Tapi ya memang dasarnya menungso, kadang begini kadang begitu. Sama sekali tidak bisa diandalkan. Jangankan mikir yang susah-susah, dalam sembahyang yang sudah template saja sering terasa hambar. Sangat amatlah jarang saya bersujud hingga tersedu-sedu. Woo lha menungsoo menungso.
Namun ada satu hal yang bisa saya pelajari dari peristiwa yang menimpa diri saya itu. Yaitu tentang kesetiaan. Yes, setia, kata yang klise itu. Jangan anti-kata-setia dulu, hidupmu muspro atawa percuma kalau cuma anti-antian begitu.
Tentang naik-turunnya perasaanmu terhadap suatu hal, jika Engkau tetap teguh dan tidak melarikan diri, itulah setia. Masalahnya kesetiaan sering tak memandang 'objek kesetiaan'. Seperti hujan yang tak memilih apa yang ia hujani.
Jadi PR buat diri saya adalah; siapa atau apa yang patut saya setia-i. Jangan sampai saya setia terhadap sesuatu yang salah. Caranya saya tahu sesuatu itu benar atau salah? Ya menjalani.
Maka dari itu saya akan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Meskipun hal itu remeh, saya tidak peduli-peduli amat. Toh saya juga ndak bisa apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar