Senin, 23 April 2018

Kupu-kupu

Apakah engkau kupu-kupu, ataukah aku?
Siapa gerangan yang sedang mengepompong, aku atau dirimu?

Ulat-ulat masih terlalu kecil, pikirannya masih terlalu kerdil meskipun ia suci. Tak seperti kita yang melenggok terbang menangkap setiap pandangan mata yang ternyata buta.

Apakah kepompong itu aku, atau dirimu?
Sayap-sayap kita menyumbangkan beribu warna bagi dunia. Tapi tanyakan lagi, apakah kupu-kupu sadar akan keindahannya sendiri? Apakah kupu-kupu pernah melihat keelokan tubuhnya sendiri?

Jika kau memaksaku mengakui, maka kujawab secara mengada-ada; aku sedang mengepompong. Kubungkus diriku terpisah dari dunia yang lama-lama membuatku muak. Saat ini atau saat itu hanya ada diriku dan diriku. Antara diriku dan diriku lahir berbagai macam diri. Kemudian hilanglah diriku akibat aku kebingungan mengenal yang mana yang diriku.
Semua bukan aku.

Rabu, 18 April 2018

diam

Jika engkau memutuskan untuk diam, maka ketahuilah saudaraku, kawanku, kekasihku; kesunyian mengatakan semuanya kepadaku. Dan aku mengucapkannya melalui tulisan ini dengan bersungguh-sungguh.

Sunyi mengabarkan segala yang ia tahu padaku. Dan ingat-ingatlah kembali, di dalam kesunyianlah engkau sering memikirkan masalahmu, berdialog dengan dirimu, berkeluh kesah kepada Penciptamu. Maka luberkan segala rahasiamu kepada sahabatku yang bernama sunyi itu. Kemudian aku akan mengajaknya ngobrol segala sesuatu tentang dirimu.

Tinggal kau pilih, kau sendiri yang mengatakan kepadaku, atau sang sunyi yang akan memberitahuku.
Sayangnya engkau sendiri sering tak menyapanya dan menganggap kesunyian sama dengan ketidakadaan.

Wahai sunyi sahabatku, kekasihku, bersabarlah barang sejenak, karena diri ini akan selalu mengusikmu untuk sementara waktu.

Sabtu, 14 April 2018

ssssstttt...

Belakangan ini otak saya sedang sumpek akibat diri ini ikut memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu dicampuri urusannya. Padahal tinggal saya serahkan saja ke otak, semuanya akan beres dan baik-baik saja. Sayanya ya tinggal menganggur  menunggu hasil kemudian melakukan.

Tapi ya memang dasarnya menungso, kadang begini kadang begitu. Sama sekali tidak bisa diandalkan. Jangankan mikir yang susah-susah, dalam sembahyang yang sudah template saja sering terasa hambar. Sangat amatlah jarang saya bersujud hingga tersedu-sedu. Woo lha menungsoo menungso.

Namun ada satu hal yang bisa saya pelajari dari peristiwa yang menimpa diri saya itu. Yaitu tentang kesetiaan. Yes, setia, kata yang klise itu. Jangan anti-kata-setia dulu, hidupmu muspro atawa percuma kalau cuma anti-antian begitu.

Tentang naik-turunnya perasaanmu terhadap suatu hal, jika Engkau tetap teguh dan tidak melarikan diri, itulah setia. Masalahnya kesetiaan sering tak memandang 'objek kesetiaan'. Seperti hujan yang tak memilih apa yang ia hujani.

Jadi PR buat diri saya adalah; siapa atau apa yang patut saya setia-i. Jangan sampai saya setia terhadap sesuatu yang salah. Caranya saya tahu sesuatu itu benar atau salah? Ya menjalani.

Maka dari itu saya akan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Meskipun hal itu remeh, saya tidak peduli-peduli amat. Toh saya juga ndak bisa apa-apa.

Kamis, 05 April 2018

Engkau tahu


Tentu Engkau tahu Ya Allah,
ia telah merampas cintaku,

maka jadikanlah aku cinta-Mu!


Senin, 02 April 2018

tersesat

Kalau dipikir kembali, orang yang tersesat pastilah tahu bahwa dirinya sedang tersesat. Maka kewajiban baginya adalah mencari petunjuk di manakah ia sedang berada, menyusun strategi untuk menyelamatkan diri, dan naluri orang yang tersesat adalah mencari jalan yang pernah ia lalui, untuk kemudian mencari jalan agar dapat kembali pulang.

Mungkin masih sangat besar keinginannya untuk sampai kepada tujuannya. Namun secara naluriah keselamatan diri menjadi jauh lebih penting baginya. Kemudian di tengah perjalanan, orang itu menyadari bahwa yang membutuhkan petunjuk hanyalah bagi orang yang sedang tersesat.

Karena orang yang tidak sedang tersesat sudah pasti tak memerlukan petunjuk apapun. Tetapi siapa yang tahu kita sedang atau tidak sedang tersesat?

Maka kuposisikan diri ini sebagai orang yang selalu tersesat. Agar Tuhan memberiku petunjuk untuk kembali ke jalanNya. Untuk kembali kepadaNya.

Minggu, 01 April 2018

April

Allah, hamba berjalan bersamaMu. Para pengarung sunyi menanti purnama malam ini. Begitupun aku, di kehidupan yang gelap gulita ini siapa lagi jika bukan Engkau yang kusanding denganku.
Getar-getaran getir kehidupan bagaikan gitar tanpa dawai yang tak lagi memerlukan bunyi. Karena musiknya selalu mengalun menjadi diri.

Allah, bulan malam ini yang akan menandai. Apakah utasan tali yang selama ini kurangkai akan menjadi atau mungkin masih mencoba menjadi. Atau mungkin masih mencoba mencoba menjadi. Malah yang paling mungkin ialah mencoba mencoba mencoba... dan entah menjadi.

Allah Yaa Waduud, Yaa Kariim, Yaa Rahiim, ketika hamba memohon maka yang mengalun merdu adalah musikMu.