Sabtu, 02 Juli 2016

Halo selamat pagi

Samlekum!
Selamat pagi wahai kau siapa saja dimana saja apa saja :)
     Puisi-puisiannya istirahat bentar lah ya. Kenapa blogku isinya jadi kayak gitu? hambuh malah takon. Sebenernya karena keterbatasan kemampuan menulis sih. Karena udah lama nggak nulis jadi ilang sensenya.  Dan mau digimana-gimanain susah banget dapet feelnya lagi. Yowislah nulis puisi-puisi gitu aja. Itupun nggak tau tulisanku udah memenuhi syarat disebut puisi apa belum. Tapi bodo amat lah. Nggak ada yang protes juga huehuehue.
     Hmm, aku nggak tau kenapa aku nulis ini. Dan enaknya ngomongin apa ya hmm. Kalo ngomongin orang kayaknya dah biasa deh ya. Kayak nggak hidup kalau nggak ngomongin orang hahaha. Nggakpapa sih asalkan sering-sering juga lihat cacatnya sendiri.
     Kalau liat tulisanku banyak kata 'Tuhanku' di sana. Awalnya emang karena baca puisi-puisi Mbah Nun, di bukunya '99 untuk Tuhanku'. Terus kebawa gaya nulisnya deh. Nggakpapa lah ya. Tapi satu yang akhirnya aku sadar. Nulis puisi kayak gitu bikin hidup lebih romantis hahaha. Apa ya, bukan romantis sih tepatnya, pokoknya hidup rasanya kayak pas lagi duduk-duduk di bawah pohon di atas bukit sambil lihat laut. Apa itu kata-kata yang cocok buat ngegambarin suasananya? Pokoknya rasanya kayak gitu. Dan malah jadi sering ngeliat ke dalem diri. Kalau inget Tuhan jadi hati-hati ngelakuin semua hal. Jadi sering mikir yang aneh-aneh (bukan mesum), dan hidupnya jadi ngga terlalu bingung sih. Karena jadi ada yang diandalkan ngadepin hidup.
     Apa yang bisa diandalkan dari diriku atau dirimu? kok menurutku nggak ada ya. Masih untunglah kita dilahirkan di lingkungan kayak gini, yang Tuhan sudah umum dimengerti hadir di kehidupan sehari-hari. Lah kalau kita disuruh hidup sendirian di tengah hutan dan dilahirin dari batu gitu gimana. Bisa sadar kalo dirinya 'manusia' aja udah untung, gimana caranya kita tahu kalo ada Sang Pencipta. Betapa bisa diandalkannya Tuhan mengatur hidup kita.
    Yang perlu diingat adalah, selain Yang Maha Pemberi Petunjuk, Allah jugalah Yang Maha Menyesatkan. Aku punya temen-temen yang cita-citanya bikin jadi agak geli haha. Beberapa temen punya cita-cita punya pasangan beda agama terus bakalan diislamkan. Terus tak tanya 'lah kenapa harus gitu?' Dia jawab, 'Biar dapet golden ticket ke surga.' Oh man, kok ya mikirnya gitu ya. Aku malah bingung dewe. Apa bisa manusia itu berperan sebagai penunjuk ke 'jalan kebenaran'. Bahwa Tuhan menunjukkan jalan ke orang yang dikehendaki melalui perantaramu, ya. Tapi kamu tidak punya wewenang apapun tentang tersesat atau tidaknya orang lain. Jangan ke-geer-an lah, 'si A berhasil mengislamkan orang.' Dude, come on, itu hak prerogatif Tuhan dan pada hakikatnya kamu nggak ikut andil apapun.
     Dan lagi, mbok ya nggak usah gitu-gitu amat ngejar surganya. Nanti misal kamu beneran ke surga tapi nggak ketemu Tuhan piye hayoo? Dah to, nyari Tuhan aja gausah nyari yang aneh-aneh :) Kalau emang kita pengen orang lain kenal terus masuk islam, didoain aja. Kalau keluarga sendiri? ya diobrolin sih bagusnya, tapi jangan berdebat apalagi maksa. Sekali lagi, didoain aja. Inget, Tuhan  yang memberi petunjuk, Tuhan juga yang menyesatkan. Lagian, menurut hematku, nggak terlalu penting sih apa agama orang lain, yang penting gimana perilakunya ke lingkungannya dan diri sendiri. Jadi jangan gampang marah ya. Agama itu perilaku, bukan identitas. Dan pada hakikatnya Tuhan tidak bernama, apalagi beragama. Jadi terserah-terserah Tuhan mau gimana, kita nggak punya hak apa-apa.
     Ya Allah betapa takutnya aku tersesat di bukan jalan yang menujuMu.
     (Ini tulisan apa sih sebenernya nggak jelas ngalor ngidul hihi. Yuwoooben.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar