Entah berapa kali sudah Engkau menolongku, Ya Allah.
Memang segalanya begitu mudah bagi-Mu sehingga hamba yang fakir di hadap-Mu ini tercengang hatinya, terkesiap cakrawala kesadarannya.
Dan Ya Allah Ya Wadud, kini kepercayaan hamba kepada-Mu telah bulat dan kokoh.
Maka Ya Allah, kusujudkan sepenuh hidupku kepada-Mu dalam rangka percintaanku dengan-Mu,
Yaa Allah..
Aku hamba-Mu, aku hamba-Mu.
Sabtu, 31 Maret 2018
Jumat, 30 Maret 2018
Jika Tuhan berminat
Jika Tuhan berminat mengabulkan keinginanku, maka yang kuminta adalah kemampuan memperlambat jalannya waktu.
Kemudian akan kurekam helai-helai lembaran angin yang menerpa wajahmu. Sudut-sudut yang membentuk senyummu. Kurva-kurva yang melukis tawa wajahmu. Pancaran sinar kebahagiaanmu.
Kemudian akan kurekam helai-helai lembaran angin yang menerpa wajahmu. Sudut-sudut yang membentuk senyummu. Kurva-kurva yang melukis tawa wajahmu. Pancaran sinar kebahagiaanmu.
Kamis, 29 Maret 2018
Manembah
Kuncup kembang hatiku, saat hamba tahu apa yang Kau bukakan kepadaku pintu-pintu. Bahwa aku yang ini, tubuh ini, wajah ini, takdir yang menimpaku ini, sesungguhnya bukanlah aku.
Aku yang kusebutkan tadi sungguh semu. Aku yang semu tadi ternyata bukan benar-benar aku.
Jangan anggap bodoh dirimu jika engkau tak mengerti, tak paham, dan tak tahu. Memang aku yang tak sanggup menyampaikan maksudku kepadamu. Namun percayalah kepada waktu yang selama ini perlahan mengajarimu.
Bayangkan perahu-perahuan kertas yang mengambang di sungai dekat rumahmu. Tentu saja dirimu yang melipat perahu itu.
Kekasih, selama ini perahu itu kau anggap sebagai dirimu!
Sungai melambangkan dunia yang udaranya kita hirup ini, buminya yang kita pijak ini. Sedangkan perahu telah kau anggap sebagai "diri" sehingga kita selalu pusing dengan rintangan hidup dan tetek bengeknya.
Engkau lupa, jika selama ini engkau hanya melipat kertas, kemudian engkau sendiri yang menciptakan perahu-perahu kertas kehidupan. Seringkali kesadaran kita hanya sebatas kesadaran perahu, sementara dirimu yang sejati melihatmu tergopoh-gopoh mengikuti arus sungai yang tak tentu. Terkadang ia terkekeh melihat tingkahmu, di waktu lain Ia menangis tersedu-sedu.
Lebarkan kesadaranmu, kekasih. Dirimu yang sejati berada jauh di pinggiran sungai. Sadarlah. Sadarilah maka engkau tak akan mudah berputus asa.
Perahu kertas itu sungguh akan hancur terombang-ambing. Tetapi dirimu yang sejati tak akan terpengaruh, sehancur apapun kehidupanmu. Ia tenang karena arus tak mungkin membawanya---karena Ia tak ikut hanyut oleh sungai.
Kekasih, kita adalah hamba yang buruk. Aku mencintaimu bukan dengan kesadaran perahu-perahuan yang remeh itu. Aku mencintaimu dengan kesadaran penuh atas diriku. Akulah pancer dan biarkan keempat sahabatku yang perlahan memelukmu.
Aku tak akan bersedih atas apa yang akan menimpaku. Jika aku terlihat bersedih, kesedihan itu hanyalah kesedihan perahu yang basah terciprat air. Namun aku yang sejati sedikitpun tak terpengaruh.
Apa engkau memahami penjelasanku, kekasih? Maafkan aku yang tak mampu menyampaikan maksudku. Memang aku tak akan pernah mampu.
Sudahlah, sebaiknya kita bersujud manembah kepada ia yang menciptakanmu dan aku. Karena kita benar-benar tak berdaya. Kita benar-benar tak tahu.
Kamis, 22 Maret 2018
Minggu, 18 Maret 2018
Layla
"Kubiarkan Layla yang meraihku," begitu kata Majnun. Karena yang membikin Majnun terkapar hatinya adalah anggapan-anggapannya sendiri. Majnun tak lagi mampu membedakan yang mana yang realita dan apa yang jadi fantasinya. Namun hal itu sungguh tak penting bagi Majnun, karena Majnun telah lama menyelam ke dalam yang Ia sebut cinta. Majnun telah lama melayang di awang-awang yang tiada lagi kata yang sanggup menafsirkannya.
Layla bukannya tak acuh, bukan lagi tak peduli. Namun jantung hati Layla bukanlah organ di dalam dadanya. Jantung hati Layla adalah hati yang berjantung; atau jantung yang mendetak di dalam hatinya. Maka tak salah jika kusimpulkan bahwa Layla diam karena kata-kata mendadak bisu, dan perilaku tiba-tiba lumpuh karena ketidakmampuan menerjemahkan perasaannya kepada Majnun.
Bumi pun menjadi ragu untuk berputar jika Ia sadar bahwa yang Ia tampung adalah dua orang yang menjalani percintaan secara tidak umum dan tak wajar. Untungnya bumi tidak cerewet dan dengan tegas menyatakan hanya akan menjadi saksi atas jejak percintaan Layla dan Majnun. Untuk hal yang satu ini Sang Ibu Bumi pun malah merasa sangat terhormat.
Begitulah cara puisi menggoreskan kisah kehidupan Layla dan Majnun. Entah Layla-nya, Majnun-nya, ataukah cintanya, sungguh tak ada bedanya. Tiada yang dapat kita petik dari kisahnya kecuali kita sendiri yang menjalaninya.
Rabu, 14 Maret 2018
Majnun
Majnun mencintai Layla yang bukan Layla. Bagi seorang seperti Majnun, Layla bukanlah tulang belulang, darah, dan daging yang membentuk manusia. Seindah apapun wujudnya, bukan disitu letak utama cintanya. Itupun jika cinta memang benar-benar bisa diletakkan.
Karena setahu Majnun, cinta adalah ruang. Jika cintanya masih berupa bidang, maka akan remuk redam dirinya terbentur dinding kenyataan-kenyataan.
Yang kubicarakan di sini bukan Layla yang itu, tapi Layla yang lain; Layla yang mengisi Majnun, Layla yang memenuhi ruang Majnun.
Seburuk-buruk keadaan, Majnun tetap tenang. Dan mungkin malah tak ada lagi keburukan bagi Majnun. Karena segala baginya hanyalah Layla. Tiada yang lain hanya Layla. Hanya Layla.
Mungkin hidup bagi Majnun cuma candaan belaka. Dan ya, memang begitu seharusnya.
Mungkin hidup bagi Majnun cuma candaan belaka. Dan ya, memang begitu seharusnya.
Senin, 12 Maret 2018
menemukan keikhlasan
Ternyata keikhlasan itu ditemukan, lebih tepatnya diketemukan.
Antara yang mengganjal di dalam diriku dan apa yang sebelum, sedang dan yang akan kira-kira terjadi disimulasikan. Kemudian melahirkan kebijaksanaan terhadap diri sendiri maupun keadaan-keadaan.
Keikhlasan sungguh tiada mampu aku paksakan. Ibarat menutup gunung yang hendak meletus dengan berton-ton semen ketidaktahuan.
Sesungguhnya Allah menolong kita dengan cara yang disenanginya, terlepas dari senang atau tidak senangnya kita, karena senang ataupun tidak sungguhlah sementara. Sedangkan perjalanan hidup manusia terukir di batu- batu dan kayu-kayu keabadian.
Keikhlasan ternyata adalah bernuansa cinta. Bukan cinta platonis yang disuci-sucikan. Namun sebuah cinta yang tulus.
Ibarat seorang Majnun yang cinta kepada Layla, Romeo kepada Juliet, dan cinta Rasulullah kepada kita, serta Allah kepada semua makhluk-Nya.
Mereka yang mencintai memberi.
Sedangkan yang mereka cintai tak akan terikat oleh pemberian berupa cinta itu. Tapi yang perlu diingat, cinta adalah jalinan ikatan-ikatan di seluruh sisi kehidupan. Yang jika satu goyah, maka efeknya akan menular bahkan berlipat-lipat menggelombang ke berbagai arah.
Maka aku berdoa,
Ya Allah, kasihilah mereka yang memberi cinta, karena mereka tak peduli lagi apakah yang mereka cintai juga berbalik mencintai mereka. Mereka tidak peduli Ya Allah, mereka tidak peduli.
Antara yang mengganjal di dalam diriku dan apa yang sebelum, sedang dan yang akan kira-kira terjadi disimulasikan. Kemudian melahirkan kebijaksanaan terhadap diri sendiri maupun keadaan-keadaan.
Keikhlasan sungguh tiada mampu aku paksakan. Ibarat menutup gunung yang hendak meletus dengan berton-ton semen ketidaktahuan.
Sesungguhnya Allah menolong kita dengan cara yang disenanginya, terlepas dari senang atau tidak senangnya kita, karena senang ataupun tidak sungguhlah sementara. Sedangkan perjalanan hidup manusia terukir di batu- batu dan kayu-kayu keabadian.
Keikhlasan ternyata adalah bernuansa cinta. Bukan cinta platonis yang disuci-sucikan. Namun sebuah cinta yang tulus.
Ibarat seorang Majnun yang cinta kepada Layla, Romeo kepada Juliet, dan cinta Rasulullah kepada kita, serta Allah kepada semua makhluk-Nya.
Mereka yang mencintai memberi.
Sedangkan yang mereka cintai tak akan terikat oleh pemberian berupa cinta itu. Tapi yang perlu diingat, cinta adalah jalinan ikatan-ikatan di seluruh sisi kehidupan. Yang jika satu goyah, maka efeknya akan menular bahkan berlipat-lipat menggelombang ke berbagai arah.
Maka aku berdoa,
Ya Allah, kasihilah mereka yang memberi cinta, karena mereka tak peduli lagi apakah yang mereka cintai juga berbalik mencintai mereka. Mereka tidak peduli Ya Allah, mereka tidak peduli.
Minggu, 11 Maret 2018
keluhan
"Terbentur, terbentur, terbentuk." Begitu Pak Tan Malaka berkata.
Namun yang kurasa malah terbentur, terbentuk, terbentur, terbentuk, terbentur, dan seterusnya, dan seterusnya...
Jika manusia mengupayakan tak lantas Tuhan berdiam menyaksikan lalu memutuskan. Tapi Tuhan juga tidak perlu mengupayakan karena Tuhan tak mungkin gagal.
Ya Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu. Gundah kesahku, lemah dayaku, rapuh hatiku, patah semangatku kukeluhkan segalanya kepadaMu.
Tuhan, bolehkah hamba-Mu ini sedikit protes kepada-Mu? Di hadapan kehidupan yang Engkau ciptakan ini kusembunyikan keluh kesahku. Di dunia ini tidaklah boleh diri ini terjerembab lelah akibat tak mampu.
Namun apakah dihadapan-Mu juga tak boleh kutampakkan keluh kesahku?
Tentu permohonan semacam ini sangat amatlah kecil dibanding keagungan-Mu.
Aku tak tahu yang mana lagi, apakah Engkau yang diam, atau hambamu yang dholim ini yang tak mampu meraih pertolongan-Mu. Tentulah mudah segalanya bagi-Mu.
Hal yang begitu mudah bagi-Mu sungguhlah terasa sangat sulit bagiku. Masih bolehkah si dholim ini mengeluh kepada-Mu?
Lantas berapa pertolongan lagi yang Engkau tunda untukku?
Hamba tak tahu apakah hingga saat itu hamba masih tegap menanti-Mu, atau malah mati hancur terjerembab akibat ketidaksabaranku.
Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu.
Thawwil umri wa shahhih ajsaadi, shahhih ajsaadi, shahhih ajsadii. Waqdi khaajati, waqdi khaajati, waqdi khaajati...
Namun yang kurasa malah terbentur, terbentuk, terbentur, terbentuk, terbentur, dan seterusnya, dan seterusnya...
Jika manusia mengupayakan tak lantas Tuhan berdiam menyaksikan lalu memutuskan. Tapi Tuhan juga tidak perlu mengupayakan karena Tuhan tak mungkin gagal.
Ya Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu. Gundah kesahku, lemah dayaku, rapuh hatiku, patah semangatku kukeluhkan segalanya kepadaMu.
Tuhan, bolehkah hamba-Mu ini sedikit protes kepada-Mu? Di hadapan kehidupan yang Engkau ciptakan ini kusembunyikan keluh kesahku. Di dunia ini tidaklah boleh diri ini terjerembab lelah akibat tak mampu.
Namun apakah dihadapan-Mu juga tak boleh kutampakkan keluh kesahku?
Tentu permohonan semacam ini sangat amatlah kecil dibanding keagungan-Mu.
Aku tak tahu yang mana lagi, apakah Engkau yang diam, atau hambamu yang dholim ini yang tak mampu meraih pertolongan-Mu. Tentulah mudah segalanya bagi-Mu.
Hal yang begitu mudah bagi-Mu sungguhlah terasa sangat sulit bagiku. Masih bolehkah si dholim ini mengeluh kepada-Mu?
Lantas berapa pertolongan lagi yang Engkau tunda untukku?
Hamba tak tahu apakah hingga saat itu hamba masih tegap menanti-Mu, atau malah mati hancur terjerembab akibat ketidaksabaranku.
Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu.
Thawwil umri wa shahhih ajsaadi, shahhih ajsaadi, shahhih ajsadii. Waqdi khaajati, waqdi khaajati, waqdi khaajati...
Sabtu, 10 Maret 2018
yang mana?
Cinta itu kebahagiaan.
Cinta itu penderitaan.
Loh, loh, loh sebentar... Lantas yang mana yang cinta?
Hmm... Tidak, tidak begitu caramu bertanya.
Harusnya begini, yang mana yang bukan cinta?
Jumat, 09 Maret 2018
Jika terasa berat olehmu
Jika terasa berat olehmu dalam melakukan sesuatu, katakan kepada dirimu sendiri; Siapa tahu gara-gara ini Allah jadi ridho kepadaku.
Kemudian lakukanlah.
wa illa rabbika farghab.
Kemudian lakukanlah.
wa illa rabbika farghab.
Rabu, 07 Maret 2018
bisa apa?
Semanis-manis madu namun lidahmu mati rasa, aku bisa apa?
Sependek-pendek anak tangga namun badanku lumpuh dihadapannya, aku bisa apa?
Hanya Tuhan yang mampu menolongku dan kita.
Sependek-pendek anak tangga namun badanku lumpuh dihadapannya, aku bisa apa?
Hanya Tuhan yang mampu menolongku dan kita.
Selasa, 06 Maret 2018
jurang
Jika Tuhan menyuruhku berjalan ke satu arah tertentu, padahal aku tahu ada jurang yang dalam di ujungnya, maka akan tetap ku lakukan.
Urusanku adalah memenuhi perintah-Nya, sedangkan semua hal tentangku telah dijamin oleh-Nya.
Tuhan adalah penolong terbaik, meskipun aku sering lalai secara sombong mendikte-Nya.
Urusanku adalah memenuhi perintah-Nya, sedangkan semua hal tentangku telah dijamin oleh-Nya.
Tuhan adalah penolong terbaik, meskipun aku sering lalai secara sombong mendikte-Nya.
Senin, 05 Maret 2018
Belajar kepada wayang
Apabila ada yang bertanya kepadaku maka akan kujawab;
Tanyakan saja alasanku kepada Rsi Bisma dengan beribu-ribu anak panah yang menancap di tubuhnya. Ia tahu akan takdir yang ditetapkan kepadanya, apalagi hanya sebuah resiko kecil berupa kematian yang Ia dapatkan. Sungguh alasan Rsi Bisma tidak sedangkal dan serendah yang hanya tentang kematian itu. Karena kesetiaannya menjalani yang sebenar-benar hidup, maka Ia mati.
Kemudian jika Engkau masih menanyakan hal yang serupa lagi, maka kukatakan;
Aku adalah Bambang Ekalaya yang berguru kepada sejatinya guru. Bukan perkataan, apalagi sentuhan yang aku cari, karena guru yang itu adalah kulit luar dari sebutir kacang yang engkau sebut guru. Yang kucari adalah guru yang membuat kacang itu menjadi kacang. Jika Durna yang guru itu yang aku cari, maka hidupku hanya sebatas kulit kacang. Bahkan aku lupa bahwa kulit kacsng adalah bagian dari keutuhan kacang itu sendiri. Aku mencari guru sejati yang membikin kacang menjadi kacang, yang membikin manusia menjadi manusia.
Jika engkau belum juga mengerti maksudku;
Datanglah kepada Bima dan tanyakan mengapa samudera sedalam itu Ia masuki. Meskipun belum pernah sekalipun dalam hidupnya Ia menyelam apalagi ke dalam dinginnya samudera. Apa yang Ia cari? Bima bukanlah orang yang bodoh dan tak punya akal sehat. Tapi Ia mau melakukannya walaupun resikonya adalah mati secara konyol dan menggelikan. Namun nyatanya tidak seperti yang manusia pikirkan. Bima mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang semula ia pikirkan. Meskipun perjalanannya terasa buntu dan rentan memutus beratus ribu asa.
Walaupun dirimu tak mengerti maksudku, biarlah. Doakan saja aku seperti aku yang mendoakanmu. Tuhan selalu menolong orang bodoh semacamku, apalagi terhadapmu, terhadap pertolongannya janganlah engkau ragu.
Jika engkau belum juga mengerti maksudku;
Datanglah kepada Bima dan tanyakan mengapa samudera sedalam itu Ia masuki. Meskipun belum pernah sekalipun dalam hidupnya Ia menyelam apalagi ke dalam dinginnya samudera. Apa yang Ia cari? Bima bukanlah orang yang bodoh dan tak punya akal sehat. Tapi Ia mau melakukannya walaupun resikonya adalah mati secara konyol dan menggelikan. Namun nyatanya tidak seperti yang manusia pikirkan. Bima mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang semula ia pikirkan. Meskipun perjalanannya terasa buntu dan rentan memutus beratus ribu asa.
Walaupun dirimu tak mengerti maksudku, biarlah. Doakan saja aku seperti aku yang mendoakanmu. Tuhan selalu menolong orang bodoh semacamku, apalagi terhadapmu, terhadap pertolongannya janganlah engkau ragu.
Sabtu, 03 Maret 2018
Kasih sayang
Kasih sayang ialah;
Jika Ia bahagia, Engkau yang tersenyum.
Jika Ia bersedih, Engkau yang menangis.
Jika Ia terluka, Engkau yang merasakan sakitnya.
Dan jika Ia patah hatinya, Engkau yang merasakan perihnya.
Maka jangan heran jika setetes kasih sayang mampu menjungkirbalikkan antara yang fana dan yang nyata. Apalagi jika hanya tentang logika..
Asalkan Engkau tahu, Tuhan tidak pernah tidak menolongku. Apapun itu.
Jika Ia bahagia, Engkau yang tersenyum.
Jika Ia bersedih, Engkau yang menangis.
Jika Ia terluka, Engkau yang merasakan sakitnya.
Dan jika Ia patah hatinya, Engkau yang merasakan perihnya.
Maka jangan heran jika setetes kasih sayang mampu menjungkirbalikkan antara yang fana dan yang nyata. Apalagi jika hanya tentang logika..
Asalkan Engkau tahu, Tuhan tidak pernah tidak menolongku. Apapun itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
