  Lalu siapkan segala sesuatu untuk bertarung sepanjang hidupmu. Jadilah pengendali atas dirimu sendiri, menyalalah, tapi jangan membakar, mengalirlah, tapi jangan jadi air yang membanjiri.
     Jadilah nyala yang mengendalikan api, jadilah aliran yang mengatur air. Khalifahilah dirimu sendiri sebelum kau khalifahi yang lain-lain.
     Mumet? saya juga hehehe.
   
   

Minggu, 17 Juli 2016

Dialog tuan rumah

     "Oi hati, kenapa sih kamu diam saja, lagakmu berlebihan, gayamu pertapa." Aku protes. "Bro, aku diam bukan berarti menganggur, aku hanya bersiap-siap, aku kosongkan ruang, barangkali nanti ada yang mau menempati." jawab hati dengan santai. "Ah sok kamu!" sahutku sengit.
     "Bro, sampeyan itu santai sajalah, tugas sampeyan hanya melihat, tanpa tahu kapan memejam, hanya mendengar, tanpa perlu menutup pendengaran, nanti tugas saya lah yang menampung, jadi sampeyan nggak usah ribut." si hati mulai kesal. "Ngomong apasih kamu?" aku juga tak kalah kesal.
     Kemudian mereka hanya saling diam, kedua-duanya malas dengan tabiat satu sama lain. "Sudah, sudah, mbok ya kalian yang santai to, jangan menarik urat satu sama lain." ternyata akal datang dan nimbrung. "Ah kamu lagi, tumben kamu jadi sok bijak, ada mau apa kamu?" aku pelototi akal yang tiba-tiba datang. "Aku sama sekali tak pernah punya kemauan, aku hanya memberi batas-batas, aku hanya mengatur. Kemarilah kalian, kita jagongan di sini dulu." ujar si akal.
    Dengan malas aku menghampiri si akal. Tapi si hati tetap tak bergeming di tempatmya. "Oi, sudahlah akting pertapanya, aku tau busuk-busukmu, kemarilah, kita ladeni ini akal maunya apa." ucapanku agak bernada tinggi. "Ya, ya,ya.." tukas si hati.
    "Hei kalian berdua, sudahlah, kenapa sih kalian ribut terus? apalagi kamu Bro, bukannya kita masing-masing sudah mengerti posisi satu sama lain. Kenapa kamu masih uring-uringan?" tanya si akal. "Ya gimana, itu si hati nggak becus sama sekali."jawabku singkat. "Apa maksudmu nggak becus?" sahut si hati. "Asu kalian, dinginkan kepala kalian dulu baru berbicara." si akal mulai naik pitam.
     "Begini, selama ini aku pontang-panting kesana kemari, berjalan kesana-sini, aku berusaha mencapai sesuatu, aku serap semua sumber yang tersedia, begitu aku pasrahkan ke hati, eh malah dia kosongkan dia buang semua, setan alas, kurang ajar." umpatku.
     "Akulah yang menyuruh hati membuang hal-hal itu." jawab si akal dengan sedikit tawa. "Apa ada yang lucu? bagian mana ha? kau pikir aku tidak punya batas lelah apa?" aku mulai hilang kesabaran. "Bro, kamu jangan berbicara tentang batas-batas kepadaku, aku yang paling mengerti tentang hal itu." masih tersisa sedikit senyum di wajah si akal. "Si hati diam karena dia memang bertapa, dia memperlambat masa waktu, meregangkan simpul-simpul dimensi, dan dari situlah aku tahu, akan ada yang mendatangi kita. Maka aku suruh ia kosongkan ruang-ruang." si akal menerangkan.
     "Memang, siapa yang akan datang?" aku mulai penasaran. "Bro, tugas kita hanya mempersiapkan, sebagai tuan rumah yang baik ya kita siap-siap saja. Masalah ruang yang sekarang kosong, kita sama sekali tak punya sesuatu yang pantas untuk disuguhkan kapada calon tamu. Yang kita punya hanya keridhaan menerima." hati tak tahan ingin ikut menjelaskan.
     "Kalian ini sungguh tidak jelas, omongan kalian ngawur!" aku bentak mereka berdua. Si akal menegakkan tubuhnya lalu berbicara, "Terserah mau bagaimana kamu mengejawantahkannya di dalam kepalamu, pokoknya aku dan hati menjalankan apa yang jadi tugas kami. Mengenai kelakuanmu, ya terserah-terserah kamu, nanti kamu juga yang repot sendiri."
     "Baiklah begini saja, dalam waktu dekat ini akan aku ikuti kata-kata kalian, tapi ingat, aku juga berhak menentukan kapan untuk berhenti." kataku.
     "Eeealah Bro, Bro, watakmu itu lho kayak batu akik. Uuuatos!" Si hati berdiri bersiap-siap pergi. Mungkin kembali ke pertapaannya. Pandangan si akal pun berlari ke awang-awang. Aku membaringkan badan lalu kuputuskan memejamkan mataku.

Sabtu, 16 Juli 2016

Wa maa adroka maa tomket

     Syukur itu nggak bakal ada habisnya. Tuhan menunjukkan ke-Latif-annya (baca: kelembutan) kepada saya. Dan masa iya saya tidak tambah bersyukur. Ya Allah betapa entengnya hidup ini ketika aku bersandar di pundakMu.
     Baru beberapa hari yang lalu saya terlarut dalam kedunguan. Berperan sebagai keledai berbentuk manusia. Ya memang dungu sih kalo dipikir-pikir lagi. Goblok banget lah pokokmen haha. Kegoblokam tentang apa tidak akan saya ceritakan di sini.
     Oh iya, jidat saya melepuh. Waktu itu lagi di jalan naik motor. Eh tiba-tiba ada knalpot mendarat di kepala. Melepuhlah jidatku. Oradiing. Waktu itu tiba2 ada serangga kerasa nemplok di jidat. Saya pithes deh (bahasa indonesianya pithes tuh apa ya? pencet mungkin). Dengan tidak peduli saya buang mayatnya. Baru sehari kemudian jidat kiriku gatal-gatal merah. Awalnya sih nggak peduli. Tapi makin kesini kok makin lebar dan bentuk dan warnanya makin nggak karuan. Wah ini nih bakalan panjang urusannya. Dan baru tadi pagi saya yakin kalo ini luka bekas pembunuhan tomcat.
     Mengeluh? tidak sama sekali. Jidat lebar saya jadi ada ornamennya. Jadi nggak sepi-sepi amat haha. Karena dulu juga pernah kena luka bekas tomcat, jadinya nggak panik sama sekali. Untuk hal tomcat saya tidak perlu jadi keledai. Lagi dan lagi, saya berulang kali disuruh bersyukur sama Tuhan.
     Untuk mengobati luka bekas tomcat cuma tinggal di salepin aja kok. Salepnya apa tinggal tanya ke mbak-mbak apotek aja. Apa ya kemarin namamya saya lupa. Dan satu lagi ya harus tahan selama beberapa hari. Kadang gatal, kadang panas, kadang perih. Mungkin sama kayak hidupmu gitu lah ya rasanya huehehe. Tuhan, semoga orang-orang yang senasib dengan saya, terutama di ranah per-tomcat-an, di diberi kesembuhan olehMu. Amin Ya Robbal Alamin.
     Ya Allah Ya Latif, betapa lembutnya caraMu.

Kamis, 14 Juli 2016

tafakkur sore

     Sering aku meminta kepadaMu, Tuhan. Tapi sesering-sering aku meminta, pemberianMu jauh, jauh lebih banyak dari yang aku sadari. Aku malu, Tuhan, aku malu. Tak pantaslah aku meminta apapun lagi. Tuhan, aku sungguh malu.
     KekasihMu, abdiMu, yang paling Engkau cinta. Kanjeng Nabi Muhammad, cahaya cintaMu, pernahkah Dia meminta untuk dirinya sendiri? Aku belum pernah tahu tentang hal itu. Sedangkan aku yang bukan siapa-siapa di hadapMu, meminta banyak hal dariMu. Sungguh, aku sangat malu. Apalah aku, Tuhan, apalah aku.
     Tuhan, mulai saat ini aku hanya akan menyapaMu. Aku malu.

     Ya Allahu Ya Mannanu Ya Kariim. Ya Allahu Ya Rohman Ya Rohim.
     Ya Allahu Ya Fattahu Ya Haliim. Ya Allahu Ya Rohman Ya Rohim.

Rabu, 13 Juli 2016

aku gelar tikar

Tuhanku,
Hidup ini hanya sebatas menggelar tikar
Aku kumpulkan serat-seratnya,
maka kupersaksikan Engkau dengan cinta sepenuh hati
Aku pilin benang-benangnya,
dengan ucapan dan gerakan lembut, serta senyum tulus dan air mata suci
Aku kaitkan untaian-untaian
dengan seadanya yang aku bisa, 
tak lebih dan tak kurang, aku tahan diri aku puasai
Aku lukis dengan simpul-simpul,
merah, biru, hitam, putih dan warna-warna lain, 
lihatlah! ada keindahan dibalik kekacauan
Aku gelar tikar itu,
sembari menunggu tamu yang kurindukan

Tuhanku,
Aku gelar tikar,
seraya menunggu Engkau datang
Akulah nyala lilin,
Sedangkan cahaya matahari hanyalah bias CahayaMu
Akulah kunang-kunang,
Yang bermimpi mencahayai siang

Tuhanku,
Hidup ini tak lebih dari menggelar tikar
Aku lihat keluar pagar
Dengan harap dan hati yang tegar
Lalu ku simpan kecemasanku sendiri
Seandainya pun Kau tak datang,
tetap akan ku gelar tikar
untukMu yang selalu kurindukan.

Cacing(an), Kutu(an), Bajing.....

     He'eh, tulisan ini tentang cacing. Kenapa cacing? Karena saya sedang akrab dengan cacing. Tubuh saya menyusut, dan stamina tubuh saya berkurang drastis. Saya mudah lelah. Akhirnya saya putuskan minum combantrin. Semoga saya bisa berdamai dengan gerombolan cacing perut saya. Saya tidak sedang ngasih testimoni obat loh ya huehue.
     Memang ada yang aneh, baik ibu, bapak, dan kakak saya untuk urusan badan termasuk yang berbobot. Tapi saya kebagian kurus sendiri. Kan rodo wagu. Selain karena memang saya sedikit makan, kayaknya program Keluarga Berencana cacing di perut saya gagal. Jadi makanan yang sedikit tadi jadi rebutan, ealah, empunya perut nggak kebagian. Gusti Allah itu kok ya kepikiran ya naruh cacing di perut manusia. Nggak ada henti-hentinya kekaguman saya.
     Jadi kalau akhir-akhir ini saya banyak makan, bukan berarti saya doyan hehe. Itu hanya bentuk tanggung jawab kepada tubuh saya. Udah dikasih hidup sama Tuhan, eh kok masih nggak tanggung jawab sama tubuh. Tuhan udah ngasih hidup, masa ya kita masih minta dikasih sehat. Kok rasane nranyak.
     Kok obat? Katanya kunci kesehatan adalah pikiran yang sehat? Lha iya emang begitu. Obat cacing hasil dari ijtihad manusia. Zat-zat yang terkandung di dalamnya ya ampuh buat mengatasi cacing. Sebenernya terserah-terserah Tuhan mau menyembuhkan penyakit lewat zat-zat yang terkandung dalam obat, daun, rempah atau bahkan batu sekalipun. Cuman saya doyannya obat. Beneran, saya ngga doyan makan batu. Sebenernya kan yang bagus memang langsung ambil dari alam, tapi manusia juga bisa dan mampu membikin praktis. Kan jadi lebih enak nyarinya. Mosok apotek isinya tumbuh-tumbuhan yo ra lucu.
Tapi, seampuh apapun obat di-klaim, kejujuran pikiran tetap yang paling berpengaruh. Dan meski pikiran kita jujur, pengetok palu kesembuhan ya tetap Gusti Allah. Saya hanya berusaha menyembuhkan memakai cara yang masuk akal. Sisanya lagi-lagi berdoa. Karena hikmah sakit itu ada di proses penyembuhan, keindahannya terletak di situ. Bukan sembuh atau tidaknya kita. Bagaimana kira-kira menurut Anda?

Selasa, 12 Juli 2016

Urip iku urup

     Seseorang mengatakan kepadaku, "Cara urip sehat kuwi gampang, jujur o pikirmu, nek misal sampeyan A yo ngomong A, perilakumu yo kudu ngono, kudu jujur lan opo anane. Maka sistem di tubuhmu juga akan terbiasa 'jujur', dan akan bekerja semestinya. Itulah cara terbaik menjaga kesehatan."
     Dan setelah sekian lama berpikir, mencoba meneliti, ya memang masuk akal. Apakah menurut ilmu di dunia kedokteran modern saat ini juga seperti itu, saya tidak tahu. Yang saya mulai mengerti adalah, ketika zaman mulai kesini, manusia selalu menilik sebab dari akibat yang menimpa dirinya adalah hal-hal dari luar. Padahal yang menentukan sakit atau tidaknya adalah kejujuran pikirannya sendiri. Tentang rokok misalnya, jangan dulu antipati, diterima dulu, lalu pikirkan. Kalau saya pribadi, merokok sama sekali bukan ajang keren dlsb. Ketika merokok, entah kenapa saya ingat bapak-bapak yang menanam tembakau, saya ingat kebun yang ditanami, saya ingat tanah, saya ingat siapa Pencipta tanah-tanah itu. 
     Bukannya sok suci, saya baru memahami hal itu baru-baru ini. Awal mula merokok dulu ya keren-kerenan hehehe. Tetapi setelah paham, saya memang jadi lebih bergantung dengan rokok. Ya gimana, produktifitas dan kreatifitas saya meledak-ledak ketika merokok. Apakah hal itu baik? Terserah pendapat Anda sendiri-sendiri. Kalau berbicara tentang efek samping ya pastilah ada. Karena semua hal di dunia ini paradoks. Apakah ada hal yang baik saja? Apakah ada hal yang buruk saja? Semua hal ada baik-buruknya. Itu hanya masalah bagaimana mengatur batin kita.
     Apapun itu, pandanglah dulu apa yang ada di dalam dirimu. Karena dunia yang dilihat setiap orang itu berbeda. Duniaku dan duniamu pastilah berbeda bagaimana kita mengerti dan memandangnya. Maka setiap manusia adalah pusat alam semesta dari dirinya sendiri. Kalau dalam kosmologi jawa kurang lebih gini: Manungsa kang dadi pancering jagad. Pusat alam semesta adalah setiap diri manusia. Njelimet ya? ya memang gitu. 
     Manusia dilahirkan sendiri, walaupun hidup bersama, tetapi hakikatnya ya manusia hidup sendiri, dan nanti pulang ke PenciptaMu juga sendirian. Jangan dulu terlalu mudah menyalahkan faktor dari luar. Tengok dulu lah ke dalam. Kan di dalam hidup kamu sendiri yang mengambil keputusan, bukan karena faktor-faktor dari luar. Memang faktor-faktor itu jadi pertimbangan. Tapi kan tetap dirimu sang pengambil keputusan.
     Saya menulis ini bukan berarti saya ahli dalam hal-hal di atas. Saya juga sedang belajar dan akan terus belajar. Bahwa nanti ke depan pandangan saya berubah ya saya tidak tahu. Pokoknya yang saya tahu adalah mencari. Bah ketemu opo ora gak peduli. Itu urusan Tuhan yang meletakkan saya di sana atau tidak. Saya hanya bisa berdoa setelah berusaha.

rebah pasrah padaMu

Tuhanku,
aku rebah pasrah padaMu
bukannya aku malas
bukannya aku tak berbuat apa-apa
aku hanya menjaga
aku telah berusaha
aku temukan batas-batas
yang jika aku langgar,
niscaya petir menyambar menggelegar
benar jika Engkau yang berikanku tanda-tanda
aku manut saja.
Tuhanku,
aku tak mau yang bukan diriMu
sungguh aku kerap lalai
maka aku tak berani
mendekati yang bukan diriMu
karena aku tak lebih baik dari keledai
maka Engkau jegal kakiku berkali-kali
tidak, aku tidak menyalahkanmu Wahai!
aku ridla, Ya Allah biha..
Tuhanku,
inilah pembelajaranku
aku berguru padaMu
karena aku pelajar yang bodoh
maka Kau ingatkanku berkali-kali
sehingga rasa syukur dan ampun padaMu
juga melipat berkali-kali
Tuhanku,
aku rebah pasrah padaMu.

Senin, 11 Juli 2016

Hai selamat pagi :)

Hai selamat pagi :)
     Hmm. Kamu pernah disapa Tuhanmu? Aku pernah. Yup, saat ini Tuhan sedang sayang-sayangnya padaku. Jangan tanya gimana cara Tuhan menyayangimu, dan jangan protes loh ya.
     Rasanya? kalau dirasain ya nggak enak hehe. Tapi cobalah menyelam lebih dalam, atau mengangkasa lebih tinggi, terserah, maka akan kamu temukan. Tentram yang tidak sepi, ada suara nyaring yang tak berbunyi. Masih belum mengerti? tidak masalah, karena rasa memang kadang tak bisa dimengerti. Dan memang tak perlu untuk dimengerti. Di situ letak keistimewaan melangkah menuju sejati.
     Kalau dihitung sudah 3 kali. Bukan piring cantik yang Tuhan beri, apalagi payung yang meski cantik hanya berguna sesekali. Mungkin karena aku yang kebangetan. Aku rasa memang ada yang salah dengan diriku. Tapi apa? aku tidak tahu.
     Apa yang musti ku lakukan? embuh mbuuh. Apapun Tuhan asalkan Kau tidak marah. Berapa kalipun Tuhan asalkan Kau tak bermasam muka. Akan aku kuat-kuati. Akan aku coba syukuri. Akan aku terima tanpa tangis dalam hati.
     Seberapapun besar masalah yang menimpa. Sebenarnya tergantung yang ada di hatimu. Seberat apapun, selama manah tansah nrima lan legawa, apa yang kan jadi masalah? Yang tampak di luar sesungguhnya bagian dari dalam dirimu. Kalau cara gampangnya, bumi adalah bagian dari langit. Yang ada di bumi berarti ada di langit. Selama ini kan kau anggap bumi berbeda dengan langit. Bumi ada di dalam langit. Dirimu seluas langit. Dan sesungguhnya masalahmu hanyalah seperti sebutir bumi. Paham? tapi sekali lagi kamu tak perlu untuk paham.
     Kalau Tuhan sedang sayang, maka hatimu akan dibikin keropos. Satu-satunya cara ya terus maju. Sampai Tuhan sendiri yang menghampirimu. 
     Tuhan sedang mengusap-usap rambutku. Tuhan, dengan namaMu aku menerima. Dengan ketidakberdayaan aku melepaskannya.

Minggu, 10 Juli 2016

cemburu marah padaku

Tuhanku,
marahkah Kau padaku?
aku anggap saja begitu
agar aku dapat terus memohon ampunanMu

Tuhanku,
cemburukah Kau padaku?
aku mengharap kepada yang selainMu

maka Tuhanku,
jadikanlah aku memandangnya 
sama dengan ketika ku memandangMu
jika yang Kau lihat padaku
hanya pembenaran dungu,
hanyalah padaMu
kumohonkan kebenaran sejatiMu

Tuhanku, apa benar Engkau marah dan cemburu padaku?
aku tahu tak sedikitpun Kau perlukan cintaku
lantas apa gerangan itu?
tapi itulah rahasiaMu

Tuhanku,
cinta belum cinta kalau tidak rahasia

Aku suka kamu tidak

Aku suka kamu tidak suka.
Aku cintai Tuhan dalam dirimu aku bahagia
Aku cintai kau sebagai manusia
Karena batinku tak nyenyak akan senda gurau dunia


Kamu tak suka aku suka.

bukannya tak mau,
tak sampai hatiku meskipun aku mampu
karena aku lemah dan mudah terpana
karena kau sangat bernilai
dan ku tak ingin cepat usai


Aku tidak tidak suka kamu tidak suka.

Hei, sadarkah kamu, Engkau bercahaya
Tuhan memilihmu menjadi lentera
Tetapi,


Kamu tidak suka sedangkan aku cinta.

Jumat, 08 Juli 2016

55

Wahai Engkau teramat luas,
kekaguman hatiku tiada pernah tuntas
Wahai Engkau Rabb bijaksana,
Kau beri kami jalan yang tak pernah dinyana
Wahai Engkau penabur cinta sejati,
apakah selain itu yang bisa ku bawa mati?
Wahai Engkau mata air kemuliaan,
aku rangkul dengan segala kebodohan
Wahai Engkau yang membangkitkan,
ku buka mata, hanya Kau yang kusaksikan
Wahai Engkau aku selalu bersaksi,
adalah Kau kutemukan di setiap sisi
Wahai Engkau kebenaran sejati,
semoga aku berjumpa setelah ku mati
Wahai Engkau yang mewakili segala urusan,
tenanglah aku di atas haribaan
Wahai Engkau sungguhlah kuat,
mereka merayuMu hanya ketika asa terikat
Wahai Engkau pemilik dahan-dahan kokoh,
Kau sayang-sayang, mereka lari tergopoh-gopoh!
Wahai Engkau pelindungku,
dalam setiap jingkat langkah meniti sirathMu

Kamis, 07 Juli 2016

44

Wahai Engkau samudera ampunan,
aku ciduk segayung, cukuplah umurku semilyaran
Wahai Engkau ingkang tansah nerima-ake,
berontak aku pada dunia bak ronggolawe 
Wahai Engkau tinggi,
yang hidup mati Kau payungi
Wahai Engkau terbesar,
mungkinkah aku berada di luar?
Wahai Engkau pemelihara,
khilaf aku hidup nikmat hura-hura
Wahai Engkau cukupkan aku,
ku pilah mana inginku mana butuhku
Wahai Engkau Kau hitung dosaku,
maka tak henti aku menghitung ampunanMu
Wahai Engkau besar lagi mulia,
luluskah aku menjadi manusia?
Wahai Engkau pemurah,
Yaa Kariim, Yaa Kariim, Yaa Allah..
Wahai Engkau buatku waspada,
aku kerahkan indera mencari tanda-tanda
Wahai Engkau aku berdoa,
Kau cinta kekasihku di relung sekubah goa

Rabu, 06 Juli 2016

idul fitri

Idul fitri, aku kasihan padamu
aku menyambutmu dengan biasa saja
katanya mereka merasa menang bersamamu
Menang dari apa?

O idul fitri, aku iba padamu
kemarilah, kau bisa selalu jadi kau di sisiku
karena mereka hanya sejenak akrab denganmu
mari bercengkrama bersamaku
Maukah kamu?

Idul fitri,
tetaplah kau tunggu aku di sisi Tuhanku
banyak yang akan lupa, 11 bulan nanti mereka
lampiaskan segala nafsu angkara murka
Lalu siapa yang kalah?

Duhai idul fitri,
jika aku jadi kau, maka tak sudilah aku
aku akan lari menutup mata ku pergi
tapi karena itu kau, kau tetap di sini
Sampai kapan akan seperti ini?

Idul Fitri,
maafkan aku, bukan engkau yang aku peluk ku cium
kau membudaya hanya sebagai momentum
hanya semarak opick mungkin juga ummi kulsum
Kecewa kah kamu?

Ah idul Fitri,
jangan kau ganggu dan lena-lenakan aku
kau puncak bulan (yang katanya) suci
tapi sayang ramadhanku tak pernah ku akhiri
haruskah aku dan kau sabar menanti?

Wahai idul fitri,
katanya kau suci
benar, engkaulah suci
Idul fitri,
tunggu
aku di sisi 
Yang Maha Suci


33

Wahai Engkau puncak tertinggi,
akan aku daki, meski putus jari jemari
Wahai Engkau yang memuliakan,
Buruklah aku di mata makhlukMu, muliakan aku di dekapanMu
Wahai Engkau juru yang menghinakan,
letakkan aku di golongan pencintaMu, hinakan aku
Wahai Engkau pendengar terbaik,
Kelu lidahku, namun tak pernah henti Kau menyimakku
Wahai Engkau mata yang selalu melihat,
tak tahu malu mereka teramat-amat
Wahai Engkau hakim yang menetapkan,
dikiranya mereka ikut memutuskan
Wahai Engkau hakim yang adil,
tiada masalah yang tampak mustahil
Wahai Engkau gemulai kelembutan,
aku jatuh cinta, sadarku berguguran
Wahai Engkau tujuan makrifat,
entah berapa yang lupa, lalu berkhianat
Wahai Engkau penyantun yang santun,
tiada khawatir aku Kau tuntun
Wahai Engkau wujudMu agung,
anugerahi hamba sulthon bagaikan burung-burung

Selasa, 05 Juli 2016

22

Wahai Engkau yang melepaskan,
kaburlah antara yang putih dan hitam
Wahai Engkau seniman pembentuk rupa,
sungguh, apa yang Kau cipta tiada percuma
Wahai Engkau aku mohon ampun,
takut aku padaMu lebih dari apapun
Wahai Engkau selalu memaksa,
apapun, asalkan itu mauMu aku bersedia
Wahai Engkau dermawan pemberi karunia,
yang setiap orang tak meminta, tetapi mereka lupa
Wahai Engkau pemberi rejeki
yang mereka anggap perihal duniawi
Wahai Engkau yang membuka rahmat
yang terkadang aku kelewat senang dan tak ingat
Wahai Engkau tak mungkin tak mengetahui,
di mana lagi aku simpan keburukan hati?
Wahai Engkau yang terkadang menyempitkan,
di batas-batas ini aku bertahan
Wahai Engkau yang melapangkan,
penuh hati ini meluap-luap tak tertahankan
Wahai Engkau lembah dari segala kerendahan,
nyaman aku beringsut di dasaran

11

Wahai Engkau yang mengasihi,
senoktah kasihmu tak kurang bagi bermilyar galaksi 
Wahai Engkau yang menyayangi,
bahkan seekor kutu pun tak Kau biarkan mati
Wahai Engkau raja diraja,
bertahta di singgasana tak sebanding apa saja
Wahai Engkau pemilik kesucian,
yang aku mohonkan padamu walau hanya picisan
Wahai Engkau pemberi kedamaian,
tenanglah aku menyendiri di keramaian
Wahai Engkau penjamin keamanan,
Kau sediakan jembatan maka tak ragu kaki aku langkahkan
Wahai Engkau yang senantiasa mengatur,
sadarlah aku tiada hak bagiku ikut campur
Wahai Engkau ilah Maha Perkasa,
gugurlah kesombongan aku moksa
Wahai Engkau pemilik kegagahan mutlak,
tumbanglah dihadapMu aku musnah
Wahai Engkau pemilik segala kemegahan,
Fakir aku dihadapMu, semua aku relakan
Wahai Engkau yang selalu mencipta
jadilah tiada yang ada atas nama cinta

Senin, 04 Juli 2016

rindu

Tuhanku,
jika aku rindu,
tak pernah sesekali kulepaskan
Kubiarkan ia hiasi tepian malam
menjadi embun di dedaunan
yang menguap disapa siang
Lalu ia melayang-layang.
Hanya melayang,
tak perlu baginya tujuan
Hanya rindu,
tak perlu sampai menggebu-gebu
Aku nikmati aku resapi
agar aku tidak lupa rasa rindu yang sejati
Tuhanku,
Seperti inilah caraMu mengajariku
Akan aku gapai jika memang Engkau yang menyuruhku
Tuhanku,
untuk saat ini takkan pernah kulepaskan rindu.

Sabtu, 02 Juli 2016

Halo selamat pagi

Samlekum!
Selamat pagi wahai kau siapa saja dimana saja apa saja :)
     Puisi-puisiannya istirahat bentar lah ya. Kenapa blogku isinya jadi kayak gitu? hambuh malah takon. Sebenernya karena keterbatasan kemampuan menulis sih. Karena udah lama nggak nulis jadi ilang sensenya.  Dan mau digimana-gimanain susah banget dapet feelnya lagi. Yowislah nulis puisi-puisi gitu aja. Itupun nggak tau tulisanku udah memenuhi syarat disebut puisi apa belum. Tapi bodo amat lah. Nggak ada yang protes juga huehuehue.
     Hmm, aku nggak tau kenapa aku nulis ini. Dan enaknya ngomongin apa ya hmm. Kalo ngomongin orang kayaknya dah biasa deh ya. Kayak nggak hidup kalau nggak ngomongin orang hahaha. Nggakpapa sih asalkan sering-sering juga lihat cacatnya sendiri.
     Kalau liat tulisanku banyak kata 'Tuhanku' di sana. Awalnya emang karena baca puisi-puisi Mbah Nun, di bukunya '99 untuk Tuhanku'. Terus kebawa gaya nulisnya deh. Nggakpapa lah ya. Tapi satu yang akhirnya aku sadar. Nulis puisi kayak gitu bikin hidup lebih romantis hahaha. Apa ya, bukan romantis sih tepatnya, pokoknya hidup rasanya kayak pas lagi duduk-duduk di bawah pohon di atas bukit sambil lihat laut. Apa itu kata-kata yang cocok buat ngegambarin suasananya? Pokoknya rasanya kayak gitu. Dan malah jadi sering ngeliat ke dalem diri. Kalau inget Tuhan jadi hati-hati ngelakuin semua hal. Jadi sering mikir yang aneh-aneh (bukan mesum), dan hidupnya jadi ngga terlalu bingung sih. Karena jadi ada yang diandalkan ngadepin hidup.
     Apa yang bisa diandalkan dari diriku atau dirimu? kok menurutku nggak ada ya. Masih untunglah kita dilahirkan di lingkungan kayak gini, yang Tuhan sudah umum dimengerti hadir di kehidupan sehari-hari. Lah kalau kita disuruh hidup sendirian di tengah hutan dan dilahirin dari batu gitu gimana. Bisa sadar kalo dirinya 'manusia' aja udah untung, gimana caranya kita tahu kalo ada Sang Pencipta. Betapa bisa diandalkannya Tuhan mengatur hidup kita.
    Yang perlu diingat adalah, selain Yang Maha Pemberi Petunjuk, Allah jugalah Yang Maha Menyesatkan. Aku punya temen-temen yang cita-citanya bikin jadi agak geli haha. Beberapa temen punya cita-cita punya pasangan beda agama terus bakalan diislamkan. Terus tak tanya 'lah kenapa harus gitu?' Dia jawab, 'Biar dapet golden ticket ke surga.' Oh man, kok ya mikirnya gitu ya. Aku malah bingung dewe. Apa bisa manusia itu berperan sebagai penunjuk ke 'jalan kebenaran'. Bahwa Tuhan menunjukkan jalan ke orang yang dikehendaki melalui perantaramu, ya. Tapi kamu tidak punya wewenang apapun tentang tersesat atau tidaknya orang lain. Jangan ke-geer-an lah, 'si A berhasil mengislamkan orang.' Dude, come on, itu hak prerogatif Tuhan dan pada hakikatnya kamu nggak ikut andil apapun.
     Dan lagi, mbok ya nggak usah gitu-gitu amat ngejar surganya. Nanti misal kamu beneran ke surga tapi nggak ketemu Tuhan piye hayoo? Dah to, nyari Tuhan aja gausah nyari yang aneh-aneh :) Kalau emang kita pengen orang lain kenal terus masuk islam, didoain aja. Kalau keluarga sendiri? ya diobrolin sih bagusnya, tapi jangan berdebat apalagi maksa. Sekali lagi, didoain aja. Inget, Tuhan  yang memberi petunjuk, Tuhan juga yang menyesatkan. Lagian, menurut hematku, nggak terlalu penting sih apa agama orang lain, yang penting gimana perilakunya ke lingkungannya dan diri sendiri. Jadi jangan gampang marah ya. Agama itu perilaku, bukan identitas. Dan pada hakikatnya Tuhan tidak bernama, apalagi beragama. Jadi terserah-terserah Tuhan mau gimana, kita nggak punya hak apa-apa.
     Ya Allah betapa takutnya aku tersesat di bukan jalan yang menujuMu.
     (Ini tulisan apa sih sebenernya nggak jelas ngalor ngidul hihi. Yuwoooben.)

cukuplah

Tuhanku,
Salamku pada Sang Kekasih
Aku junjung Ia
Aku ancup-ancupkan egoku 
Aku bersholawat kepadanya atas DiriMu
Tuhanku 
tuan rumah hatiku
Sang pengisi malam-malamku
dan pendamping terbaik siang hariku
Pusat dari lingkaran kehidupan matiku
Cahaya di segitiga cintaku
Di sosok itu, aku merasakan hadirMu
Di kedalamannya aku menjumpaiMu
CahayaMu memancar dari senyum mungil itu
Cukuplah Engkau
Cukuplah Engkau penolongku
Engkaulah sebaik-baik penolong
betapa aku bersyukur kepadaMu

Jumat, 01 Juli 2016

hujan

Tuhanku,
jikalau tetes-tetes air hujan mau,
enggan ia basahi bumi
tapi ia tak begitu.
Adalah kasihMu,
yang lebih besar dari apapun itu
sehingga ia sudi, ia relakan
Tuhanku,
aku takdzim padanya
tetes-tetes air yang jatuh di keningku
aku kira ia hanya akan hilang
ah betapa tololnya aku
Tuhanku,
ijinkan aku menikmati cintaMu
melalui tetesan-tetesan itu
larut aku bersamanya
iyya kanasta'in
iyya kanasta'in
iyya kanasta'in