Gemetaran seluruh tubuhku, Tuhan, meski yang Kau tampakkan hanyalah bayangan dari sinar yang terhalang oleh anggapanku.
Adalah burdah kasih sayang itu senantiasa menghangatkan beribu ketakutanku.
Ketakutan yang beribu itu sejatinya cuma satu. Namun yang satu itu tak mau usai dan terus menderu.
Jika Engkau telah murka kepadaku, siapa lagi yang bisa meredam amarah-Mu?
Engkaulah alasan bahagia dan sedihku.
Penopang pasang surut semangatku.
Penggelar tikar kepasrahanku.
Sajadah dari segenap kerinduanku.
Ratapan bagi setiap tawa tangisku.
Baru kubayangkan saja sudah gemetaran tubuhku.
Gemertakan tulangku.
Leleh seluruh daging di tubuhku.
Baginda Musa saja jatuh pingsan oleh Cahaya-Mu.
Apalagi sebutir debu seperti aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar