Jumat, 30 November 2018

Kehidupan


Kehidupan menyajikan kepadamu
satu-dua ketidakmungkinan
meramu mata badai dalam dirimu.
Merombak mimpi malammu,
irama jantungmu,
pusaran pikiranmu,
letupan keinginanmu.
Habis mampus egomu
ketika kau simpan dan tahan-tahan.
Luluh lantakkan rongga dadamu.

Duduklah.
Duduk di samping kanan atau kiriku.
Terserah yang nyaman buatmu.
Lalu kukisahkan padamu cerita tentang debu.
Jangan kau ganggu!
Dengan alam pikiran logikamu.
Tiada lagi tempat,
karena rongga yang satu itu,
harus penuh oleh harapanmu.

Kamis, 08 November 2018


Kupungut lagi cintaku
Semebar di sudut-sudut kota biru

Singaraja, 6 November 2018

Jumat, 12 Oktober 2018

sore

Hanya sore, tentramnya temaram.
Meskipun kulit ini ruam
jika kuingat lagi betapa dinginnya diam.
Kau membeku.
Mengerikan.
Kesedihanku tertahan
karena di dalam sini hujan.
Lihatlah,
di luar sana senyumku adalah bahasa air mata
yang kering,
ia berhenti berusaha.
Ya, seperti dirimu
yang selalu ragu.
Kemudian melalu
tanpa kata-kata dan senandung lagu.
Titik nadir suram.
Langit-langit malam.
Kelam.

Minggu, 30 September 2018

Waktu

Wahai,
Dalam sehari
hanya sedetik hamba lebur
bersamamu
Dalam seumur hidup
Mungkin hanya sehari
Kau mengunjungiku
di dalam kekosongan
sepi sunyiku
Bersediakah barang sejenak
dengan kuasamu,
Lenyapkan waktu!
Musnahkan waktu!
Izinkan hamba bersamamu
bersamamu...

Senin, 24 September 2018

Kutitipkan kepadamu apa yang kau pinjami

Tuhan, bejanaku masih penuh.
Jika Engkau banting, pecah, maka kosonglah.
Tapi hamba yakin Engkau tak akan melakukannya.

Maka mentari Engkau terbitkan
yang hingga kini masih fajar.
Dan ketika tiba di siang yang terik,
suatu saat,
maka menguaplah apa yang ada di bejanaku.
Sedikit demi sedikit.
Kemudian kosonglah.

Saat itu hamba akan memohonkan untuknya, bejanaku, untuk kau isi lagi.
Terus menerus hingga hamba mati.
Kemudian hamba tak memerlukan bejana-bejana semacam itu lagi.
Jadikan hamba ruang sehingga tak akan penuh jika Engkau isi.

Ya Tuhan, kutitipkan kepadaMu bejana yang Engkau pinjami.
Agar hamba tak bersedih lagi,
agar hamba tak khawatir lagi.

Minggu, 09 September 2018

Ya Allah, pripun melih?
Hamba tidak lagi mengerti
Sungguh hamba lemah
tak paham lagi apa yang harus hamba lakukan.
Ya Allah, ampuni hamba
Hati hamba terluka
Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

Jumat, 07 September 2018

Allahku, Allahku..

Allahku, Allahku..
Yang Engkau bebankan di hatiku
Sungguh teramat berat
Beban berupa rindu
Meledak-ledak di dadaku.

Allahku, Allahku..
Izinkan hamba meranggai kasih
Yang selama ini Kau bagikan untukku
Asa hamba menipis
Sungguh, hamba tak lagi tahu
Jika Engkau benar-benar mengambil nyala itu.

Allahku, Allahku..
Apa yang harus kulakukan
untuk menggapai pertolonganMu?
Allahku, Allahku..
Beban cinta di hatiku
Semoga menjadi alat capaian diriku
terhadap cintaMu

Allahku, Allahku..
Tolong aku

Pagi

Pagi yang sedingin ini
kujumpai rautmu.
Rasa hati tak akan pernah bosan
mengarung
titian kurva-kurva wajahmu.

Tahukah?
Sang pagi memberitahu
Bahwa yang gelap pun
bisa juga terdengar merdu
meskipun juga
sedikit pilu.

Seperti sang pagi
yang perlahan melaju.
Begitu pula harapanku.

Kamis, 06 September 2018

Sendu

Malam yang tak gemerlap
melingkup di dalam dadaku.
Pikiran yang mengatup
menandai kuncupnya akalku.
Ketenangan yang kucari
karena terbawa olehnya pergi.
Angin yang tak kunjung henti
tanpa asa, tanpa asuh, ke mana lagi?
Mulutku mulai terkunci
menutup pintu-pintu hati.

Ia diam, tanpa kata,
bukan sunyi, namun sangat sepi.
Ia gaduh, tanpa suara,
ke mana perginya bunyi?

Dadaku berdentum
dentam
Mengusik mimpi-mimpi
baik dalam tidur dan sadarku.
Ke mana ketenangan yang kucari?
Berikut segala bukti-bukti
yang pada setiap tarikan nafasnya 
terasa sepi.

Lalu ke mana lagi kucari?
Kuceritakan kepada kerikil-kerikil kecil
yang terinjak oleh sandalku.
Namun yang sampai kepadaku hanyalah rasa iri
Kuinjak hingga pecah pun,
ia tak keberatan sama sekali.
Ketenangan itu yang kucari.

Malam-malam sepi
Akan kubisikkan kepadamu
sebaris kalimat sendu
tolong sampaikan kepada harapanku
agar Ia tak segan menjumpaiku.
Atau diri ini akan habis termakan rindu.


Sabtu, 01 September 2018

hati hujan

Terhantam.
Terbanting.
Terbaring.
Terlupa.
Tersadar.
Terikat.
Tangis.
Tawa.
Tanpamu.
Takut.
Terima.
Tulus.

O, hati hujan.
Terangkan temarammu.
Terbersit di dalam diri
Seiris yang kusebut luka.
Ternyata berwujud rusuk
yang kutelan-telan sendiri.

O, hati hujan.
Kuyup kalut
membuat terlupa
Akan hikmah mawas diri.

O, hati hujan.
Malam jangan sampai larut.
Atau kupu-kupu
tak mau hinggap lagi.

O, hati hujan.
Hujan juga punya hati.
Ia yang ingin menghujani,
hati yang tak kunjung
berhenti.
Sabar

Jumat, 31 Agustus 2018

Sekecup rindu

Sekecup rinduku kusampaikan kepadamu, Yaa Rabb.
Semesta ketololanku melebur dihujam setetes cintaMu
kepadaku.
Beratus ribu kegelisahan Kau tumpas dengan hanya satu kata: Yaa Huu.
Ku tahu Engkau Waduud, pecinta maha pecinta.
Hinakan diriku sehingga diri ini sibuk memujiMu.

Seketika diri ini lesu.
Dadaku terasa penuh sesak akibat mata tak mampu lagi berisak.
Yaa Rabb, ambillah.
Ambillah yang menurutMu tak pantas Engkau bagikan kepadaku.
Tapi jangan lagi Kau ambil cintaku kepadaMu.

Lambaian tangan kepasrahan kusampaikan kepadaMu, Yaa Rabb.
Karena kini tarikan dan hembusan nafasku bukan lagi milikku.
Apa yang kuperjuangkan bukanlah barang tentu.
Apabila diri ini salah, mohon Kau jadikan benar dengan kasihMu.

Yaa Rabb, sekecup kerinduanku kusampaikan kepadaMu,
Dan kekasih, tunggulah aku.

Rabu, 29 Agustus 2018

Sesukamu

Sesuka-sukamulah, kekasih.
Karena yang dirimu lakukan tak mengubah
yang terlanjur menyala
jauh di kedalaman jiwaku.
Kusandera kesabaranku
biar Ia yang menggantikanmu sejenak
menemaniku.
Jika dirimu lelah,
Kemarilah, akan kuceritakan kepadamu
kisah-kisah bahagia
tentang dirimu sendiri.

Selasa, 28 Agustus 2018

Laa ilaaha illallah.
Lamun aku hidup namun apalah
Hidupku adalah lamunan-lamunan
Yang mimpipun ragu untuh singgah.
Laa ilaaha illallah.
Di mana sang pelangi yang tak berwajah
Ketika hamba tak tahu lagi apa itu indah.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.
Kenyang perutku dengan segala gundah
Ke mana lagi hamba harus singgah?
Laa ilaaha illallah.
Laa ilaaha illallah.

Jumat, 24 Agustus 2018

berat

Seperti berjalan tanpa kaki, berkata tanpa mulut, mendengar tanpa telinga. Kekasih, memang terasa lebih berat. Teramat berat.
Namun naluriku akan terus meraba-raba dinding gelap yang kutahu adalah dirimu. Doakan saja aku.
Biar Ia yang menjaga nyalaku nyalamu.

Kamis, 23 Agustus 2018

Nyala

Sumpek juga ya.
Ya Allah kuatkan hamba. 
Dan Ya Allah, lindungi nyala itu. Karena kini Engkau yang menyala-nyala di hatiku.
Dengan sujud-sujud di seluruh kehidupanku, Ya Allah, jagalah nyala itu.
Karena kini yang mampu kulakukan hanya menjalani sebaik-baik hidupku, maka kuserahkan kepadaMu segala urusan yang kini aku belum mampu.
Ya Rabb, aku berkhalwat untukmu.
Ya Allah, jagalah nyala di hatinya di hatiku.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Malu

Ya Tuhan, hamba malu. Jika tiba suatu nanti hamba menjumpaiMu, hamba tak ingin merasa malu.
Hamba tahu Engkau kecewa kepadaku.
Hamba benar-benar merasa bodoh. Terkadang apa yang seharusnya kusimpan, tanpa sengaja kusampaikan. Apa yang mustinya kujaga, malah kutiup-tiup sendiri apinya.
Padahal yang Kau maksud adalah nyalanya!
Betapa bodohnya..
Tuhanku, hamba malu.
Yakaduu zaituhaa yudi'u wa laulam tamsashunaar.
Aku adalah nyalaku, yang tidak kusulut namun menyala-nyala sendiri hatiku.
Tuhan, nyala itu milikMu. Terserah-serah Engkau Tuhan, Engkau yang tahu, maka Engkau pula yang saat ini, entah untuk kesekian kali, dengan sabar menyadarkanku.
Tuhan, aku malu.

Kamis, 16 Agustus 2018

Air mata

Tuhan, tiada yang jadi milikku. Jika yang kau minta adalah air mata, maka seberapapun akan kuteteskan untukMu.

Minggu, 12 Agustus 2018

Damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn daaaaaaaaamn
Ya Allah, kuatkan hatiku. Temani hamba dalam perjalanan kesabaranku. Lindungi hamba dari hasrat yang sedang membelengguku.
Ya Allah, kuatkan aku.

Jumat, 10 Agustus 2018

Kok aku nesu ngopo yo.. bingung.

Kamis, 09 Agustus 2018

Ya Allah, lillahi ta'ala hamba kembali menghampiriMu. Bimbing hambaMu yang teramat bodoh ini.

Rabu, 08 Agustus 2018

Tetumbuhan

Tuhan, akulah bebijian yang Engkau benamkan ke dalam tanah kehinaan duniaMu. Kau benamkan diriku ke sedalam-dalam tanah yang orang-orang melengos menginjaknya dengan leher mereka yang mulai kaku karena sibuk mendongak mencari sesuatu. Siapa tau suatu saat Engkau hadir kemudian Engkau menyapanya. Itulah keinginan kebanyakan dari mereka.

Mereka kagum melihat langit, awan, bintang, bulan, dan makhluk-makhluk lainnya.
Sementara Engkau sembunyikam dariku mentari. Namun aku tahu, perlahan-lahan Engkau akan membiarkanku menikmati hangat sinarnya.

Suatu saat diri ini akan tumbuh menjadi tunas karena timangan ibu bumi, yang tentu adalah kepanjangan tangan kasihMu.

Hamba memang sudah membayangkan betapa nikmatnya tumbuh menjadi rerumputan karenaMu. Namun nampaknya hamba harus lebih banyak bersabar.

Jika suatu saat Engkau menghendaki diriku berbunga, maka Tuhan, harapanku akan kutaruh di setiap helai-helai kelopaknya beserta keseluruhan bagiannya.

Ketika aku berbunga indah, kumohon perjalankan seekor kupu-kupu hinggap di sederhananya bungaku. Ya Tuhan, karena Engkaulah satu-satunya harapanku.


Selasa, 07 Agustus 2018

Embuh

Segalanya tertutup. Sepertinya saya memang sedang tertekan alias stress atawa nyaris gendheng.

Senin, 06 Agustus 2018

Kabut

Yang kulihat hanyalah kabut. Padahal aku bersumpah menyaksikan kehadiranmu.
Ketika pandanganku mulai jelas, ternyata pepohonan bertumbangan. Tak masalah bagiku, kita bisa menyingkirkannya ataupun dengan santai melompatinya.
Namun ketika kutengok ke kanan-kiriku. Sepi.
Padahal tadi benar-benar kusaksikan dirimu.
Seketika tubuh ini roboh. Kini sukmaku telah pergi. Kemudian jiwa ini jadi tak berpenghuni.
Pada saat sukmaku kembali, ia mengingatkanku akan kesabaran yang sejak dulu kususun bak batu bata sebuah bangunan. Kukira selama ini diriku menyusun istana yang megah, ternyata yang kubangun adalah pagar beton tinggi dan kokoh yang seakan-akan tak mungkin roboh.
O, kabut yang menyelubungiku, katakan kepadanya: tak masalah bagiku. Sungguh tak masalah bagiku.

Kamis, 02 Agustus 2018

Ya Tuhan, hamba rindu..

Minggu, 22 Juli 2018

tangis

Ya Tuhan, jika ia yang menangis, justru mata hamba yang basah karenanya. Air mata ini tak kunjung henti karena hanya Engkau ya Allah, yang mampu mengusapnya. Engkau Ya Allah yang mampu menguatkannya.

Rabu, 18 Juli 2018

Jauh

Wahai Kekasih, diri ini jauh.
Engkau bilang padaku bahwa jika aku memandangmu, Engkau yang akan terlebih dulu menyapaku. Apabila tanganku melambai ke arahmu, senyummu yang lebih dulu sampai di tatap mataku. Jika aku berjalan menghampirimu, Engkau yang akan berlari-lari kecil ke arahku.
Tetapi diri ini jauh..
Padahal jarak tunduk kepadamu, namun rasanya teramat jauh. Apalagi waktu yang bergulung-gulung di depanku, segalanya makin terasa jauh.

Senin, 09 Juli 2018

"Alastu birabbikum."

Jumat, 08 Juni 2018

Ngendikane simbah

Simbahku, Bapakku, Guruku pun nate ngendika: "Gaoleh putus asa rek. Ancene ngono urip iku. Masio lunyu kudu tetep menek."

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Yap, mendaki kehidupan memang berlicin-licin ria. Kehidupan adalah tentang mengejar cahaya. Terserah apa wujud cahaya bagimu. Yang pasti, semakin terang cahaya maka bayangan di belakangmu akan semakin jelas.

Bayangan putus asa mengejarku.

Ya Allaah, hidup ini begitu indah. Dengan segala naik turun hatiku yang sepenuhnya milikku. Engaku pinjami. Maka Ya Allah, hamba nderek.

Tetapi kekhawatiran dan ketakutan masih Engkau tanamkan di sini. Maka Ya Allah tuailah kesedihan di dalam hatiku. Hamba tenggelam dalam kesedihanMu.

Kamis, 07 Juni 2018

Hatimu sendiri yang...

Kenapa isi blog mbek jadi seperti ini. Sedih. Tapi ya mau gimana lagi. Aku isih sambatan.

Wahai Engkau Dzat yang gemar membolak-balikkan hati, hidupku berasa jungkir balik tak karuan. Hamba mohon jagalah sekam itu.. Jagalah sekam itu.

Perasaan adalah wujud kenyataan tanpa fisik. Namun ia bisa disentuh. Dan ketika telah disentuh, pasti engkau juga tahu betapa rapuh.

Wahai diriku, makhluk dungu, engkau mencintai kupu-kupu. Kemudian hatimu terpaut sepenuhnya. Anganmu terbawa keindahannya. Pikiranmu sedikit lagi boleh disebut gila. Namun wahai makhluk bodoh, jangan sesekali coba kau sentuh sayapnya. Apalagi jika kau tangkap dengan menggenggamnya. Bukan sayapnya, hatimu sendiri yang akan hancur. Hatimu sendiri yang hancur.

Rabu, 06 Juni 2018

kepiyeee

Jika. Saya. Sedang. Rindu. Seperti. Ini. Saya. Tidak. Bisa. Apa. Apa. Karena. Saya. Dibatasi.
Aku. Kon. Kepiye.

Selasa, 05 Juni 2018

sambat

Faidzaa faroghta fanshob, Wa ilaa Rabbika farghob.

Ya Allah hamba lemah, kuatkan hati hamba.
Seakan-akan Engkau menyuruhku untuk berhenti, padahal sejatinya tidak. Aku mengerti Engkau sedang melecutku. Diriku terpacu, namun mulutku tetap meringkik karena lecutanMu.

Dirimu seakan memerintahkan kupu-kupu untuk tak terbang, diri ini gugup, bagaikan ikan yang diminta untuk berhenti berenang. Hamba gugup.

Ya Allah, dekap hambamu. Timanglah hatinya.

Senin, 04 Juni 2018

sekam

Ampun, ampun Yaa Rabb, maafkan atas kelancangan bicara hamba.
Kekecewaan menelan hamba sehingga yang keluar adalah deretan kata-kata yang tercekik keadaan. Ampun Yaa Rabb, ampun.

Yaa Rabb, api itu kini menjadi sekam. Untungnya masih kusimpan nyalanya. Namun sekam tetaplah menjadi sekam. Nyalanya terbatas waktu.

Ya Rabb, jagalah nyala sekam itu agar tidak menjadi jelaga karena kehilangan nyalanya.

Ya Rabb, bukakan jalan untukku. Karena dibalik nyala sekam yang singkat itu, diri ini harus segera bangun dan berlari. Harus segera kucarikan kayu agar nyalanya abadi. Jika tidak, maka nyala sekam itu berangsur mati.

Yaa Rabb, sekam itu adalah energi nyalaku. Lagi-lagi ia berasal dariMu, sekam itulah milikMu. Maka bagaikan anak kecil yang merengek kepada ibunya, jagalah sekam itu untukku.

Ya Rabb, yang sedemikian rupa adalah bentuk dari harapanku kepadaMu. Maafkan aku.

Sabtu, 02 Juni 2018

kesimpulan

Ooh, gini to Ya Allah.
Engkau banting berapa kalipun hamba tetap berlari ke arahMu wahai Yaa Waduud.. hayo sini, mana lagi?

Karena hamba percaya seberat apapun Kau akan selalu menolongku.

Berapa kalipun akan tetap menyakitkan, dan yang terakhir ini untuk sementara menjadi yang paling sakit. Maafkan hamba atas keluhan-keluhan ini. Karena jika bukan kepadaMu maka kepada siapa lagi? Manusia sungguh tak punya daya, jadi tidak ada gunanya kubagi dengan mereka. Karena nasibku nasibnya sebenarnya sama saja. Segala sesuatu berbalik mengecewakanku, belum lagi suasana hati yang gaduh tiada henti. Kepada welas asihMu tangan ini berpegangan, agar diri ini tak hancur tergilas oleh roda-roda besi kekecewaan.

Mungkin mulai saat ini hamba akan berhenti berharap kepada yang selainMu. Harapanku kepada manusia malah menggerogotiku. Hamba muak. Biarkan yang telah terjadi menjadi pusaka di dalam hatiku. Menjadi pengingat atas kebodohan-kebodohanku.

Engkau kupu-kupu

Kekasih, jika engkau rengkuh keraguanmu, maka kau tak akan beranjak sejengkalpun. Hidupmu mondar-mandir di sekitaran hal itu. Tapi jangan lantas kau tinggalkan, karena keraguan bagaikan lubang yang harus kau temukan cara untuk melewati. Berat memang, maka memohonlah kepada Tuhanmu.. Ia yang membuat lubang itu ada, maka Ia juga yang bisa membantumu melintas.

Jangan lupakan bahwa engkau kupu-kupu. Jangan kau bawa lagi permasalahan kepompong bahkan ulatmu, karena engkau kupu-kupu. Jika terus kau lakukan, maka sobeklah sayapmu.

Sungguh tak sampai hati membebanimu, kekasih. Maafkan aku atas kebodohanku.

Jumat, 01 Juni 2018

merengek

Wahai Engkau Sang Waduud kekasihku, jika memang perlu, bolehlah Engkau ambil jatah kebahagiaan hamba untuk Kau berikan kepadanya, karena sungguhlah jika ia bersedih, hati hamba yang teriris menahan tangis.

Tentu bukan berarti hamba meremehkanMu, bukan berarti hamba mendiktemu, karena bagiMu segalanya teramat mudah, dan sudah pasti Engkau tak membutuhkan apapun dari hamba yang lemah ini.

Namun Ya Allah, Engkau yang mengajariku mencintai maka janganlah berhenti membimbingku. Dan jika Engkau membimbingku tidak mungkin Engkau tak membimbingnya. Jika Ia tenggelam maka Engkaulah yang mengajarinya menyelam. Bukankah begitu Yaa Waduud? Lalu cukuplah doa-doaku untuknya Engkau jadikan pijakan bagi doa-doanya kepadaMu.

Ya Allah, Engkau yang lebih tau segala ketakutanku, segala kekhawatiranku, segala kelemahan serta keterbatasanku, segala inginku, segala harapanku. Maka Ya Allah, hamba nderek saja atas segala kehendakMu.
Ya Allah, hamba merengek kepadaMu..

Minggu, 27 Mei 2018

Yang membuatku bersedih

Yang membuatku bersedih ketika merindukanmu ialah: aku tak merasakan kerinduan serupa---yang teramat luas dan dalam---kepada Ia, satu-satunya yang sesungguhnya paling berhak untuk kurindukan.

Kamis, 17 Mei 2018

cemas

Diri ini tak akan lagi cemas dan khawatir, bukankah Engkau selalu membimbingku Ya Allah? Ya, Engkau selalu membimbingku.

Kamis, 03 Mei 2018

terkapar mati

Kekasih, telah kubangunkan istana, engkau bawa pergi keindahannya, maka kuputuskan untuk pergi mencarinya.
Sampailah aku di suatu sungai, namun aku malah kebingungan karena tak menemukan alirannya.
Kulanjutkan perjalananku, namun diri ini tak merasa beranjak kemana-mana.
Kemudian malam pun tiba, anehnya aku tak menjumpai gelap gulita.
Kekasih, kusulut api agar sang gelap menghampiri, namun lagi-lagi diri ini tak dapat menemukan nyalanya.

Lalu datanglah cahaya membisikkan sesuatu; ia tak mengambil apapun darimu, karena ia adalah ruh dari setiap yang kau terjemahkan. Ia tak menghilang, matamu yang sedang tertutup, ia tak pergi, hatimu yang sedang terkapar mati.

Selasa, 01 Mei 2018

Whats next?

I'll let it through Ya Allah, I let it through. Whats next? Hambamu sudah tidak sabar menanti beribu pertolonganmu.

Senin, 23 April 2018

Kupu-kupu

Apakah engkau kupu-kupu, ataukah aku?
Siapa gerangan yang sedang mengepompong, aku atau dirimu?

Ulat-ulat masih terlalu kecil, pikirannya masih terlalu kerdil meskipun ia suci. Tak seperti kita yang melenggok terbang menangkap setiap pandangan mata yang ternyata buta.

Apakah kepompong itu aku, atau dirimu?
Sayap-sayap kita menyumbangkan beribu warna bagi dunia. Tapi tanyakan lagi, apakah kupu-kupu sadar akan keindahannya sendiri? Apakah kupu-kupu pernah melihat keelokan tubuhnya sendiri?

Jika kau memaksaku mengakui, maka kujawab secara mengada-ada; aku sedang mengepompong. Kubungkus diriku terpisah dari dunia yang lama-lama membuatku muak. Saat ini atau saat itu hanya ada diriku dan diriku. Antara diriku dan diriku lahir berbagai macam diri. Kemudian hilanglah diriku akibat aku kebingungan mengenal yang mana yang diriku.
Semua bukan aku.

Rabu, 18 April 2018

diam

Jika engkau memutuskan untuk diam, maka ketahuilah saudaraku, kawanku, kekasihku; kesunyian mengatakan semuanya kepadaku. Dan aku mengucapkannya melalui tulisan ini dengan bersungguh-sungguh.

Sunyi mengabarkan segala yang ia tahu padaku. Dan ingat-ingatlah kembali, di dalam kesunyianlah engkau sering memikirkan masalahmu, berdialog dengan dirimu, berkeluh kesah kepada Penciptamu. Maka luberkan segala rahasiamu kepada sahabatku yang bernama sunyi itu. Kemudian aku akan mengajaknya ngobrol segala sesuatu tentang dirimu.

Tinggal kau pilih, kau sendiri yang mengatakan kepadaku, atau sang sunyi yang akan memberitahuku.
Sayangnya engkau sendiri sering tak menyapanya dan menganggap kesunyian sama dengan ketidakadaan.

Wahai sunyi sahabatku, kekasihku, bersabarlah barang sejenak, karena diri ini akan selalu mengusikmu untuk sementara waktu.

Sabtu, 14 April 2018

ssssstttt...

Belakangan ini otak saya sedang sumpek akibat diri ini ikut memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu dicampuri urusannya. Padahal tinggal saya serahkan saja ke otak, semuanya akan beres dan baik-baik saja. Sayanya ya tinggal menganggur  menunggu hasil kemudian melakukan.

Tapi ya memang dasarnya menungso, kadang begini kadang begitu. Sama sekali tidak bisa diandalkan. Jangankan mikir yang susah-susah, dalam sembahyang yang sudah template saja sering terasa hambar. Sangat amatlah jarang saya bersujud hingga tersedu-sedu. Woo lha menungsoo menungso.

Namun ada satu hal yang bisa saya pelajari dari peristiwa yang menimpa diri saya itu. Yaitu tentang kesetiaan. Yes, setia, kata yang klise itu. Jangan anti-kata-setia dulu, hidupmu muspro atawa percuma kalau cuma anti-antian begitu.

Tentang naik-turunnya perasaanmu terhadap suatu hal, jika Engkau tetap teguh dan tidak melarikan diri, itulah setia. Masalahnya kesetiaan sering tak memandang 'objek kesetiaan'. Seperti hujan yang tak memilih apa yang ia hujani.

Jadi PR buat diri saya adalah; siapa atau apa yang patut saya setia-i. Jangan sampai saya setia terhadap sesuatu yang salah. Caranya saya tahu sesuatu itu benar atau salah? Ya menjalani.

Maka dari itu saya akan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Meskipun hal itu remeh, saya tidak peduli-peduli amat. Toh saya juga ndak bisa apa-apa.

Kamis, 05 April 2018

Engkau tahu


Tentu Engkau tahu Ya Allah,
ia telah merampas cintaku,

maka jadikanlah aku cinta-Mu!


Senin, 02 April 2018

tersesat

Kalau dipikir kembali, orang yang tersesat pastilah tahu bahwa dirinya sedang tersesat. Maka kewajiban baginya adalah mencari petunjuk di manakah ia sedang berada, menyusun strategi untuk menyelamatkan diri, dan naluri orang yang tersesat adalah mencari jalan yang pernah ia lalui, untuk kemudian mencari jalan agar dapat kembali pulang.

Mungkin masih sangat besar keinginannya untuk sampai kepada tujuannya. Namun secara naluriah keselamatan diri menjadi jauh lebih penting baginya. Kemudian di tengah perjalanan, orang itu menyadari bahwa yang membutuhkan petunjuk hanyalah bagi orang yang sedang tersesat.

Karena orang yang tidak sedang tersesat sudah pasti tak memerlukan petunjuk apapun. Tetapi siapa yang tahu kita sedang atau tidak sedang tersesat?

Maka kuposisikan diri ini sebagai orang yang selalu tersesat. Agar Tuhan memberiku petunjuk untuk kembali ke jalanNya. Untuk kembali kepadaNya.

Minggu, 01 April 2018

April

Allah, hamba berjalan bersamaMu. Para pengarung sunyi menanti purnama malam ini. Begitupun aku, di kehidupan yang gelap gulita ini siapa lagi jika bukan Engkau yang kusanding denganku.
Getar-getaran getir kehidupan bagaikan gitar tanpa dawai yang tak lagi memerlukan bunyi. Karena musiknya selalu mengalun menjadi diri.

Allah, bulan malam ini yang akan menandai. Apakah utasan tali yang selama ini kurangkai akan menjadi atau mungkin masih mencoba menjadi. Atau mungkin masih mencoba mencoba menjadi. Malah yang paling mungkin ialah mencoba mencoba mencoba... dan entah menjadi.

Allah Yaa Waduud, Yaa Kariim, Yaa Rahiim, ketika hamba memohon maka yang mengalun merdu adalah musikMu.

Sabtu, 31 Maret 2018

akulah hamba

Entah berapa kali sudah Engkau menolongku, Ya Allah.
Memang segalanya begitu mudah bagi-Mu sehingga hamba yang fakir di hadap-Mu ini tercengang hatinya, terkesiap cakrawala kesadarannya.
Dan Ya Allah Ya Wadud, kini kepercayaan hamba kepada-Mu telah bulat dan kokoh.
Maka Ya Allah, kusujudkan sepenuh hidupku kepada-Mu dalam rangka percintaanku dengan-Mu,
Yaa Allah..
Aku hamba-Mu, aku hamba-Mu.

Jumat, 30 Maret 2018

Jika Tuhan berminat

Jika Tuhan berminat mengabulkan keinginanku, maka yang kuminta adalah kemampuan memperlambat jalannya waktu.
Kemudian akan kurekam  helai-helai lembaran angin yang menerpa wajahmu. Sudut-sudut yang membentuk senyummu. Kurva-kurva yang melukis tawa wajahmu. Pancaran sinar kebahagiaanmu.

Kamis, 29 Maret 2018

Manembah

Kuncup kembang hatiku, saat hamba tahu apa yang Kau bukakan kepadaku pintu-pintu. Bahwa aku yang ini, tubuh ini, wajah ini, takdir yang menimpaku ini, sesungguhnya bukanlah aku.
Aku yang kusebutkan tadi sungguh semu. Aku yang semu tadi ternyata bukan benar-benar aku.

Jangan anggap bodoh dirimu jika engkau tak mengerti, tak paham, dan tak tahu. Memang aku yang tak sanggup menyampaikan maksudku kepadamu. Namun percayalah kepada waktu yang selama ini perlahan mengajarimu.

Bayangkan perahu-perahuan kertas yang mengambang di sungai dekat rumahmu. Tentu saja dirimu yang melipat perahu itu.

Kekasih, selama ini perahu itu kau anggap sebagai dirimu!

Sungai melambangkan dunia yang udaranya kita hirup ini, buminya yang kita pijak ini. Sedangkan perahu telah kau anggap sebagai "diri" sehingga kita selalu pusing dengan rintangan hidup dan tetek bengeknya.

Engkau lupa, jika selama ini engkau hanya melipat kertas, kemudian engkau sendiri yang menciptakan perahu-perahu kertas kehidupan. Seringkali kesadaran kita hanya sebatas kesadaran perahu, sementara dirimu yang sejati melihatmu tergopoh-gopoh mengikuti arus sungai yang tak tentu. Terkadang ia terkekeh melihat tingkahmu, di waktu lain Ia menangis tersedu-sedu.

Lebarkan kesadaranmu, kekasih. Dirimu yang sejati berada jauh di pinggiran sungai. Sadarlah. Sadarilah maka engkau tak akan mudah berputus asa. 

Perahu kertas itu sungguh akan hancur terombang-ambing. Tetapi dirimu yang sejati tak akan terpengaruh, sehancur apapun kehidupanmu. Ia tenang karena arus tak mungkin membawanya---karena Ia tak ikut hanyut oleh sungai.

Kekasih, kita adalah hamba yang buruk. Aku mencintaimu bukan dengan kesadaran perahu-perahuan yang remeh itu. Aku mencintaimu dengan kesadaran penuh atas diriku. Akulah pancer dan biarkan keempat sahabatku yang perlahan memelukmu.

Aku tak akan bersedih atas apa yang akan menimpaku. Jika aku terlihat bersedih, kesedihan itu hanyalah kesedihan perahu yang basah terciprat air. Namun aku yang sejati sedikitpun tak terpengaruh.

Apa engkau memahami penjelasanku, kekasih? Maafkan aku yang tak mampu menyampaikan maksudku. Memang aku tak akan pernah mampu. 

Sudahlah, sebaiknya kita bersujud manembah kepada ia yang menciptakanmu dan aku. Karena kita benar-benar tak berdaya. Kita benar-benar tak tahu.


Kamis, 22 Maret 2018

ini lho


Ini lhoo yang namanya Majnun dan Layla. 😄😄😄

Minggu, 18 Maret 2018

Layla

"Kubiarkan Layla yang meraihku," begitu kata Majnun. Karena yang membikin Majnun terkapar hatinya adalah anggapan-anggapannya sendiri. Majnun tak lagi mampu membedakan yang mana yang realita dan apa yang jadi fantasinya. Namun hal itu sungguh tak penting bagi Majnun, karena Majnun telah lama menyelam ke dalam yang Ia sebut cinta. Majnun telah lama melayang di awang-awang yang tiada lagi kata yang sanggup menafsirkannya.

Layla bukannya tak acuh, bukan lagi tak peduli. Namun jantung hati Layla bukanlah organ di dalam dadanya. Jantung hati Layla adalah hati yang berjantung; atau jantung yang mendetak di dalam hatinya. Maka tak salah jika kusimpulkan bahwa Layla diam karena kata-kata mendadak bisu, dan perilaku tiba-tiba lumpuh karena ketidakmampuan menerjemahkan perasaannya kepada Majnun.

Bumi pun menjadi ragu untuk berputar jika Ia sadar bahwa yang Ia tampung adalah dua orang yang menjalani percintaan secara tidak umum dan tak wajar. Untungnya bumi tidak cerewet dan dengan tegas menyatakan hanya akan menjadi saksi atas jejak percintaan Layla dan Majnun. Untuk hal yang satu ini Sang Ibu Bumi pun malah merasa sangat terhormat.

Begitulah cara puisi menggoreskan kisah kehidupan Layla dan Majnun. Entah Layla-nya, Majnun-nya, ataukah cintanya, sungguh tak ada bedanya. Tiada yang dapat kita petik dari kisahnya kecuali kita sendiri yang menjalaninya.

Rabu, 14 Maret 2018

Majnun

Majnun mencintai Layla yang bukan Layla. Bagi seorang seperti Majnun, Layla bukanlah tulang belulang, darah, dan daging yang membentuk manusia. Seindah apapun wujudnya, bukan disitu letak utama cintanya. Itupun jika cinta memang benar-benar bisa diletakkan.

Karena setahu Majnun, cinta adalah ruang. Jika cintanya masih berupa bidang, maka akan remuk redam dirinya terbentur dinding kenyataan-kenyataan.

Yang kubicarakan di sini bukan Layla yang itu, tapi Layla yang lain; Layla yang mengisi Majnun, Layla yang memenuhi ruang Majnun.

Seburuk-buruk keadaan, Majnun tetap tenang. Dan mungkin malah tak ada lagi keburukan bagi Majnun. Karena segala baginya hanyalah Layla. Tiada yang lain hanya Layla. Hanya Layla.
Mungkin hidup bagi Majnun cuma candaan belaka. Dan ya, memang begitu seharusnya.

Senin, 12 Maret 2018

menemukan keikhlasan

Ternyata keikhlasan itu ditemukan, lebih tepatnya diketemukan.
Antara yang mengganjal di dalam diriku dan apa yang sebelum, sedang dan yang akan kira-kira terjadi disimulasikan. Kemudian melahirkan kebijaksanaan terhadap diri sendiri maupun keadaan-keadaan.

Keikhlasan sungguh tiada mampu aku paksakan. Ibarat menutup gunung yang hendak meletus dengan berton-ton semen ketidaktahuan.
Sesungguhnya Allah menolong kita dengan cara yang disenanginya, terlepas dari senang atau tidak senangnya kita, karena senang ataupun tidak sungguhlah sementara. Sedangkan perjalanan hidup manusia terukir di batu- batu dan kayu-kayu keabadian.

Keikhlasan ternyata adalah bernuansa cinta. Bukan cinta platonis yang disuci-sucikan. Namun sebuah cinta yang tulus.
Ibarat seorang Majnun yang cinta kepada Layla, Romeo kepada Juliet, dan cinta Rasulullah kepada kita, serta Allah kepada semua makhluk-Nya.
Mereka yang mencintai memberi.
Sedangkan yang mereka cintai tak akan terikat oleh pemberian berupa cinta itu. Tapi yang perlu diingat, cinta adalah jalinan ikatan-ikatan di seluruh sisi kehidupan. Yang jika satu goyah, maka efeknya akan menular bahkan berlipat-lipat menggelombang ke berbagai arah.

Maka aku berdoa,
Ya Allah, kasihilah mereka yang memberi cinta, karena mereka tak peduli lagi apakah yang mereka cintai juga berbalik mencintai mereka. Mereka tidak peduli Ya Allah, mereka tidak peduli.

Minggu, 11 Maret 2018

keluhan

"Terbentur, terbentur, terbentuk." Begitu Pak Tan Malaka berkata.
Namun yang kurasa malah terbentur, terbentuk, terbentur, terbentuk, terbentur, dan seterusnya, dan seterusnya...
Jika manusia mengupayakan tak lantas Tuhan berdiam menyaksikan lalu memutuskan. Tapi Tuhan juga tidak perlu mengupayakan karena Tuhan tak mungkin gagal.

Ya Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu. Gundah kesahku, lemah dayaku, rapuh hatiku, patah semangatku kukeluhkan segalanya kepadaMu.

Tuhan, bolehkah hamba-Mu ini sedikit protes kepada-Mu? Di hadapan kehidupan yang Engkau ciptakan ini kusembunyikan keluh kesahku. Di dunia ini tidaklah boleh diri ini terjerembab lelah akibat tak mampu.
Namun apakah dihadapan-Mu juga tak boleh kutampakkan keluh kesahku?
Tentu permohonan semacam ini sangat amatlah kecil dibanding keagungan-Mu.
Aku tak tahu yang mana lagi, apakah Engkau yang diam, atau hambamu yang dholim ini yang tak mampu meraih pertolongan-Mu. Tentulah mudah segalanya bagi-Mu.

Hal yang begitu mudah bagi-Mu sungguhlah terasa sangat sulit bagiku. Masih bolehkah si dholim ini mengeluh kepada-Mu?
Lantas berapa pertolongan lagi yang Engkau tunda untukku?
Hamba tak tahu apakah hingga saat itu hamba masih tegap menanti-Mu, atau malah mati hancur terjerembab akibat ketidaksabaranku.
Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu.

Thawwil umri wa shahhih ajsaadi, shahhih ajsaadi, shahhih ajsadii. Waqdi khaajati, waqdi khaajati, waqdi khaajati...


Sabtu, 10 Maret 2018

yang mana?

Cinta itu kebahagiaan.
Cinta itu penderitaan.

Loh, loh, loh sebentar... Lantas yang mana yang cinta?

Hmm... Tidak, tidak begitu caramu bertanya.

Harusnya begini, yang mana yang bukan cinta?

Jumat, 09 Maret 2018

Jika terasa berat olehmu

Jika terasa berat olehmu dalam melakukan sesuatu, katakan kepada dirimu sendiri; Siapa tahu gara-gara ini Allah jadi ridho kepadaku.
Kemudian lakukanlah.
wa illa rabbika farghab.

Rabu, 07 Maret 2018

bisa apa?

Semanis-manis madu namun lidahmu mati rasa, aku bisa apa?
Sependek-pendek anak tangga namun badanku lumpuh dihadapannya, aku bisa apa?
Hanya Tuhan yang mampu menolongku dan kita.

Selasa, 06 Maret 2018

jurang

Jika Tuhan menyuruhku berjalan ke satu arah tertentu, padahal aku tahu ada jurang yang dalam di ujungnya, maka akan tetap ku lakukan.
Urusanku adalah memenuhi perintah-Nya, sedangkan semua hal tentangku telah dijamin oleh-Nya.
Tuhan adalah penolong terbaik, meskipun aku sering lalai secara sombong mendikte-Nya.

Senin, 05 Maret 2018

Belajar kepada wayang

Apabila ada yang bertanya kepadaku maka akan kujawab;

Tanyakan saja alasanku kepada Rsi Bisma dengan beribu-ribu anak panah yang menancap di tubuhnya. Ia tahu akan takdir yang ditetapkan kepadanya, apalagi hanya sebuah resiko kecil berupa kematian yang Ia dapatkan. Sungguh alasan Rsi Bisma tidak sedangkal dan serendah yang hanya tentang kematian itu. Karena kesetiaannya menjalani yang sebenar-benar hidup, maka Ia mati.

Kemudian jika Engkau masih menanyakan hal yang serupa lagi, maka kukatakan;

Aku adalah Bambang Ekalaya yang berguru kepada sejatinya guru. Bukan perkataan, apalagi sentuhan yang aku cari, karena guru yang itu adalah kulit luar dari sebutir kacang yang engkau sebut guru. Yang kucari adalah guru yang membuat kacang itu menjadi kacang. Jika Durna yang guru itu yang aku cari, maka hidupku hanya sebatas kulit kacang. Bahkan aku lupa bahwa kulit kacsng adalah bagian dari keutuhan kacang itu sendiri. Aku mencari guru sejati yang membikin kacang menjadi kacang, yang membikin manusia menjadi manusia.

Jika engkau belum juga mengerti maksudku;

Datanglah kepada Bima dan tanyakan mengapa samudera sedalam itu Ia masuki. Meskipun belum pernah sekalipun dalam hidupnya Ia menyelam apalagi ke dalam dinginnya samudera. Apa yang Ia cari? Bima bukanlah orang yang bodoh dan tak punya akal sehat. Tapi Ia mau melakukannya walaupun resikonya adalah mati secara konyol dan menggelikan. Namun nyatanya tidak seperti yang manusia pikirkan. Bima mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang semula ia pikirkan. Meskipun perjalanannya terasa buntu dan rentan memutus beratus ribu asa.

Walaupun dirimu tak mengerti maksudku, biarlah. Doakan saja aku seperti aku yang mendoakanmu. Tuhan selalu menolong orang bodoh semacamku, apalagi terhadapmu, terhadap pertolongannya janganlah engkau ragu.

Minggu, 04 Maret 2018


Mencintaimu hingga memar-memar hatiku.. 😢

Sabtu, 03 Maret 2018

Kasih sayang

Kasih sayang ialah;
Jika Ia bahagia, Engkau yang tersenyum.
Jika Ia bersedih, Engkau yang menangis.
Jika Ia terluka, Engkau yang merasakan sakitnya.
Dan jika Ia patah hatinya, Engkau yang merasakan perihnya.
Maka jangan heran jika setetes kasih sayang mampu menjungkirbalikkan antara yang fana dan yang nyata. Apalagi jika hanya tentang logika..
Asalkan Engkau tahu, Tuhan tidak pernah tidak menolongku. Apapun itu.

Rabu, 28 Februari 2018

Jangan engkau salahkan

Hatiku bukan milikku, maka jangan engkau salahkan.

Aku melihat kerikil yang terbawa air kemudian menirunya. Aku melihat kayu yang terbakar kemudian menirunya. Dan aku hanya melihat dedaunan yang tertiup angin kemudian menirunya. Maka jangan engkau salahkan.

Aku belajar kepada mereka.

Daun yang masih muda akan tetap teguh, sedangkan dedaunan yang menua dan layu akan gugur diterpa angin. Hanya begitu.
Maka jangan engkau salahkan.

Dan tidaklah mungkin tanah tak mau menerima daun-daun kering dan tua yang jatuh itu. Tidak mungkin. Maka jangan engkau salahkan.

Daun tidak mempunyai tujuan dan tidak diberi kemampuan untuk bertujuan. Tetapi coba saja lama-lama engkau memandangnya, engkau akan tenang dan terhibur. Begitu juga burung-burung yang bertengger dan membikin sarang di sana. Tapi apakah dedaunan, ranting, dan pepohonan mempunyai tujuan? Tidak.

Aku belajar kepada mereka. Maka jangan engkau salahkan.

Minggu, 25 Februari 2018

ngelamun part 1

Kekasih, kasih sayang itu tersembunyi di dalam hatiku. Bersediakah engkau mencarikannya untukku? Karena jika engkau menemukannya bolehlah engkau ambil sesuka hatimu.

Sesungguhnya engkau tak berhak ragu meskipun engkau juga tak wajib untuk setuju.

Karena kepastian tak akan tersampaikan lewat kata-kata dan kalimat. Namun anehnya, kata-kata dan kalimat terampuh adalah yang berupa kepastian. Bukankah begitu, kekasih? Maka berkenanlah sejenak menungguku.


Sabtu, 24 Februari 2018

Air yang jernih

Kekasih, air yang jernih tak akan paham jika kita mengatainya jernih. Tentu ia akan tetap mengalir dan tetap akan menggenang. Lagi-lagi jika kita mengatakan kepadanya bahwa ia sedang mengalir atau menggenang, maka ia tetap tak akan pernah paham. Tetapi ia akan terus menggenang dan mengalir.

Kekasih, bolehkah aku mengatakan kepadamu sebagai sesama manusia; manusia yang jernih seperti air yang kukatakan tadi; bahwa debu-debu dan tanah yang kita bawa adalah pesan dari Sang Pencipta. Maka salahkah jika debu dan tanah tadi kualirkan ke arahmu menuju debur lautan di dalam hatimu? Yang nantinya cahaya akan mengendapkannya kemudian kita melayang dan menjadi air yang jernih kembali?

Untuk kemudian kita menjadi kesatuan air jernih yang menggenang dan mengalir entah ke mana lagi.

Kekasih, bolehkah jika kunyatakan bahwa ketiadaan adalah sahabat sejati kita. Yang kita selalu merindukannya dan hal itu selalu menjadi tujuan kita. Percayakah engkau jika kita adalah ketiadaan? Ingatlah, dulu kita hanyalah setetes mani yang ditimang oleh ibu rahim. Lalu hidup menjadi manusia yang mampu mengungkapkan berbagai macam rasa. Apakah setetes air mani itu hidup? Lantas mengapa hal yang tidak hidup itu mampu memunculkan kita yang hidup ini?

Pikirkanlah, kekasih, apalagi yang selama ini kita rindukan jika bukan ketiadaan?

Kekasih, jika esok aku mengajakmu untuk kembali menjadi air yang jernih bersamaku, apakah dirimu mau? Atau mungkin, engkau masih ingin mengalir lebih jauh lagi atau menggenang lebih dalam lagi? Sekeruh apapun, tetap akan kutemani.

Kekasih, ingatlah bahwa tidak ada air yang keruh. Yang ada adalah air jernih yang membawa debu, tanah, bahkan sampah-sampah itu. Kita akan tetap jernih. Engkau akan bisa melihat jauh ke dalam diriku bagaikan melongok ke dalam sungai di gunung-gunung. Begitu pula aku yang mampu menyelami sedalam-dalam dirimu.

Hingga nanti kita tak mampu membedakan satu sama lain karena kita telah menyatu. Seakan-akan tiada lagi diriku dan dirimu.


Kamis, 22 Februari 2018

murka

Gemetaran seluruh tubuhku, Tuhan, meski yang Kau tampakkan hanyalah bayangan dari sinar yang terhalang oleh anggapanku.
Adalah burdah kasih sayang itu senantiasa menghangatkan beribu ketakutanku.
Ketakutan yang beribu itu sejatinya cuma satu. Namun yang satu itu tak mau usai dan terus menderu.

Jika Engkau telah murka kepadaku, siapa lagi yang bisa meredam amarah-Mu?

Engkaulah alasan bahagia dan sedihku.
Penopang pasang surut semangatku.
Penggelar tikar kepasrahanku.
Sajadah dari segenap kerinduanku.
Ratapan bagi setiap tawa tangisku.

Baru kubayangkan saja sudah gemetaran tubuhku.
Gemertakan tulangku.
Leleh seluruh daging di tubuhku.
Baginda Musa saja jatuh pingsan oleh Cahaya-Mu.
Apalagi sebutir debu seperti aku.

Rabu, 21 Februari 2018

Mereka meremehkan cinta-Mu

Tuhan, aku telah melihat lentera itu. Kerlip sinarnya mengundangku, melambai menyapaku.
Cahaya lenteramu menerobos dinding kekhawatiranku, menemani bermilyar kebodohan dalam jiwaku.
Cahayamu memancar memantul-mantul dalam kubah laksana mentari yang menuliskan tak terhitung kisah di permukaan bumi.
Kini cahaya itu menuliskan syair di dalam hatiku.
Syair mahadahsyat tentang sesuatu yang kebanyakan orang lengah menafsirkannya yaitu; cinta.
Tuhan, mereka menyepelekan cinta.
Padahal, Engkau melukis kehidupan dengan cat berupa cinta.
Engkau menulis, dengan tinta berupa cinta.

Tuhan, mereka telah meremehkan cinta.
Orang-orang mengira cinta adalah tenang bahagia.
Betapa bodohnya.
Kemarin diriku juga masih beranggapan seperti itu!
Celaka diriku, celaka hidupku.

Cinta adalah sebuah rasa yang utuh.
Lebih tepatnya,
cinta adalah sebuah keutuhan rasa.

Diriku jatuh hati, ketika itu Tuhan mengetuk pintu sanubari.
Diriku berbunga-bunga, ketika itu Tuhan menampakkan elok wajahnya.
Diriku merindu, ketika itu Tuhan mengajariku cara mencinta.
Diriku berandai memilikinya, ketika itu Tuhan menyebut namaku dengan lembut senyumnya.
Diriku gagal menggapainya, ketika itu Tuhan memeluk menghiburku dengan hangat kasih sayangnya.
Diriku patah hatinya, ketika itu Tuhan menggunakan berbagai macam cara agar aku tak hancur dan terus merana.
Diriku menangis dan terluka, Tuhan dengan sabar mendengar celotehku yang mulai membabi buta.
Diriku mulai tenang, ketika itu Tuhan mengajakku pergi ke taman penuh dengan bunga-bunga.
Begitulah seterusnya.

Lalu semburat cahaya itu menghujam jantungku.
Di dalam cinta, Tuhan selalu menemaniku.
Sesungguhnya Ia sedang mengujiku, siapa yang berhak dan wajib mendapatkan cintaku.
Tuhan setia memelukku, aku malah menggapai selain-Nya.
Hingga habis usahaku.
Terang sudah batasanku.
Betapa tak pantas diriku.

Hanya tinggal satu, Tuhan yang menerimaku.
Tak peduli dengan keburukanku.
Selalu memaafkan segala kesalahanku.
Melindungi perjalanan hidupku.
Menjagaku hingga dan sesudah kematianku.
Cukup sudah kedunguanku.
Atau diri ini akan segera habis terkikis pilu.
O Tuhanku, bimbing aku menuju cinta-Mu.

Selasa, 20 Februari 2018

Waduud

Engkau Ya Waduud. Memberi hidup beserta segala pendukung di segala aspeknya. Namun terkadang aku tidak sadar, antara yang Engkau beri dan Engkau pinjami.

Kesehatan adalah yang Engkau beri, dan tubuh Engkau pinjami.
Jantung Engkau pinjami, detaknya Kau yang memberi.
Tubuh Engkau pinjami, nyawa Engkau beri.
Begitu pula hati, Engkau pinjami. Sedangkan cinta siapa lagi jika bukan Engkau yang memberi.

Allah Sang Waduud. Menyayangi yang Ia beri, mencintai yang Ia pinjami.

Minggu, 18 Februari 2018

keinginan yang wajib

Nyatanya hidupku masih terlalu sempit, aku terbentur hanya karena masalah-masalah semacam itu.

Maka jiwaku memohon menengadah dan bermunajat; Tuhanku, terangi redupnya derap langkah hidupku. Jadikan diriku sebagai hamba yang setia dalam menjalankan kewajiban kepada-Mu. Sehingga setiap keinginanku merupakan sebuah kewajiban dari-Mu.

Sabtu, 17 Februari 2018

Ridholah untuk ridhollah

Jika perasaan adalah sebuah benda, maka rasa syukur adalah cinderamata terbaik dalam mengungkapkan cinta.

Tuhan, dinding itu Engkau jadikan retak. Semula diriku marah, maka Engkau tutup pandanganku dengan sesuatu yang tiada. Namun ketiadaan itu telah Engkau singkirkan. Retakan itu nyatanya sebuah lubang yang Engkau ingin aku melongok ke dalamnya. Maka kini yang kulihat hanya diri-Mu.

Rahasia itu Engkau bisikkan sehingga tenang hatiku. Pemandangan itu Engkau kuakkan sehingga nyaman batinku.

Untungnya rasa syukur bukanlah sebuah benda. Sehingga seberapapun kupersembahkan aku tak akan kerepotan.

Mutiara itu telah terlalu lama tertutup debu. Kemudian semilir angin Engkau tiupkan, gemericik air Engkau alirkan. Sekarang aku melihatnya dengan jelas.

Tuhan, dengan segenap ketidakberdayaanku izinkan aku untuk selalu bersyukur kepada-Mu. Dalam sadar dan ketidaksadaranku. Di dalam lamunan serta tidur panjangku.


Senin, 05 Februari 2018

1/4 abad

Yang membuatku bersedih ketika berpuasa adalah saat berbuka.
Aku merasa tak lebih baik dari seekor anjing liar yang terbebas dari kurungan.

Sabtu, 06 Januari 2018

Tak akan pernah habis

Bak lahirnya seorang bayi yang seketika langsung ibu cintai, cinta tak akan pernah habis meskipun dibagi-bagi. 
Dan bagiku alamat cinta sudah tak penting lagi, selama ini Ia hanya bertambah sehingga diriku tak merasa sendiri.