"Eling sira manungsa, uripmu ing alam ndonya ..
Eling sira manungsa, uripmu ing alam ndonya .."
Aku mendendangkan syair lagu itu, tentu saja di dalam hatiku. Itu pun hanya rengeng-rengeng, Karena suara batinku tidak mengenal nada-nada, apalagi suara yang keluar dari mulutku. Maka jangan sesekali mengetesku bernyanyi, telingaku sendiri saja risih.
Ini malam hari, tibalah kami di pantai. Tepi lautan itu diapit dua bukit yang membuat pandanganku terbatas ke arah selatan. Entah hal apa yang membuat kami sampai ke sini. Kami hanya berjalan, kami tidak tahu.
Bulan sedang bulat sempurna, dan bintang pun jadi sedikit meredup. Cahaya justru akan indah jika diselubungi kegelapan di sekitarnya. Tapi, apakah orang-orang tidak takjub kepada cahaya itu sendiri? Bulan dipuji, bintang dikagumi, komet dan meteor diharap-harapi. Tapi cahayanya tidak digubris sama sekali, jiwanya tak tersentuh sedikitpun. Padahal, cahaya itu cahaya. Maksudnya, cahaya tidak memerlukan apapun untuk mencahaya. Gelombang memerlukan media untuk merambat, air memerlukan bejana untuk mengalir, api memerlukan udara untuk menyala. Tetapi cahaya tak memerlukan apapun. Mas Sabrang yang berkata dan menyadarkanku.
"Apa mereka tidak takdzim kepada kehidupan mereka sendiri ya?" kataku.
"Siapa yang sampeyan maksud?" Hati balik bertanya.
"Manusia-manusia di sekitar kita, teman-teman atau mungkin kerabat-kerabat kita."
"Ya pasti mereka takjub, tetapi karena kearifan mereka, mereka tidak mempertontonkan keshalehannya. Mereka tidak pamer."
"Oh, jadi begitu," aku manggut-manggut, "berarti memang tidak beralasan kecemasanku."
"Tapi ya, mungkin saja yang terjadi adalah yang sampeyan ucapkan."
"Semoga saja tidak, kita berdoa saja."
"Ya, semoga saja."
Jika melihat hamparan pasir di pantai ini, betapa tergetar sukmaku. Belum lagi jika aku saksikan lautan yang bergelombang, batasnya berupa cakrawala, yang kita tak tahu apa yang ada di baliknya. Itulah idiom keabadian. Kehidupan itu abadi. Kematian tidak benar-benar ada, dapat diartikan 'berpindah', atau jika ingin lebih spesifik lagi, 'kembali menuju'.
Eling sira manungsa.. Apa yang harus kita eling-eling? Apa yang perlu diingat-ingat? bahwa hidup itu hanyalah antri berbaris menuju 'kematian', yang kita semua tak tahu mendapat nomor urut berapa. Tapi yang pasti, kematian itu pasti. Laa raiba fih, yang tiada keraguan di dalamnya. Betapa asyiknya.
Telinga manusia sudah buntet dengan curek berupa kebebalan materialis. Sedari kecil, sangat banyak orang mengatakan bahwa hidup itu sementara. Dan karena aku juga manusia, walaupun pada kasta yang paling dasar, telingaku juga ikut tersumbat. Kalimat itu hanya angin lalu. Jika tergetar pun, hanya sementara. Sehabis itu? lupa.
...uripmu ing alam ndonya.. atau hidupmu di dunia. Berarti ada hidup yang tidak di dunia. Orang-orang tua kita (orang jaman sekarang sudah menganggap leluhur sebagai tahayul, maka aku memakai kata orang tua) telah berbaik hati mengingatkan. Ah, tapi hal itu kuno, sekarang sudah jaman modern. Lebih baik kita move on, biarlah sejarah hanya jadi bahan bacaan tanpa sekalipun pernah direnungkan. Biar semakin kompleks permasalahan di bumi hingga nanti Tuhan sendiri yang ikut campur menangani. Orang-orang hanya pura-pura keblinger biar mereka berjumpa dengan Tuhannya. Mereka kangen, mereka sangat merindukan Tuhan, jadi mereka mencari segala macam cara. Maklumlah, orang yang sedang rindu dapat tiba-tiba mempunyai sejuta siasat hanya supaya dapat berjumpa.
"Bro, apa sampeyan tidak merasa kesepian?" Hati tiba-tiba bertanya.
"Mana mungkin aku kesepian."
"Kadang-kadang aku merasa kasihan sama sampeyan. Hidup kok ya sendiri."
"Heheh, kasihan."
"Ya, untuk hal ini aku bilang kasihan, aku berhak sombong jika hanya kepada sampeyan."
"Apakah bisa orang yang berjalan di dalam kesunyian dapat merasa kesepian?" aku membenahi posisi dudukku, "sebuah partikel air akan melupakan dirinya jika sudah mengalir di sungai menuju muara. Orang-orang yang sedang asyik mencucup tetesan cinta tak akan mudah terganggu. Mereka bak kesurupan, masuk ke alam trance, melebur di dalam kosmos dalam dirinya. Apa menurutmu aku masih memerlukan hal yang selain itu?"
"Ya perlu kan. Kita ini disuruh hidup dibumi ini diberi kendaraan berupa 'tubuh', maka harus dirawat. Diberi tugas menjadi khalifah, maka kita harus menggantikan atau mewakili Tuhan di dunia. Ndak bisa dong, kalau kita mengesampingkan apa yang diamanatkan kepada kita."
"Bukan begitu cara berpikirnya. Dalam melakukan kita harus berprinsip. Sehingga jika melakukan maka kita benar-benar melakukan. Bukan hanya sekadar melakukan. Dan yang menjadi prinsip adalah tiada yang selain Allah, Laa illaha illalLah. Prinsip ini harus selalu ditegakkan, karena kehidupan itu dinamis, maka sering-seringlah aku memasuki kesendirianku, alam kesunyianku. Aku sedang memperkokoh fondasiku."
"Sampai kapan sampeyan seperti itu? Jangan menunda-nunda."
"Terima kasih sudah diingatkan."
"Saya tidak mengingatkan."
"Lah, terus?"
"Saya memberi fatwa."
"Lambemu."
"Kan tugas hati itu berfatwa, sesekali turutilah kata-kataku."
"Kan aku sudah mengiyakan."
"Ya segera sampeyan lakukan."
"Sekarang juga nih?"
"Kapan lagi?"
Aku membaringkan badanku di atas pasir, bersiap menuju tidurku.
"Lhoo, malah tidur." Si Hati protes.
"Katanya suruh merawat tubuhku?"
"Lha iya, tapi jangan malah tidur, lakukan sesuatu apa kek."
"Tubuhku kelelahan, biarlah beristirahat sejenak."
"Haish, pemalas."
Aku tidak sungguh-sungguh tidur. Hanya ingin menikmati suasana malam di sini. Oh, kegelapan, oh, cahaya. Cahaya adalah cinta. Tidak mungkin tidak. Yang ini juga laa raiba fih.
Cinta, hanya sebuah judul yang aku tak paham rangkaian kata dalam syairnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar