Senin, 30 Januari 2017

Kidung Pagi

Tiada setitik pun niat hati mempujanggai diri
Menganggap diri sebagai pujangga
Mempujangga-pujanggakan diri
Tidak
Karena kata-kata ini hanya sebutir angin dari sekian yang meliputi bawana
Karena ketidakmampuanku melakukan, sehingga yang keluar hanya berupa kata

Aku memandangmu bagai layang-layang muluk tinggi namun terikat
Lihatlah, nun di sana dirimu anggun
Tetapi lagi-lagi aku hanya bayangan menggayuh cahaya
Cebol nggayuh rembulan
Bukan engkau yang terlalu tinggi
Bukan engkau yang terlalu mewah dan indah

Karena kau sederhana
Sedangkan aku menemukan diriku sendiri pun tak mampu
Dan jika nantinya kau persilakan aku,
aku tak tahu apa yang kupersembahkan padamu

Engkau bunga bangun tidurku
Kau wewangian pembuka mataku
Kau penentram pejam mataku
Engkau laksana gendewa yang siap melepaskan anak panah kapanpun engkau mau
Duh Gusti, kapankah gendewa itu membidikku?
Nyatanya anak panah yang tidak pernah ia lepaskan menghujam sangat dalam di dadaku

O engkau, kebenaran, kebaikan, kawicaksanaan yang ibu bapamu menyematkan kepadamu
Di dalam puncak dari segala rasa ini sungguh terasa sepi
Puncak dari kesepian ini hanya melantunkan sunyi
Namun kesunyian itu yang selalu aku cari

Duh Gusti Sangkan Paraning Dumadi,
Jadikan rasa ini abadi,
Karena abadi bukan berarti ada dan bersama sedari awal sampai akhir,
tetapi keadaan yang tiada lagi awal dan tiada lagi akhir
Tanpa mengenal awal, tanpa mengetahui akhir.

Duh Gusti Kang Murbeng Dumadi,
Tidakkan jika memang tidak
Walaupun hati ini selalu berteriak: Ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar