Sosok itu kembali muncul, kali ini di dalam mimpiku. Mungkin tubuhku sedang tertidur pulas. Dan inti rohku sedang berkelana kesana-kemari. Menelusuri mimpi-mimpi. Sosok itu tak seperti sewajarnya, bentuknya seperti manusia, tapi wujudnya tidak, sungguhlah aku tak menemukan kata yang pas untuk menggambarkan. Ia berdiri, sedangkan aku bersimpuh dihadapannya.
"Mengapa kau mencariku?" sosok itu memulai pembicaraan.
"Maaf, apakah njenengan Dewa Ruci?" tanyaku.
"Sesungguhnya bukan, tapi biar engkau gampang mengenaliku, maka kupilih nama itu."
"Apakah njenengan Dewa Ruci yang seorang Wrekudara pun mencarinya?"
"Maksudmu Bhima? Ya dia pernah bertemu Dewa Ruci, tapi itu bukan aku. Kau bisa memanggilku dengan nama apapun yang engkau mau."
"Baiklah, Eyang," aku memilih 'eyang' sebagai wujud takzimku padanya, "di manakah perjalanan ini, yang kulakukan ini, akan berujung?"
"Kau tidak akan kemana-mana."
"Lantas mengapa naluriku sekan-akan memaksaku melakukannya? padahal, jalanan ini sunyi, suara-suara yang kudengar pun sunyi. Kebanyakan orang seakan tak tertarik untuk menyelaminya."
"Itulah wujud cahaya sebenarnya. Bukan cahaya yang selama ini kau pahami. Yang selama ini kau lihat adalah berupa pantulan cahaya pada benda-benda, bukan wujud cahaya itu sendiri. Aku bertanya, bisakah kau melihat cahaya?
"Ti..tidak Eyang," sungguhlah tinggi ilmu beliau.
"Begitu juga suara. Dikiranya suara adalah bunyi-bunyian. Dikiranya suara adalah yang meresonansi di dalam telinga mereka. Mereka tak pernah melihat suara dari sisi gelombangnya. Sedangkan suara sunyi adalah gelombang yang murni. Maka dari itu bersyukurlah, kau sedang diperjalankan di sana."
"Kula mengerti eyang," jawabku, "tak ada habis-habisnya rasa syukurku, tapi di sisi lain, aku selalu menyesali ke-takabbur-anku."
"Ya, hal itu wajar. Itulah mizan, itulah keseimbangan, paradoksitas. Yang ditawarkan oleh kehidupan adalah keseimbangan. Melalui itulah, kau akan temukan kehadiran Tuhan di dalam dirimu."
"Tuhan? di dalam diriku?"
"Tuhan memberimu petunjuk: 'barang siapa mengenali dirinya, maka ia mengenali Tuhannya.' belum cukup jelaskah bagimu, wahai anakku?"
Terdiam aku sejenak. Selama ini terlewatkan olehku. Seolah-olah Tuhan terasa jauh, seolah Tuhan berjarak. Sungguh aku tak sopan kepadaMu, Ya Allah. Aku sadari, Tuhan tidak mungkin di mana, Tuhan tak mungkin mengambil jarak. Karena sesungguhnya 'di mana' dan 'jarak' berada di dalam Tuhan. Terserah-serah Tuhan mau bagaimana. Sungguhlah sangat terbatas bahasa dan kata-kata untuk menjelaskannya.
"Wahai Eyang, aku dihadapkan pilihan antara kemerdekaan atau keterbatasan. Mana kah yang harus ku pilih?"
"Anakku, pilihlah kemerdekaan."
"Kenapa begitu?"
"Karena hanya melalui kemerdekaan kau bisa mengerti batasan-batasan. Sesungguhnya puncak dari kemerdekaan adalah berupa batas-batas. Kemerdekaan mentok di dinding-dinding yang tak tertembus karena keterbatasan informasi dan data yang kau miliki."
"Mengapa bukan keterbatasan yang harus aku pilih? Bukankah Allah sendiri telah memberikan batas takdir pada lauhil-mahfudz miliknya?"
"Ya, tetapi Tuhan tidak memberitahukannya langsung kepadamu. Bukankah begitu?"
"Ya, Eyang."
"Itulah mengapa kau diberi kemudahan berupa kemerdekaan. Eksistensi manusia adalah berupa kemerdekaan individu. Sayangnya sering disalah-artikan sebagai Hak Asasi. Padahal hal itu adalah hal yang sangat berbeda." Sang Eyang menerangkan kepadaku, "Kemerdekaan akan bertabrakan antar satu sama lain, lalu melahirkan batas-batas. Maka terjadilah harmonisasi kehidupan. Tetapi kemerdekaan ber-make up Hak Asasi membuat orang-orang arogan, ingin menangnya sendiri, tak mau mengalah. Mereka lupa bahwa jika ada hak ada juga kewajiban. Adakah Kewajiban Asasi?"
"Aku belum pernah sekalipun mendengarnya, Eyang."
"Manusia tak punya saham sedikitpun atas kehidupannya. Mereka bukan stake holders. Tidak ada yang namanya Hak asasi. Hanya ada satu pemegang saham 100% atas dirimu. Dialah Tuhanmu."
"Betapa menyedihkan manusia-manusia itu."
"Biarlah, setiap manusia sedang berproses. Bukan hak mu ikut campur. Jika mereka bertanya, jawablah semampu yang kau bisa. Cukuplah kau belajar dari mereka. Tolonglah jika mereka yang minta."
"Apakah berarti aku lebih baik dari mereka?"
"Tidak, justru kau yang paling buruk diantara mereka."
"Lho, kok begitu, Eyang?"
"Karena kau sadar betapa buruknya dirimu, sedangkan mereka tidak."
"Ah, ya! aku mengerti. Matur sembah nuwun, Eyang."
"Ya, sekarang lanjutkan perjalananmu."
"Baik Eyang.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar