Jumat, 19 Agustus 2016

Cinta di dalam Tuhan

     Aku masih terlarut dalam lamunku. Menelusuri permenungan alam pikirku. Ikhlas. Betapa sederhana. Namun terasa sukar. Ikhlas ibarat sebuah anak tangga, yang masih terdapat tingkat-tingkat di sebelum dan sesudahnya. Di antara anak-anak tangga itu adalah sabar, konsistensi, tawakal, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga kita sadar sedang berada dalam bangunan cinta.
    Duh, kata cinta, betapa manusia menyempitkan maknanya. Bagi mereka, cinta hanya ada diantara lelaki dan wanita, atau paling jauh, orang tua dan anak-anaknya. Untuk mengungkapkan kepada selain itu, mereka malu. Mungkin karena kata itu sudah naik pangkat, hanya dipakai dalam lingkup kecil hubungan eksklusif lawan jenis dan keluarganya. Untungnya, mereka masih mengenal rindu. Kata rindu masih tetap di tempatnya tanpa berubah makna. Setidaknya kata rindu sekarang mewakili kata cinta.

     Wahai, yang mana yang bukan cinta?

     "Cinta.." tak sadar aku menggumam mengucapkan kata itu.
     "Apasih, Bro. Apanya yang cinta?" celetuk hati.
     "Tidak, sahabatku tercinta, cuma keceplosan. Pikiran liarku sedang berkelana, kamu pasti mengerti kan?"
     "Yup, sangat mengerti."
     "Ngomong-ngomong, dulu kau bilang pernah jatuh cinta kan? gimana kelanjutannya?"
     "Kelanjutannya? memangnya cinta ada kelanjutannya? Cinta itu cinta, hanya cinta."
     "Ya kan kamu dulu bilang kepadaku, kamu mencintai hati lain. Masak nggak ada cerita selanjutnya?"
     "Sampeyan kan tahu siapa saya, saya hanya mampu mencinta, betapa berharganya perasaan itu. Tidak berani saya bertindak suatu apapun, apalagi macam-macam terhadap dia yang aku cintai."
     "Lanang cap opo."
     "Bro, saya mencintai dia bukan karena dia perempuan, cinta saya sudah melangkah jauh ke alam ruhaniah. Ruh itu tidak laki-laki maupun perempuan. Saya mencintainya, hanya mencintainya."
     "Mana bisa seperti itu. Jangan munafik. Tidak mungkin kan kau melihat seseorang, tiba-tiba muncul rasa cinta, tanpa terlebih dahulu kau terpesona dengan tampak luarnya, setidaknya karakternya."
     "Iya, memang begitu. Tapi itu hanya awal mulanya. Kecantikan rupa dan hatinya hanya berkas cahaya dari lentera jiwanya."
     "Halah, omonganmu kedhuwuren."
     "Ya bagaimana. Aku hanya takut. Aku memilih mencintai yang tak nampak di mataku. Aku tidak mau terlena dengan hal wadak semacam itu."
     "Lho, lho, lho, seandainya nih, akhirnya kalian berdua memang saling mencintai. Toh akhirnya kalian akan berhubungan selayaknya orang yang sedang mencinta."
     "Sampeyan ini gimana sih, step-nya kan memang seperti itu. Itu pun misal benar-benar terjadi. Kalau tidak kan saya sama sekali nggak kehilangan apapun. Saya sudah merasa nikmat dengan cara mencintai yang seperti ini."
     "Cemen lu. Apa yang kau katakan hanya pembenaran. Pengecut. Jirih."
     "Apa yang bisa kita lakukan selain meyakini pembenaran-pembenaran? Apakah kebenaran itu benar-benar ada? Kebenaran yang kita percayai sesungguhnya hanya persepsi kita sendiri, hanya sebatas tafsir, maka belum tentu benar itu menjadi benar. Hanya ada satu kebenaran, yaitu Yang Maha Benar."
     "Persis!"
     "Begini pandangan saya, puncak dari memiliki adalah tak memaksa untuk memiliki itu sendiri. Seperti kesetiaan, orang yang paling setia adalah orang yang berada di lingkungan yang penuh dengan godaan, tetapi memilih untuk tak termakan rayuan-rayuan keadaan semacam itu. Barulah ia disebut setia."
     "Wuss, mulutmu kok sampai kemana-mana."
     "Ya mau bagaimana lagi. Saya memilih mencintai cahaya yang paling halus dalam dirinya." nampak sedikit raut kesedihan di wajah Si Hati, "harapan saya hanya sederhana, cintaku padanya berada di dalam percintaan dengan Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri bukan sesuatu yang wadak, tetapi nyata, maka saya memilih mencintai hal yang bukan wadak pada dirinya, bukan hal-hal materiil, tetapi bukan berarti saya tidak mencintai dirinya yang tampak pada mata saya, saya mencintai seluruhnya."
     "Gimana to, omonganmu muter-muter nggak karuan."
     "Intinya, saya tahu, mana bagian yang lebih penting yang harus saya cintai."
     "Bilang gitu kek dari awal, nggak perlu munyer-munyer kayak gitu."
     "Penyampaian adalah kelemahan saya."
     "Mbok yang kuat sedikit."
     "Apa ada orang lain yang kuat menjalani apa yang saya lakukan dalam hal cinta-mencinta seperti ini?"
     "Ya banyak to, menderita kok bangga."
     "Oh, berarti saya patut merasa kasihan kepada mereka."
     "Sombong sekali kamu."
     "Sombong bagaimana?" Hati menjadi sedikit bingung.
     "Jika kamu merasa kasihan, terlepas dari kau sadari atau tidak, kau menganggap dirimu sendiri lebih beruntung daripada mereka. Apalagi itu kalau bukan sombong. Ini juga merupakan hal baru bagiku, pandangan ini baru saja saya temukan."
     "Lha karep sampeyan bagaimana?"
     "Suatu saat, semisal kau hendak memberi, jangan kau dasari hal itu dengan rasa kasihan, memberilah karena kau cinta. Cinta sesama manusia, dengan para makhluk, alam, nature, kepada masa lalumu, masa depanmu, semuanya, taruhlah semua itu dalam fondasi percintaan dengan Tuhanmu."
     "Terima kasih."
     "Untuk apa?" aku mengernyitkan kening.
     "Untuk segala kasih yang aku terima dari sampeyan."
     "Ndak perlu, sebenarnya apa yang kusampaikan kepadamu adalah untuk diriku sendiri. Aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Jika ternyata bermanfaat untukmu, aku hanya nderek bingah, ikut bahagia."
     "Pokoknya matur nuwun."
     "Tujukan kepada Tuhanmu."
     "Ya, saya tujukan kepada Tuhan yang hadir dalam diri sampeyan."

     Kami berdua kembali terdiam, tetapi sesungguhnya kami sedang bercakap-cakap. Perbincangan sunyi, membandingkan kebenaranku dengan kebenaran sahabatku itu. Lalu kami simpan. Hingga nanti kami buka kembali lembaran itu untuk kami sobek atau coret-coret kembali.
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar