Senin, 30 Januari 2017

Kidung Pagi

Tiada setitik pun niat hati mempujanggai diri
Menganggap diri sebagai pujangga
Mempujangga-pujanggakan diri
Tidak
Karena kata-kata ini hanya sebutir angin dari sekian yang meliputi bawana
Karena ketidakmampuanku melakukan, sehingga yang keluar hanya berupa kata

Aku memandangmu bagai layang-layang muluk tinggi namun terikat
Lihatlah, nun di sana dirimu anggun
Tetapi lagi-lagi aku hanya bayangan menggayuh cahaya
Cebol nggayuh rembulan
Bukan engkau yang terlalu tinggi
Bukan engkau yang terlalu mewah dan indah

Karena kau sederhana
Sedangkan aku menemukan diriku sendiri pun tak mampu
Dan jika nantinya kau persilakan aku,
aku tak tahu apa yang kupersembahkan padamu

Engkau bunga bangun tidurku
Kau wewangian pembuka mataku
Kau penentram pejam mataku
Engkau laksana gendewa yang siap melepaskan anak panah kapanpun engkau mau
Duh Gusti, kapankah gendewa itu membidikku?
Nyatanya anak panah yang tidak pernah ia lepaskan menghujam sangat dalam di dadaku

O engkau, kebenaran, kebaikan, kawicaksanaan yang ibu bapamu menyematkan kepadamu
Di dalam puncak dari segala rasa ini sungguh terasa sepi
Puncak dari kesepian ini hanya melantunkan sunyi
Namun kesunyian itu yang selalu aku cari

Duh Gusti Sangkan Paraning Dumadi,
Jadikan rasa ini abadi,
Karena abadi bukan berarti ada dan bersama sedari awal sampai akhir,
tetapi keadaan yang tiada lagi awal dan tiada lagi akhir
Tanpa mengenal awal, tanpa mengetahui akhir.

Duh Gusti Kang Murbeng Dumadi,
Tidakkan jika memang tidak
Walaupun hati ini selalu berteriak: Ya!

Minggu, 22 Januari 2017

Bayangan dan sebutir debu

Jika dirimu adalah satu-satunya sumber cahaya, maka tiada guna macam pertanyaan. Ini gamblang dan sangat jelas: Kau cahaya, akulah bayangan.

Pancaranmu membuatku ada. Aku lahir. Aku hadir. Dan kepada Tuhanku aku bersyukur.

Namun apalah. 

Tak akan mampu bayang-bayang menyentuh cahaya. Apalagi maksud hati membelainya. Maka dari itu, sejak awal aku tahu.

Tidak, aku paham.
Tidak, aku mengerti.

Kita hanyalah debu dan debu. Yang tidak akan nyawiji kecuali kehendak Sang Ilahi. Tetapi akan aku taruh mana wajah dan hatiku, jika aku terus berdoa hanya agar bisa bersamamu?

Maukah dirimu meredup kemudian merelakan pancaranmu? Setelah itu bersama-sama kita jadi bayangan cahaya yang sejati. Atau maukah kau mengajariku bersinar agar aku dapat bersanding bersamamu?

Atau sudah cukup begini saja? 

Wahai, seakan-akan aku ada karenamu, tanpa pernah bisa menggapaimu.

Tiada lagi dayaku. Habis sudah upayaku.

Inilah munajat bayangan dan sebutir debu.



Rabu, 11 Januari 2017

Wanita berwajah ilmu

Coba sesekali Kau fokuskan hati dan pikiranmu.
Karena malam ini adalah malam biasa, tetapi tidak bagimu.

Juga jangan lupa siapkan tikar dan secangkir kopi.
Jagalah hatimu jangan sampai lelah menanti.
Bukankah Engkau telah terbiasa menunggu
seorang kekasih yang hendak datang namun masih ragu?
Jangan sedih.
Jadikan itu canda tawa hari-harimu.

Ia datang!

Hah, Kau bilang Kau tak lihat apapun?
Kalau begitu, pejamkan mata dan coba rasakan.
Ya, benar, teruskan seperti itu.

Apa itu yang memancar dari dalam hatimu?
Kau tidak tahu?
Orang-orang telah lama memanggil-manggil namamu dan Kau tidak tahu?
Dasar bodoh.

Itu adalah dirimu sendiri.
Kosmos di dalam kosmos.
Makro di dalam mikro.

Malam ini malammu, wahai wanita yang Tuhan mewajahkan kepadamu ilmu.
Gelap malam ini adalah saksi ketika Kau dulu mulai kembarai waktu.
Maka berbahagialah, meskipun di dalam kesedihanmu.
Hingga Tuhan memberimu sesuatu, yang tidak diberikanNya selain kepadamu.