Minggu, 11 Maret 2018

keluhan

"Terbentur, terbentur, terbentuk." Begitu Pak Tan Malaka berkata.
Namun yang kurasa malah terbentur, terbentuk, terbentur, terbentuk, terbentur, dan seterusnya, dan seterusnya...
Jika manusia mengupayakan tak lantas Tuhan berdiam menyaksikan lalu memutuskan. Tapi Tuhan juga tidak perlu mengupayakan karena Tuhan tak mungkin gagal.

Ya Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu. Gundah kesahku, lemah dayaku, rapuh hatiku, patah semangatku kukeluhkan segalanya kepadaMu.

Tuhan, bolehkah hamba-Mu ini sedikit protes kepada-Mu? Di hadapan kehidupan yang Engkau ciptakan ini kusembunyikan keluh kesahku. Di dunia ini tidaklah boleh diri ini terjerembab lelah akibat tak mampu.
Namun apakah dihadapan-Mu juga tak boleh kutampakkan keluh kesahku?
Tentu permohonan semacam ini sangat amatlah kecil dibanding keagungan-Mu.
Aku tak tahu yang mana lagi, apakah Engkau yang diam, atau hambamu yang dholim ini yang tak mampu meraih pertolongan-Mu. Tentulah mudah segalanya bagi-Mu.

Hal yang begitu mudah bagi-Mu sungguhlah terasa sangat sulit bagiku. Masih bolehkah si dholim ini mengeluh kepada-Mu?
Lantas berapa pertolongan lagi yang Engkau tunda untukku?
Hamba tak tahu apakah hingga saat itu hamba masih tegap menanti-Mu, atau malah mati hancur terjerembab akibat ketidaksabaranku.
Tuhan, hamba mengeluh kepada-Mu.

Thawwil umri wa shahhih ajsaadi, shahhih ajsaadi, shahhih ajsadii. Waqdi khaajati, waqdi khaajati, waqdi khaajati...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar