Senin, 05 Maret 2018

Belajar kepada wayang

Apabila ada yang bertanya kepadaku maka akan kujawab;

Tanyakan saja alasanku kepada Rsi Bisma dengan beribu-ribu anak panah yang menancap di tubuhnya. Ia tahu akan takdir yang ditetapkan kepadanya, apalagi hanya sebuah resiko kecil berupa kematian yang Ia dapatkan. Sungguh alasan Rsi Bisma tidak sedangkal dan serendah yang hanya tentang kematian itu. Karena kesetiaannya menjalani yang sebenar-benar hidup, maka Ia mati.

Kemudian jika Engkau masih menanyakan hal yang serupa lagi, maka kukatakan;

Aku adalah Bambang Ekalaya yang berguru kepada sejatinya guru. Bukan perkataan, apalagi sentuhan yang aku cari, karena guru yang itu adalah kulit luar dari sebutir kacang yang engkau sebut guru. Yang kucari adalah guru yang membuat kacang itu menjadi kacang. Jika Durna yang guru itu yang aku cari, maka hidupku hanya sebatas kulit kacang. Bahkan aku lupa bahwa kulit kacsng adalah bagian dari keutuhan kacang itu sendiri. Aku mencari guru sejati yang membikin kacang menjadi kacang, yang membikin manusia menjadi manusia.

Jika engkau belum juga mengerti maksudku;

Datanglah kepada Bima dan tanyakan mengapa samudera sedalam itu Ia masuki. Meskipun belum pernah sekalipun dalam hidupnya Ia menyelam apalagi ke dalam dinginnya samudera. Apa yang Ia cari? Bima bukanlah orang yang bodoh dan tak punya akal sehat. Tapi Ia mau melakukannya walaupun resikonya adalah mati secara konyol dan menggelikan. Namun nyatanya tidak seperti yang manusia pikirkan. Bima mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang semula ia pikirkan. Meskipun perjalanannya terasa buntu dan rentan memutus beratus ribu asa.

Walaupun dirimu tak mengerti maksudku, biarlah. Doakan saja aku seperti aku yang mendoakanmu. Tuhan selalu menolong orang bodoh semacamku, apalagi terhadapmu, terhadap pertolongannya janganlah engkau ragu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar