07 SEPTEMBER 2010Setelah membujuk mata ini untuk bangun, tepat pukul 6 terbukalah. Sudah 28 hari berpuasa, tiga hari lagi berganti menjadi Syawal. Saat berlebaran tiba. Sudah dari beberapa bulan yang lalu keluargaku merencanakan pulang ke kampung halaman, akhirnya saatnya tiba. Tempat tujuan kami adalah Lampung. Tempat kelahiran ibuku. Terakhir kali kesana sekitar 7 tahun yang lalu. Lama sekali.
Packing barang satu demi satu. Koper merk "POLO" berukuran medium itu sudah cukup membuat pundakku sakit.Kuputuskan mengurangi isinya sedikit. Pukul 11.30 mobil KATANA hitam berderu. Segera kami meluncur ke agen bus. Sesampainya, aku mendapati kernet bus sedang menyalakan dupa, yang bagi mereka berarti "keselamatan". Kolot. Sedikit takut memang, namun aku urungkan kekhawatiranku setelah tahu bukan bus itu yang akan aku naiki. Setidaknya aku tidak melihat prosesi sesembahan pada bus yang aku tumpangi nanti. Lama sekali menunggu, agen bus menjanjikan bus akan berangkat pukul 12 tepat. Tetapi sekarang sudah pukul 12.30 si bus belum juga kelihatan moncongnya. Lucu juga, semboyan "tepat waktu" mereka tidak relevan dengan keadaan. Tak lama kemudian sang kereta jalanan memperlihatkan badannya, akhirnya.
Bus berangkat. Bus memungut satu persatu penumpangnya, sampai akhirnya dianggap
kenyang bus berangkat. Terminal demi terminal disinggahi, sampai suatu saat di terminal Jombor aku cukup terhibur dengan suara pengamen mengalunkan lagunya yang cukup menggelitik, setidaknya lebih nyaman daripada mendengarkan ocehan Groupband Wali di speaker.
Kira-kira si pengamen menyanyikan lagu seperti ini:
"....penake dadi wong urip, sing mati entuk siksaan, sing urip rebutan warisan, direwangi bacok-bacokan. Penake dadi ibu-ibu, ana pengamen ngenehi sewu, ana pengamen ngenehi sewu, sokor-sokor didadekke mantu...." hahahaha
Hari sudah sore. Pak sopir berbadan gempal memakai kacamata hitam masih memacu busnya. Sebenarnya aku tidak tahu maksud dari kacamata itu, apakah dipakai agar tidak silau sinar matahari? tapi sekarang sedang mendung, ataukah menghindari kelilipan? kalau begitu apa guna kaca di depan, hmmm atau hanya gaya-gayaan saja? rupanya ini jawaban yang paling masuk akal. Dari dudukku aku memandang sawah yang bertumpuk-tumpuk di daerah Magelang dan hamparan pohon mahoni di atas bukit sekitar Temanggung yang menyejukkan. Serta tidak kalah berdiri tegak Gunung Ungaran yang di atapnya bergumpal kabut, bila diamati baik-baik lebih mirip segumpal
arum manis. Memang hari ini matahari sedang malas menampakkan dirinya. Mungkin sedang lelah. Hingga hari senja hanya awan mendung yang tidak segan menemani perjalananku, tetapi tanpa kehadiran hujan.
Perjalanan sudah sampai di Semarang. Beberapa kali bus melambat karena ada beberapa oknum yang meminta pungutan, tidak jelas oknum mana itu. Seperti jalan ini milik mereka. Tapi nampaknya mau tidak mau setiap bus harus memberi "pungutan preman" ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, dimana aparat? Pak sopir sempat terlihat panik ketika sang preman rewel.
Di ufuk barat langit nampak keemasan diantara hamparan sawah yang sangat luas. Adzan sudah berkumandang. Waktunya berbuka. Bus masih melaju kencang. Dan terlihat kakakku tampangnya begitu menderita karena perutnya tergoncang hebat. Lalu, DUUUAAARR!! tumpah ruah semua isi perutnya. Cukup membuatku jijik.
08 SEPTEMBER 2010Lima belas jam membelah setengah Pulau Jawa. Perjalanan memasuki Pelabuhan Merak. Tujuh tahun sudah, akhirnya berjumpa kembali wahai dermaga yang dilambangan sebagai burung yang indah. Tak elak, kondisi di sini cukup memuakkan. Bus kami masuk ke pelabuhan merak pukul 4 pagi. Hingga kini pukul 6 masih juga mengantri. Macet tumpah ruah. Suasana lebaran sangat kental. Di ujung timur tampak rentetan motor yang lebih mirip gerombolan semut mengerumuni tumpahan gula. Padat merayap. Benar-benar seperti rayap.
Baru pukul 8 kami berhasil masuk ke perut kapal. Kapal bernama KMP. HM BARUNA I ini memiliki warna putih dominan dan bercorak biru disebagian tempat. Akhirnya rayap-rayap siap menyeberang!!! Kapal berlayar beberapa menit kemudian. Laut nampaknya sedang bergembira. Dia sangat akrab denganku. Ombaknya tenang, angin semilir. Matahari belum juga tampak.
Perfecto!!! Aku memutuskan meningalkan keluargaku di lambung kapal dan pergi ke atas dek sendirian. Seram juga rasanya, was-was karena kejahatan hipnotis dan pemerasan sedang marak di televisi. Tapi aku jauhkan ketakutanku. Aku gantikan dengan perasaan nikmat memandang lautan, berharap melihat paus atau lumba-lumba, tapi keberuntungan tak kunjung datang, karena di air tenang seperti ini lumba-lumba jarang datang untuk bermain, apalagi paus. Yang hinggap justru rasa jengkelku melihat orang-orang seenaknya melempar sampah mereka ke lautan. Hei, jangan kaget apabila kalian besok sulit menemukan penjual ikan laut. Ingin tahu kenapa? Itu kesalahan kalian sendiri. Bukannya sok suci, aku mengakui sering membuang sampah sembarangan, tapi itu dulu.
Pukul 10 tepat kapal berlabuh. Sumatera!!!!!
Pelabuhan Bakauheni menyambutku, beserta matahari yang akhirnya gagah bersinar di atas sana. Baru beberapa menit menjejaki daratan Lampung, mataku menumbuk bayangan raksasa berwarna hitam, Gunung Rajabasa. Betapa gagah namanya. Tujuh tahun sudah. Hei alam Lampung, kita bertemu lagi.....