Rabu, 28 Februari 2018

Jangan engkau salahkan

Hatiku bukan milikku, maka jangan engkau salahkan.

Aku melihat kerikil yang terbawa air kemudian menirunya. Aku melihat kayu yang terbakar kemudian menirunya. Dan aku hanya melihat dedaunan yang tertiup angin kemudian menirunya. Maka jangan engkau salahkan.

Aku belajar kepada mereka.

Daun yang masih muda akan tetap teguh, sedangkan dedaunan yang menua dan layu akan gugur diterpa angin. Hanya begitu.
Maka jangan engkau salahkan.

Dan tidaklah mungkin tanah tak mau menerima daun-daun kering dan tua yang jatuh itu. Tidak mungkin. Maka jangan engkau salahkan.

Daun tidak mempunyai tujuan dan tidak diberi kemampuan untuk bertujuan. Tetapi coba saja lama-lama engkau memandangnya, engkau akan tenang dan terhibur. Begitu juga burung-burung yang bertengger dan membikin sarang di sana. Tapi apakah dedaunan, ranting, dan pepohonan mempunyai tujuan? Tidak.

Aku belajar kepada mereka. Maka jangan engkau salahkan.

Minggu, 25 Februari 2018

ngelamun part 1

Kekasih, kasih sayang itu tersembunyi di dalam hatiku. Bersediakah engkau mencarikannya untukku? Karena jika engkau menemukannya bolehlah engkau ambil sesuka hatimu.

Sesungguhnya engkau tak berhak ragu meskipun engkau juga tak wajib untuk setuju.

Karena kepastian tak akan tersampaikan lewat kata-kata dan kalimat. Namun anehnya, kata-kata dan kalimat terampuh adalah yang berupa kepastian. Bukankah begitu, kekasih? Maka berkenanlah sejenak menungguku.


Sabtu, 24 Februari 2018

Air yang jernih

Kekasih, air yang jernih tak akan paham jika kita mengatainya jernih. Tentu ia akan tetap mengalir dan tetap akan menggenang. Lagi-lagi jika kita mengatakan kepadanya bahwa ia sedang mengalir atau menggenang, maka ia tetap tak akan pernah paham. Tetapi ia akan terus menggenang dan mengalir.

Kekasih, bolehkah aku mengatakan kepadamu sebagai sesama manusia; manusia yang jernih seperti air yang kukatakan tadi; bahwa debu-debu dan tanah yang kita bawa adalah pesan dari Sang Pencipta. Maka salahkah jika debu dan tanah tadi kualirkan ke arahmu menuju debur lautan di dalam hatimu? Yang nantinya cahaya akan mengendapkannya kemudian kita melayang dan menjadi air yang jernih kembali?

Untuk kemudian kita menjadi kesatuan air jernih yang menggenang dan mengalir entah ke mana lagi.

Kekasih, bolehkah jika kunyatakan bahwa ketiadaan adalah sahabat sejati kita. Yang kita selalu merindukannya dan hal itu selalu menjadi tujuan kita. Percayakah engkau jika kita adalah ketiadaan? Ingatlah, dulu kita hanyalah setetes mani yang ditimang oleh ibu rahim. Lalu hidup menjadi manusia yang mampu mengungkapkan berbagai macam rasa. Apakah setetes air mani itu hidup? Lantas mengapa hal yang tidak hidup itu mampu memunculkan kita yang hidup ini?

Pikirkanlah, kekasih, apalagi yang selama ini kita rindukan jika bukan ketiadaan?

Kekasih, jika esok aku mengajakmu untuk kembali menjadi air yang jernih bersamaku, apakah dirimu mau? Atau mungkin, engkau masih ingin mengalir lebih jauh lagi atau menggenang lebih dalam lagi? Sekeruh apapun, tetap akan kutemani.

Kekasih, ingatlah bahwa tidak ada air yang keruh. Yang ada adalah air jernih yang membawa debu, tanah, bahkan sampah-sampah itu. Kita akan tetap jernih. Engkau akan bisa melihat jauh ke dalam diriku bagaikan melongok ke dalam sungai di gunung-gunung. Begitu pula aku yang mampu menyelami sedalam-dalam dirimu.

Hingga nanti kita tak mampu membedakan satu sama lain karena kita telah menyatu. Seakan-akan tiada lagi diriku dan dirimu.


Kamis, 22 Februari 2018

murka

Gemetaran seluruh tubuhku, Tuhan, meski yang Kau tampakkan hanyalah bayangan dari sinar yang terhalang oleh anggapanku.
Adalah burdah kasih sayang itu senantiasa menghangatkan beribu ketakutanku.
Ketakutan yang beribu itu sejatinya cuma satu. Namun yang satu itu tak mau usai dan terus menderu.

Jika Engkau telah murka kepadaku, siapa lagi yang bisa meredam amarah-Mu?

Engkaulah alasan bahagia dan sedihku.
Penopang pasang surut semangatku.
Penggelar tikar kepasrahanku.
Sajadah dari segenap kerinduanku.
Ratapan bagi setiap tawa tangisku.

Baru kubayangkan saja sudah gemetaran tubuhku.
Gemertakan tulangku.
Leleh seluruh daging di tubuhku.
Baginda Musa saja jatuh pingsan oleh Cahaya-Mu.
Apalagi sebutir debu seperti aku.

Rabu, 21 Februari 2018

Mereka meremehkan cinta-Mu

Tuhan, aku telah melihat lentera itu. Kerlip sinarnya mengundangku, melambai menyapaku.
Cahaya lenteramu menerobos dinding kekhawatiranku, menemani bermilyar kebodohan dalam jiwaku.
Cahayamu memancar memantul-mantul dalam kubah laksana mentari yang menuliskan tak terhitung kisah di permukaan bumi.
Kini cahaya itu menuliskan syair di dalam hatiku.
Syair mahadahsyat tentang sesuatu yang kebanyakan orang lengah menafsirkannya yaitu; cinta.
Tuhan, mereka menyepelekan cinta.
Padahal, Engkau melukis kehidupan dengan cat berupa cinta.
Engkau menulis, dengan tinta berupa cinta.

Tuhan, mereka telah meremehkan cinta.
Orang-orang mengira cinta adalah tenang bahagia.
Betapa bodohnya.
Kemarin diriku juga masih beranggapan seperti itu!
Celaka diriku, celaka hidupku.

Cinta adalah sebuah rasa yang utuh.
Lebih tepatnya,
cinta adalah sebuah keutuhan rasa.

Diriku jatuh hati, ketika itu Tuhan mengetuk pintu sanubari.
Diriku berbunga-bunga, ketika itu Tuhan menampakkan elok wajahnya.
Diriku merindu, ketika itu Tuhan mengajariku cara mencinta.
Diriku berandai memilikinya, ketika itu Tuhan menyebut namaku dengan lembut senyumnya.
Diriku gagal menggapainya, ketika itu Tuhan memeluk menghiburku dengan hangat kasih sayangnya.
Diriku patah hatinya, ketika itu Tuhan menggunakan berbagai macam cara agar aku tak hancur dan terus merana.
Diriku menangis dan terluka, Tuhan dengan sabar mendengar celotehku yang mulai membabi buta.
Diriku mulai tenang, ketika itu Tuhan mengajakku pergi ke taman penuh dengan bunga-bunga.
Begitulah seterusnya.

Lalu semburat cahaya itu menghujam jantungku.
Di dalam cinta, Tuhan selalu menemaniku.
Sesungguhnya Ia sedang mengujiku, siapa yang berhak dan wajib mendapatkan cintaku.
Tuhan setia memelukku, aku malah menggapai selain-Nya.
Hingga habis usahaku.
Terang sudah batasanku.
Betapa tak pantas diriku.

Hanya tinggal satu, Tuhan yang menerimaku.
Tak peduli dengan keburukanku.
Selalu memaafkan segala kesalahanku.
Melindungi perjalanan hidupku.
Menjagaku hingga dan sesudah kematianku.
Cukup sudah kedunguanku.
Atau diri ini akan segera habis terkikis pilu.
O Tuhanku, bimbing aku menuju cinta-Mu.

Selasa, 20 Februari 2018

Waduud

Engkau Ya Waduud. Memberi hidup beserta segala pendukung di segala aspeknya. Namun terkadang aku tidak sadar, antara yang Engkau beri dan Engkau pinjami.

Kesehatan adalah yang Engkau beri, dan tubuh Engkau pinjami.
Jantung Engkau pinjami, detaknya Kau yang memberi.
Tubuh Engkau pinjami, nyawa Engkau beri.
Begitu pula hati, Engkau pinjami. Sedangkan cinta siapa lagi jika bukan Engkau yang memberi.

Allah Sang Waduud. Menyayangi yang Ia beri, mencintai yang Ia pinjami.

Minggu, 18 Februari 2018

keinginan yang wajib

Nyatanya hidupku masih terlalu sempit, aku terbentur hanya karena masalah-masalah semacam itu.

Maka jiwaku memohon menengadah dan bermunajat; Tuhanku, terangi redupnya derap langkah hidupku. Jadikan diriku sebagai hamba yang setia dalam menjalankan kewajiban kepada-Mu. Sehingga setiap keinginanku merupakan sebuah kewajiban dari-Mu.

Sabtu, 17 Februari 2018

Ridholah untuk ridhollah

Jika perasaan adalah sebuah benda, maka rasa syukur adalah cinderamata terbaik dalam mengungkapkan cinta.

Tuhan, dinding itu Engkau jadikan retak. Semula diriku marah, maka Engkau tutup pandanganku dengan sesuatu yang tiada. Namun ketiadaan itu telah Engkau singkirkan. Retakan itu nyatanya sebuah lubang yang Engkau ingin aku melongok ke dalamnya. Maka kini yang kulihat hanya diri-Mu.

Rahasia itu Engkau bisikkan sehingga tenang hatiku. Pemandangan itu Engkau kuakkan sehingga nyaman batinku.

Untungnya rasa syukur bukanlah sebuah benda. Sehingga seberapapun kupersembahkan aku tak akan kerepotan.

Mutiara itu telah terlalu lama tertutup debu. Kemudian semilir angin Engkau tiupkan, gemericik air Engkau alirkan. Sekarang aku melihatnya dengan jelas.

Tuhan, dengan segenap ketidakberdayaanku izinkan aku untuk selalu bersyukur kepada-Mu. Dalam sadar dan ketidaksadaranku. Di dalam lamunan serta tidur panjangku.


Senin, 05 Februari 2018

1/4 abad

Yang membuatku bersedih ketika berpuasa adalah saat berbuka.
Aku merasa tak lebih baik dari seekor anjing liar yang terbebas dari kurungan.