Minggu, 30 September 2018

Waktu

Wahai,
Dalam sehari
hanya sedetik hamba lebur
bersamamu
Dalam seumur hidup
Mungkin hanya sehari
Kau mengunjungiku
di dalam kekosongan
sepi sunyiku
Bersediakah barang sejenak
dengan kuasamu,
Lenyapkan waktu!
Musnahkan waktu!
Izinkan hamba bersamamu
bersamamu...

Senin, 24 September 2018

Kutitipkan kepadamu apa yang kau pinjami

Tuhan, bejanaku masih penuh.
Jika Engkau banting, pecah, maka kosonglah.
Tapi hamba yakin Engkau tak akan melakukannya.

Maka mentari Engkau terbitkan
yang hingga kini masih fajar.
Dan ketika tiba di siang yang terik,
suatu saat,
maka menguaplah apa yang ada di bejanaku.
Sedikit demi sedikit.
Kemudian kosonglah.

Saat itu hamba akan memohonkan untuknya, bejanaku, untuk kau isi lagi.
Terus menerus hingga hamba mati.
Kemudian hamba tak memerlukan bejana-bejana semacam itu lagi.
Jadikan hamba ruang sehingga tak akan penuh jika Engkau isi.

Ya Tuhan, kutitipkan kepadaMu bejana yang Engkau pinjami.
Agar hamba tak bersedih lagi,
agar hamba tak khawatir lagi.

Minggu, 09 September 2018

Ya Allah, pripun melih?
Hamba tidak lagi mengerti
Sungguh hamba lemah
tak paham lagi apa yang harus hamba lakukan.
Ya Allah, ampuni hamba
Hati hamba terluka
Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

Jumat, 07 September 2018

Allahku, Allahku..

Allahku, Allahku..
Yang Engkau bebankan di hatiku
Sungguh teramat berat
Beban berupa rindu
Meledak-ledak di dadaku.

Allahku, Allahku..
Izinkan hamba meranggai kasih
Yang selama ini Kau bagikan untukku
Asa hamba menipis
Sungguh, hamba tak lagi tahu
Jika Engkau benar-benar mengambil nyala itu.

Allahku, Allahku..
Apa yang harus kulakukan
untuk menggapai pertolonganMu?
Allahku, Allahku..
Beban cinta di hatiku
Semoga menjadi alat capaian diriku
terhadap cintaMu

Allahku, Allahku..
Tolong aku

Pagi

Pagi yang sedingin ini
kujumpai rautmu.
Rasa hati tak akan pernah bosan
mengarung
titian kurva-kurva wajahmu.

Tahukah?
Sang pagi memberitahu
Bahwa yang gelap pun
bisa juga terdengar merdu
meskipun juga
sedikit pilu.

Seperti sang pagi
yang perlahan melaju.
Begitu pula harapanku.

Kamis, 06 September 2018

Sendu

Malam yang tak gemerlap
melingkup di dalam dadaku.
Pikiran yang mengatup
menandai kuncupnya akalku.
Ketenangan yang kucari
karena terbawa olehnya pergi.
Angin yang tak kunjung henti
tanpa asa, tanpa asuh, ke mana lagi?
Mulutku mulai terkunci
menutup pintu-pintu hati.

Ia diam, tanpa kata,
bukan sunyi, namun sangat sepi.
Ia gaduh, tanpa suara,
ke mana perginya bunyi?

Dadaku berdentum
dentam
Mengusik mimpi-mimpi
baik dalam tidur dan sadarku.
Ke mana ketenangan yang kucari?
Berikut segala bukti-bukti
yang pada setiap tarikan nafasnya 
terasa sepi.

Lalu ke mana lagi kucari?
Kuceritakan kepada kerikil-kerikil kecil
yang terinjak oleh sandalku.
Namun yang sampai kepadaku hanyalah rasa iri
Kuinjak hingga pecah pun,
ia tak keberatan sama sekali.
Ketenangan itu yang kucari.

Malam-malam sepi
Akan kubisikkan kepadamu
sebaris kalimat sendu
tolong sampaikan kepada harapanku
agar Ia tak segan menjumpaiku.
Atau diri ini akan habis termakan rindu.


Sabtu, 01 September 2018

hati hujan

Terhantam.
Terbanting.
Terbaring.
Terlupa.
Tersadar.
Terikat.
Tangis.
Tawa.
Tanpamu.
Takut.
Terima.
Tulus.

O, hati hujan.
Terangkan temarammu.
Terbersit di dalam diri
Seiris yang kusebut luka.
Ternyata berwujud rusuk
yang kutelan-telan sendiri.

O, hati hujan.
Kuyup kalut
membuat terlupa
Akan hikmah mawas diri.

O, hati hujan.
Malam jangan sampai larut.
Atau kupu-kupu
tak mau hinggap lagi.

O, hati hujan.
Hujan juga punya hati.
Ia yang ingin menghujani,
hati yang tak kunjung
berhenti.
Sabar