Senin, 04 Juni 2018

sekam

Ampun, ampun Yaa Rabb, maafkan atas kelancangan bicara hamba.
Kekecewaan menelan hamba sehingga yang keluar adalah deretan kata-kata yang tercekik keadaan. Ampun Yaa Rabb, ampun.

Yaa Rabb, api itu kini menjadi sekam. Untungnya masih kusimpan nyalanya. Namun sekam tetaplah menjadi sekam. Nyalanya terbatas waktu.

Ya Rabb, jagalah nyala sekam itu agar tidak menjadi jelaga karena kehilangan nyalanya.

Ya Rabb, bukakan jalan untukku. Karena dibalik nyala sekam yang singkat itu, diri ini harus segera bangun dan berlari. Harus segera kucarikan kayu agar nyalanya abadi. Jika tidak, maka nyala sekam itu berangsur mati.

Yaa Rabb, sekam itu adalah energi nyalaku. Lagi-lagi ia berasal dariMu, sekam itulah milikMu. Maka bagaikan anak kecil yang merengek kepada ibunya, jagalah sekam itu untukku.

Ya Rabb, yang sedemikian rupa adalah bentuk dari harapanku kepadaMu. Maafkan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar