Sabtu, 13 Agustus 2016

Teratai-teratai kecil

     "Dulu aku pernah belajar di sini," aku berkata kepada Si Hati di sampingku, "Tempat ini adalah semurni-murni lautan ilmu, kawah candradimuka, paling tidak untuk saat itu."

     Aku membuka pembicaraan.

     "Lho sekarang sudah tidak?" tanya Si Hati,

     Aku hentikan langkahku, sembari mengingat dan mengenang masa lebih dari 5 tahun yang lalu. Sambil merangkai-rangkai kembali nuansa yang aku lalui saat itu.

     "Kalau dari berita yang aku dengar. Kolam murni itu sekarang jadi semakin bersih," lanjutku, "tetapi tidak jelas juga berita itu dari mulut siapa."
     "Bagus dong jadi makin bersih."
     "Tidak, menurut hematku tidak."
     "Kok?"
     "Panjang ceritanya." kataku.
   
     Si Hati mendekatkan telinganya tepat di depan mulutku, dengan wajah bodohnya melongok ke arahku, "sini, aku siap mendengarkan."

     "Kita anggap begini, sebaik-baik sesuatu adalah yang seimbang, sakmadya, khairul umuri ausathuha kalau kata Kanjeng Nabi, berada di antara atau di tengah-tengah. Nah, di tempat ini aku belajar dengan suasana keseimbangan. Di sini, aku dan kawan-kawan seperjuanganku, berproses selama kurang lebih hanya 3 tahun. Di tempat yang seimbang ini." kataku.
     "Iya, terus?" celetuk Si Hati.
     "Tetapi pada masa 3 tahun itu, ilmu yang kami dapat sangat melimpah. Di sini adalah sebaik-baik lingkungan. Kami sebagai murid di-merdeka-kan. Guru-guru adalah sahabat kami. Kami tidak dihalang-halangi mengembangkan daya kreasi kami. Kami bebas ber-ekspresi. Dari kebebasan itulah kami temukan sendiri batasan-batasan. Entah secara sadar atau tidak. Yang baru di kemudian hari kami memahami.
     "Sekolah kami ini sering disebut sebagai Teratai Merah, Padmanaba. Karena kakak-kakak kami sudah terlebih dahulu memahami, jika di sini ibarat kolam keruh, dan kami adalah para Teratai Merah yang selalu bersemi. Dan beruntungnya, atau mungkin juga sialnya, kolam ini sekarang mendadak bersih. Dipasang filter-filter penyaring kotoran seperti aquarium, atau mungkin malah kolam renang hotel yang bersih. Segala macam 'kotoran' dinafikan, tidak pernah dianggap ada, bahkan terkesan ditutup-tutupi. Padahal ekosistem terbaik adalah yang alami, termasuk segala macam predator dan piramida makanannya beserta tanah dan kotoran-kotorannya. Mereka membangun 'surga' pendidikan, yang tiada lagi keburukan di dalamnya. Nabi Adam saja dipersilahkan pergi dari surga, eh yang ini malah mau bikin surga. Betapa hebatnya mereka.
     "Entah karena sudah lama memendam rasa jengkel kepada kami, karena terkadang kenakalan kami yang memang kelewat batas, para Guru dan 'Petinggi' sekolah menyusun siasat untuk 'memperbaiki keadaan'. Tradisi Teratai Merah adalah nuansa kekeluargaan. Kami dididik langsung oleh kakak-kakak kami, yang bahkan terpaut umur yang sangat jauh dari kami. Kami dikasih banyak wejangan, diajak berpikir, bagaimana cara tumbuh menjadi Teratai Merah yang baik, Teratai merah yang dapat tumbuh berkembang di kondisi air yang bagaimanapun. Dan di sekolah ini, adalah sekeruh-keruh kolam. Tetapi para Guru memutus "mata rantai" tradisi itu. Kami dihalang-halangi bertatap muka, bahkan berhubungan dengan adik-adik kami. Takut ketularan kenakalannya, banyak pengaruh buruknya; begitu kurang lebih kalau kata seorang guru.
     "Kami adalah Teratai Merah yang sanggup menyaring nutrisi dari air yang keruh itu. Kami adalah generasi yang sering protes, kami berontak terhadap ketidak-adilan, minimal di lingkungan sekolah kami. Kami benar-benar berproses di sini. Dengan meng-akrab-i semua golongan di sekolah, guru-guru, kakak-adik kelas, para penjual di kantin, penjaga sekolah, cleaning service, bahkan preman sekitar sekolah, kami jadi tahu cara beramah-tamah dan menghargai orang lain sebagai manusia.
     "Di 'kolam' ini dulu banyak sekat dan terkotak-kotak, entah itu ekstrakulikuler, organisasi, atau mungkin juga gang. Tapi kami dididik oleh keadaan, bagaimana cara melebur, cara mengesampingkan ego (sentrisme) kami, cara meruntuhkan tembok-tembok pembatas itu. Lalu, apa yang tidak ada di sini?
      "Yang tidak ada hanya ketiadaan, ada yang tiada, tiada yang ada. Setiap hari kami mengalami proses dialektika. Di sinilah kehidupan senyata-nyata kehidupan, tata kehidupan yang real, tidak ditutup-tutupi termasuk segala hal 'buruk' yang ada. Sehingga kami jadi tahu arah berpijak. Ooh yang ini salah, ooh yang itu betul. Karena kami benar-benar menjalani. Tidak di-dikte oleh mata pelajaran budi pekerti di dalam kelas. Gotong royong? ada di aliran darah kami. Tenggang rasa? mendetak di setiap degupan jantung kami. Tolong-menolong? seiring dengan langkah kaki kami. Bukan pengetahuan, tapi ilmulah yang kami dapatkan.
      "Tetapi sayang, saat ini, anak-anak manis itu, Teratai-Teratai Kecil itu, tak lagi paham bagaimana men-teratai. Lagi-lagi tentang sangkan paran. Saya sangat bersedih. Mengapa para guru malah menghalang-halangi? Mengapa mereka dipaksa patuh kepada peraturan, yang para Teratai Kecil itu sama sekali tidak dilibatkan pada pembikinannya. Apakah para guru mulai merasa punya kuasa pada setiap anak didiknya? Punya hak menentukan arah perjalanan sang murid. Sejak kapan guru punya wewenang seperti itu?"
   
     "Sejak sampeyan mengucapkannya" potong Si Hati.

     "Tidak, sejak awal tugas seorang guru hanya menunjukkan jalan, tangannya cuma nuding, hanya menyediakan 'alat-alat', tugas utamanya adalah memberikan kasih sayang mewakili orang tua anak-anak itu yang tak punya banyak waktu dan sibuk oleh pekerjaannya. Tugas guru hanya niteni, hanya mengidentifikasi kelebihan yang ada pada setiap anak didiknya. Lalu bermodalkan hal itu, sang guru seharusnya ikut membantu memfasilitasi sang murid untuk menemukan siapa dirinya, di mana maqam-nya. Karena sesungguhnya setiap orang diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda. Tetapi apa. Dikiranya anak-anak adalah tanah liat yang bebas mereka bentuk. Mereka membuat cetakan-cetakan yang seragam. Mereka mencetak tanah menjadi roti, mencetak batu menjadi roti, mencetak kayu menjadi roti. Dikiranya merekalah yang 'bertanggung-jawab' atas segala masa depan anak itu. Dikiranya hanya dari Guru-lah jalan satu-satunya mencari ilmu. Omong kosong macam apa itu."
      "Mau bagaimanapun, mereka juga pernah jadi gurumu." kata Si Hati.
      "Justru itu. Tapi aku khusnudzon saja. Pasti maksud mereka baik. Mungkin hanya karena mereka sudah beranjak tua, mereka jadi agak pikun. Mereka hanya terlena dan lupa."
      "Masuk akal."

     Aku mengajak Hati masuk ke dalam bangunan sekolah. Sembari mengenang ini-itu. Tetapi bukan suasana "rumah" yang aku rasakan. Tidak ada peristiwa ruhani "pulang" yang aku rasakan. Asing. Hanya segelintir orang yang masih aku kenal. Dan ternyata orang-orang itu juga masih ingat kepadaku.

     Aku melihat adik-adikku, yang tak lagi mengenal siapa mereka, apalagi kakak-kakaknya.

     "Bro, sampeyan kan juga Teratai Merah, lakukan sesuatu dong." kata Si Hati yang sedari tadi hanya melongo kesana-kemari.
     "Jangan salah sangka, aku hanya Enceng Gondok yang nyelip diantara Teratai Merah."
     "Lha tadi sampeyan bilang 'kami', 'kami Teratai Merah' bla bla bla. Berarti sampeyan kan termasuk."
     "Aku cuma kerikil diantara nasi-nasi. Boleh-boleh saja kan aku menyebut 'kami'. Kan kami berproses bersama. Aku hanya menyebut diriku Teratai, namun sejatinya, aku tak lebih dari sekedar Enceng Gondok. Yang penting kan aku sadar siapa diriku."
     "Kalau begitu, kamu bermanuver saja."
     "Bagaimana maksudmu?"
     "Sampeyan ajarkan secara diam-diam kepada mereka, bagaimana menjadi Enceng Gondok, baru setelah itu sampeyan kasih tahu mereka cara jadi Teratai Merah yang baik."
     "Siapalah aku, aku tak punya kewajiban, apalagi hak untuk ikut campur urusan mereka. Kecuali mereka sendirilah yang meminta."
     "Ya sampeyan bikin gimana caranya biar mereka meminta."
     "Bisa saja sih, tapi biarlah. Biar Teratai sendiri yang menemukan jati dirinya, jatining diri, dirinya yang sejati. Biar keadaan sendiri yang mengajarkan mereka. Pada dasarnya mereka pandai-pandai, mereka cerdas. Kita berdoa saja."

     Kemudian aku hanya duduk dan menunggu. Siapa tahu ada Teratai Kecil yang menghampiriku. Tapi setelah berpikir lagi:

    "mana mungkin," kataku dalam hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar