Dan setelah sekian lama berpikir, mencoba meneliti, ya memang masuk akal. Apakah menurut ilmu di dunia kedokteran modern saat ini juga seperti itu, saya tidak tahu. Yang saya mulai mengerti adalah, ketika zaman mulai kesini, manusia selalu menilik sebab dari akibat yang menimpa dirinya adalah hal-hal dari luar. Padahal yang menentukan sakit atau tidaknya adalah kejujuran pikirannya sendiri. Tentang rokok misalnya, jangan dulu antipati, diterima dulu, lalu pikirkan. Kalau saya pribadi, merokok sama sekali bukan ajang keren dlsb. Ketika merokok, entah kenapa saya ingat bapak-bapak yang menanam tembakau, saya ingat kebun yang ditanami, saya ingat tanah, saya ingat siapa Pencipta tanah-tanah itu.
Bukannya sok suci, saya baru memahami hal itu baru-baru ini. Awal mula merokok dulu ya keren-kerenan hehehe. Tetapi setelah paham, saya memang jadi lebih bergantung dengan rokok. Ya gimana, produktifitas dan kreatifitas saya meledak-ledak ketika merokok. Apakah hal itu baik? Terserah pendapat Anda sendiri-sendiri. Kalau berbicara tentang efek samping ya pastilah ada. Karena semua hal di dunia ini paradoks. Apakah ada hal yang baik saja? Apakah ada hal yang buruk saja? Semua hal ada baik-buruknya. Itu hanya masalah bagaimana mengatur batin kita.
Apapun itu, pandanglah dulu apa yang ada di dalam dirimu. Karena dunia yang dilihat setiap orang itu berbeda. Duniaku dan duniamu pastilah berbeda bagaimana kita mengerti dan memandangnya. Maka setiap manusia adalah pusat alam semesta dari dirinya sendiri. Kalau dalam kosmologi jawa kurang lebih gini: Manungsa kang dadi pancering jagad. Pusat alam semesta adalah setiap diri manusia. Njelimet ya? ya memang gitu.
Manusia dilahirkan sendiri, walaupun hidup bersama, tetapi hakikatnya ya manusia hidup sendiri, dan nanti pulang ke PenciptaMu juga sendirian. Jangan dulu terlalu mudah menyalahkan faktor dari luar. Tengok dulu lah ke dalam. Kan di dalam hidup kamu sendiri yang mengambil keputusan, bukan karena faktor-faktor dari luar. Memang faktor-faktor itu jadi pertimbangan. Tapi kan tetap dirimu sang pengambil keputusan.
Saya menulis ini bukan berarti saya ahli dalam hal-hal di atas. Saya juga sedang belajar dan akan terus belajar. Bahwa nanti ke depan pandangan saya berubah ya saya tidak tahu. Pokoknya yang saya tahu adalah mencari. Bah ketemu opo ora gak peduli. Itu urusan Tuhan yang meletakkan saya di sana atau tidak. Saya hanya bisa berdoa setelah berusaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar