Ternyata keikhlasan itu ditemukan, lebih tepatnya diketemukan.
Antara yang mengganjal di dalam diriku dan apa yang sebelum, sedang dan yang akan kira-kira terjadi disimulasikan. Kemudian melahirkan kebijaksanaan terhadap diri sendiri maupun keadaan-keadaan.
Keikhlasan sungguh tiada mampu aku paksakan. Ibarat menutup gunung yang hendak meletus dengan berton-ton semen ketidaktahuan.
Sesungguhnya Allah menolong kita dengan cara yang disenanginya, terlepas dari senang atau tidak senangnya kita, karena senang ataupun tidak sungguhlah sementara. Sedangkan perjalanan hidup manusia terukir di batu- batu dan kayu-kayu keabadian.
Keikhlasan ternyata adalah bernuansa cinta. Bukan cinta platonis yang disuci-sucikan. Namun sebuah cinta yang tulus.
Ibarat seorang Majnun yang cinta kepada Layla, Romeo kepada Juliet, dan cinta Rasulullah kepada kita, serta Allah kepada semua makhluk-Nya.
Mereka yang mencintai memberi.
Sedangkan yang mereka cintai tak akan terikat oleh pemberian berupa cinta itu. Tapi yang perlu diingat, cinta adalah jalinan ikatan-ikatan di seluruh sisi kehidupan. Yang jika satu goyah, maka efeknya akan menular bahkan berlipat-lipat menggelombang ke berbagai arah.
Maka aku berdoa,
Ya Allah, kasihilah mereka yang memberi cinta, karena mereka tak peduli lagi apakah yang mereka cintai juga berbalik mencintai mereka. Mereka tidak peduli Ya Allah, mereka tidak peduli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar