Rabu, 14 Maret 2018

Majnun

Majnun mencintai Layla yang bukan Layla. Bagi seorang seperti Majnun, Layla bukanlah tulang belulang, darah, dan daging yang membentuk manusia. Seindah apapun wujudnya, bukan disitu letak utama cintanya. Itupun jika cinta memang benar-benar bisa diletakkan.

Karena setahu Majnun, cinta adalah ruang. Jika cintanya masih berupa bidang, maka akan remuk redam dirinya terbentur dinding kenyataan-kenyataan.

Yang kubicarakan di sini bukan Layla yang itu, tapi Layla yang lain; Layla yang mengisi Majnun, Layla yang memenuhi ruang Majnun.

Seburuk-buruk keadaan, Majnun tetap tenang. Dan mungkin malah tak ada lagi keburukan bagi Majnun. Karena segala baginya hanyalah Layla. Tiada yang lain hanya Layla. Hanya Layla.
Mungkin hidup bagi Majnun cuma candaan belaka. Dan ya, memang begitu seharusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar