Tuhan, untuk apa aku berkata-kata?
Sedangkan Engkau mengetahui setiap borok di dalam dada.
Tuhan, untuk apakah aku menulis?
Sedangkan tanganku lebih sering melakukan hal yang sebaliknya.
Tuhan, untuk apa aku harus selalu mencari?
Sedangkan kakiku lemah keropos dan nyeri tak terperi.
Tuhan, untuk apa cahaya-cahaya yang Engkau tampakkan di mataku?
Sedangkan aku malah terpana dan lupa kepadaMu.
Tuhan..
Tuhan...
Hamba paham tiada yang lain yang kutuju.
Tetapi,
Masih adakah untukku?
Lalu apa yang pantas kusujudkan kepadaMu?
Tuhan, inilah siksa sekaligus anugerahMu.
Aku memohon kepadaMu di dalam gemingku.
Minggu, 18 Desember 2016
Jumat, 18 November 2016
Ngerokok udud, ngudud rokok...
Seusai menyantap hidangan suguhan dari Mas Bait, ternyata malam telah memuncak. Sejak dari tadi Mas Bait minta izin untuk keluar rumah sebentar. "Mau menengok tembakau", katanya. Dan dari situ aku tahu, Mas Bait adalah seorang petani tembakau. Memang biasanya pada tengah malam begini para petani tembakau menjereng rajangan tembakau di luar, diangin-anginkan dan dibiarkan terpapar udara dingin malam hingga dini hari. Alasannya agar rajangan tembakau menjadi lembab sehingga tidak kering dan sepa ketika sudah dilinting menjadi rokok kretek.
Masalah baik atau tidaknya rokok, nanti dulu. Aku tidak punya hak judging apakah rokok itu baik atau tidak. Soalnya aku sendiri adalah Atlet Rokok. Maka ketika kubilang merokok itu baik, orang-orang tidak ada yang akan percaya. Begini saja, sebaiknya kita mengubah sudut pandang agar perdebatan rokok yang selama ini nyaris tidak menjumpai titik temu menjadi sedikit lerem atau mereda.
Yang aku pahami, benar-salah, baik-buruk, ya atau tidak, bukan terletak pada barangnya, tapi pada cara, sudut, titik, dan jarak pandang kita. Itu pun masih belum cukup, karena setiap orang mempunyai persepsi dan presisinya sendiri-sendiri. Jadi sesungguhnya perdebatan semacam itu akan menjadi batal dan tidak pernah benar-benar ada. Pernah juga aku tulis pernyataan bahwa: perdebatan akan sah jika pihak-pihaknya sama-sama berangkat dari nol, ketidakberpihakan, walaupun pada mulanya yang berdebat adalah pihak yang sedang berlawanan.
Lagi pula, fenomena rokok ini sudah tidak lagi tentang sehat atau tidak sehat. Jika kita mau mencari sejarah rokok kretek, maka akan ketahuan, apa dan siapa serta alasan dibalik pertentangan-pertentangan itu. Polanya mirip dengan penghancuran pertanian olive oil di Nusantara pada masa lampau. Aku hanya merasa kasihan dan tidak tega kepada tumbuhan tembakau, apalagi kepada petaninya. Yang membikin Tembakau itu ya Tuhan sendiri, maka jika kau membenci tembakau, berhati-hatilah, bisa-bisa Sang Pencipta Tembakau tersinggung. Lagian, mbok ya kalau berdebat itu tahu posisi, tahu patrap, tahu empan papan. Petani tembakau itu para kawulo alit, kalau mau 'menyadarkan' para petani ya mohon dicari solusinya dulu, jangan asal mbabat suket tapi kambing pun ternyata belum punya.
"Dul.." aku memanggil Hati.
"Dal dul gundhumu," si Hati sewot, "ada apa?"
"Coba lihat ini," aku menyodorkan bungkus rokok pemberian Mas Bait kepada Hati.
"Kenapa bungkus rokok ini?" Hati membolak-balik bungkus rokok itu.
"Merasa ada yang aneh tidak?"
"Hmm..bungkus rokok biasa, cuman agak enteng karena sampeyan udud nyepur daritadi." tawa hati karena memang isi bungkus rokok itu hanya tinggal separuh.
"Coba kamu lihat tanggal pembuatannya."
"Woh!" Hati pura-pura kaget, "tanggal sekian, memang kenapa?"
"Kamu tahu kan kalau itu hari ini?"
"Wah, saya sudah sejak lama melupakan tanggal, lagian tidak penting penanda waktu semacam itu, karena saya tidak mau terpenjara oleh batas-batas waktu. Saya dan sampeyan kan mencari keabadian."
"Lambemu duuul dul. Kita tidak sedang membahas itu. Apa kamu nggak ngerasa aneh? Sebelum masuk ke belantara ini, kita berjalan selama 2 hari dan hanya semak belukar yang kita jumpai. Lalu, dari mana Mas Bait mendatangkan rokok ini?" tanyaku keheranan.
"Lho, lho, lho... kok sampeyan tanyanya ke saya? pertanyaan salah alamat."
Sejenak aku terdiam.
"Apa Mas Bait itu punya ilmu linuwih ya? semacam sakti atau menguasai klenik"
"Gawaat, gawaaat," Hati menepuk jidatnya, "loh sampeyan ini ngobrol dengan Mas Bait panjang lebar sejak tadi itu masih ndak sadar juga tho? kalau saya sih sejak memandang beliau pertama kali langsung tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu kalau akan disuguhi makanan." jawab Hati cengengesan.
"Lha saya sudah sejak awal curiga Mas Bait bukan orang sembarangan, tapi sekarang saya benar-benar yakin."
"Ya sudahlah" ujar Hati, "sampeyan ini kayak ndak pernah mengalami hal-hal ndak wajar semacam itu. Setelah perjalanan panjang kita, seharusnya sampeyan tidak kagetan, tidak gumunan, tidak jirih. Lha wong kuasa Allah itu sangat besar dan luas, hal-hal semacam itu sepele di tangan Allah." Si Hati malah menasihatiku.
"Aku tidak merasa kaget, apalagi takut. Justru aku gembira, karena aku akan menyadari betapa kecilnya aku di tangan Allah, betapa aku tidak berdaya karena Sulthon Allah yang ditampakkan begitu jelas di hadapanku. Betapa aku menyerah kalah di hadapan Allah."
"Tapi ingat,"
Hati mengacungkan tangannya ke arahku,
"jangan pernah sampeyan menganggap Mas Bait itu yang sakti. Karena saya teramat yakin, Mas Bait juga tidak akan sudi jika kita takdzim kepadanya karena hal-hal ajaib yang terjadi pada kita. Sebab, Mas Bait begitu dekat dan teramat cinta kepada Tuhannya. Sehingga hal ajaib semacam ini di luar kesadaran beliau. Karena beliau selalu sibuk bermesraan dengan Tuhannya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah."
"Kalau itu aku juga paham..."
Masalah baik atau tidaknya rokok, nanti dulu. Aku tidak punya hak judging apakah rokok itu baik atau tidak. Soalnya aku sendiri adalah Atlet Rokok. Maka ketika kubilang merokok itu baik, orang-orang tidak ada yang akan percaya. Begini saja, sebaiknya kita mengubah sudut pandang agar perdebatan rokok yang selama ini nyaris tidak menjumpai titik temu menjadi sedikit lerem atau mereda.
Yang aku pahami, benar-salah, baik-buruk, ya atau tidak, bukan terletak pada barangnya, tapi pada cara, sudut, titik, dan jarak pandang kita. Itu pun masih belum cukup, karena setiap orang mempunyai persepsi dan presisinya sendiri-sendiri. Jadi sesungguhnya perdebatan semacam itu akan menjadi batal dan tidak pernah benar-benar ada. Pernah juga aku tulis pernyataan bahwa: perdebatan akan sah jika pihak-pihaknya sama-sama berangkat dari nol, ketidakberpihakan, walaupun pada mulanya yang berdebat adalah pihak yang sedang berlawanan.
Lagi pula, fenomena rokok ini sudah tidak lagi tentang sehat atau tidak sehat. Jika kita mau mencari sejarah rokok kretek, maka akan ketahuan, apa dan siapa serta alasan dibalik pertentangan-pertentangan itu. Polanya mirip dengan penghancuran pertanian olive oil di Nusantara pada masa lampau. Aku hanya merasa kasihan dan tidak tega kepada tumbuhan tembakau, apalagi kepada petaninya. Yang membikin Tembakau itu ya Tuhan sendiri, maka jika kau membenci tembakau, berhati-hatilah, bisa-bisa Sang Pencipta Tembakau tersinggung. Lagian, mbok ya kalau berdebat itu tahu posisi, tahu patrap, tahu empan papan. Petani tembakau itu para kawulo alit, kalau mau 'menyadarkan' para petani ya mohon dicari solusinya dulu, jangan asal mbabat suket tapi kambing pun ternyata belum punya.
"Dul.." aku memanggil Hati.
"Dal dul gundhumu," si Hati sewot, "ada apa?"
"Coba lihat ini," aku menyodorkan bungkus rokok pemberian Mas Bait kepada Hati.
"Kenapa bungkus rokok ini?" Hati membolak-balik bungkus rokok itu.
"Merasa ada yang aneh tidak?"
"Hmm..bungkus rokok biasa, cuman agak enteng karena sampeyan udud nyepur daritadi." tawa hati karena memang isi bungkus rokok itu hanya tinggal separuh.
"Coba kamu lihat tanggal pembuatannya."
"Woh!" Hati pura-pura kaget, "tanggal sekian, memang kenapa?"
"Kamu tahu kan kalau itu hari ini?"
"Wah, saya sudah sejak lama melupakan tanggal, lagian tidak penting penanda waktu semacam itu, karena saya tidak mau terpenjara oleh batas-batas waktu. Saya dan sampeyan kan mencari keabadian."
"Lambemu duuul dul. Kita tidak sedang membahas itu. Apa kamu nggak ngerasa aneh? Sebelum masuk ke belantara ini, kita berjalan selama 2 hari dan hanya semak belukar yang kita jumpai. Lalu, dari mana Mas Bait mendatangkan rokok ini?" tanyaku keheranan.
"Lho, lho, lho... kok sampeyan tanyanya ke saya? pertanyaan salah alamat."
Sejenak aku terdiam.
"Apa Mas Bait itu punya ilmu linuwih ya? semacam sakti atau menguasai klenik"
"Gawaat, gawaaat," Hati menepuk jidatnya, "loh sampeyan ini ngobrol dengan Mas Bait panjang lebar sejak tadi itu masih ndak sadar juga tho? kalau saya sih sejak memandang beliau pertama kali langsung tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu kalau akan disuguhi makanan." jawab Hati cengengesan.
"Lha saya sudah sejak awal curiga Mas Bait bukan orang sembarangan, tapi sekarang saya benar-benar yakin."
"Ya sudahlah" ujar Hati, "sampeyan ini kayak ndak pernah mengalami hal-hal ndak wajar semacam itu. Setelah perjalanan panjang kita, seharusnya sampeyan tidak kagetan, tidak gumunan, tidak jirih. Lha wong kuasa Allah itu sangat besar dan luas, hal-hal semacam itu sepele di tangan Allah." Si Hati malah menasihatiku.
"Aku tidak merasa kaget, apalagi takut. Justru aku gembira, karena aku akan menyadari betapa kecilnya aku di tangan Allah, betapa aku tidak berdaya karena Sulthon Allah yang ditampakkan begitu jelas di hadapanku. Betapa aku menyerah kalah di hadapan Allah."
"Tapi ingat,"
Hati mengacungkan tangannya ke arahku,
"jangan pernah sampeyan menganggap Mas Bait itu yang sakti. Karena saya teramat yakin, Mas Bait juga tidak akan sudi jika kita takdzim kepadanya karena hal-hal ajaib yang terjadi pada kita. Sebab, Mas Bait begitu dekat dan teramat cinta kepada Tuhannya. Sehingga hal ajaib semacam ini di luar kesadaran beliau. Karena beliau selalu sibuk bermesraan dengan Tuhannya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah."
"Kalau itu aku juga paham..."
Kira-kira
Kira-kira,
siapa gerangan kekasih,
yang merangkai atom-atom itu jadi sebutir Benih?
Yang meramu zat-zat tanah hingga Ibu Bumi dengan bahagia menimang Sang Bayi Benih?
Yang merajut pembuluh dan serat-serat hingga Benih tak lagi menjadi Benih?
Yang merajut pembuluh dan serat-serat hingga Benih tak lagi menjadi Benih?
Yang Ibu Bumi tak memiliki kuasa barang secuilpun atas hak Sang Benih untuk tumbuh?
Namun kekasih,
Namun kekasih,
justru karena itu Sang Benih kecil menikmati kasih sayang tulus Ibu Bumi.
Dan karena itu maka:
Ibu Bumi telah menyerah dan sepenuhnya pasrah kepada Sang Pemilik Benih.
Dan karena itu maka:
Ibu Bumi telah menyerah dan sepenuhnya pasrah kepada Sang Pemilik Benih.
Tahukah wahai engkau,
kini Benih itu tumbuh juga di dalam rongga yang Tuhan ciptakan hanya berjumlah satu.
Apakah itu memang engkau?
Apakah ya?
Atau jangan-jangan tidak?
Apapun itu, kekasih,
ini begitu nyata.
Akulah Sang Ibu Bumi yang telah kalah.
Aku Ibu Bumi yang hanya bisa pasrah.
Apakah itu memang engkau?
Apakah ya?
Atau jangan-jangan tidak?
Apapun itu, kekasih,
ini begitu nyata.
Akulah Sang Ibu Bumi yang telah kalah.
Aku Ibu Bumi yang hanya bisa pasrah.
Sabtu, 12 November 2016
Namanya Mas Bait
Aku dan Hati naik ke atas dipan. Kami bertiga duduk melingkar, jika dilihat dalam termin sudut, posisi kami membentuk bangunan segitiga, tapi aku lebih suka jika menyebutnya melingkar, karena tiga sudut ini sesungguhnya bagian dari garis pada sebuah lingkaran. Lingkaran adalah segi tak terbatas. Tak terbatas karena lingkaran adalah batasan itu sendiri. Sesungguhnya, kalau kita hayati lebih dalam, batasan-batasan adalah rukun kehidupan. Sekali lagi, jika kita hayati lebih dalam.
"Terima kasih Mas," kataku, "Mas mau menjamu kami, padahal Mas nggak kenal siapa kami. Apakah Mas ndak takut jika sebenarnya kami ini orang jahat?"
"Wah, njenengan ini lucu. Mana ada orang jahat yang mau jalan-jalan ke tengah belantara seperti ini? Tempat orang jahat bukan di sini, di sini hanya ada kesunyian, dan itu yang panjenengan berdua cari, bukan? Jalan kesunyian yang agung yang kejahatan seringkali menghindarinya."
Aku menggaruk-garuk kepala dan merasa sedikit malu. Tuan Rumah ini pikirannya sungguh tajam. Tetapi aku bertanya-tanya, apa yang beliau lakukan di tengah belantara seperti ini? Apa yang beliau cari? Dan sejak kapan beliau di sini?
"Maaf, kalau saya boleh tau, Mas ini siapa?" tanyaku.
"Saya bukan siapa-siapa, tetapi njenengan boleh memanggil saya..." kalimat beliau berjeda, "Bait... ya, panggil saya Bait." nada bicara beliau mengisyaratkan bahwa Bait bukan nama yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau mempermasalahkannya lebih jauh akan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih Mas Bait, di samping ini sahabat saya, namanya Hati, kalau nama saya..."
"Sudah, cukup!" Mas Bait memotong perkenalanku, "biarlah saya tidak mengetahui nama njenengan, Dik, hal itu lebih baik untuk kita, terutama saya. Supaya perjumpaan kita tidak terjebak pada batas nama-nama. Supaya saya tercegah dari mengharapkan sesuatu dari panjenengan."
Sungguh aneh. Bukannya tadi beliau sendiri yang menyebut nama kepada kami? namun sekarang malah beliau melarangku menyebutkan namaku. Tapi tak apa lah, yang satu ini juga tidak akan aku permasalahkan lebih jauh.
"Monggo, ini ada Wedang Secang," tebakanku mengenai isi ceret itu salah. Mas Bait menuangkan minuman ke gelas kami, "sudah lama saya tidak menjamu tamu seperti ini. Itu juga ada rokok kesukaan panjenengan, silahkan diudud."
Bagaimana Mas Bait tahu rokok kesukaanku? aneh, aneh, aneh. Kebetulan rokokku habis, aku nyalakan sebatang rokok sambil memandangi sekeliling. Ternyata pandanganku dari luar tadi tidak salah. Lampu! aku memandang lampu! Lalu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau.
"Bait, berarti rumah," pandanganku tajam ke mripat beliau, "nama yang Mas pilih bukan nama yang wajar."
"Pikiran sampeyan runcing," kata beliau, kalimat yang sesungguhnya lebih pantas ditujukan pada beliau sendiri, "saya adalah rumah dari diri saya sendiri, sedangkan siapa tuan rumahnya tentu panjenengan juga sudah paham dan mengerti."
"Tuhan," jawabku pendek, "dan Kanjeng Nabi ajudannya."
"Jika benar begitu, lalu di mana letak njenengan pada rumah itu? Tentu rumah ada bagian-bagiannya, ada fungsinya, dan ada tata letaknya. Njenengan mengerti kan maksud saya?"
"Masih belum paham, Mas." jawabku.
"Begini, di dalam rumah tentu ada dinding, ada pintu, kemudian ada jendelanya, lantainya, atapnya, dan terutama kerangka penopang dan fondasinya. Nah, diri sampeyan terletak di mana?"
Aku melirik ke arah Hati, ternyata dia juga terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Keseluruhannya, mungkin?" aku menjawab sekenanya.
"Baiklah, jawaban njenengan masuk akal." kata Mas Bait sambil mengangguk-anggukkan kepala, "tetapi coba njenengan jawab, jika saya menyebut pintu, apakah itu bagian dari diri njenengan?"
"Ya... " jawabku singkat.
"Lalu, jika saya menyebut serat-serat kayu adalah bagian dari pintu, berarti itu juga bagian dari njenengan?"
"Leres, Mas.."
"Lalu, jika saya menyebut unsur-unsur pembentuk serat-serat kayu, apakah itu juga bagian dari diri panjenengan?"
"Betul."
"Dan jika saya menyebutkan yang lebih kecil hingga lebih kecil lagi berupa senyawa dan atom-atom, dan mungkin lebih kecil lagi berupa quark yang sementara ini manusia hanya mampu meneliti sejauh itu, apakah itu bagian dari diri panjenengan juga?"
"Benar sekali, Mas. Pengetahuan Mas sungguh luas, sebenarnya Mas ini siapa?"
"Berarti," Mas Bait meneruskan bicaranya dan tidak menghiraukan pertanyaanku, "bukankah tembok, lantai, genteng, dan lainnya juga disusun dari hal yang sama, sebutlah, quark itu tadi?"
"Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Mas Bait."
"Bolehlah saya mengarang-ngarang bahwa alam semesta ini terdiri dari bahan yang sama, bumi, langit, semuanya. Jika memang begitu, bukannya menjadi batal pernyataan njenengan tadi?"
"Pernyataan saya yang mana, Mas?"
"Jika diri njenengan adalah kesuluruhan dari rumah."
"Bisa benar, bisa juga salah, Mas."
"Maksudnya bagaimana?"
Aku berhenti sejenak, menyeruput Wedang Secang yang terasa begitu hangat di kerongkongan. Terasa sangat pas karena dingin udara akibat hujan di luar yang masih deras.
Aku menyalakan lagi sebatang rokok karena pembicaraan kami ternyata serius. Dan merokok adalah tanda jika aku sedang serius melakukan sesuatu.
"Begini Mas, jika rumah tadi adalah badan saya, maka akan salah jika saya menyebut itu diri sejati saya. Hal itu sekedar batas kesadaran saya, daerah otonomi saya. Wajah dan jiwa, tubuh dan ruh, dan dikotomi-dikotomi lain yang ada pada saya, adalah pinjaman dari Tuhan untuk syarat hidup di dunia, yang tujuan sejatinya adalah pemilik dari kesuluruhan itu, yaitu Tuhan Sang Khalik. Jika saya ada pada kesadaran itu, berarti pernyataan saya menjadi benar."
"Jawaban yang bagus!" Mas Bait tertawa gembira dan bertepuk tangan.
Aku malah keheranan, ternyata Mas Bait juga bisa meledak-ledak ekspresinya.
"Mari kita kerucutkan," kata Mas Bait, "seberapa besar kewenangan sampeyan dalam kesadaran berupa diri tadi?"
"Hampir mendekati nol, Mas."
"Berarti apakah njenengan ini benar-benar ada?"
"Tergantung dari sudut pandangnya. Jika dari sudut pandang materi, ya. Tetapi dari sudut pandang kesadaran tadi, tidak. Jangankan saya sadar siapa saya, mengenal diri saya sendiri pun saya tidak mampu. Dan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan saya tadi justru membuat saya yakin."
"Yakin mengenai apa?"
"Yakin tentang siapa, apa, di mana, dan bagaimana diri saya."
"Bersyukurlah, Dik." Mas Bait menepuk-nepuk bahuku. "bersyukurlah kepada Allah yang lebih mengenal siapa dirimu melebihi dirimu sendiri dan memperjalankanmu hingga ke titik ini. Dan nanti, ketika Allah bermurah hati membuka sedikit rahasianya kepadamu, bergembiralah."
Aku membalas ucapan Mas Bait dengan senyuman. Sungguh aneh perjumpaan kami. Seakan-akan beliau adalah Dewa Ruci yang pernah aku temui. Tetapi siapapun beliau yang terpenting adalah isi dari ucapan-ucapannya. Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola, begitu Sayyidina Ali pernah berkata.
"Terima kasih Mas," kataku, "Mas mau menjamu kami, padahal Mas nggak kenal siapa kami. Apakah Mas ndak takut jika sebenarnya kami ini orang jahat?"
"Wah, njenengan ini lucu. Mana ada orang jahat yang mau jalan-jalan ke tengah belantara seperti ini? Tempat orang jahat bukan di sini, di sini hanya ada kesunyian, dan itu yang panjenengan berdua cari, bukan? Jalan kesunyian yang agung yang kejahatan seringkali menghindarinya."
Aku menggaruk-garuk kepala dan merasa sedikit malu. Tuan Rumah ini pikirannya sungguh tajam. Tetapi aku bertanya-tanya, apa yang beliau lakukan di tengah belantara seperti ini? Apa yang beliau cari? Dan sejak kapan beliau di sini?
"Maaf, kalau saya boleh tau, Mas ini siapa?" tanyaku.
"Saya bukan siapa-siapa, tetapi njenengan boleh memanggil saya..." kalimat beliau berjeda, "Bait... ya, panggil saya Bait." nada bicara beliau mengisyaratkan bahwa Bait bukan nama yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau mempermasalahkannya lebih jauh akan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih Mas Bait, di samping ini sahabat saya, namanya Hati, kalau nama saya..."
"Sudah, cukup!" Mas Bait memotong perkenalanku, "biarlah saya tidak mengetahui nama njenengan, Dik, hal itu lebih baik untuk kita, terutama saya. Supaya perjumpaan kita tidak terjebak pada batas nama-nama. Supaya saya tercegah dari mengharapkan sesuatu dari panjenengan."
Sungguh aneh. Bukannya tadi beliau sendiri yang menyebut nama kepada kami? namun sekarang malah beliau melarangku menyebutkan namaku. Tapi tak apa lah, yang satu ini juga tidak akan aku permasalahkan lebih jauh.
"Monggo, ini ada Wedang Secang," tebakanku mengenai isi ceret itu salah. Mas Bait menuangkan minuman ke gelas kami, "sudah lama saya tidak menjamu tamu seperti ini. Itu juga ada rokok kesukaan panjenengan, silahkan diudud."
Bagaimana Mas Bait tahu rokok kesukaanku? aneh, aneh, aneh. Kebetulan rokokku habis, aku nyalakan sebatang rokok sambil memandangi sekeliling. Ternyata pandanganku dari luar tadi tidak salah. Lampu! aku memandang lampu! Lalu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau.
"Bait, berarti rumah," pandanganku tajam ke mripat beliau, "nama yang Mas pilih bukan nama yang wajar."
"Pikiran sampeyan runcing," kata beliau, kalimat yang sesungguhnya lebih pantas ditujukan pada beliau sendiri, "saya adalah rumah dari diri saya sendiri, sedangkan siapa tuan rumahnya tentu panjenengan juga sudah paham dan mengerti."
"Tuhan," jawabku pendek, "dan Kanjeng Nabi ajudannya."
"Jika benar begitu, lalu di mana letak njenengan pada rumah itu? Tentu rumah ada bagian-bagiannya, ada fungsinya, dan ada tata letaknya. Njenengan mengerti kan maksud saya?"
"Masih belum paham, Mas." jawabku.
"Begini, di dalam rumah tentu ada dinding, ada pintu, kemudian ada jendelanya, lantainya, atapnya, dan terutama kerangka penopang dan fondasinya. Nah, diri sampeyan terletak di mana?"
Aku melirik ke arah Hati, ternyata dia juga terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Keseluruhannya, mungkin?" aku menjawab sekenanya.
"Baiklah, jawaban njenengan masuk akal." kata Mas Bait sambil mengangguk-anggukkan kepala, "tetapi coba njenengan jawab, jika saya menyebut pintu, apakah itu bagian dari diri njenengan?"
"Ya... " jawabku singkat.
"Lalu, jika saya menyebut serat-serat kayu adalah bagian dari pintu, berarti itu juga bagian dari njenengan?"
"Leres, Mas.."
"Lalu, jika saya menyebut unsur-unsur pembentuk serat-serat kayu, apakah itu juga bagian dari diri panjenengan?"
"Betul."
"Dan jika saya menyebutkan yang lebih kecil hingga lebih kecil lagi berupa senyawa dan atom-atom, dan mungkin lebih kecil lagi berupa quark yang sementara ini manusia hanya mampu meneliti sejauh itu, apakah itu bagian dari diri panjenengan juga?"
"Benar sekali, Mas. Pengetahuan Mas sungguh luas, sebenarnya Mas ini siapa?"
"Berarti," Mas Bait meneruskan bicaranya dan tidak menghiraukan pertanyaanku, "bukankah tembok, lantai, genteng, dan lainnya juga disusun dari hal yang sama, sebutlah, quark itu tadi?"
"Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Mas Bait."
"Bolehlah saya mengarang-ngarang bahwa alam semesta ini terdiri dari bahan yang sama, bumi, langit, semuanya. Jika memang begitu, bukannya menjadi batal pernyataan njenengan tadi?"
"Pernyataan saya yang mana, Mas?"
"Jika diri njenengan adalah kesuluruhan dari rumah."
"Bisa benar, bisa juga salah, Mas."
"Maksudnya bagaimana?"
Aku berhenti sejenak, menyeruput Wedang Secang yang terasa begitu hangat di kerongkongan. Terasa sangat pas karena dingin udara akibat hujan di luar yang masih deras.
Aku menyalakan lagi sebatang rokok karena pembicaraan kami ternyata serius. Dan merokok adalah tanda jika aku sedang serius melakukan sesuatu.
"Begini Mas, jika rumah tadi adalah badan saya, maka akan salah jika saya menyebut itu diri sejati saya. Hal itu sekedar batas kesadaran saya, daerah otonomi saya. Wajah dan jiwa, tubuh dan ruh, dan dikotomi-dikotomi lain yang ada pada saya, adalah pinjaman dari Tuhan untuk syarat hidup di dunia, yang tujuan sejatinya adalah pemilik dari kesuluruhan itu, yaitu Tuhan Sang Khalik. Jika saya ada pada kesadaran itu, berarti pernyataan saya menjadi benar."
"Jawaban yang bagus!" Mas Bait tertawa gembira dan bertepuk tangan.
Aku malah keheranan, ternyata Mas Bait juga bisa meledak-ledak ekspresinya.
"Mari kita kerucutkan," kata Mas Bait, "seberapa besar kewenangan sampeyan dalam kesadaran berupa diri tadi?"
"Hampir mendekati nol, Mas."
"Berarti apakah njenengan ini benar-benar ada?"
"Tergantung dari sudut pandangnya. Jika dari sudut pandang materi, ya. Tetapi dari sudut pandang kesadaran tadi, tidak. Jangankan saya sadar siapa saya, mengenal diri saya sendiri pun saya tidak mampu. Dan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan saya tadi justru membuat saya yakin."
"Yakin mengenai apa?"
"Yakin tentang siapa, apa, di mana, dan bagaimana diri saya."
"Bersyukurlah, Dik." Mas Bait menepuk-nepuk bahuku. "bersyukurlah kepada Allah yang lebih mengenal siapa dirimu melebihi dirimu sendiri dan memperjalankanmu hingga ke titik ini. Dan nanti, ketika Allah bermurah hati membuka sedikit rahasianya kepadamu, bergembiralah."
Aku membalas ucapan Mas Bait dengan senyuman. Sungguh aneh perjumpaan kami. Seakan-akan beliau adalah Dewa Ruci yang pernah aku temui. Tetapi siapapun beliau yang terpenting adalah isi dari ucapan-ucapannya. Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola, begitu Sayyidina Ali pernah berkata.
Selasa, 08 November 2016
Salim salaman
Mendung menggelayut, namun sinar mentari sore ini malah tergaris jelas dan tegas membingkai awan hitam menggumpal. O, ini yang namanya paradoks, ini yang namanya dialektika, jika orang-orang melihatnya ngeri, entah kenapa hatiku begitu riang. Semua terlihat indah di mata kami. Tidak ada yang tidak indah, apapun, kecuali diri kami sendiri.
Begitu malam datang, langit tak lagi hitam, langit justru kemerahan. Nyaliku malah menjadi ciut. Ditambah dengan suara dentuman sesekali. Masih untung tak sampai menggelegar. Berkerlap cahaya bagai ritme musik yang manusia sungguh kesulitan untuk mengerti lagi memahaminya. Seakan seisi langit sedang mewiridkan Asma Penciptanya.
Sialnya, kami, aku dan Hati, sedang berada di tengah rimba. Tetapi jangan bayangkan rimba teduh berpayung pohon-pohon lebat menjulang tinggi. Bukan, ini adalah hutan penuh semak, hanya semak dan tak lebih, tanahnya pun becek akibat hujan yang mengguyur mungkin sehari sebelumnya. Ini belantara. Membayangkan hujan yang datang dan kami terjebak di sini saja sudah membuat gilo sendiri.
Bersamaan dengan kesulitan itu terdapat kemudahan, begitu firman Allah. Yang begitu tegas hingga diulang oleh-Nya sekali lagi. Padahal, kengerian kehujanan itu baru hadir di dalam pikiran dan belum benar-benar terjadi. Kemudahan Allah begitu saja muncul di depan mataku. Min haitsu laa yahtasib.
Aku melihat semak yang mengepungku mulai merenggang dan jarang. Sejak awal kami tak memiliki penerangan sama sekali. Ada pun hanya bara yang menyala di ujung sebatang rokok di mulutku. Semak mulai menghilang dan berubah menjadi sebuah pekarangan yang berdiri sebuah gubuk anyaman bambu di tengahnya. Segera aku mendekati dan ternyata terdapat nyala lampu di dalamnya. Ya, lampu, aku tak salah lihat. Namun yang muncul setelahnya adalah keheranan. Ini di tengah rimba, mana ada listrik yang sampai kesini? pikirku. Sama sekali tak terlihat oloran kabel seperti layaknya di perkotaan. Tapi apalah, rasa ngeriku lebih besar dari rasa heranku, segera aku kulo nuwun kepada pemilik rumah.
"Kulo nuwun", aku sedikit mengeraskan volume suaraku.
Tak ada jawaban.
"Ini rumah tak mungkin suwung." kata si Hati.
"Coba kau lihat ke belakang rumah, barangkali tuan rumah sedang ada di sana." suruhku kepada Hati.
"Siap ndan!" ujarnya sambil tegap sikap hormat bak tentara. Tak pelak aku cekikikan sendiri.
Setelah beberapa saat si Hati muncul lagi.
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
"Lapor ndan, di belakang nihil!" katanya.
"Yowis kita di luar sini saja."
"Siap laksanakan!"
Dasar polah si Hati. Masih sempat dia bercanda dan kami pun akhirnya malah ketawa-ketiwi. Namun tawa kami segera terhenti ketika terdengar dentuman keras yang mengagetkan. Segera setelahnya air hujan tumpah ruah mengguyur bumi. Untung bagi kami, di depan rumah ini ada emperan dan ada lincak atau kursi bambu yang bisa kami duduki.
Kami berdua hanya diam sembari menikmati suara hujan dan petir yang sedang bergemuruh. Mencoba menerka apa yang tetesan-tetesan air ini coba katakan kepadaku. Namun ke-masyuk-an itu tidak berlangsung lama, selanjutnya hanya melamun, yang aku sendiri lupa apa yang aku lamunkan.
Terdengar pintu kayu berdecit.
Sontak, kami pun tersadar dari lamunan. Agak sedikit kaget, ternyata sang pemilik rumah yang sedang membuka pintu.
"Dik berdua, monggo silahkan masuk. Pasti dingin di luar, sudah saya siapkan minuman hangat di dalam." sang pemilik rumah mempersilakan kami dengan sangat ramah.
Muncul sesosok paruh baya. Namun beliau sudah tidak terlihat muda, tetapi masih belum pantas juga jika disebut tua. Yang menarik adalah raut wajah beliau yang teduh dan tenteram. Seakan manis getir kehidupan terlukis di wajahnya yang entah mengapa justru terlihat indah. Aura kebijaksanaan dan kematangan memancar dari sosok itu. Ditambah lagi senyum yang aku memahami tidak ada maksud di dalamnya selain senyuman itu sendiri.
Dengan tidak berpikir macam-macam, kami berdua kulo nuwun masuk ke dalam rumah. Namun yang muncul setelahnya adalah rasa heran. Di dalam rumah sederhana ini terdapat satu dipan dari kayu yang ukurannya muat untuk kami duduk bertiga. Dan diatasnya sudah tersaji makanan, nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta tiga buah gelas dan ceret yang aku yakin berisi teh atau kopi yang masih panas. Yang lebih aneh lagi, di atas dipan itu juga ada sebungkus rokok kesukaanku. Ah, mungkin sang tuan rumah ini selera rokoknya sama denganku, pikirku.
"Dik, kok malah bengong," kata sang tuan rumah, "mari silahkan duduk di sini..."
Selasa, 01 November 2016
Jika kelak terjadi
Jika kelak engkau bertanya kepadaku wahai kekasih,
Pahamilah.
"Siapa yang engkau cintai?"
Maka jawabku,
Hanya satu dan tiada lain yang kucintai yaitu Allah.
Kau menganggapnya omong kosong.
Dan kau tahu?
Kau benar, kalimatku sekadar pompong bolong.
Lalu aku yang balik bertanya,
"Adakah omongan dan kata-kata yang tidak kosong, wahai kekasih?"
Kemudian kau menjawab dengan diam tak menjawab.
Aku lihat warna kesedihan di rautmu.
Jika kau berkenan, bolehkah kekasih, aku membelai rambutmu?
Boleh tidak pun, aku akan tetap katakan.
Dengarkan wahai kekasih,
Sesungguhnya tiada yang berhak kita cinta kecuali Allah.
Namun dengan kepala tertunduk kau berkata lirih,
bahwa engkau mengerti, tetapi engkau malah jadi sangsi.
"Lantas mengapa kau memilihku dan mengikat janji denganku, sedangkan cintamu bukan untukku?" katamu.
Kekasih, maafkan aku atas kedirianku.
Akulah makhluk cacat yang masih meraba-raba dinding pencarian.
Tetapi mengertilah wahai kekasih, cinta Allah itu mengalir.
Tidak, tidak hanya mengalir, cinta-Nya memancar muncrat bersinar ke segala penjuru!
Pahamilah.
Aku mencintai Allah.
Sedangkan Allah juga sangat mencintaimu.
Jadi mana mungkin aku tidak mencintaimu wahai kekasih?
Saudara ibumu saja kau sayangi,
Jadi mana mungkin kau tidak menyayangi yang Allah sayangi?
Aku meyakini, cintamu kepadaku tidaklah main-main.
Jadi salahkah jika aku melihat cintamu sebagai cinta Allah yang nyata kepadaku?
Ketahuilah, cintaku kepadamu hanya setetes dari tak terbatas samudera cinta-Nya!
Tetapi cinta Allah padamu melaluiku sungguh tak terkira.
Kekasih, masihkah engkau ragu?
Engkau malah menangis.
Lalu aku berkata lagi,
bahwa cinta hanya satu, yaitu kepada Allah, karena tiada yang selain-Nya.
Kita ini tiada, yang ada hanya Allah.
Jika kita tampak saling mencinta,
maka sebenarnya yang saling mencinta itu adalah wujud cinta Allah.
Karena sekali lagi, kita tiada.
Masihkah kau belum mengerti wahai kekasih?
Ah, sudahlah, lebih baik kau basuh wajahmu, dan tolong buatkan secangkir kopi panas untukku.
Namun sedetik kemudian aku tersadar, perbincangan kita ini masih kelak dan belum terjadi.
Selasa, 18 Oktober 2016
Obrolan cakruk
"Ide tidak muncul karena sang pemilik mau," ujarku kepada sahabatku, "bahkan jika pun menurut tingkat keilmuan yang dimilikinya sudah pantas, atau sewajarnya mampu. Tidak, ide tidak begitu. Ide bagaikan benih yang tumbuh di ladang-ladang pikiran, bisa saja benih itu tak sengaja terlihat, lalu si petani penasaran dan mau meneliti, namun sangat mungkin juga benih itu terinjak, atau yang seharusnya tumbuh malah menjadi gulma dan mati karena sesungguhnya membutuhkan bantuan dan butuh dirawat untuk dapat berkembang."
Hati malah terbengong.
"Apa sih, Bro? saya ndak nanya, sampeyan main nyerocos aja."
Aku tak peduli dengan tanggapan si Hati, "Ide tidak wajib datang kepada yang mengaku ahli, atau mungkin malah pakar. Ide adalah buih-buih cahaya yang mengambang bebas di udara. Ketika seseorang sedang berjalan, misalnya, tiba-tiba sehelai daun gugur mengenai kepalanya, seperti itulah ide."
"Asembuuh..." jawab Hati sinis.
Sebentar aku melirik ke arah sahabatku itu, lalu aku lanjutkan kalimatku, "Ide selalu dicari, ada yang berhasil, tapi ada juga yang kecele, atau malah gagal."
"Tapi kan, menurut saya," Si Hati gerah sendiri dan akhirnya malah menganggapi, "ide itu muncul dari daya kreatifitas seseorang, dan daya itu bisa diasah terus menerus hingga tajam. Sehingga seseorang menjadi peka melihat peluang-peluang, dan mengais di tanah yang belum terjamah. Tetap saja kan yang terjadi proses dialektika."
"Benar, kreatifitas adalah tumbu ketemu tutup, atau gayung bersambut. Tetapi sahabatku, hakikat ide tidak muncul dari dalam diri seseorang. Ia bak petani yang bergembira melihat tunas muda di kebunnya. Atau seorang istri yang berbahagia karena melihat hasil foto USG dari dalam rahimnya. Begitulah lahirnya sebuah ide. Dan tahap selanjutnya adalah proses percintaan dan kasih sayang."
"Cintaaa.. cintaaa.." Hati bersiul-siul berdendang.
"Sekarang aku bertanya kepadamu,"
"Tanya tinggal tanya." siul Si Hati terhenti, wajahnya berubah agak serius.
"Jika ide seperti janin, siapa yang menciptakannya?"
"Bapak ibunya.." Hati cekikikan.
"Ngawur..!"
"Hahaha, ya Tuhan to"
"Apa manusia juga bisa menciptakan janin?"
"Secara pragmatis-logis, ya. Tetapi apapun hakikatnya adalah Tuhan yang menciptakan."
"Berarti tetap Tuhan kan pengetok palunya?"
"Yap."
"Ya ide tuh begitu itu."
Kali ini Hati tidak terlalu mengambil pusing. Obrolan semacam ini adalah obrolan cakruk bagi kami. Sahabatku itu masih bersiul-siul dan melantunkan lagu sekena-kenanya. Lagian liriknya hanya satu dan diulang-ulang, "..cintaa...cintaa...oh cintaaa.."
Hati malah terbengong.
"Apa sih, Bro? saya ndak nanya, sampeyan main nyerocos aja."
Aku tak peduli dengan tanggapan si Hati, "Ide tidak wajib datang kepada yang mengaku ahli, atau mungkin malah pakar. Ide adalah buih-buih cahaya yang mengambang bebas di udara. Ketika seseorang sedang berjalan, misalnya, tiba-tiba sehelai daun gugur mengenai kepalanya, seperti itulah ide."
"Asembuuh..." jawab Hati sinis.
Sebentar aku melirik ke arah sahabatku itu, lalu aku lanjutkan kalimatku, "Ide selalu dicari, ada yang berhasil, tapi ada juga yang kecele, atau malah gagal."
"Tapi kan, menurut saya," Si Hati gerah sendiri dan akhirnya malah menganggapi, "ide itu muncul dari daya kreatifitas seseorang, dan daya itu bisa diasah terus menerus hingga tajam. Sehingga seseorang menjadi peka melihat peluang-peluang, dan mengais di tanah yang belum terjamah. Tetap saja kan yang terjadi proses dialektika."
"Benar, kreatifitas adalah tumbu ketemu tutup, atau gayung bersambut. Tetapi sahabatku, hakikat ide tidak muncul dari dalam diri seseorang. Ia bak petani yang bergembira melihat tunas muda di kebunnya. Atau seorang istri yang berbahagia karena melihat hasil foto USG dari dalam rahimnya. Begitulah lahirnya sebuah ide. Dan tahap selanjutnya adalah proses percintaan dan kasih sayang."
"Cintaaa.. cintaaa.." Hati bersiul-siul berdendang.
"Sekarang aku bertanya kepadamu,"
"Tanya tinggal tanya." siul Si Hati terhenti, wajahnya berubah agak serius.
"Jika ide seperti janin, siapa yang menciptakannya?"
"Bapak ibunya.." Hati cekikikan.
"Ngawur..!"
"Hahaha, ya Tuhan to"
"Apa manusia juga bisa menciptakan janin?"
"Secara pragmatis-logis, ya. Tetapi apapun hakikatnya adalah Tuhan yang menciptakan."
"Berarti tetap Tuhan kan pengetok palunya?"
"Yap."
"Ya ide tuh begitu itu."
Kali ini Hati tidak terlalu mengambil pusing. Obrolan semacam ini adalah obrolan cakruk bagi kami. Sahabatku itu masih bersiul-siul dan melantunkan lagu sekena-kenanya. Lagian liriknya hanya satu dan diulang-ulang, "..cintaa...cintaa...oh cintaaa.."
Ada sebuah nama
Ada sebuah nama yang setiap hari tak kurang dari delapan milyar kali dipanggil-panggil oleh seisi bumi.
Belum lagi yang tak sempat terucap namun tertancap dalam diri
di selubung pikiran
di rongga hati
mengalir di selubung nadi
mendentum di setiap detak
yang kusadari lebih dekat dari urat leher sendiri
yang malaikat memujinya tanpa henti,
yang Allah sendiri menyanjung atas AsmaNya sendiri.
Yaa Sayyidina
Yaa Habiibina
Yaa Syafi'ina
Yaa Maulana
Rasulullah
Muhammad shollallahu 'alaihi wa salam,
shollu 'alaihi wa sallimu taslima.
Yaa Allah ridho
Yaa Allah biha
Yaa Allah,
Yaa Allah,
bi husnil khotimah.
yang kusadari lebih dekat dari urat leher sendiri
yang malaikat memujinya tanpa henti,
yang Allah sendiri menyanjung atas AsmaNya sendiri.
"Innallaha wa malaikatahu yusholluna 'alan nabi, yaa ayyuhalladzina amanu shollu 'alaihi wa salimu taslima."
Yaa Habiibina
Yaa Syafi'ina
Yaa Maulana
Rasulullah
Muhammad shollallahu 'alaihi wa salam,
shollu 'alaihi wa sallimu taslima.
Yaa Allah ridho
Yaa Allah biha
Yaa Allah,
Yaa Allah,
bi husnil khotimah.
Sabtu, 15 Oktober 2016
Profesionalisme manusialitas
"Laqad-jaa'akum rasuulum min-anfusikum 'azizun 'alaihi maa 'anittum harisun 'alaikum bil-mu'miniina ra'uufur-rahiim."
Hadir diantara kalian seorang rasul/utusan dari nafs-mu (kalanganmu) sendiri; sangat tidak tega melihat penderitaan kalian, amat perhatian terhadap kalian, belas-kasih terhadap orang-orang yang percaya. (QS At-Taubah: 128)
Betapa agungnya rasul Kekasih Allah. Seorang yang pada dirinya adalah welas-asih itu sendiri. Kekasih Allah yang pernah diwujudkan oleh-Nya sebagai manusia yang paling mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia, manusia yang paling berperikemanusiaan. Sungguh setiap manusia pasti merindukannya. Ia berada di relung terdalam hatinya. Sebenarnya kerinduan itu selalu menunggu, kerinduan itu tidak kemana-mana, karena ia datang dari nafs-nya sendiri, dari dalam dirinya sendiri. Namun seringkali hatinya tertutup, sedangkan kerinduan itu adalah kunci dari gerbang rahasia dalam dirinya. Allahumma sholli wa salim wa-baarik 'alaih.
"Heh Hati, kira-kira ada tidak ya, pada jaman ini manusia yang seperti beliau Baginda Muhammad?" tanyaku.
"Saya ndak paham maksud sampeyan, maksudnya seperti beliau itu bagaimana?"
"Ya paling tidak manusia yang berkuaitas seperti beliau."
"Wah, sampeyan ini bercanda." tawa hati terkekeh-kekeh.
"Bercanda gundhulmu, aku ini tanya serius."
"Ya nggak ada to, yang banyak adalah manusia yang meneladani beliau, namun tetap saja, Kanjeng Nabi adalah Kanjeng Nabi, yang bahkan malaikatpun ndak akan mampu menjadi seperti beliau, apalagi manusia seperti sampeyan yang diberi Allah untuk memilih segala kemungkinan dan cenderung selalu sibuk dengan dirinya sendiri."
"Betapa beruntungnya manusia yang diberi kesempatan hidup dan melihat secara langsung ke-ra'uufur-rahim-an beliau. Jika beliau ibarat cermin, maka kita akan mampu bercermin sepuas-puasnya kepada beliau. Tetapi sekarang ini, pada jaman ini, kepada siapa kita bercermin?"
"Lho, sampeyan ini lupa atau bagaimana? Kanjeng Rasul tidaklah mati, ia hadir di dalam dirimu, min-anfusikum, dalam nafs-mu sendiri. Sampeyan sendiri yang ndak paham-paham."
"Terus saya musti bagaimana?"
"Ya tinggal bercermin ke dalam diri sampeyan sendiri."
"Ngomong gampang, ngelakuinnya gimana."
"Banyak orang yang luhur akhlaknya, manis tingkah lakunya, dan apakah sampeyan tidak ayem hatinya ketika menyaksikannya? saat itulah beliau hidup, beliau hadir di dalam diri sampeyan. Apalagi ketika sampeyan yang berusaha berakhlak baik, maka orang lain juga akan merasakan kehadiran beliau Muhammad Mustafa."
Allah adalah Cahaya langit dan bumi, Allahu nuurussamawati wal ard.. sedangkan di dalam diri kita, berdasar yang hati katakan, terdapat juga cahaya. Cahaya itulah cahaya yang terpuji. Ya, di dalam diri kita.
"Di manakah aku dapat berjumpa denganmu, wahai Rasul? sedangkan kemanusiaan sendiri sedang menuju kepunahannya. Apakah engkau bersedih wahai Baginda Nabi? manusia telah lupa tentang menjadi." detak jantungku memburu, "kemanusiaan sedang dibenturkan dengan profesionalitas, atau mungkin profesionalisme, yang aku sendiri tidak begitu paham perbedaannya."
"Piye karep sampeyan?"
"Ya kita ambil satu contoh. Seorang manajer di sebuah perusahaan, seorang Manajer HRD misalnya, menemui pergolakan batin, karena ia harus memecat seorang buruh yang melakukan kesalahan, tetapi manajer itu tahu, si buruh adalah seorang single-parent beranak tiga dan masih sekolah." aku menghela nafas, "jika dia tidak jadi memecat karena merasa iba dan tidak tega, maka atasannya akan menyebut ia tidak profesional, sebaliknya, jika manajer itu tega memecat si buruh, maka ia akan dikatai tidak berperikemanusiaan."
"Oh, oke saya paham. Lucu ya, hidup ini sudah terkotak-kotak jumpalitan tidak keruan."
"Wah wis ra karu-karuan. Itu baru satu contoh, banyak peristiwa lain yang serupa. Manusia sendiri yang membuat istilah-istilah, lalu dibentur-benturkan sendiri, dan mumet-mumet sendiri dan bertengkar sendiri."
"Edan."
"Ya, memang kita sudah gila."
"Termasuk sampeyan?"
"Saya jenderalnya orang gila."
"Hahaha dapurmu."
"Ya piye, jadi orang kantoran, harus profesional-transaksional, jadi dokter juga transaksional, jadi guru transaksional, bahkan jadi kiai pun transaksional, seniman pun juga banyak yang transaksional. Hal ini benar, tetapi sejak kapan profesionalisme harus lekat dengan transaksi? dan akhirnya mereka salah tujuan. Berdagang supaya kaya, mengobati pasien supaya kaya, jadi ustadz supaya kaya, supaya, supaya, supaya..."
"Bukannya memang harus begitu? Jika bekerja ya harus profesional to."
"Lho, jika pekerjaan utama mereka berdagang, ya profesional dalam hal jual beli tok, jika ia seorang dokter, ya harus bersungguh-sungguh saat mengobati pasiennya tok. Maka kekayaan yang mencari mereka, entah itu kemegahan jasad atau batin mereka. Jika ada permasalahan yang berkaitan tapi menyentuh ranah lain, ya harus dijadikan sarana berpikir dan pertimbangan. Jadi kemanusiaan itu melingkup profesionalitas, maka jangan dipertandingkan. Mosok kambing dipertandingkan dengan kakinya sendiri."
"Kalo kayak gitu semua orang juga sudah tahu."
"Ya, tapi mereka itu tidak sadar. Ibarat kambing tadi, mereka terlalu gembira melangkah-langkahkan kaki, lupa kalau perutnya juga butuh makan, lupa jika matanya harus mencari jalan ke kandang, lupa kalau duburnya butuh ngeluarkan inthil."
Hati tertawa terpingkal-pingkal, "Gusti Allaaahh, lucunya hidup ini. Sungguhlah Engkau yang mampu mengubah bencana menjadi nikmat. Jadi benar yang Engkau katakan Ya Allah, hidup ini hanya senda gurau dan permainan belaka."
Tawa kami meledak. Kami berdua cekikikan hingga tak sadar jika matahari sudah menutup harinya.
"Ya kita ambil satu contoh. Seorang manajer di sebuah perusahaan, seorang Manajer HRD misalnya, menemui pergolakan batin, karena ia harus memecat seorang buruh yang melakukan kesalahan, tetapi manajer itu tahu, si buruh adalah seorang single-parent beranak tiga dan masih sekolah." aku menghela nafas, "jika dia tidak jadi memecat karena merasa iba dan tidak tega, maka atasannya akan menyebut ia tidak profesional, sebaliknya, jika manajer itu tega memecat si buruh, maka ia akan dikatai tidak berperikemanusiaan."
"Oh, oke saya paham. Lucu ya, hidup ini sudah terkotak-kotak jumpalitan tidak keruan."
"Wah wis ra karu-karuan. Itu baru satu contoh, banyak peristiwa lain yang serupa. Manusia sendiri yang membuat istilah-istilah, lalu dibentur-benturkan sendiri, dan mumet-mumet sendiri dan bertengkar sendiri."
"Edan."
"Ya, memang kita sudah gila."
"Termasuk sampeyan?"
"Saya jenderalnya orang gila."
"Hahaha dapurmu."
"Ya piye, jadi orang kantoran, harus profesional-transaksional, jadi dokter juga transaksional, jadi guru transaksional, bahkan jadi kiai pun transaksional, seniman pun juga banyak yang transaksional. Hal ini benar, tetapi sejak kapan profesionalisme harus lekat dengan transaksi? dan akhirnya mereka salah tujuan. Berdagang supaya kaya, mengobati pasien supaya kaya, jadi ustadz supaya kaya, supaya, supaya, supaya..."
"Bukannya memang harus begitu? Jika bekerja ya harus profesional to."
"Lho, jika pekerjaan utama mereka berdagang, ya profesional dalam hal jual beli tok, jika ia seorang dokter, ya harus bersungguh-sungguh saat mengobati pasiennya tok. Maka kekayaan yang mencari mereka, entah itu kemegahan jasad atau batin mereka. Jika ada permasalahan yang berkaitan tapi menyentuh ranah lain, ya harus dijadikan sarana berpikir dan pertimbangan. Jadi kemanusiaan itu melingkup profesionalitas, maka jangan dipertandingkan. Mosok kambing dipertandingkan dengan kakinya sendiri."
"Kalo kayak gitu semua orang juga sudah tahu."
"Ya, tapi mereka itu tidak sadar. Ibarat kambing tadi, mereka terlalu gembira melangkah-langkahkan kaki, lupa kalau perutnya juga butuh makan, lupa jika matanya harus mencari jalan ke kandang, lupa kalau duburnya butuh ngeluarkan inthil."
Hati tertawa terpingkal-pingkal, "Gusti Allaaahh, lucunya hidup ini. Sungguhlah Engkau yang mampu mengubah bencana menjadi nikmat. Jadi benar yang Engkau katakan Ya Allah, hidup ini hanya senda gurau dan permainan belaka."
Tawa kami meledak. Kami berdua cekikikan hingga tak sadar jika matahari sudah menutup harinya.
Senin, 19 September 2016
Terbaliknya gagang pedang
Masih ada sisa kesedihan di dalam dadaku. Sahabatku Hati mengetahuinya. Dia lebih banyak menutup mulutnya. Entah. Mungkin kegaduhan di dalam diriku menular kepadanya. Beginilah kami, karena kejujuran memang kebanyakan pahit. Tetapi tak pernah kami halang-halangi, kami buka sebloko-blokonya.
"Kenapa ya, rata-rata orang sibuk menebas-nebas dengan pedang yang dimilikinya, tapi mereka ndak kunjung sadar jika sedang melukai tangannya sendiri.", lirih Hati berkata dengan kepala menengadah ke atas dan menyandarkan tangannya ke belakang,
"Kamu itu lho, sedari tadi diam, sekalinya berkata, ee yang keluar retorika. Itu maksudnya bagaimana?"
"Maksud saya, pedang kita ibaratkan ketajaman pikiran. Dan manusia selalu asyik menebas saling bertanding di sana-sini. Mereka asyik masyuk sibuk mempertandingkan masa depannya. Padahal, selama ini pegangan pedang mereka terbalik!"
Meledak tawa Si Hati.
"Orang-orang kuwalik memegang pedang pada mata pedangnya, akibatnya tangan mereka sendiri yang ambyar, dan dengan susah payah mereka memungut pedang yang terjatuh karena saking mantapnya genggaman mereka sehingga malah sering lusut." Hati meneruskan.
"Ya memang begitu", aku setuju dengan pendapat sahabatku, "jaman ini adalah ajang pertarungan logika. Yang membuat kita sering merasa sedih adalah tajamnya pikiran mereka hanya mentok kepada yang bisa mereka raba dan lihat, hal wadak atau kasat mata. Tetapi, peristiwa ini perlu dilihat runut kejadiannya."
"Memangnya dulu bagaimana?" Hati bertanya.
"Sebentar, nanti aku jelaskan. Kita mesti lihat dulu akar masalahnya."
"Di mana akarnya, dan jenis pohon apa yang mereka tumbuh di dalamnya?"
"Akar mereka adalah panca indera. Mereka menjadi tumbuhan raksasa, pohon angkuh yang sering rubuh oleh angin kecil yang membelainya. Tetapi di dalam tumbuhan itu tidak terjadi proses dinamis pengolahan nutrisi. Pembuluhnya tersumbat, daging kayunya keropos, kayunya gapuk. Jika ibarat anak kecil, ia sedang menumpuk-numpuk mainan Lego, kemudian roboh karena tak tahu bahwa konstruksi yang dibangun miring, tak seimbang, lalu jatuh karena hukum gravitasi yang telah Tuhan tetapkan."
Hati senyam-senyum mendengar perkataanku.
Kemudian aku meneruskan, "Dahulu, simbah-simbah kita menghuni peradaban yang lembut, mereka adalah orang-orang baik yang tawadhu. Perasaan adalah yang utama, sehingga itulah yang selalu mereka jaga. Tetapi, karena mungkin telah terlalu nyaman, mereka menjadi tak mau belajar. Nenek moyang kita lupa, jika yang baik tentulah harus benar."
"Terus, terus?"
"Maka ada yang berinisiatif membangun sistem pendidikan akademis untuk melatih logika mereka, agar mereka menjadi pedang seutuhnya. Ya mantap pegangannya, ya tajam mata pedangnya," aku mengambil nafas, "dan hal itu berhasil."
"Lha, lalu di mana letak kekeliruannya?"
"Kekeliruannya bertempat di generasi setelahnya. Orang-orang tua yang sedang bergembira karena sekarang mereka semakin pandai, lantas dengan sangat bersemangat mendidik anaknya sedari kecil dengan logika-logika. Mereka malah lupa mendidik perihal rasa kepada anak-anaknya. Mereka juga lupa, yang benar juga kan harus baik. Pikiran juga harus diimbangi dengan perasaan."
"O ngono, pantas saja yang akrab di telinga saya adalah 'olah raga', nggak ada yang tertarik lagi dengan 'olah rasa'."
"Ya, seperti itulah. Lalu anak-anak kecil yang pandai itu beranjak dewasa, tapi modalnya hanya otak di kepala. Mereka hanya benar, tetapi belum menjadi generasi yang baik karena keteledoran didikan orang tua mereka. Mereka tahunya logika, dan yang membikin jadi makin parah, pikiran mereka jadikan alat untuk meraih ego kepuasan diri dan dengan tak berperasaan menginjak-injak hidup orang lain."
"Subhanallah.. Hanya milikMu kesucian, sesungguhnya kami ini kotor oleh pikiran-pikiran kami sendiri." kalimat thoyyibah yang terdengar wagu karena keluar dari mulut Si Hati, "astaghfirullah.. ampun Tuhan, hanya ampunan dan kasih sayangMu yang mampu membenahi kerusakan ini."
Aku malah terdiam karena ucapan sahabatku hati. Begitu rumitnya jalan menuju Tuhan, Begitu manusia bodoh karena mau menjadi khalifah atau pengganti Tuhan di muka bumi. Pengganti macam apa yang malah dengan rakus melahap bumi yang dititipkan kepadanya?
Manusia berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu, apa yang kita wakili itu butuh kemegahan? Apa yang kita wakili itu butuh hal-hal fisik serta kepuasan yang kita selalu cari?
Jika Tuhan tidak membutuhkan itu semua, dan menurut saya pasti Tuhan tidak memerlukan hal itu dari kita, lalu kita ini mewakili siapa?
"Ada satu lagi." kata Hati.
"Apa itu?"
"Jika pikiran adalah mata pedang, hati nurani adalah gagangnya, lalu apa yang menjadi sarungnya?" Hati serius bertanya.
"Entahlah" jawabku, "mungkin kita tidak membutuhkan sarung pedang, tetapi bisa juga jadi butuh. Karena pedang yang disarungkan sebisa mungkin jangan sampai digunakan. Sebab jika tidak hati-hati, pedang hanya akan melukai."
"Jika tidak digunakan, untuk apa matanya harus kita poles, gagangnya harus sering dibersihkan?"
"Agar kitalah yang menjadi pedang itu sendiri. Maka simpanlah pedangmu. Jika pada dunia persilatan, orang paling sakti adalah mereka petarung tangan kosong. Mereka tak memerlukan senjata, karena dirinyalah senjata itu."
"Oh, jadi itu yang dimaksud pendekar kehidupan."
"Engkau benar Kisanak, pendekar kehidupan."
"Kenapa ya, rata-rata orang sibuk menebas-nebas dengan pedang yang dimilikinya, tapi mereka ndak kunjung sadar jika sedang melukai tangannya sendiri.", lirih Hati berkata dengan kepala menengadah ke atas dan menyandarkan tangannya ke belakang,
"Kamu itu lho, sedari tadi diam, sekalinya berkata, ee yang keluar retorika. Itu maksudnya bagaimana?"
"Maksud saya, pedang kita ibaratkan ketajaman pikiran. Dan manusia selalu asyik menebas saling bertanding di sana-sini. Mereka asyik masyuk sibuk mempertandingkan masa depannya. Padahal, selama ini pegangan pedang mereka terbalik!"
Meledak tawa Si Hati.
"Orang-orang kuwalik memegang pedang pada mata pedangnya, akibatnya tangan mereka sendiri yang ambyar, dan dengan susah payah mereka memungut pedang yang terjatuh karena saking mantapnya genggaman mereka sehingga malah sering lusut." Hati meneruskan.
"Ya memang begitu", aku setuju dengan pendapat sahabatku, "jaman ini adalah ajang pertarungan logika. Yang membuat kita sering merasa sedih adalah tajamnya pikiran mereka hanya mentok kepada yang bisa mereka raba dan lihat, hal wadak atau kasat mata. Tetapi, peristiwa ini perlu dilihat runut kejadiannya."
"Memangnya dulu bagaimana?" Hati bertanya.
"Sebentar, nanti aku jelaskan. Kita mesti lihat dulu akar masalahnya."
"Di mana akarnya, dan jenis pohon apa yang mereka tumbuh di dalamnya?"
"Akar mereka adalah panca indera. Mereka menjadi tumbuhan raksasa, pohon angkuh yang sering rubuh oleh angin kecil yang membelainya. Tetapi di dalam tumbuhan itu tidak terjadi proses dinamis pengolahan nutrisi. Pembuluhnya tersumbat, daging kayunya keropos, kayunya gapuk. Jika ibarat anak kecil, ia sedang menumpuk-numpuk mainan Lego, kemudian roboh karena tak tahu bahwa konstruksi yang dibangun miring, tak seimbang, lalu jatuh karena hukum gravitasi yang telah Tuhan tetapkan."
Hati senyam-senyum mendengar perkataanku.
Kemudian aku meneruskan, "Dahulu, simbah-simbah kita menghuni peradaban yang lembut, mereka adalah orang-orang baik yang tawadhu. Perasaan adalah yang utama, sehingga itulah yang selalu mereka jaga. Tetapi, karena mungkin telah terlalu nyaman, mereka menjadi tak mau belajar. Nenek moyang kita lupa, jika yang baik tentulah harus benar."
"Terus, terus?"
"Maka ada yang berinisiatif membangun sistem pendidikan akademis untuk melatih logika mereka, agar mereka menjadi pedang seutuhnya. Ya mantap pegangannya, ya tajam mata pedangnya," aku mengambil nafas, "dan hal itu berhasil."
"Lha, lalu di mana letak kekeliruannya?"
"Kekeliruannya bertempat di generasi setelahnya. Orang-orang tua yang sedang bergembira karena sekarang mereka semakin pandai, lantas dengan sangat bersemangat mendidik anaknya sedari kecil dengan logika-logika. Mereka malah lupa mendidik perihal rasa kepada anak-anaknya. Mereka juga lupa, yang benar juga kan harus baik. Pikiran juga harus diimbangi dengan perasaan."
"O ngono, pantas saja yang akrab di telinga saya adalah 'olah raga', nggak ada yang tertarik lagi dengan 'olah rasa'."
"Ya, seperti itulah. Lalu anak-anak kecil yang pandai itu beranjak dewasa, tapi modalnya hanya otak di kepala. Mereka hanya benar, tetapi belum menjadi generasi yang baik karena keteledoran didikan orang tua mereka. Mereka tahunya logika, dan yang membikin jadi makin parah, pikiran mereka jadikan alat untuk meraih ego kepuasan diri dan dengan tak berperasaan menginjak-injak hidup orang lain."
"Subhanallah.. Hanya milikMu kesucian, sesungguhnya kami ini kotor oleh pikiran-pikiran kami sendiri." kalimat thoyyibah yang terdengar wagu karena keluar dari mulut Si Hati, "astaghfirullah.. ampun Tuhan, hanya ampunan dan kasih sayangMu yang mampu membenahi kerusakan ini."
Aku malah terdiam karena ucapan sahabatku hati. Begitu rumitnya jalan menuju Tuhan, Begitu manusia bodoh karena mau menjadi khalifah atau pengganti Tuhan di muka bumi. Pengganti macam apa yang malah dengan rakus melahap bumi yang dititipkan kepadanya?
Manusia berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu, apa yang kita wakili itu butuh kemegahan? Apa yang kita wakili itu butuh hal-hal fisik serta kepuasan yang kita selalu cari?
Jika Tuhan tidak membutuhkan itu semua, dan menurut saya pasti Tuhan tidak memerlukan hal itu dari kita, lalu kita ini mewakili siapa?
"Ada satu lagi." kata Hati.
"Apa itu?"
"Jika pikiran adalah mata pedang, hati nurani adalah gagangnya, lalu apa yang menjadi sarungnya?" Hati serius bertanya.
"Entahlah" jawabku, "mungkin kita tidak membutuhkan sarung pedang, tetapi bisa juga jadi butuh. Karena pedang yang disarungkan sebisa mungkin jangan sampai digunakan. Sebab jika tidak hati-hati, pedang hanya akan melukai."
"Jika tidak digunakan, untuk apa matanya harus kita poles, gagangnya harus sering dibersihkan?"
"Agar kitalah yang menjadi pedang itu sendiri. Maka simpanlah pedangmu. Jika pada dunia persilatan, orang paling sakti adalah mereka petarung tangan kosong. Mereka tak memerlukan senjata, karena dirinyalah senjata itu."
"Oh, jadi itu yang dimaksud pendekar kehidupan."
"Engkau benar Kisanak, pendekar kehidupan."
Minggu, 18 September 2016
Debat plongah-plongoh
"Itu tampang atau buntelan kresek, ada apa gerangan?" sepertinya Hati risih karena melihatku.
"Ampuun..ampuni hamba, hamba mohon ampun..", diriku ngguguk hingga sukar berkata-kata.
"Percuma kau menangis." diriku yang lain menimpali.
"Sebenarnya apakah yang engkau tangisi wahai diriku?" suara ini berasal dari diriku yang ketiga.
"Halah, dia hanya cengeng, hatinya lemah, tak ada sisa setitik ketangguhan pun dalam dirinya." berkatalah diriku yang kedua.
"Gembeng..!"
"Cengeng..!"
"Drama..! sini kalian semua, di sini sedang ada drama!"
Diriku yang lain bersahut-sahutan.
"Bodohnya aku, aku telah berbohong sepanjang hidupku, ini bukan tentang tangguh atau tidak tangguh, ini tentang aku yang telah berani berbohong, dan itu tak sekali, tetapi aku ulangi dan ulangi lagi."
"Klasik. Sudah sejak lama aku mengenalmu sebagai pembohong." diriku yang kedua berkata sinis.
"Sik, sik, diam kamu! Aku tanya sekali lagi, apa yang membuatmu menangis? dan kepada siapa kau berbohong?" tanya diriku yang ketiga.
"Ampuuun.. ampuun", kata diriku masih terisak-isak, "aku telah berdosa karena berbohong kepada Tuhanku! dan itu tidak sekali, minimal 17 kali aku berbohong setiap hari."
"Maksudnya bagaimana?"
"Iyyaa ka na'budu, hanya kepada Engkau aku menyembah, itu yang aku ucapkan berkali-kali, dan ternyata kalimat itu malah mengotori mulutku sendiri. Yang kelamaan menjadi bakteri yang membuat sekujurku terinfeksi." diriku menjelaskan, masih terisa sedikit isak pada nada bicaranya.
"Lho, bukannya itu adalah firman Tuhanmu, berani-beraninya kau berkata seperti itu, Jika ada yang kotor, itulah dirimu!" diriku yang ketiga malah naik pitam.
"Tuh kan kamu juga ikut emosi, dia sudah jadi gila, tinggalkan saja, biarkan dia." kata diriku yang lain.
"Ya jangan begitu, bagaimana pun ia juga dirimu, jika dia tidak selesai dengan hatinya, maka tak akan usailah keseluruhan kita." kata diriku yang entah keberapa.
"Iyyaa ka na'budu.. aku ucapkan itu. Tetapi seringkali yang kusembah bukan Engkau, wahai Diri Sejati. Aku menyembah keinginanku, aku menyembah pribadiku, aku menyembah eksistensiku. Betapa dungu aku yang sering menyangka bahwa aku benar-benar ada, dan dengan tololnya hal itu aku gapai-gapai dengan sepenuh jiwaku. Kusingkirkan Engkau sebagai Diri Sejatiku."
"Duh gustiii.. sungguh tolol diriku yang itu, aku mohonkan ampun kepadaMu."
"Sungguh tiada yang selainMu, Laa ilaha, lalu siapa aku? yang berani mengaku bukan dirimu, yang telah berani memuja sesembahan selainMu."
"Tunggu dulu! jika memang tidak ada yang selain Diri Sejatimu, berarti kau tidak melakukan kesalahan wahai diriku."
"Tidak bisa begitu!" diriku tidak setuju,"memang benar bahwa tiada yang selain Dia, kesalahanku adalah ketidaksadaranku. Aku mabuk, aku melayang-layang, aku hanyut di dalam sungai keterlenaan nafsuku."
"Nggak sadar gimana? semaput? unconscious?"
"Bukan itu, kesadaranku tertutup oleh ketidakmampuanku meneguhkan kuda-kuda tauhidku." diriku menjelaskan.
"Salah niat!"
"Gagal paham!"
"Lolaklolok!"
Para diriku bersorak-sorai.
Tak bosan-bosan alam pikiranku membolak-balik lembaran sejarah. Pangeran Sidharta mencapai maqam budha, yang bisa berarti kesadaran. Mundur lebih jauh lagi adalah "bapak tauhid" Ibrahim 'alaihissalam, yang diperkenankan Tuhan untuk sedikit mengenal DiriNya. Dan yang paling dahsyat adalah Rasul Pamungkas, yang Tuhan menikahkan cintanya dengan cinta Muhammad kekasihku.
Dengan paparan itu, apalah aku? siapalah aku? Aku tidak iri, Tuhan, tidak. Hanya mengecap, atau mungkin hanya membayangkan sedikit saja dari jalan yang pernah mereka lalui, hal itu lebih berharga daripada umurku.
"Oh, jadi begitu." kata Si Hati.
Aku menceritakan sedetail-detailnya kepada Si Hati. Dan tidak seperti biasanya, dia hanya manggut-manggut sesekali berdeham, entah karena dia yang sedang tidak sehat, atau menahan sengal nafasnya karena mendengar kalimat-kalimatku.
"Sahabatku, yang aku pahami saat ini adalah: Anane ana, ya Gusti anane."
"Hmm, ya, ya.." keanehan berikutnya, sahabatku Hati yang biasanya ngeyel, sekarang sama sekali tak tampak ketidaksetujuan pada sorot matanya,"yang penting jangan bermuka masam seperti itu." hati melanjutkan.
"Abassa wa tawalla.." aku bergumam.
"Heh, ia bermuka masam dan berpaling. Kalau itu buat Kanjeng Nabi, kalau sampeyan ya: Ia bermuka plongah-plongoh dan njeranthal."
"Hahaha"
"Hm? memangnya ada apa dengan wajahku?" aku balik bertanya.
Sejujurnya sejak semalam tadi pikiranku sedang gaduh. Antara diriku dan diriku yang lain sedang berdebat satu sama lain. Pikiranku tak pernah memberiku jeda untuk sekedar mengambil nafas. Pikiranku menghajarku tanpa ampun. Untungnya, berpikir adalah ibadah, jika tidak salah begitu yang aku tahu. Dan rukun beribadah hendaknya kita kembali suci, meng-nol-kan diri.
Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan sebelum berdebat adalah berwudhu, mensucikan diri. Maksudnya, kita hilangkan dulu pikiran kita dari kebenaran-kebenaran yang sebelumnya kita yakini. Bukan berarti kita melupakannya, tidak begitu. Gampangnya, kita kembali lagi ke garis start agar kemudian lebih kencang berlari.
Mengapa harus begitu? Karena yang kita cari adalah objek kebenaran, bukan kebenaran objektif, apalagi kebenaran subyektif atau kebenaran sepihak. Inti dari perdebatan adalah proses dialektis-dinamis yang orientasinya tidak terutama kepada hasil, tetapi kepada kontinuitas pencarian tanpa batas.
Tetapi, debat semalam suntuk itu melangkah terlalu jauh dan menjadi agak kelewatan.
"Ampuun..ampuni hamba, hamba mohon ampun..", diriku ngguguk hingga sukar berkata-kata.
"Percuma kau menangis." diriku yang lain menimpali.
"Sebenarnya apakah yang engkau tangisi wahai diriku?" suara ini berasal dari diriku yang ketiga.
"Halah, dia hanya cengeng, hatinya lemah, tak ada sisa setitik ketangguhan pun dalam dirinya." berkatalah diriku yang kedua.
"Gembeng..!"
"Cengeng..!"
"Drama..! sini kalian semua, di sini sedang ada drama!"
Diriku yang lain bersahut-sahutan.
"Bodohnya aku, aku telah berbohong sepanjang hidupku, ini bukan tentang tangguh atau tidak tangguh, ini tentang aku yang telah berani berbohong, dan itu tak sekali, tetapi aku ulangi dan ulangi lagi."
"Klasik. Sudah sejak lama aku mengenalmu sebagai pembohong." diriku yang kedua berkata sinis.
"Sik, sik, diam kamu! Aku tanya sekali lagi, apa yang membuatmu menangis? dan kepada siapa kau berbohong?" tanya diriku yang ketiga.
"Ampuuun.. ampuun", kata diriku masih terisak-isak, "aku telah berdosa karena berbohong kepada Tuhanku! dan itu tidak sekali, minimal 17 kali aku berbohong setiap hari."
"Maksudnya bagaimana?"
"Iyyaa ka na'budu, hanya kepada Engkau aku menyembah, itu yang aku ucapkan berkali-kali, dan ternyata kalimat itu malah mengotori mulutku sendiri. Yang kelamaan menjadi bakteri yang membuat sekujurku terinfeksi." diriku menjelaskan, masih terisa sedikit isak pada nada bicaranya.
"Lho, bukannya itu adalah firman Tuhanmu, berani-beraninya kau berkata seperti itu, Jika ada yang kotor, itulah dirimu!" diriku yang ketiga malah naik pitam.
"Tuh kan kamu juga ikut emosi, dia sudah jadi gila, tinggalkan saja, biarkan dia." kata diriku yang lain.
"Ya jangan begitu, bagaimana pun ia juga dirimu, jika dia tidak selesai dengan hatinya, maka tak akan usailah keseluruhan kita." kata diriku yang entah keberapa.
"Iyyaa ka na'budu.. aku ucapkan itu. Tetapi seringkali yang kusembah bukan Engkau, wahai Diri Sejati. Aku menyembah keinginanku, aku menyembah pribadiku, aku menyembah eksistensiku. Betapa dungu aku yang sering menyangka bahwa aku benar-benar ada, dan dengan tololnya hal itu aku gapai-gapai dengan sepenuh jiwaku. Kusingkirkan Engkau sebagai Diri Sejatiku."
"Duh gustiii.. sungguh tolol diriku yang itu, aku mohonkan ampun kepadaMu."
"Sungguh tiada yang selainMu, Laa ilaha, lalu siapa aku? yang berani mengaku bukan dirimu, yang telah berani memuja sesembahan selainMu."
"Tunggu dulu! jika memang tidak ada yang selain Diri Sejatimu, berarti kau tidak melakukan kesalahan wahai diriku."
"Tidak bisa begitu!" diriku tidak setuju,"memang benar bahwa tiada yang selain Dia, kesalahanku adalah ketidaksadaranku. Aku mabuk, aku melayang-layang, aku hanyut di dalam sungai keterlenaan nafsuku."
"Nggak sadar gimana? semaput? unconscious?"
"Bukan itu, kesadaranku tertutup oleh ketidakmampuanku meneguhkan kuda-kuda tauhidku." diriku menjelaskan.
"Salah niat!"
"Gagal paham!"
"Lolaklolok!"
Para diriku bersorak-sorai.
Tak bosan-bosan alam pikiranku membolak-balik lembaran sejarah. Pangeran Sidharta mencapai maqam budha, yang bisa berarti kesadaran. Mundur lebih jauh lagi adalah "bapak tauhid" Ibrahim 'alaihissalam, yang diperkenankan Tuhan untuk sedikit mengenal DiriNya. Dan yang paling dahsyat adalah Rasul Pamungkas, yang Tuhan menikahkan cintanya dengan cinta Muhammad kekasihku.
Dengan paparan itu, apalah aku? siapalah aku? Aku tidak iri, Tuhan, tidak. Hanya mengecap, atau mungkin hanya membayangkan sedikit saja dari jalan yang pernah mereka lalui, hal itu lebih berharga daripada umurku.
"Oh, jadi begitu." kata Si Hati.
Aku menceritakan sedetail-detailnya kepada Si Hati. Dan tidak seperti biasanya, dia hanya manggut-manggut sesekali berdeham, entah karena dia yang sedang tidak sehat, atau menahan sengal nafasnya karena mendengar kalimat-kalimatku.
"Sahabatku, yang aku pahami saat ini adalah: Anane ana, ya Gusti anane."
"Hmm, ya, ya.." keanehan berikutnya, sahabatku Hati yang biasanya ngeyel, sekarang sama sekali tak tampak ketidaksetujuan pada sorot matanya,"yang penting jangan bermuka masam seperti itu." hati melanjutkan.
"Abassa wa tawalla.." aku bergumam.
"Heh, ia bermuka masam dan berpaling. Kalau itu buat Kanjeng Nabi, kalau sampeyan ya: Ia bermuka plongah-plongoh dan njeranthal."
"Hahaha"
Kamis, 15 September 2016
Terima kasih, adik kami, anak kami
"Meeeeeew",
Tentu suara ini dan wajahmu akan selalu hidup di dalam diriku. Memang orang tua kita, terutama bapak kita, mulanya tidak setuju jika aku mengajakmu bergabung dan menjalani hidup bersama keluargaku yang sekarang juga telah menjadi keluargamu.
Namun karena kemanjaan, kepolosan, dan kadang kenakalanmu, lambat laun mereka pun menyukaimu, lalu mereka mencintaimu.
"Eh, anak lanang pulang, minta makan? sini-sini...", ibu selalu gembira ketika menyapamu. Begitu pun bapak yang akan duduk dan mengelus kepalamu, bahkan ketika belum sempat beliau berganti pakaian sepulang lelah bekerja. Apalagi ketika kau sedang sakit, betapa paniknya kami. Betapa indah kehadiranmu.
Aku masih ingat ketika setiap malam kau memilih tidur bersamaku, dan kau pula yang membangunkanku.
Kami akan sangat rindu padamu. Tetapi, yang memilikimu tentu lebih sayang kepadamu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Segala sesuatu adalah dari Allah, dan akan menuju Allah kembali.
Kau tidak akan pernah mati, adikku, anakku, sahabatku. Tidak, tentu kau tidak akan beristirahat di sana. Mungkin di sini tugasmu sudah paripurna, tetapi Tuhan kita akan menugaskanmu di tempat bahkan dimensi yang lain. Dan aku sendiri meyakini, yang kau tebarkan selama ini adalah cinta, dan akan selalu begitu.
Hanya satu, aku titipkan salamku kepada Penciptamu, Cahaya Maha Cahaya, juga kepada Cahaya yang Terpuji, kekasihku.
Terima kasih, kami mencintaimu.
Tentu suara ini dan wajahmu akan selalu hidup di dalam diriku. Memang orang tua kita, terutama bapak kita, mulanya tidak setuju jika aku mengajakmu bergabung dan menjalani hidup bersama keluargaku yang sekarang juga telah menjadi keluargamu.
Namun karena kemanjaan, kepolosan, dan kadang kenakalanmu, lambat laun mereka pun menyukaimu, lalu mereka mencintaimu.
"Eh, anak lanang pulang, minta makan? sini-sini...", ibu selalu gembira ketika menyapamu. Begitu pun bapak yang akan duduk dan mengelus kepalamu, bahkan ketika belum sempat beliau berganti pakaian sepulang lelah bekerja. Apalagi ketika kau sedang sakit, betapa paniknya kami. Betapa indah kehadiranmu.
Aku masih ingat ketika setiap malam kau memilih tidur bersamaku, dan kau pula yang membangunkanku.
Kami akan sangat rindu padamu. Tetapi, yang memilikimu tentu lebih sayang kepadamu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Segala sesuatu adalah dari Allah, dan akan menuju Allah kembali.
Kau tidak akan pernah mati, adikku, anakku, sahabatku. Tidak, tentu kau tidak akan beristirahat di sana. Mungkin di sini tugasmu sudah paripurna, tetapi Tuhan kita akan menugaskanmu di tempat bahkan dimensi yang lain. Dan aku sendiri meyakini, yang kau tebarkan selama ini adalah cinta, dan akan selalu begitu.
Hanya satu, aku titipkan salamku kepada Penciptamu, Cahaya Maha Cahaya, juga kepada Cahaya yang Terpuji, kekasihku.
Terima kasih, kami mencintaimu.
Selasa, 30 Agustus 2016
Filosofi kentut
Di tengah lamunan dan loncatan-loncatan pikiran pada baringku, sempatlah terlintas senyum yang diriku tak lagi mampu mengingat siapa pemilik senyum itu. Senyum mungil yang menyungging dan bercahaya. Mungkin diriku yang lain sedang menyapaku, atau mungkin milik seseorang yang diriku sendiri menolak untuk menyimpan identitas pemilik senyuman itu. Di saat aku terlarut dalam kosmis bawah sadarku, seringlah hadir hal-hal semacam itu.
Lalu kuputuskan mengumpulkan kembali kesadaranku. Nampak Si Hati masih mengorok pulas. Entah mimpi apa dia, wajahnya belepotan penuh butiran-butiran pasir. Mungkin dia sedang bermimpi menjadi Orong-orong, atau mungkin sedang asyik bertarung sengit melawan Kraken, hahaha aku tidak tahu. Polahnya sungguh sering membuatku senyum-senyum sendiri. Oh betapa aku mencintai sahabatku yang satu ini.
"Selamat pagi.." Hati terbangun, tapi masih belum sempurna bukaan kelopak matanya, "sampeyan udah lama bangun?"
"Memangnya kamu tahu aku tidur?"
"Lho, sampeyan ndak tidur?" dia masih ngolet-ngolet, mengumpulkan kembali tenaga yang habis karena aksi heroik di dalam mimpinya.
"Wong nggak ngantuk kok tidur, aneh."
"Namanya orang hidup ya harus mengatur waktu tidur kan, biar hidup teratur, badan jadi sehat."
"Itukan kamu, kalau aku tidak. Tidur itu wajib bagi yang kelelahan dan mengantuk, kalau nggak ngantuk, ya jangan tidur. Makan itu wajib untuk yang kaliren atau sudah di tepi batas lapar, sehingga habis tenaganya, kalau aku belum kaliren, ngapain juga makan?"
"Pantas saja badan sampeyan habis, anjing pun ngiler kalau lihat sampeyan lewat. Ada jerangkong, keh.. keh.. keh.."
"Ya ndak apa-apa, daripada susah, kemana-mana nggendong perut njembling macam milikmu."
"Jangan salah, saya cuma mensyukuri rahmat Allah, kapasitas rahmat yang bisa aku tampung di sini jadi makin banyak, jadi aku dapat sering-sering bersyukur." kata Si Hati sembari menepuk-nepuk perut.
"Rahmat berupa makanan? Makanan darimana? itu perut isinya kentut aja banyak cincong."
Bruuuut..
"Ahhh legaa.."
"Asuuu! ngajak gelut ini bocah."
"Sampeyan jangan salah paham dulu, ini perutku sedang berfilsafat."
"Filsafat bagaimana? Filosofi kentut?"
"Cerdas sampeyan. Ya, filosofi kentut."
"Memangnya filosofi kentut itu bagaimana?"
"Saya kira sampeyan mengerti. Batal deh kecerdasan sampeyan. Sampeyan menjalankan hidup kan pasti ya ada 'kentut-kentut'nya dikit. Kadang marah, kadang mangkel, dikit-dikit jengkel, dikit-dikit tersinggung, pastilah sampeyan butuh pelampiasan, sampeyan butuh misuh sesekali. Nah, kentut ini kita ibaratkan misuh itu tadi."
"Ooh kalau itu aku juga mengerti. Nggak perlu jadi cerdas buat mengerti hal itu. Maksudmu, kita boleh kentut, asal tidak ngentutin orang, kan? Kita boleh saja misuh, tapi nggak misuhi orang kan?"
"Yak, seratus untuk sampeyan."
"Tapi kentutmu tadi beda kasus. Tadi siapa yang kamu kentutin?"
"Sampeyan merasa saya kentutin?"
"Lha iya, kentutmu tercium oleh hidungku, pekat banget, baunya nggak hilang-hilang cuuk!"
"Kalau kentut sudah keluar dari badan saya, sudah diluar kuasa saya. Toh pantat saya tadi tidak menempel langsung ke hidung sampeyan. Udara yang bawa kentut saya ke hidung sampeyan. Ngobrol aja itu sama udara." Si Hati cengengesan.
"Susah bicara sama kamu."
Terlihat garis-garis cahaya dari bukit di sebelah timur. Mentari sudah mulai menyipratkan sinarnya. Tetapi, kapan sinar matahari tidak terciprat-ciprat? Kita saja yang kadang tidak kebagian. Oh Cahaya Maha Cahaya, sorongkan gerhana di dalam hatiku, agar hatiku menjadi rumah bagiMu.
Lalu kuputuskan mengumpulkan kembali kesadaranku. Nampak Si Hati masih mengorok pulas. Entah mimpi apa dia, wajahnya belepotan penuh butiran-butiran pasir. Mungkin dia sedang bermimpi menjadi Orong-orong, atau mungkin sedang asyik bertarung sengit melawan Kraken, hahaha aku tidak tahu. Polahnya sungguh sering membuatku senyum-senyum sendiri. Oh betapa aku mencintai sahabatku yang satu ini.
"Selamat pagi.." Hati terbangun, tapi masih belum sempurna bukaan kelopak matanya, "sampeyan udah lama bangun?"
"Memangnya kamu tahu aku tidur?"
"Lho, sampeyan ndak tidur?" dia masih ngolet-ngolet, mengumpulkan kembali tenaga yang habis karena aksi heroik di dalam mimpinya.
"Wong nggak ngantuk kok tidur, aneh."
"Namanya orang hidup ya harus mengatur waktu tidur kan, biar hidup teratur, badan jadi sehat."
"Itukan kamu, kalau aku tidak. Tidur itu wajib bagi yang kelelahan dan mengantuk, kalau nggak ngantuk, ya jangan tidur. Makan itu wajib untuk yang kaliren atau sudah di tepi batas lapar, sehingga habis tenaganya, kalau aku belum kaliren, ngapain juga makan?"
"Pantas saja badan sampeyan habis, anjing pun ngiler kalau lihat sampeyan lewat. Ada jerangkong, keh.. keh.. keh.."
"Ya ndak apa-apa, daripada susah, kemana-mana nggendong perut njembling macam milikmu."
"Jangan salah, saya cuma mensyukuri rahmat Allah, kapasitas rahmat yang bisa aku tampung di sini jadi makin banyak, jadi aku dapat sering-sering bersyukur." kata Si Hati sembari menepuk-nepuk perut.
"Rahmat berupa makanan? Makanan darimana? itu perut isinya kentut aja banyak cincong."
Bruuuut..
"Ahhh legaa.."
"Asuuu! ngajak gelut ini bocah."
"Sampeyan jangan salah paham dulu, ini perutku sedang berfilsafat."
"Filsafat bagaimana? Filosofi kentut?"
"Cerdas sampeyan. Ya, filosofi kentut."
"Memangnya filosofi kentut itu bagaimana?"
"Saya kira sampeyan mengerti. Batal deh kecerdasan sampeyan. Sampeyan menjalankan hidup kan pasti ya ada 'kentut-kentut'nya dikit. Kadang marah, kadang mangkel, dikit-dikit jengkel, dikit-dikit tersinggung, pastilah sampeyan butuh pelampiasan, sampeyan butuh misuh sesekali. Nah, kentut ini kita ibaratkan misuh itu tadi."
"Ooh kalau itu aku juga mengerti. Nggak perlu jadi cerdas buat mengerti hal itu. Maksudmu, kita boleh kentut, asal tidak ngentutin orang, kan? Kita boleh saja misuh, tapi nggak misuhi orang kan?"
"Yak, seratus untuk sampeyan."
"Tapi kentutmu tadi beda kasus. Tadi siapa yang kamu kentutin?"
"Sampeyan merasa saya kentutin?"
"Lha iya, kentutmu tercium oleh hidungku, pekat banget, baunya nggak hilang-hilang cuuk!"
"Kalau kentut sudah keluar dari badan saya, sudah diluar kuasa saya. Toh pantat saya tadi tidak menempel langsung ke hidung sampeyan. Udara yang bawa kentut saya ke hidung sampeyan. Ngobrol aja itu sama udara." Si Hati cengengesan.
"Susah bicara sama kamu."
Terlihat garis-garis cahaya dari bukit di sebelah timur. Mentari sudah mulai menyipratkan sinarnya. Tetapi, kapan sinar matahari tidak terciprat-ciprat? Kita saja yang kadang tidak kebagian. Oh Cahaya Maha Cahaya, sorongkan gerhana di dalam hatiku, agar hatiku menjadi rumah bagiMu.
Kamis, 25 Agustus 2016
Hanya sebuah judul
"Eling sira manungsa, uripmu ing alam ndonya ..
Eling sira manungsa, uripmu ing alam ndonya .."
Aku mendendangkan syair lagu itu, tentu saja di dalam hatiku. Itu pun hanya rengeng-rengeng, Karena suara batinku tidak mengenal nada-nada, apalagi suara yang keluar dari mulutku. Maka jangan sesekali mengetesku bernyanyi, telingaku sendiri saja risih.
Ini malam hari, tibalah kami di pantai. Tepi lautan itu diapit dua bukit yang membuat pandanganku terbatas ke arah selatan. Entah hal apa yang membuat kami sampai ke sini. Kami hanya berjalan, kami tidak tahu.
Bulan sedang bulat sempurna, dan bintang pun jadi sedikit meredup. Cahaya justru akan indah jika diselubungi kegelapan di sekitarnya. Tapi, apakah orang-orang tidak takjub kepada cahaya itu sendiri? Bulan dipuji, bintang dikagumi, komet dan meteor diharap-harapi. Tapi cahayanya tidak digubris sama sekali, jiwanya tak tersentuh sedikitpun. Padahal, cahaya itu cahaya. Maksudnya, cahaya tidak memerlukan apapun untuk mencahaya. Gelombang memerlukan media untuk merambat, air memerlukan bejana untuk mengalir, api memerlukan udara untuk menyala. Tetapi cahaya tak memerlukan apapun. Mas Sabrang yang berkata dan menyadarkanku.
"Apa mereka tidak takdzim kepada kehidupan mereka sendiri ya?" kataku.
"Siapa yang sampeyan maksud?" Hati balik bertanya.
"Manusia-manusia di sekitar kita, teman-teman atau mungkin kerabat-kerabat kita."
"Ya pasti mereka takjub, tetapi karena kearifan mereka, mereka tidak mempertontonkan keshalehannya. Mereka tidak pamer."
"Oh, jadi begitu," aku manggut-manggut, "berarti memang tidak beralasan kecemasanku."
"Tapi ya, mungkin saja yang terjadi adalah yang sampeyan ucapkan."
"Semoga saja tidak, kita berdoa saja."
"Ya, semoga saja."
Jika melihat hamparan pasir di pantai ini, betapa tergetar sukmaku. Belum lagi jika aku saksikan lautan yang bergelombang, batasnya berupa cakrawala, yang kita tak tahu apa yang ada di baliknya. Itulah idiom keabadian. Kehidupan itu abadi. Kematian tidak benar-benar ada, dapat diartikan 'berpindah', atau jika ingin lebih spesifik lagi, 'kembali menuju'.
Eling sira manungsa.. Apa yang harus kita eling-eling? Apa yang perlu diingat-ingat? bahwa hidup itu hanyalah antri berbaris menuju 'kematian', yang kita semua tak tahu mendapat nomor urut berapa. Tapi yang pasti, kematian itu pasti. Laa raiba fih, yang tiada keraguan di dalamnya. Betapa asyiknya.
Telinga manusia sudah buntet dengan curek berupa kebebalan materialis. Sedari kecil, sangat banyak orang mengatakan bahwa hidup itu sementara. Dan karena aku juga manusia, walaupun pada kasta yang paling dasar, telingaku juga ikut tersumbat. Kalimat itu hanya angin lalu. Jika tergetar pun, hanya sementara. Sehabis itu? lupa.
...uripmu ing alam ndonya.. atau hidupmu di dunia. Berarti ada hidup yang tidak di dunia. Orang-orang tua kita (orang jaman sekarang sudah menganggap leluhur sebagai tahayul, maka aku memakai kata orang tua) telah berbaik hati mengingatkan. Ah, tapi hal itu kuno, sekarang sudah jaman modern. Lebih baik kita move on, biarlah sejarah hanya jadi bahan bacaan tanpa sekalipun pernah direnungkan. Biar semakin kompleks permasalahan di bumi hingga nanti Tuhan sendiri yang ikut campur menangani. Orang-orang hanya pura-pura keblinger biar mereka berjumpa dengan Tuhannya. Mereka kangen, mereka sangat merindukan Tuhan, jadi mereka mencari segala macam cara. Maklumlah, orang yang sedang rindu dapat tiba-tiba mempunyai sejuta siasat hanya supaya dapat berjumpa.
"Bro, apa sampeyan tidak merasa kesepian?" Hati tiba-tiba bertanya.
"Mana mungkin aku kesepian."
"Kadang-kadang aku merasa kasihan sama sampeyan. Hidup kok ya sendiri."
"Heheh, kasihan."
"Ya, untuk hal ini aku bilang kasihan, aku berhak sombong jika hanya kepada sampeyan."
"Apakah bisa orang yang berjalan di dalam kesunyian dapat merasa kesepian?" aku membenahi posisi dudukku, "sebuah partikel air akan melupakan dirinya jika sudah mengalir di sungai menuju muara. Orang-orang yang sedang asyik mencucup tetesan cinta tak akan mudah terganggu. Mereka bak kesurupan, masuk ke alam trance, melebur di dalam kosmos dalam dirinya. Apa menurutmu aku masih memerlukan hal yang selain itu?"
"Ya perlu kan. Kita ini disuruh hidup dibumi ini diberi kendaraan berupa 'tubuh', maka harus dirawat. Diberi tugas menjadi khalifah, maka kita harus menggantikan atau mewakili Tuhan di dunia. Ndak bisa dong, kalau kita mengesampingkan apa yang diamanatkan kepada kita."
"Bukan begitu cara berpikirnya. Dalam melakukan kita harus berprinsip. Sehingga jika melakukan maka kita benar-benar melakukan. Bukan hanya sekadar melakukan. Dan yang menjadi prinsip adalah tiada yang selain Allah, Laa illaha illalLah. Prinsip ini harus selalu ditegakkan, karena kehidupan itu dinamis, maka sering-seringlah aku memasuki kesendirianku, alam kesunyianku. Aku sedang memperkokoh fondasiku."
"Sampai kapan sampeyan seperti itu? Jangan menunda-nunda."
"Terima kasih sudah diingatkan."
"Saya tidak mengingatkan."
"Lah, terus?"
"Saya memberi fatwa."
"Lambemu."
"Kan tugas hati itu berfatwa, sesekali turutilah kata-kataku."
"Kan aku sudah mengiyakan."
"Ya segera sampeyan lakukan."
"Sekarang juga nih?"
"Kapan lagi?"
Aku membaringkan badanku di atas pasir, bersiap menuju tidurku.
"Lhoo, malah tidur." Si Hati protes.
"Katanya suruh merawat tubuhku?"
"Lha iya, tapi jangan malah tidur, lakukan sesuatu apa kek."
"Tubuhku kelelahan, biarlah beristirahat sejenak."
"Haish, pemalas."
Aku tidak sungguh-sungguh tidur. Hanya ingin menikmati suasana malam di sini. Oh, kegelapan, oh, cahaya. Cahaya adalah cinta. Tidak mungkin tidak. Yang ini juga laa raiba fih.
Cinta, hanya sebuah judul yang aku tak paham rangkaian kata dalam syairnya.
Eling sira manungsa, uripmu ing alam ndonya .."
Aku mendendangkan syair lagu itu, tentu saja di dalam hatiku. Itu pun hanya rengeng-rengeng, Karena suara batinku tidak mengenal nada-nada, apalagi suara yang keluar dari mulutku. Maka jangan sesekali mengetesku bernyanyi, telingaku sendiri saja risih.
Ini malam hari, tibalah kami di pantai. Tepi lautan itu diapit dua bukit yang membuat pandanganku terbatas ke arah selatan. Entah hal apa yang membuat kami sampai ke sini. Kami hanya berjalan, kami tidak tahu.
Bulan sedang bulat sempurna, dan bintang pun jadi sedikit meredup. Cahaya justru akan indah jika diselubungi kegelapan di sekitarnya. Tapi, apakah orang-orang tidak takjub kepada cahaya itu sendiri? Bulan dipuji, bintang dikagumi, komet dan meteor diharap-harapi. Tapi cahayanya tidak digubris sama sekali, jiwanya tak tersentuh sedikitpun. Padahal, cahaya itu cahaya. Maksudnya, cahaya tidak memerlukan apapun untuk mencahaya. Gelombang memerlukan media untuk merambat, air memerlukan bejana untuk mengalir, api memerlukan udara untuk menyala. Tetapi cahaya tak memerlukan apapun. Mas Sabrang yang berkata dan menyadarkanku.
"Apa mereka tidak takdzim kepada kehidupan mereka sendiri ya?" kataku.
"Siapa yang sampeyan maksud?" Hati balik bertanya.
"Manusia-manusia di sekitar kita, teman-teman atau mungkin kerabat-kerabat kita."
"Ya pasti mereka takjub, tetapi karena kearifan mereka, mereka tidak mempertontonkan keshalehannya. Mereka tidak pamer."
"Oh, jadi begitu," aku manggut-manggut, "berarti memang tidak beralasan kecemasanku."
"Tapi ya, mungkin saja yang terjadi adalah yang sampeyan ucapkan."
"Semoga saja tidak, kita berdoa saja."
"Ya, semoga saja."
Jika melihat hamparan pasir di pantai ini, betapa tergetar sukmaku. Belum lagi jika aku saksikan lautan yang bergelombang, batasnya berupa cakrawala, yang kita tak tahu apa yang ada di baliknya. Itulah idiom keabadian. Kehidupan itu abadi. Kematian tidak benar-benar ada, dapat diartikan 'berpindah', atau jika ingin lebih spesifik lagi, 'kembali menuju'.
Eling sira manungsa.. Apa yang harus kita eling-eling? Apa yang perlu diingat-ingat? bahwa hidup itu hanyalah antri berbaris menuju 'kematian', yang kita semua tak tahu mendapat nomor urut berapa. Tapi yang pasti, kematian itu pasti. Laa raiba fih, yang tiada keraguan di dalamnya. Betapa asyiknya.
Telinga manusia sudah buntet dengan curek berupa kebebalan materialis. Sedari kecil, sangat banyak orang mengatakan bahwa hidup itu sementara. Dan karena aku juga manusia, walaupun pada kasta yang paling dasar, telingaku juga ikut tersumbat. Kalimat itu hanya angin lalu. Jika tergetar pun, hanya sementara. Sehabis itu? lupa.
...uripmu ing alam ndonya.. atau hidupmu di dunia. Berarti ada hidup yang tidak di dunia. Orang-orang tua kita (orang jaman sekarang sudah menganggap leluhur sebagai tahayul, maka aku memakai kata orang tua) telah berbaik hati mengingatkan. Ah, tapi hal itu kuno, sekarang sudah jaman modern. Lebih baik kita move on, biarlah sejarah hanya jadi bahan bacaan tanpa sekalipun pernah direnungkan. Biar semakin kompleks permasalahan di bumi hingga nanti Tuhan sendiri yang ikut campur menangani. Orang-orang hanya pura-pura keblinger biar mereka berjumpa dengan Tuhannya. Mereka kangen, mereka sangat merindukan Tuhan, jadi mereka mencari segala macam cara. Maklumlah, orang yang sedang rindu dapat tiba-tiba mempunyai sejuta siasat hanya supaya dapat berjumpa.
"Bro, apa sampeyan tidak merasa kesepian?" Hati tiba-tiba bertanya.
"Mana mungkin aku kesepian."
"Kadang-kadang aku merasa kasihan sama sampeyan. Hidup kok ya sendiri."
"Heheh, kasihan."
"Ya, untuk hal ini aku bilang kasihan, aku berhak sombong jika hanya kepada sampeyan."
"Apakah bisa orang yang berjalan di dalam kesunyian dapat merasa kesepian?" aku membenahi posisi dudukku, "sebuah partikel air akan melupakan dirinya jika sudah mengalir di sungai menuju muara. Orang-orang yang sedang asyik mencucup tetesan cinta tak akan mudah terganggu. Mereka bak kesurupan, masuk ke alam trance, melebur di dalam kosmos dalam dirinya. Apa menurutmu aku masih memerlukan hal yang selain itu?"
"Ya perlu kan. Kita ini disuruh hidup dibumi ini diberi kendaraan berupa 'tubuh', maka harus dirawat. Diberi tugas menjadi khalifah, maka kita harus menggantikan atau mewakili Tuhan di dunia. Ndak bisa dong, kalau kita mengesampingkan apa yang diamanatkan kepada kita."
"Bukan begitu cara berpikirnya. Dalam melakukan kita harus berprinsip. Sehingga jika melakukan maka kita benar-benar melakukan. Bukan hanya sekadar melakukan. Dan yang menjadi prinsip adalah tiada yang selain Allah, Laa illaha illalLah. Prinsip ini harus selalu ditegakkan, karena kehidupan itu dinamis, maka sering-seringlah aku memasuki kesendirianku, alam kesunyianku. Aku sedang memperkokoh fondasiku."
"Sampai kapan sampeyan seperti itu? Jangan menunda-nunda."
"Terima kasih sudah diingatkan."
"Saya tidak mengingatkan."
"Lah, terus?"
"Saya memberi fatwa."
"Lambemu."
"Kan tugas hati itu berfatwa, sesekali turutilah kata-kataku."
"Kan aku sudah mengiyakan."
"Ya segera sampeyan lakukan."
"Sekarang juga nih?"
"Kapan lagi?"
Aku membaringkan badanku di atas pasir, bersiap menuju tidurku.
"Lhoo, malah tidur." Si Hati protes.
"Katanya suruh merawat tubuhku?"
"Lha iya, tapi jangan malah tidur, lakukan sesuatu apa kek."
"Tubuhku kelelahan, biarlah beristirahat sejenak."
"Haish, pemalas."
Aku tidak sungguh-sungguh tidur. Hanya ingin menikmati suasana malam di sini. Oh, kegelapan, oh, cahaya. Cahaya adalah cinta. Tidak mungkin tidak. Yang ini juga laa raiba fih.
Cinta, hanya sebuah judul yang aku tak paham rangkaian kata dalam syairnya.
Jumat, 19 Agustus 2016
Cinta di dalam Tuhan
Aku masih terlarut dalam lamunku. Menelusuri permenungan alam pikirku. Ikhlas. Betapa sederhana. Namun terasa sukar. Ikhlas ibarat sebuah anak tangga, yang masih terdapat tingkat-tingkat di sebelum dan sesudahnya. Di antara anak-anak tangga itu adalah sabar, konsistensi, tawakal, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga kita sadar sedang berada dalam bangunan cinta.
Duh, kata cinta, betapa manusia menyempitkan maknanya. Bagi mereka, cinta hanya ada diantara lelaki dan wanita, atau paling jauh, orang tua dan anak-anaknya. Untuk mengungkapkan kepada selain itu, mereka malu. Mungkin karena kata itu sudah naik pangkat, hanya dipakai dalam lingkup kecil hubungan eksklusif lawan jenis dan keluarganya. Untungnya, mereka masih mengenal rindu. Kata rindu masih tetap di tempatnya tanpa berubah makna. Setidaknya kata rindu sekarang mewakili kata cinta.
Wahai, yang mana yang bukan cinta?
"Cinta.." tak sadar aku menggumam mengucapkan kata itu.
"Apasih, Bro. Apanya yang cinta?" celetuk hati.
"Tidak, sahabatku tercinta, cuma keceplosan. Pikiran liarku sedang berkelana, kamu pasti mengerti kan?"
"Yup, sangat mengerti."
"Ngomong-ngomong, dulu kau bilang pernah jatuh cinta kan? gimana kelanjutannya?"
"Kelanjutannya? memangnya cinta ada kelanjutannya? Cinta itu cinta, hanya cinta."
"Ya kan kamu dulu bilang kepadaku, kamu mencintai hati lain. Masak nggak ada cerita selanjutnya?"
"Sampeyan kan tahu siapa saya, saya hanya mampu mencinta, betapa berharganya perasaan itu. Tidak berani saya bertindak suatu apapun, apalagi macam-macam terhadap dia yang aku cintai."
"Lanang cap opo."
"Bro, saya mencintai dia bukan karena dia perempuan, cinta saya sudah melangkah jauh ke alam ruhaniah. Ruh itu tidak laki-laki maupun perempuan. Saya mencintainya, hanya mencintainya."
"Mana bisa seperti itu. Jangan munafik. Tidak mungkin kan kau melihat seseorang, tiba-tiba muncul rasa cinta, tanpa terlebih dahulu kau terpesona dengan tampak luarnya, setidaknya karakternya."
"Iya, memang begitu. Tapi itu hanya awal mulanya. Kecantikan rupa dan hatinya hanya berkas cahaya dari lentera jiwanya."
"Halah, omonganmu kedhuwuren."
"Ya bagaimana. Aku hanya takut. Aku memilih mencintai yang tak nampak di mataku. Aku tidak mau terlena dengan hal wadak semacam itu."
"Lho, lho, lho, seandainya nih, akhirnya kalian berdua memang saling mencintai. Toh akhirnya kalian akan berhubungan selayaknya orang yang sedang mencinta."
"Sampeyan ini gimana sih, step-nya kan memang seperti itu. Itu pun misal benar-benar terjadi. Kalau tidak kan saya sama sekali nggak kehilangan apapun. Saya sudah merasa nikmat dengan cara mencintai yang seperti ini."
"Cemen lu. Apa yang kau katakan hanya pembenaran. Pengecut. Jirih."
"Apa yang bisa kita lakukan selain meyakini pembenaran-pembenaran? Apakah kebenaran itu benar-benar ada? Kebenaran yang kita percayai sesungguhnya hanya persepsi kita sendiri, hanya sebatas tafsir, maka belum tentu benar itu menjadi benar. Hanya ada satu kebenaran, yaitu Yang Maha Benar."
"Persis!"
"Begini pandangan saya, puncak dari memiliki adalah tak memaksa untuk memiliki itu sendiri. Seperti kesetiaan, orang yang paling setia adalah orang yang berada di lingkungan yang penuh dengan godaan, tetapi memilih untuk tak termakan rayuan-rayuan keadaan semacam itu. Barulah ia disebut setia."
"Wuss, mulutmu kok sampai kemana-mana."
"Ya mau bagaimana lagi. Saya memilih mencintai cahaya yang paling halus dalam dirinya." nampak sedikit raut kesedihan di wajah Si Hati, "harapan saya hanya sederhana, cintaku padanya berada di dalam percintaan dengan Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri bukan sesuatu yang wadak, tetapi nyata, maka saya memilih mencintai hal yang bukan wadak pada dirinya, bukan hal-hal materiil, tetapi bukan berarti saya tidak mencintai dirinya yang tampak pada mata saya, saya mencintai seluruhnya."
"Gimana to, omonganmu muter-muter nggak karuan."
"Intinya, saya tahu, mana bagian yang lebih penting yang harus saya cintai."
"Bilang gitu kek dari awal, nggak perlu munyer-munyer kayak gitu."
"Penyampaian adalah kelemahan saya."
"Mbok yang kuat sedikit."
"Apa ada orang lain yang kuat menjalani apa yang saya lakukan dalam hal cinta-mencinta seperti ini?"
"Ya banyak to, menderita kok bangga."
"Oh, berarti saya patut merasa kasihan kepada mereka."
"Sombong sekali kamu."
"Sombong bagaimana?" Hati menjadi sedikit bingung.
"Jika kamu merasa kasihan, terlepas dari kau sadari atau tidak, kau menganggap dirimu sendiri lebih beruntung daripada mereka. Apalagi itu kalau bukan sombong. Ini juga merupakan hal baru bagiku, pandangan ini baru saja saya temukan."
"Lha karep sampeyan bagaimana?"
"Suatu saat, semisal kau hendak memberi, jangan kau dasari hal itu dengan rasa kasihan, memberilah karena kau cinta. Cinta sesama manusia, dengan para makhluk, alam, nature, kepada masa lalumu, masa depanmu, semuanya, taruhlah semua itu dalam fondasi percintaan dengan Tuhanmu."
"Terima kasih."
"Untuk apa?" aku mengernyitkan kening.
"Untuk segala kasih yang aku terima dari sampeyan."
"Ndak perlu, sebenarnya apa yang kusampaikan kepadamu adalah untuk diriku sendiri. Aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Jika ternyata bermanfaat untukmu, aku hanya nderek bingah, ikut bahagia."
"Pokoknya matur nuwun."
"Tujukan kepada Tuhanmu."
"Ya, saya tujukan kepada Tuhan yang hadir dalam diri sampeyan."
Kami berdua kembali terdiam, tetapi sesungguhnya kami sedang bercakap-cakap. Perbincangan sunyi, membandingkan kebenaranku dengan kebenaran sahabatku itu. Lalu kami simpan. Hingga nanti kami buka kembali lembaran itu untuk kami sobek atau coret-coret kembali.
Duh, kata cinta, betapa manusia menyempitkan maknanya. Bagi mereka, cinta hanya ada diantara lelaki dan wanita, atau paling jauh, orang tua dan anak-anaknya. Untuk mengungkapkan kepada selain itu, mereka malu. Mungkin karena kata itu sudah naik pangkat, hanya dipakai dalam lingkup kecil hubungan eksklusif lawan jenis dan keluarganya. Untungnya, mereka masih mengenal rindu. Kata rindu masih tetap di tempatnya tanpa berubah makna. Setidaknya kata rindu sekarang mewakili kata cinta.
Wahai, yang mana yang bukan cinta?
"Cinta.." tak sadar aku menggumam mengucapkan kata itu.
"Apasih, Bro. Apanya yang cinta?" celetuk hati.
"Tidak, sahabatku tercinta, cuma keceplosan. Pikiran liarku sedang berkelana, kamu pasti mengerti kan?"
"Yup, sangat mengerti."
"Ngomong-ngomong, dulu kau bilang pernah jatuh cinta kan? gimana kelanjutannya?"
"Kelanjutannya? memangnya cinta ada kelanjutannya? Cinta itu cinta, hanya cinta."
"Ya kan kamu dulu bilang kepadaku, kamu mencintai hati lain. Masak nggak ada cerita selanjutnya?"
"Sampeyan kan tahu siapa saya, saya hanya mampu mencinta, betapa berharganya perasaan itu. Tidak berani saya bertindak suatu apapun, apalagi macam-macam terhadap dia yang aku cintai."
"Lanang cap opo."
"Bro, saya mencintai dia bukan karena dia perempuan, cinta saya sudah melangkah jauh ke alam ruhaniah. Ruh itu tidak laki-laki maupun perempuan. Saya mencintainya, hanya mencintainya."
"Mana bisa seperti itu. Jangan munafik. Tidak mungkin kan kau melihat seseorang, tiba-tiba muncul rasa cinta, tanpa terlebih dahulu kau terpesona dengan tampak luarnya, setidaknya karakternya."
"Iya, memang begitu. Tapi itu hanya awal mulanya. Kecantikan rupa dan hatinya hanya berkas cahaya dari lentera jiwanya."
"Halah, omonganmu kedhuwuren."
"Ya bagaimana. Aku hanya takut. Aku memilih mencintai yang tak nampak di mataku. Aku tidak mau terlena dengan hal wadak semacam itu."
"Lho, lho, lho, seandainya nih, akhirnya kalian berdua memang saling mencintai. Toh akhirnya kalian akan berhubungan selayaknya orang yang sedang mencinta."
"Sampeyan ini gimana sih, step-nya kan memang seperti itu. Itu pun misal benar-benar terjadi. Kalau tidak kan saya sama sekali nggak kehilangan apapun. Saya sudah merasa nikmat dengan cara mencintai yang seperti ini."
"Cemen lu. Apa yang kau katakan hanya pembenaran. Pengecut. Jirih."
"Apa yang bisa kita lakukan selain meyakini pembenaran-pembenaran? Apakah kebenaran itu benar-benar ada? Kebenaran yang kita percayai sesungguhnya hanya persepsi kita sendiri, hanya sebatas tafsir, maka belum tentu benar itu menjadi benar. Hanya ada satu kebenaran, yaitu Yang Maha Benar."
"Persis!"
"Begini pandangan saya, puncak dari memiliki adalah tak memaksa untuk memiliki itu sendiri. Seperti kesetiaan, orang yang paling setia adalah orang yang berada di lingkungan yang penuh dengan godaan, tetapi memilih untuk tak termakan rayuan-rayuan keadaan semacam itu. Barulah ia disebut setia."
"Wuss, mulutmu kok sampai kemana-mana."
"Ya mau bagaimana lagi. Saya memilih mencintai cahaya yang paling halus dalam dirinya." nampak sedikit raut kesedihan di wajah Si Hati, "harapan saya hanya sederhana, cintaku padanya berada di dalam percintaan dengan Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri bukan sesuatu yang wadak, tetapi nyata, maka saya memilih mencintai hal yang bukan wadak pada dirinya, bukan hal-hal materiil, tetapi bukan berarti saya tidak mencintai dirinya yang tampak pada mata saya, saya mencintai seluruhnya."
"Gimana to, omonganmu muter-muter nggak karuan."
"Intinya, saya tahu, mana bagian yang lebih penting yang harus saya cintai."
"Bilang gitu kek dari awal, nggak perlu munyer-munyer kayak gitu."
"Penyampaian adalah kelemahan saya."
"Mbok yang kuat sedikit."
"Apa ada orang lain yang kuat menjalani apa yang saya lakukan dalam hal cinta-mencinta seperti ini?"
"Ya banyak to, menderita kok bangga."
"Oh, berarti saya patut merasa kasihan kepada mereka."
"Sombong sekali kamu."
"Sombong bagaimana?" Hati menjadi sedikit bingung.
"Jika kamu merasa kasihan, terlepas dari kau sadari atau tidak, kau menganggap dirimu sendiri lebih beruntung daripada mereka. Apalagi itu kalau bukan sombong. Ini juga merupakan hal baru bagiku, pandangan ini baru saja saya temukan."
"Lha karep sampeyan bagaimana?"
"Suatu saat, semisal kau hendak memberi, jangan kau dasari hal itu dengan rasa kasihan, memberilah karena kau cinta. Cinta sesama manusia, dengan para makhluk, alam, nature, kepada masa lalumu, masa depanmu, semuanya, taruhlah semua itu dalam fondasi percintaan dengan Tuhanmu."
"Terima kasih."
"Untuk apa?" aku mengernyitkan kening.
"Untuk segala kasih yang aku terima dari sampeyan."
"Ndak perlu, sebenarnya apa yang kusampaikan kepadamu adalah untuk diriku sendiri. Aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Jika ternyata bermanfaat untukmu, aku hanya nderek bingah, ikut bahagia."
"Pokoknya matur nuwun."
"Tujukan kepada Tuhanmu."
"Ya, saya tujukan kepada Tuhan yang hadir dalam diri sampeyan."
Kami berdua kembali terdiam, tetapi sesungguhnya kami sedang bercakap-cakap. Perbincangan sunyi, membandingkan kebenaranku dengan kebenaran sahabatku itu. Lalu kami simpan. Hingga nanti kami buka kembali lembaran itu untuk kami sobek atau coret-coret kembali.
Senin, 15 Agustus 2016
Hati yang selesai
Aku terduduk di sebuah pohon besar nan rindang. Pohon ini berdiri angkuh di tengah pertumbuhan mutakhir peradaban. Tak kalah anggun dengan hutan rimba beton di sekitarnya. Pohon Karetan, begitu kami menyebutnya. Pohon ini adalah saksi bisu bersemainya Teratai Merah. Jika pohon ini diberi kemampuan berbicara, tidak perlu bersusah payah para Teratai Kecil menemukan dirinya. Sebenarnya, pohon ini mampu banyak bercerita. Tapi sayang, ia hanya bercerita pada segelintir orang, itu pun jika si pendengar sungguh-sungguh mau membuka telinga di kepala dan batin mereka. Pohon karetan yang ramah.
"Nak ..." sebuah suara terdengar, tapi aku cuek saja.
"Nak yang duduk di bawah." suaranya semakin jelas dan sepertinya memanggilku.
Aku tolehkan kepala ke atas, tidak ada siapa-siapa. Aku toleh lagi kebelakang, juga tidak ada siapa-siapa. Lalu, aku kembali ke posisiku semula. Terkesiap aku! sesosok muncul di depanku. Dan aku mengenalinya.
"Eyang Dewa Ruci," sapaku, "mengapa Eyang berada di sini?"
"Berada di mana?" Eyang balik bertanya.
"Nggih teng mriki, Eyang."
"Maksudmu di tempat ini?"
"Ya di mana lagi to."
"Aku tidak berada di mana-mana. Kebetulan saja kita bertemu."
"Waduh, susah ini." kataku dalam hati.
"Jangan terlalu dipikir." Eyang menanggapi kata hatiku!
"I..iya Eyang."
"Jangan kau bikin sulit."
"Maksud njenengan bagaimana?"
"Permasalahan di sini, di lingkungan ini, mereka sedang diuji."
"Mengapa mereka diuji?"
"Siapa yang tidak diuji di dunia ini?"
"Bebatuan, air, udara, apakah mereka juga diuji?"
"Sesungguhnya benda-benda itu hanya patuh kepada syariat Tuhannya, sunnatullah. Bayangkan saja jika engkau menjadi batu-batu atau angin sekalipun. Apakah engkau tahan menyaksikan kebusukan dan kebodohan manusia? Kau dihancurkan, dimanfaatkan, lalu ditinggalkan. Aku rasa engkau tak akan kuat. Tapi mereka tetap patuh dan taat kepada Tuhannya. Sebuah batu rela menjadi batu dan tetap menjadi batu, mereka suci. Lihatlah Pohon Karetan ini. Ia seperti raksasa di mata manusia, tetapi apa dia punya tempat di hati para manusia yang lalu-lalang di sekitarnya?"
Aku hanya mampu diam, tak berani aku mengungkapkan apapun.
"Lalu apa hubungannya dengan Teratai-teratai Kecil yang sedang diuji itu, Wahai Eyang?" kuberanikan diri bertanya kembali.
"Tuhanmu sedang memutus kabel informasi bagi para Teratai Kecil. Ibarat tetumbuhan yang di tanam di sebuah pot. Hanya tersisa naluri-naluri di dalam dirinya. Mereka disuruh menemukan sendiri."
"Apa yang harus mereka cari?"
"Dirinya sendiri. Jika ada diantara mereka yang sedikit lebih peka. Mereka akan mengamati benda-benda, tetumbuhan, apapun yang ada di sini. Benda-benda 'mati' itu adalah senior mereka di tempat ini. Jangan lupa, bukan hanya para Teratai yang berproses di sini, benda-benda itu juga. Jika mereka berhasil menemukan sisi baik dan melalui ujian itu, mereka akan menjadi Teratai Sejati."
"Tapi sampai kapan mereka dilingkupi pseudo-harmoni semacam ini?"
"Terserah-serah Allah."
"Lalu, mengapa pikiran saya dipaksa sibuk dengan hal-hal ini, Eyang?"
"Temanilah mereka."
"Apakah tugas saya hanya sebagai teman?"
"Apa kau mampu menjadi lebih dari itu?" Eyang membalik perkataanku.
"Saya rasa saya belum mampu. Tapi apakah yang akan saya temani itu merasa ditemani?"
"Jangan kau ambil pusing. Kau tahu apa itu ikhlas?"
"Tidak memikirkan hasil, tanpa pamrih."
"Lebih dari itu."
"Saya tidak paham."
"Ikhlas itu selesai. Hatimu selesai."
"Hanya itu, Eyang?"
"Hanya itu. Renungkanlah."
Ikhlas. Hati yang selesai. Ilmu yang sederhana tetapi sukar dipahami. Selama ini aku menyamakan ikhlas dengan pasrah, nerimo. Ternyata lebih dari itu.
"Sana, kau temani mereka."
"Nggih, Eyang."
"Nak ..." sebuah suara terdengar, tapi aku cuek saja.
"Nak yang duduk di bawah." suaranya semakin jelas dan sepertinya memanggilku.
Aku tolehkan kepala ke atas, tidak ada siapa-siapa. Aku toleh lagi kebelakang, juga tidak ada siapa-siapa. Lalu, aku kembali ke posisiku semula. Terkesiap aku! sesosok muncul di depanku. Dan aku mengenalinya.
"Eyang Dewa Ruci," sapaku, "mengapa Eyang berada di sini?"
"Berada di mana?" Eyang balik bertanya.
"Nggih teng mriki, Eyang."
"Maksudmu di tempat ini?"
"Ya di mana lagi to."
"Aku tidak berada di mana-mana. Kebetulan saja kita bertemu."
"Waduh, susah ini." kataku dalam hati.
"Jangan terlalu dipikir." Eyang menanggapi kata hatiku!
"I..iya Eyang."
"Jangan kau bikin sulit."
"Maksud njenengan bagaimana?"
"Permasalahan di sini, di lingkungan ini, mereka sedang diuji."
"Mengapa mereka diuji?"
"Siapa yang tidak diuji di dunia ini?"
"Bebatuan, air, udara, apakah mereka juga diuji?"
"Sesungguhnya benda-benda itu hanya patuh kepada syariat Tuhannya, sunnatullah. Bayangkan saja jika engkau menjadi batu-batu atau angin sekalipun. Apakah engkau tahan menyaksikan kebusukan dan kebodohan manusia? Kau dihancurkan, dimanfaatkan, lalu ditinggalkan. Aku rasa engkau tak akan kuat. Tapi mereka tetap patuh dan taat kepada Tuhannya. Sebuah batu rela menjadi batu dan tetap menjadi batu, mereka suci. Lihatlah Pohon Karetan ini. Ia seperti raksasa di mata manusia, tetapi apa dia punya tempat di hati para manusia yang lalu-lalang di sekitarnya?"
Aku hanya mampu diam, tak berani aku mengungkapkan apapun.
"Lalu apa hubungannya dengan Teratai-teratai Kecil yang sedang diuji itu, Wahai Eyang?" kuberanikan diri bertanya kembali.
"Tuhanmu sedang memutus kabel informasi bagi para Teratai Kecil. Ibarat tetumbuhan yang di tanam di sebuah pot. Hanya tersisa naluri-naluri di dalam dirinya. Mereka disuruh menemukan sendiri."
"Apa yang harus mereka cari?"
"Dirinya sendiri. Jika ada diantara mereka yang sedikit lebih peka. Mereka akan mengamati benda-benda, tetumbuhan, apapun yang ada di sini. Benda-benda 'mati' itu adalah senior mereka di tempat ini. Jangan lupa, bukan hanya para Teratai yang berproses di sini, benda-benda itu juga. Jika mereka berhasil menemukan sisi baik dan melalui ujian itu, mereka akan menjadi Teratai Sejati."
"Tapi sampai kapan mereka dilingkupi pseudo-harmoni semacam ini?"
"Terserah-serah Allah."
"Lalu, mengapa pikiran saya dipaksa sibuk dengan hal-hal ini, Eyang?"
"Temanilah mereka."
"Apakah tugas saya hanya sebagai teman?"
"Apa kau mampu menjadi lebih dari itu?" Eyang membalik perkataanku.
"Saya rasa saya belum mampu. Tapi apakah yang akan saya temani itu merasa ditemani?"
"Jangan kau ambil pusing. Kau tahu apa itu ikhlas?"
"Tidak memikirkan hasil, tanpa pamrih."
"Lebih dari itu."
"Saya tidak paham."
"Ikhlas itu selesai. Hatimu selesai."
"Hanya itu, Eyang?"
"Hanya itu. Renungkanlah."
Ikhlas. Hati yang selesai. Ilmu yang sederhana tetapi sukar dipahami. Selama ini aku menyamakan ikhlas dengan pasrah, nerimo. Ternyata lebih dari itu.
"Sana, kau temani mereka."
"Nggih, Eyang."
Sabtu, 13 Agustus 2016
Teratai-teratai kecil
"Dulu aku pernah belajar di sini," aku berkata kepada Si Hati di sampingku, "Tempat ini adalah semurni-murni lautan ilmu, kawah candradimuka, paling tidak untuk saat itu."
Aku membuka pembicaraan.
"Lho sekarang sudah tidak?" tanya Si Hati,
Aku hentikan langkahku, sembari mengingat dan mengenang masa lebih dari 5 tahun yang lalu. Sambil merangkai-rangkai kembali nuansa yang aku lalui saat itu.
"Kalau dari berita yang aku dengar. Kolam murni itu sekarang jadi semakin bersih," lanjutku, "tetapi tidak jelas juga berita itu dari mulut siapa."
"Bagus dong jadi makin bersih."
"Tidak, menurut hematku tidak."
"Kok?"
"Panjang ceritanya." kataku.
Si Hati mendekatkan telinganya tepat di depan mulutku, dengan wajah bodohnya melongok ke arahku, "sini, aku siap mendengarkan."
"Kita anggap begini, sebaik-baik sesuatu adalah yang seimbang, sakmadya, khairul umuri ausathuha kalau kata Kanjeng Nabi, berada di antara atau di tengah-tengah. Nah, di tempat ini aku belajar dengan suasana keseimbangan. Di sini, aku dan kawan-kawan seperjuanganku, berproses selama kurang lebih hanya 3 tahun. Di tempat yang seimbang ini." kataku.
"Iya, terus?" celetuk Si Hati.
"Tetapi pada masa 3 tahun itu, ilmu yang kami dapat sangat melimpah. Di sini adalah sebaik-baik lingkungan. Kami sebagai murid di-merdeka-kan. Guru-guru adalah sahabat kami. Kami tidak dihalang-halangi mengembangkan daya kreasi kami. Kami bebas ber-ekspresi. Dari kebebasan itulah kami temukan sendiri batasan-batasan. Entah secara sadar atau tidak. Yang baru di kemudian hari kami memahami.
"Sekolah kami ini sering disebut sebagai Teratai Merah, Padmanaba. Karena kakak-kakak kami sudah terlebih dahulu memahami, jika di sini ibarat kolam keruh, dan kami adalah para Teratai Merah yang selalu bersemi. Dan beruntungnya, atau mungkin juga sialnya, kolam ini sekarang mendadak bersih. Dipasang filter-filter penyaring kotoran seperti aquarium, atau mungkin malah kolam renang hotel yang bersih. Segala macam 'kotoran' dinafikan, tidak pernah dianggap ada, bahkan terkesan ditutup-tutupi. Padahal ekosistem terbaik adalah yang alami, termasuk segala macam predator dan piramida makanannya beserta tanah dan kotoran-kotorannya. Mereka membangun 'surga' pendidikan, yang tiada lagi keburukan di dalamnya. Nabi Adam saja dipersilahkan pergi dari surga, eh yang ini malah mau bikin surga. Betapa hebatnya mereka.
"Entah karena sudah lama memendam rasa jengkel kepada kami, karena terkadang kenakalan kami yang memang kelewat batas, para Guru dan 'Petinggi' sekolah menyusun siasat untuk 'memperbaiki keadaan'. Tradisi Teratai Merah adalah nuansa kekeluargaan. Kami dididik langsung oleh kakak-kakak kami, yang bahkan terpaut umur yang sangat jauh dari kami. Kami dikasih banyak wejangan, diajak berpikir, bagaimana cara tumbuh menjadi Teratai Merah yang baik, Teratai merah yang dapat tumbuh berkembang di kondisi air yang bagaimanapun. Dan di sekolah ini, adalah sekeruh-keruh kolam. Tetapi para Guru memutus "mata rantai" tradisi itu. Kami dihalang-halangi bertatap muka, bahkan berhubungan dengan adik-adik kami. Takut ketularan kenakalannya, banyak pengaruh buruknya; begitu kurang lebih kalau kata seorang guru.
"Kami adalah Teratai Merah yang sanggup menyaring nutrisi dari air yang keruh itu. Kami adalah generasi yang sering protes, kami berontak terhadap ketidak-adilan, minimal di lingkungan sekolah kami. Kami benar-benar berproses di sini. Dengan meng-akrab-i semua golongan di sekolah, guru-guru, kakak-adik kelas, para penjual di kantin, penjaga sekolah, cleaning service, bahkan preman sekitar sekolah, kami jadi tahu cara beramah-tamah dan menghargai orang lain sebagai manusia.
"Di 'kolam' ini dulu banyak sekat dan terkotak-kotak, entah itu ekstrakulikuler, organisasi, atau mungkin juga gang. Tapi kami dididik oleh keadaan, bagaimana cara melebur, cara mengesampingkan ego (sentrisme) kami, cara meruntuhkan tembok-tembok pembatas itu. Lalu, apa yang tidak ada di sini?
"Yang tidak ada hanya ketiadaan, ada yang tiada, tiada yang ada. Setiap hari kami mengalami proses dialektika. Di sinilah kehidupan senyata-nyata kehidupan, tata kehidupan yang real, tidak ditutup-tutupi termasuk segala hal 'buruk' yang ada. Sehingga kami jadi tahu arah berpijak. Ooh yang ini salah, ooh yang itu betul. Karena kami benar-benar menjalani. Tidak di-dikte oleh mata pelajaran budi pekerti di dalam kelas. Gotong royong? ada di aliran darah kami. Tenggang rasa? mendetak di setiap degupan jantung kami. Tolong-menolong? seiring dengan langkah kaki kami. Bukan pengetahuan, tapi ilmulah yang kami dapatkan.
"Tetapi sayang, saat ini, anak-anak manis itu, Teratai-Teratai Kecil itu, tak lagi paham bagaimana men-teratai. Lagi-lagi tentang sangkan paran. Saya sangat bersedih. Mengapa para guru malah menghalang-halangi? Mengapa mereka dipaksa patuh kepada peraturan, yang para Teratai Kecil itu sama sekali tidak dilibatkan pada pembikinannya. Apakah para guru mulai merasa punya kuasa pada setiap anak didiknya? Punya hak menentukan arah perjalanan sang murid. Sejak kapan guru punya wewenang seperti itu?"
"Sejak sampeyan mengucapkannya" potong Si Hati.
"Tidak, sejak awal tugas seorang guru hanya menunjukkan jalan, tangannya cuma nuding, hanya menyediakan 'alat-alat', tugas utamanya adalah memberikan kasih sayang mewakili orang tua anak-anak itu yang tak punya banyak waktu dan sibuk oleh pekerjaannya. Tugas guru hanya niteni, hanya mengidentifikasi kelebihan yang ada pada setiap anak didiknya. Lalu bermodalkan hal itu, sang guru seharusnya ikut membantu memfasilitasi sang murid untuk menemukan siapa dirinya, di mana maqam-nya. Karena sesungguhnya setiap orang diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda. Tetapi apa. Dikiranya anak-anak adalah tanah liat yang bebas mereka bentuk. Mereka membuat cetakan-cetakan yang seragam. Mereka mencetak tanah menjadi roti, mencetak batu menjadi roti, mencetak kayu menjadi roti. Dikiranya merekalah yang 'bertanggung-jawab' atas segala masa depan anak itu. Dikiranya hanya dari Guru-lah jalan satu-satunya mencari ilmu. Omong kosong macam apa itu."
"Mau bagaimanapun, mereka juga pernah jadi gurumu." kata Si Hati.
"Justru itu. Tapi aku khusnudzon saja. Pasti maksud mereka baik. Mungkin hanya karena mereka sudah beranjak tua, mereka jadi agak pikun. Mereka hanya terlena dan lupa."
"Masuk akal."
Aku mengajak Hati masuk ke dalam bangunan sekolah. Sembari mengenang ini-itu. Tetapi bukan suasana "rumah" yang aku rasakan. Tidak ada peristiwa ruhani "pulang" yang aku rasakan. Asing. Hanya segelintir orang yang masih aku kenal. Dan ternyata orang-orang itu juga masih ingat kepadaku.
Aku melihat adik-adikku, yang tak lagi mengenal siapa mereka, apalagi kakak-kakaknya.
"Bro, sampeyan kan juga Teratai Merah, lakukan sesuatu dong." kata Si Hati yang sedari tadi hanya melongo kesana-kemari.
"Jangan salah sangka, aku hanya Enceng Gondok yang nyelip diantara Teratai Merah."
"Lha tadi sampeyan bilang 'kami', 'kami Teratai Merah' bla bla bla. Berarti sampeyan kan termasuk."
"Aku cuma kerikil diantara nasi-nasi. Boleh-boleh saja kan aku menyebut 'kami'. Kan kami berproses bersama. Aku hanya menyebut diriku Teratai, namun sejatinya, aku tak lebih dari sekedar Enceng Gondok. Yang penting kan aku sadar siapa diriku."
"Kalau begitu, kamu bermanuver saja."
"Bagaimana maksudmu?"
"Sampeyan ajarkan secara diam-diam kepada mereka, bagaimana menjadi Enceng Gondok, baru setelah itu sampeyan kasih tahu mereka cara jadi Teratai Merah yang baik."
"Siapalah aku, aku tak punya kewajiban, apalagi hak untuk ikut campur urusan mereka. Kecuali mereka sendirilah yang meminta."
"Ya sampeyan bikin gimana caranya biar mereka meminta."
"Bisa saja sih, tapi biarlah. Biar Teratai sendiri yang menemukan jati dirinya, jatining diri, dirinya yang sejati. Biar keadaan sendiri yang mengajarkan mereka. Pada dasarnya mereka pandai-pandai, mereka cerdas. Kita berdoa saja."
Kemudian aku hanya duduk dan menunggu. Siapa tahu ada Teratai Kecil yang menghampiriku. Tapi setelah berpikir lagi:
"mana mungkin," kataku dalam hati.
Aku membuka pembicaraan.
"Lho sekarang sudah tidak?" tanya Si Hati,
Aku hentikan langkahku, sembari mengingat dan mengenang masa lebih dari 5 tahun yang lalu. Sambil merangkai-rangkai kembali nuansa yang aku lalui saat itu.
"Kalau dari berita yang aku dengar. Kolam murni itu sekarang jadi semakin bersih," lanjutku, "tetapi tidak jelas juga berita itu dari mulut siapa."
"Bagus dong jadi makin bersih."
"Tidak, menurut hematku tidak."
"Kok?"
"Panjang ceritanya." kataku.
Si Hati mendekatkan telinganya tepat di depan mulutku, dengan wajah bodohnya melongok ke arahku, "sini, aku siap mendengarkan."
"Kita anggap begini, sebaik-baik sesuatu adalah yang seimbang, sakmadya, khairul umuri ausathuha kalau kata Kanjeng Nabi, berada di antara atau di tengah-tengah. Nah, di tempat ini aku belajar dengan suasana keseimbangan. Di sini, aku dan kawan-kawan seperjuanganku, berproses selama kurang lebih hanya 3 tahun. Di tempat yang seimbang ini." kataku.
"Iya, terus?" celetuk Si Hati.
"Tetapi pada masa 3 tahun itu, ilmu yang kami dapat sangat melimpah. Di sini adalah sebaik-baik lingkungan. Kami sebagai murid di-merdeka-kan. Guru-guru adalah sahabat kami. Kami tidak dihalang-halangi mengembangkan daya kreasi kami. Kami bebas ber-ekspresi. Dari kebebasan itulah kami temukan sendiri batasan-batasan. Entah secara sadar atau tidak. Yang baru di kemudian hari kami memahami.
"Sekolah kami ini sering disebut sebagai Teratai Merah, Padmanaba. Karena kakak-kakak kami sudah terlebih dahulu memahami, jika di sini ibarat kolam keruh, dan kami adalah para Teratai Merah yang selalu bersemi. Dan beruntungnya, atau mungkin juga sialnya, kolam ini sekarang mendadak bersih. Dipasang filter-filter penyaring kotoran seperti aquarium, atau mungkin malah kolam renang hotel yang bersih. Segala macam 'kotoran' dinafikan, tidak pernah dianggap ada, bahkan terkesan ditutup-tutupi. Padahal ekosistem terbaik adalah yang alami, termasuk segala macam predator dan piramida makanannya beserta tanah dan kotoran-kotorannya. Mereka membangun 'surga' pendidikan, yang tiada lagi keburukan di dalamnya. Nabi Adam saja dipersilahkan pergi dari surga, eh yang ini malah mau bikin surga. Betapa hebatnya mereka.
"Entah karena sudah lama memendam rasa jengkel kepada kami, karena terkadang kenakalan kami yang memang kelewat batas, para Guru dan 'Petinggi' sekolah menyusun siasat untuk 'memperbaiki keadaan'. Tradisi Teratai Merah adalah nuansa kekeluargaan. Kami dididik langsung oleh kakak-kakak kami, yang bahkan terpaut umur yang sangat jauh dari kami. Kami dikasih banyak wejangan, diajak berpikir, bagaimana cara tumbuh menjadi Teratai Merah yang baik, Teratai merah yang dapat tumbuh berkembang di kondisi air yang bagaimanapun. Dan di sekolah ini, adalah sekeruh-keruh kolam. Tetapi para Guru memutus "mata rantai" tradisi itu. Kami dihalang-halangi bertatap muka, bahkan berhubungan dengan adik-adik kami. Takut ketularan kenakalannya, banyak pengaruh buruknya; begitu kurang lebih kalau kata seorang guru.
"Kami adalah Teratai Merah yang sanggup menyaring nutrisi dari air yang keruh itu. Kami adalah generasi yang sering protes, kami berontak terhadap ketidak-adilan, minimal di lingkungan sekolah kami. Kami benar-benar berproses di sini. Dengan meng-akrab-i semua golongan di sekolah, guru-guru, kakak-adik kelas, para penjual di kantin, penjaga sekolah, cleaning service, bahkan preman sekitar sekolah, kami jadi tahu cara beramah-tamah dan menghargai orang lain sebagai manusia.
"Di 'kolam' ini dulu banyak sekat dan terkotak-kotak, entah itu ekstrakulikuler, organisasi, atau mungkin juga gang. Tapi kami dididik oleh keadaan, bagaimana cara melebur, cara mengesampingkan ego (sentrisme) kami, cara meruntuhkan tembok-tembok pembatas itu. Lalu, apa yang tidak ada di sini?
"Yang tidak ada hanya ketiadaan, ada yang tiada, tiada yang ada. Setiap hari kami mengalami proses dialektika. Di sinilah kehidupan senyata-nyata kehidupan, tata kehidupan yang real, tidak ditutup-tutupi termasuk segala hal 'buruk' yang ada. Sehingga kami jadi tahu arah berpijak. Ooh yang ini salah, ooh yang itu betul. Karena kami benar-benar menjalani. Tidak di-dikte oleh mata pelajaran budi pekerti di dalam kelas. Gotong royong? ada di aliran darah kami. Tenggang rasa? mendetak di setiap degupan jantung kami. Tolong-menolong? seiring dengan langkah kaki kami. Bukan pengetahuan, tapi ilmulah yang kami dapatkan.
"Tetapi sayang, saat ini, anak-anak manis itu, Teratai-Teratai Kecil itu, tak lagi paham bagaimana men-teratai. Lagi-lagi tentang sangkan paran. Saya sangat bersedih. Mengapa para guru malah menghalang-halangi? Mengapa mereka dipaksa patuh kepada peraturan, yang para Teratai Kecil itu sama sekali tidak dilibatkan pada pembikinannya. Apakah para guru mulai merasa punya kuasa pada setiap anak didiknya? Punya hak menentukan arah perjalanan sang murid. Sejak kapan guru punya wewenang seperti itu?"
"Sejak sampeyan mengucapkannya" potong Si Hati.
"Tidak, sejak awal tugas seorang guru hanya menunjukkan jalan, tangannya cuma nuding, hanya menyediakan 'alat-alat', tugas utamanya adalah memberikan kasih sayang mewakili orang tua anak-anak itu yang tak punya banyak waktu dan sibuk oleh pekerjaannya. Tugas guru hanya niteni, hanya mengidentifikasi kelebihan yang ada pada setiap anak didiknya. Lalu bermodalkan hal itu, sang guru seharusnya ikut membantu memfasilitasi sang murid untuk menemukan siapa dirinya, di mana maqam-nya. Karena sesungguhnya setiap orang diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda. Tetapi apa. Dikiranya anak-anak adalah tanah liat yang bebas mereka bentuk. Mereka membuat cetakan-cetakan yang seragam. Mereka mencetak tanah menjadi roti, mencetak batu menjadi roti, mencetak kayu menjadi roti. Dikiranya merekalah yang 'bertanggung-jawab' atas segala masa depan anak itu. Dikiranya hanya dari Guru-lah jalan satu-satunya mencari ilmu. Omong kosong macam apa itu."
"Mau bagaimanapun, mereka juga pernah jadi gurumu." kata Si Hati.
"Justru itu. Tapi aku khusnudzon saja. Pasti maksud mereka baik. Mungkin hanya karena mereka sudah beranjak tua, mereka jadi agak pikun. Mereka hanya terlena dan lupa."
"Masuk akal."
Aku mengajak Hati masuk ke dalam bangunan sekolah. Sembari mengenang ini-itu. Tetapi bukan suasana "rumah" yang aku rasakan. Tidak ada peristiwa ruhani "pulang" yang aku rasakan. Asing. Hanya segelintir orang yang masih aku kenal. Dan ternyata orang-orang itu juga masih ingat kepadaku.
Aku melihat adik-adikku, yang tak lagi mengenal siapa mereka, apalagi kakak-kakaknya.
"Bro, sampeyan kan juga Teratai Merah, lakukan sesuatu dong." kata Si Hati yang sedari tadi hanya melongo kesana-kemari.
"Jangan salah sangka, aku hanya Enceng Gondok yang nyelip diantara Teratai Merah."
"Lha tadi sampeyan bilang 'kami', 'kami Teratai Merah' bla bla bla. Berarti sampeyan kan termasuk."
"Aku cuma kerikil diantara nasi-nasi. Boleh-boleh saja kan aku menyebut 'kami'. Kan kami berproses bersama. Aku hanya menyebut diriku Teratai, namun sejatinya, aku tak lebih dari sekedar Enceng Gondok. Yang penting kan aku sadar siapa diriku."
"Kalau begitu, kamu bermanuver saja."
"Bagaimana maksudmu?"
"Sampeyan ajarkan secara diam-diam kepada mereka, bagaimana menjadi Enceng Gondok, baru setelah itu sampeyan kasih tahu mereka cara jadi Teratai Merah yang baik."
"Siapalah aku, aku tak punya kewajiban, apalagi hak untuk ikut campur urusan mereka. Kecuali mereka sendirilah yang meminta."
"Ya sampeyan bikin gimana caranya biar mereka meminta."
"Bisa saja sih, tapi biarlah. Biar Teratai sendiri yang menemukan jati dirinya, jatining diri, dirinya yang sejati. Biar keadaan sendiri yang mengajarkan mereka. Pada dasarnya mereka pandai-pandai, mereka cerdas. Kita berdoa saja."
Kemudian aku hanya duduk dan menunggu. Siapa tahu ada Teratai Kecil yang menghampiriku. Tapi setelah berpikir lagi:
"mana mungkin," kataku dalam hati.
Sabtu, 06 Agustus 2016
Pencapaian tertinggi
"Saya tidak anti-kemajuan, atau malah anti-teknologi," aku meneruskan, "perlu diingat, bahwa fungsi dasar kemajuan teknologi berupa gadget-gadget dan seterusnya itu adalah hanya sebagai alat bantu, membikin praktis, hanya memudahkan."
"Betul itu." sahut Si Hati.
"Tetapi jangan hal-hal itu malah jadi substitusi dari intuisi dasar mereka. Lama-lama mereka berubah serupa dengan robot-robot. Ya memang canggih. Tetapi panca indera mereka copot, diganti dengan tangan-kaki cyborg, bahkan kepala mekanik. Yang mereka dikontrol dengan console jarak jauh. Siapa yang mengontrol? Tentu para pemilik kepentingan. Dengan mudahnya para pemilik kepentingan itu menggiring robot-robot bebek itu kesana-kemari. Mereka memang semakin pintar. Tapi tak lebih pintar dari kambing-kambing gembala yang masih bisa rewel ketika musim kawin tiba."
"Bukannya sampeyan juga sering memanfaatkan teknologi-teknologi itu?"
"Ya, memang. Tetapi berkali-kali aku mengatakan. Semua hal ada porsi dan konteksnya."
Aku menggeser dudukku, karena warung yang kami singgahi mulai ramai. Sebagai kere yang tahu diri, kami beringsut ke tempat paling pojok.
"Sejatinya, manusia juga mempunyai software yang jauh lebih canggih daripada kemajuan IT yang mereka agung-agungkan. Mereka bukannya tidak tahu, mereka hanya lupa, bahwa software-software pada gadget mereka adalah buah atau produk dari perangkat lunak pikiran-pikiran manusia. Mana yang lebih canggih? yang menciptakan apa yang diciptakan?"
"Ya lebih canggih sampeyan, Bro."
"Lha kok bisa?"
"Ya sampeyan ini canggih. Sampeyan itu ngomong seakan-akan sampeyan pakar teknologi, seakan-akan sampeyan aktivis humanis senior. Sampeyan itu siapa? Padahal sampeyan cuma kere yang buat makan sekali sehari pun susah. Alam pikir sampeyan melanglang buana kesana kemari. Padahal sampeyan itu bukan siapa-siapa. Apalagi sampeyan kalau bukan canggih." Si Hati meledekku.
"Telek, malah ngejekin."
Hari mulai menginjak sore. Aku merasa tidak enak berlama-lama singgah di tempat itu. Aku yakin sang pemilik warung sebenarnya sama sekali tidak keberatan jika aku berlama-lama numpang duduk di situ. Kapan lagi bisa menyantuni kaum dhuafa tanpa harus repot-repot pergi ke panti. Hehehe
Kami kembali melangkah setelah berterima kasih dan berpamitan kepada Ibu pemilik warung.
"Bro."
"He? kenapa?"
"Nggak jadi..."
"Ra cetho, ada apa sih? bilang saja."
"Akhir-akhir ini kok sampeyan jadi keras."
"Keras bagaimana?"
"Sampeyan tudang-tuding sana-sini. Sampeyan berontak kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Jangan-jangan, sampeyan udah mulai merasa paling benar?
"Bukan begitu, sahabatku. Aku hanya berpendapat. Dan sialnya, kamu yang jadi keranjang dari pendapat-pendapat sampahku. Untuk hal ini aku meminta maaf.
"Dimaafkan."
"Tetapi, apa yang aku utarakan belum tentu benar, Aku sendiri berkeyakinan semua yang aku ucapkan salah. Bahkan mungkin suatu saat aku sendiri yang membantah apa yang pernah aku ucapkan."
"Lha kenapa masih saja diucapkan. Aneh."
"Ya nggak apa-apa to. Namanya juga berjalan mencapai kebenaran."
"Pencapaian ya. Apakah sampeyan tahu apa itu 'pencapaian tertinggi'?"
"Ketika kita sampai ke tempat yang kita tuju? Ke wilayah yang kita cari?"
"Bukan itu, Bro. Itu juga pencapaian, tetapi bukan puncak dari pencapaian."
"Jangan berbelit-belit gitu."
"Begini, pencapaian tertinggi adalah ketika seseorang tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti berusaha, tak pernah berhenti menjalani."
"He'eh, terus?" aku penasaran.
"Dan karena dia sibuk dengan pencarian itu sendiri, dia tak sadar kalau telah mencapai apa yang semula ia tuju. Dia akan mencapai titik yang tinggi dan akan semakin tinggi, atau lembah rendah yang semakin rendah. Dia mencari kebenaran secara kontinyu. Dan lama-lama ialah yang menjadi kebenaran itu sendiri. Itulah peristiwa mencari kebenaran sejati. Sebuah pencapaian tertinggi."
"Ooo ya ya ya. Kok aku kayak sering menjalani hal itu. Bahkan aku perlu sering-sering mengingat apa tujuan awalku. Ngomong-ngomong kenapa kamu tahu hal-hal semacam itu?"
Aku heran kenapa Si Hati berpikiran cemerlang seperti ini.
"Dewa Ruci yang memberitahuku."
"Jangan bohong."
"Loh sampeyan tadi ndak sadar siapa yang tiduran di sebelahku? Saat kita di warung tadi."
"Diampuuut, orang tua necis tadi? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Beliau sendiri yang meminta. Beliau ingin mendengar dulu perkataanmu."
"Dasar Eyang ..."
"Betul itu." sahut Si Hati.
"Tetapi jangan hal-hal itu malah jadi substitusi dari intuisi dasar mereka. Lama-lama mereka berubah serupa dengan robot-robot. Ya memang canggih. Tetapi panca indera mereka copot, diganti dengan tangan-kaki cyborg, bahkan kepala mekanik. Yang mereka dikontrol dengan console jarak jauh. Siapa yang mengontrol? Tentu para pemilik kepentingan. Dengan mudahnya para pemilik kepentingan itu menggiring robot-robot bebek itu kesana-kemari. Mereka memang semakin pintar. Tapi tak lebih pintar dari kambing-kambing gembala yang masih bisa rewel ketika musim kawin tiba."
"Bukannya sampeyan juga sering memanfaatkan teknologi-teknologi itu?"
"Ya, memang. Tetapi berkali-kali aku mengatakan. Semua hal ada porsi dan konteksnya."
Aku menggeser dudukku, karena warung yang kami singgahi mulai ramai. Sebagai kere yang tahu diri, kami beringsut ke tempat paling pojok.
"Sejatinya, manusia juga mempunyai software yang jauh lebih canggih daripada kemajuan IT yang mereka agung-agungkan. Mereka bukannya tidak tahu, mereka hanya lupa, bahwa software-software pada gadget mereka adalah buah atau produk dari perangkat lunak pikiran-pikiran manusia. Mana yang lebih canggih? yang menciptakan apa yang diciptakan?"
"Ya lebih canggih sampeyan, Bro."
"Lha kok bisa?"
"Ya sampeyan ini canggih. Sampeyan itu ngomong seakan-akan sampeyan pakar teknologi, seakan-akan sampeyan aktivis humanis senior. Sampeyan itu siapa? Padahal sampeyan cuma kere yang buat makan sekali sehari pun susah. Alam pikir sampeyan melanglang buana kesana kemari. Padahal sampeyan itu bukan siapa-siapa. Apalagi sampeyan kalau bukan canggih." Si Hati meledekku.
"Telek, malah ngejekin."
Hari mulai menginjak sore. Aku merasa tidak enak berlama-lama singgah di tempat itu. Aku yakin sang pemilik warung sebenarnya sama sekali tidak keberatan jika aku berlama-lama numpang duduk di situ. Kapan lagi bisa menyantuni kaum dhuafa tanpa harus repot-repot pergi ke panti. Hehehe
Kami kembali melangkah setelah berterima kasih dan berpamitan kepada Ibu pemilik warung.
"Bro."
"He? kenapa?"
"Nggak jadi..."
"Ra cetho, ada apa sih? bilang saja."
"Akhir-akhir ini kok sampeyan jadi keras."
"Keras bagaimana?"
"Sampeyan tudang-tuding sana-sini. Sampeyan berontak kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Jangan-jangan, sampeyan udah mulai merasa paling benar?
"Bukan begitu, sahabatku. Aku hanya berpendapat. Dan sialnya, kamu yang jadi keranjang dari pendapat-pendapat sampahku. Untuk hal ini aku meminta maaf.
"Dimaafkan."
"Tetapi, apa yang aku utarakan belum tentu benar, Aku sendiri berkeyakinan semua yang aku ucapkan salah. Bahkan mungkin suatu saat aku sendiri yang membantah apa yang pernah aku ucapkan."
"Lha kenapa masih saja diucapkan. Aneh."
"Ya nggak apa-apa to. Namanya juga berjalan mencapai kebenaran."
"Pencapaian ya. Apakah sampeyan tahu apa itu 'pencapaian tertinggi'?"
"Ketika kita sampai ke tempat yang kita tuju? Ke wilayah yang kita cari?"
"Bukan itu, Bro. Itu juga pencapaian, tetapi bukan puncak dari pencapaian."
"Jangan berbelit-belit gitu."
"Begini, pencapaian tertinggi adalah ketika seseorang tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti berusaha, tak pernah berhenti menjalani."
"He'eh, terus?" aku penasaran.
"Dan karena dia sibuk dengan pencarian itu sendiri, dia tak sadar kalau telah mencapai apa yang semula ia tuju. Dia akan mencapai titik yang tinggi dan akan semakin tinggi, atau lembah rendah yang semakin rendah. Dia mencari kebenaran secara kontinyu. Dan lama-lama ialah yang menjadi kebenaran itu sendiri. Itulah peristiwa mencari kebenaran sejati. Sebuah pencapaian tertinggi."
"Ooo ya ya ya. Kok aku kayak sering menjalani hal itu. Bahkan aku perlu sering-sering mengingat apa tujuan awalku. Ngomong-ngomong kenapa kamu tahu hal-hal semacam itu?"
Aku heran kenapa Si Hati berpikiran cemerlang seperti ini.
"Dewa Ruci yang memberitahuku."
"Jangan bohong."
"Loh sampeyan tadi ndak sadar siapa yang tiduran di sebelahku? Saat kita di warung tadi."
"Diampuuut, orang tua necis tadi? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Beliau sendiri yang meminta. Beliau ingin mendengar dulu perkataanmu."
"Dasar Eyang ..."
nostalgia
Baca-baca tulisan lama jaman SMA beberapa kali pun tetep bikin ngekek hehehe.
Ya Allah, ternyata ini toh yang Engkau persiapkan. Saya baru menyadarinya. Duh Gusti, tak cukup lagi kata-kata untuk mengucap syukur kepadaMu.
Ya Allah, ternyata ini toh yang Engkau persiapkan. Saya baru menyadarinya. Duh Gusti, tak cukup lagi kata-kata untuk mengucap syukur kepadaMu.
Kamis, 04 Agustus 2016
Anak-anak virtual
Ketika itu aku sedang leyeh-leyeh di sebuah warung jajanan. Tentu saja bersama sahabatku Hati yang tak bosan-bosan menemaniku. Warung itu terletak di samping sebuah sekolah dasar. Kami kebetulan mampir di sebuah desa di lereng gunung. Aku hanya duduk-duduk, nunut ngeyup. Mau jajan juga uang nggak ada. Tetapi sang ibu warung sungguh berbaik hati memberikanku teh hangat. Lumayan maknyes di siang bolong ini.
"Bro, lihatlah, betapa cerianya anak-anak itu."
"Iya ya, tapi apa mereka mengerti ya betapa runyam dunia yang nanti mereka hadapi?"
"Ah sampeyan ini, jangan merusak suasana, jangan merusak kebahagian mereka. Ngelihat mereka bermain aja udah bikin kita ikutan seneng."
"Ya, aku tahu. Tapi lihatlah, seumuruan mereka dulu aku masih akrab dengan sungai beserta ikan-ikannya, berenang-renang bersama, berenang bareng kotoran manusia pun sering. Mandi lendhut mencari belut di sawah. Main jamuran, jethungan, bahkan main jailangkungan. Apa mereka tahu betapa akrabnya antara kita dengan alam sekitar? Betapa alam mengajari kita banyak hal."
"Sekarang jaman udah maju, dasar kuno. Mereka tak ketinggalan jaman. Nggak kayak sampeyan."
"Maju? ya maju. Balik badan kemudian maju ke arah belakang."
"Yo ndak, jaman kan semakin canggih. Tuh lihat mereka fasih memegang gadget. Coba kamu kasih pertanyaan apapun kepada mereka, pasti mereka bisa jawab. Tinggal googling semua hal juga ada. Pinter-pinter kan mereka."
"Pengetahuan mereka memang sudah banyak, mereka selalu up to date. Tapi pengetahuan yang menggunung itu tidak disertai dengan ngelmu, mencari ilmu, melakukan riset secara alamiah. Padahal kan pengetahuan itu produk dari perjalanan seseorang yang menuntut ilmu. Anak-anak mengira mencari ilmu hanya di sekolah, kalau di rumah tidak, di pergaulan tidak, bahkan di WC pun juga tidak. Mereka taunya tempe, nggak ngerti kedelai, mereka taunya nasi, nggak kenal lagi gabah, apalagi pupuk-pupuknya. Kalau ditanya 'nasi diolah dari apa?', jawabnya 'dari karung di Superindo,bu!', kan gawat."
"Nggak lah, tidak akan sampai segitunya. Lebay sampeyan."
"Siapa tahu besok gitu. Begitu sudah dewasa, kalau pengen punya pacar tinggal download, pengen punya anak tinggal copy paste. Mungkin kan jadi begitu? Dan yang membuatku iba adalah, mereka jadi tidak mengerti lagi betapa luasnya hidup ini. Mereka melihat 'A' hanya sebagai 'A', padahal kan tidak, mungkin saja 'B', atau 'M', atau 'Z', atau tak terhingga. Padahal yang terpenting bagi seseorang adalah melakukan proses, menikmati proses. Apapun hasilnya juga nggak begitu jadi masalah. Lebih penting menyala dari pada jadi api, lebih penting mengalir daripada jadi air."
"Ah, mumet lama-lama dengerin sampeyan."
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak yang tadi bermain telah bubar dan berlarian masuk kelas. Tapi aku masih sibuk berjibaku dengan lubernya pikiran-pikiranku sendiri.
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak yang tadi bermain telah bubar dan berlarian masuk kelas. Tapi aku masih sibuk berjibaku dengan lubernya pikiran-pikiranku sendiri.
"Anak-anak itu adalah anak-anak virtual. Kosmik 'kasunyatan' mereka lebih luas. Kalau kita kan masih memahami antara yang semu dan tidak, yang mana primer dan mana sekunder. Mereka melihat melalui layar-layar smartphone mereka. Mereka berbicara lewat sentuhan pada touch-screen di genggaman mereka. Lama-lama mata dan mulut mereka menganggur. Syukur-syukur pikiran tidak ikut menganggur," omonganku bertubi-tubi, seakan menumpahkan duka lama yang tertahan-tahan, "Kenyataan bagi mereka adalah sosmad-sosmed, donlat-donlot, chat-chit-chut. Entah itu menjadi batu sandungan atau malah jadi batu loncatan pada kehidupan mereka, aku juga tidak tahu. Tapi semoga saja hal itu jadi keunggulan dibanding generasi kita ini."
"Mereka kan nggak tahu apa-apa. Mereka lahir jaman ini ya tahunya kehidupan ya seperti ini. Mereka masih polos. Mereka seperti kertas putih. Mereka sama sekali tidak salah."
"Siapa juga yang menyalahkan. Aku hanya merasa kasihan. Sebagai generasi yang lahir duluan aku jadi merasa ikut tanggung jawab, utang rasa kepada anak-anak itu."
"Gayamu mikir anak-anak. Anak-anak dari mana? Emang sudah ada yang jadi calon pendampingmu? tanggung jawab dari mana? anak-anak orang kok dipikirin."
"Asu..."
Rabu, 03 Agustus 2016
Manusia celana gemes
Aku terpelanting di ruang antara mimpi-mimpi. Dimensi yang bagiku asing. Cahaya-cahaya berkilatan, menyatu, kemudian meledak, lalu membentuk sebuah pusaran, menyedot cahaya-cahaya lain ke dalam pusat yang hitam hampa. Lalu aku saksikan tali-tali cahaya yang saling bersanding berkaitan menari-nari. Tali-tali cahaya itu meluncur ke atas, seketika menghujam ke pusat hitam itu. Menyebabkan udara bergerak menjadi badai topan dahsyat. Aku berpegangan pada batas-batas kesadaranku. Diriku melayang-layang terbawa arus tak menentu.
Dingin.
"Udah bangun Bro?" Hati menyapaku.
"He'eh, jam berapa ini?"
"Tidur sampeyan nyenyak sekali, padahal aku sudah bersiap kalau-kalau ada yang ngelindur lagi hehehe.."
"Taek ah! aku tanya, ini jam berapa?"
"Masih pagi, hampir subuh."
Aku beranjak mencari air wudhu. Air. Yang sanggup mensucikan. Apa yang disucikan? ya yang perlu disucikan. Bagian-bagian tubuhku, pikiranku, hatiku, semua yang ada pada diriku. Semua harus kembali suci. Atau mungkin, moga-moga saja suci. Sudah suci atau belum aku juga ndak akan tahu. Semoga saja.
"Bro, sudah ada tanda-tanda dari yang sampeyan cari?"
"Aku baru saja bertemu dengan Dewa Ruci."
"Lho, kapan?"
"Tadi di dalam mimpiku."
"Waaah, berarti udah sampai finish jalan-jalan kita."
"Masih jauh, bahkan aku tidak tahu kita sudah benar-benar melalui starting line atau belum."
"Ya sudah to, wong kita udah jalan berhari-hari."
"Itukan menurut kita. Untuk menapaki jalan ini tentu ada kualifikasi."
"Kita sedang ikut lomba apa sih? kok ada kualifikasi-kualifikasi segala."
"Kita tidak sedang berlomba. Perjalanan ini hanya bisa dilakukan oleh manusia. Menapaki as-shirath bagi para mustaqim. Masalahnya, untuk menjadi manusia saja aku belum tentu lulus."
"Sampeyan ini gimana sih, sampeyan kan jelas-jelas manusia. Sampeyan bukan hewan, apalagi jenis tumbuh-tumbuhan."
"Itukan menurutmu. Belum tentu aku jadi manusia di hadapan Tuhanku. Inilah yang butuh kualifikasi."
"Untuk tahu lulus kualifikasi atau tidaknya?"
"Itulah istimewanya, aku baru tahu lulus atau tidaknya setelah melewati garis akhirnya. Dan lebih istimewa lagi, aku tak akan pernah tahu apakah aku sudah melewati garis akhir itu atau belum."
"Gendheng.."
"Ya, bagi manusia-manusia zaman ini, mungkin aku dianggap gila. Atau minimal dianggap sesat. Mereka sudah lama tinggal landas."
"Tinggal landas bagaimana?"
"Mereka asyik terbang di udara. Bahkan ada yang begitu lahir langsung mumbul ke udara. Karena sejak awal dikiranya hidup mereka hanya sekitaran udara-udara itu. Orang-orang itu tak mau tahu lagi cara berpijak. Atau paling tidak, mencari tahu dari mana mereka tinggal landas. Mereka tak tahu lagi sangkan paran-nya, asal usulnya, awal mulanya."
"Iya juga ya."
"Mereka lupa bahwa awal mereka terbang adalah untuk landing. Mereka tak tahu lagi kalau ada daratan. Karena tujuan mereka adalah 'terbang' itu sendiri. Mereka berlomba mencapai ketinggian tertinggi. Bersyukurlah mereka kalau diberi kesempatan mendarat karena bahan bakar habis. Lha kalau dibikin jatuh, atau njeblug di udara. Repot kan."
"Bikin gemes ya Bro."
"Iya, celana wanita pun juga mereka bikin gemes."
"Bisa aja sampeyan."
"Ya mereka-mereka ini manusia celana gemes."
Terdengar sayup suara adzan. Suara panggilan. Katanya sih memanggil orang sembahyang. Terkadang saking khusyuk-nya, malah Tuhan sendiri yang mereka panggil-panggil pakai pengeras suara. Ada-ada saja.
Aku gelar matras, aku bertakbir. Aku selami makna setiap gerakan. Aku cucup nikmatnya cinta tiada tara. Percintaan segitiga. Duh Gusti kang murbeng dumadi, seakan tiada lagi yang aku butuhkan. Hampir aku tak sadarkan diri. Kemudian jawaban salamlah yang menyadarkanku.
"Bro, apakah sampeyan juga mencari surga?"
"Memang kenapa?"
"Iya atau tidak?"
"Nggak, sejujurnya aku tak tertarik. Semisal Tuhan tidak jadi membikin surga pun tak masalah buatku."
"Syukurlah kalau begitu. Surga zaman ini sudah jadi tempat pelampiasan bagi manusia yang tak kebagian kekayaan dunia. Kalau di surga pun mereka masih rebutan, saya juga jadi malas ke surga."
"Yap, kita cari Tuhan aja, nanti manut Tuhan mau nge-kost-in kita di surga atau di mana. Yang penting ketemu Tuhan. Saya nggak mau ikut-ikutan mengejar surga, bisa-bisa lupa sama yang punya surga. Kan jadi berabe kalau kayak gitu."
"High five, Bro!"
"Sampeyan ini gimana sih, sampeyan kan jelas-jelas manusia. Sampeyan bukan hewan, apalagi jenis tumbuh-tumbuhan."
"Itukan menurutmu. Belum tentu aku jadi manusia di hadapan Tuhanku. Inilah yang butuh kualifikasi."
"Untuk tahu lulus kualifikasi atau tidaknya?"
"Itulah istimewanya, aku baru tahu lulus atau tidaknya setelah melewati garis akhirnya. Dan lebih istimewa lagi, aku tak akan pernah tahu apakah aku sudah melewati garis akhir itu atau belum."
"Gendheng.."
"Ya, bagi manusia-manusia zaman ini, mungkin aku dianggap gila. Atau minimal dianggap sesat. Mereka sudah lama tinggal landas."
"Tinggal landas bagaimana?"
"Mereka asyik terbang di udara. Bahkan ada yang begitu lahir langsung mumbul ke udara. Karena sejak awal dikiranya hidup mereka hanya sekitaran udara-udara itu. Orang-orang itu tak mau tahu lagi cara berpijak. Atau paling tidak, mencari tahu dari mana mereka tinggal landas. Mereka tak tahu lagi sangkan paran-nya, asal usulnya, awal mulanya."
"Iya juga ya."
"Mereka lupa bahwa awal mereka terbang adalah untuk landing. Mereka tak tahu lagi kalau ada daratan. Karena tujuan mereka adalah 'terbang' itu sendiri. Mereka berlomba mencapai ketinggian tertinggi. Bersyukurlah mereka kalau diberi kesempatan mendarat karena bahan bakar habis. Lha kalau dibikin jatuh, atau njeblug di udara. Repot kan."
"Bikin gemes ya Bro."
"Iya, celana wanita pun juga mereka bikin gemes."
"Bisa aja sampeyan."
"Ya mereka-mereka ini manusia celana gemes."
Terdengar sayup suara adzan. Suara panggilan. Katanya sih memanggil orang sembahyang. Terkadang saking khusyuk-nya, malah Tuhan sendiri yang mereka panggil-panggil pakai pengeras suara. Ada-ada saja.
Aku gelar matras, aku bertakbir. Aku selami makna setiap gerakan. Aku cucup nikmatnya cinta tiada tara. Percintaan segitiga. Duh Gusti kang murbeng dumadi, seakan tiada lagi yang aku butuhkan. Hampir aku tak sadarkan diri. Kemudian jawaban salamlah yang menyadarkanku.
"Bro, apakah sampeyan juga mencari surga?"
"Memang kenapa?"
"Iya atau tidak?"
"Nggak, sejujurnya aku tak tertarik. Semisal Tuhan tidak jadi membikin surga pun tak masalah buatku."
"Syukurlah kalau begitu. Surga zaman ini sudah jadi tempat pelampiasan bagi manusia yang tak kebagian kekayaan dunia. Kalau di surga pun mereka masih rebutan, saya juga jadi malas ke surga."
"Yap, kita cari Tuhan aja, nanti manut Tuhan mau nge-kost-in kita di surga atau di mana. Yang penting ketemu Tuhan. Saya nggak mau ikut-ikutan mengejar surga, bisa-bisa lupa sama yang punya surga. Kan jadi berabe kalau kayak gitu."
"High five, Bro!"
Langganan:
Postingan (Atom)