Ketika pandanganku mulai jelas, ternyata pepohonan bertumbangan. Tak masalah bagiku, kita bisa menyingkirkannya ataupun dengan santai melompatinya.
Namun ketika kutengok ke kanan-kiriku. Sepi.
Padahal tadi benar-benar kusaksikan dirimu.
Seketika tubuh ini roboh. Kini sukmaku telah pergi. Kemudian jiwa ini jadi tak berpenghuni.
Pada saat sukmaku kembali, ia mengingatkanku akan kesabaran yang sejak dulu kususun bak batu bata sebuah bangunan. Kukira selama ini diriku menyusun istana yang megah, ternyata yang kubangun adalah pagar beton tinggi dan kokoh yang seakan-akan tak mungkin roboh.
O, kabut yang menyelubungiku, katakan kepadanya: tak masalah bagiku. Sungguh tak masalah bagiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar