Senin, 20 Maret 2017

Sepertiga malam

     "... Maula ya sholli wasallim daiman abada... 'ala habibika khairil khalqi kullihimi..."
     Aku memicingkan mata, sembari menerka-nerka, yang mana mentari ataukah rembulan yang sedang menyapa. Akhirnya kokok ayam yang memberitahuku. Oh, malam tinggal sepertiganya.
     Suara yang membangunkanku melantun, diriku sangat mengenal syair itu, dan baru beberapa saat kemudian aku tahu pemilik suara ini. Mas Bait. Tak usah terburu-buru untuk bangun, pikirku. Dan ternyata hati yang tertidur di sebelahku juga setuju; "Nikmati saja", setelah itu hanya dengkur yang keluar dari mulutnya.
     Mas Bait sedang bersholawat, walaupun aku tahu setiap nafas dan detak jantung beliau selalu bersholawat bahkan tanpa sedikitpun jeda. Sesekali Mas Bait sesenggukan di tengah melantunkan syairnya, tetapi sesekali juga terdengar suara cekikian pada bait yang lain. Mengherankan.
     Anehnya, hatiku malah bergetar. Dalam tangis, diriku yang ini selalu ingat padaMu Gusti, namun ampun berjuta ampun Yaa Maula, dalam tawaku, butalah hatiku dan seringkali Engkau kuusir dari jiwaku.
     Begitu caraMu memperingatkanku. Lembut, sangatlah lembut. Tuhan, aku tahu tiada yang kucari melainkan diriMu, tapi apakah yang bukan diriMu? sehingga aku harus berlarian kesana kemari?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar