Pancaranmu membuatku ada. Aku lahir. Aku hadir. Dan kepada Tuhanku aku bersyukur.
Namun apalah.
Tak akan mampu bayang-bayang menyentuh cahaya. Apalagi maksud hati membelainya. Maka dari itu, sejak awal aku tahu.
Tidak, aku paham.
Tidak, aku mengerti.
Kita hanyalah debu dan debu. Yang tidak akan nyawiji kecuali kehendak Sang Ilahi. Tetapi akan aku taruh mana wajah dan hatiku, jika aku terus berdoa hanya agar bisa bersamamu?
Maukah dirimu meredup kemudian merelakan pancaranmu? Setelah itu bersama-sama kita jadi bayangan cahaya yang sejati. Atau maukah kau mengajariku bersinar agar aku dapat bersanding bersamamu?
Atau sudah cukup begini saja?
Wahai, seakan-akan aku ada karenamu, tanpa pernah bisa menggapaimu.
Tiada lagi dayaku. Habis sudah upayaku.
Inilah munajat bayangan dan sebutir debu.
Inilah munajat bayangan dan sebutir debu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar