Aku terduduk di sebuah pohon besar nan rindang. Pohon ini berdiri angkuh di tengah pertumbuhan mutakhir peradaban. Tak kalah anggun dengan hutan rimba beton di sekitarnya. Pohon Karetan, begitu kami menyebutnya. Pohon ini adalah saksi bisu bersemainya Teratai Merah. Jika pohon ini diberi kemampuan berbicara, tidak perlu bersusah payah para Teratai Kecil menemukan dirinya. Sebenarnya, pohon ini mampu banyak bercerita. Tapi sayang, ia hanya bercerita pada segelintir orang, itu pun jika si pendengar sungguh-sungguh mau membuka telinga di kepala dan batin mereka. Pohon karetan yang ramah.
"Nak ..." sebuah suara terdengar, tapi aku cuek saja.
"Nak yang duduk di bawah." suaranya semakin jelas dan sepertinya memanggilku.
Aku tolehkan kepala ke atas, tidak ada siapa-siapa. Aku toleh lagi kebelakang, juga tidak ada siapa-siapa. Lalu, aku kembali ke posisiku semula. Terkesiap aku! sesosok muncul di depanku. Dan aku mengenalinya.
"Eyang Dewa Ruci," sapaku, "mengapa Eyang berada di sini?"
"Berada di mana?" Eyang balik bertanya.
"Nggih teng mriki, Eyang."
"Maksudmu di tempat ini?"
"Ya di mana lagi to."
"Aku tidak berada di mana-mana. Kebetulan saja kita bertemu."
"Waduh, susah ini." kataku dalam hati.
"Jangan terlalu dipikir." Eyang menanggapi kata hatiku!
"I..iya Eyang."
"Jangan kau bikin sulit."
"Maksud njenengan bagaimana?"
"Permasalahan di sini, di lingkungan ini, mereka sedang diuji."
"Mengapa mereka diuji?"
"Siapa yang tidak diuji di dunia ini?"
"Bebatuan, air, udara, apakah mereka juga diuji?"
"Sesungguhnya benda-benda itu hanya patuh kepada syariat Tuhannya, sunnatullah. Bayangkan saja jika engkau menjadi batu-batu atau angin sekalipun. Apakah engkau tahan menyaksikan kebusukan dan kebodohan manusia? Kau dihancurkan, dimanfaatkan, lalu ditinggalkan. Aku rasa engkau tak akan kuat. Tapi mereka tetap patuh dan taat kepada Tuhannya. Sebuah batu rela menjadi batu dan tetap menjadi batu, mereka suci. Lihatlah Pohon Karetan ini. Ia seperti raksasa di mata manusia, tetapi apa dia punya tempat di hati para manusia yang lalu-lalang di sekitarnya?"
Aku hanya mampu diam, tak berani aku mengungkapkan apapun.
"Lalu apa hubungannya dengan Teratai-teratai Kecil yang sedang diuji itu, Wahai Eyang?" kuberanikan diri bertanya kembali.
"Tuhanmu sedang memutus kabel informasi bagi para Teratai Kecil. Ibarat tetumbuhan yang di tanam di sebuah pot. Hanya tersisa naluri-naluri di dalam dirinya. Mereka disuruh menemukan sendiri."
"Apa yang harus mereka cari?"
"Dirinya sendiri. Jika ada diantara mereka yang sedikit lebih peka. Mereka akan mengamati benda-benda, tetumbuhan, apapun yang ada di sini. Benda-benda 'mati' itu adalah senior mereka di tempat ini. Jangan lupa, bukan hanya para Teratai yang berproses di sini, benda-benda itu juga. Jika mereka berhasil menemukan sisi baik dan melalui ujian itu, mereka akan menjadi Teratai Sejati."
"Tapi sampai kapan mereka dilingkupi pseudo-harmoni semacam ini?"
"Terserah-serah Allah."
"Lalu, mengapa pikiran saya dipaksa sibuk dengan hal-hal ini, Eyang?"
"Temanilah mereka."
"Apakah tugas saya hanya sebagai teman?"
"Apa kau mampu menjadi lebih dari itu?" Eyang membalik perkataanku.
"Saya rasa saya belum mampu. Tapi apakah yang akan saya temani itu merasa ditemani?"
"Jangan kau ambil pusing. Kau tahu apa itu ikhlas?"
"Tidak memikirkan hasil, tanpa pamrih."
"Lebih dari itu."
"Saya tidak paham."
"Ikhlas itu selesai. Hatimu selesai."
"Hanya itu, Eyang?"
"Hanya itu. Renungkanlah."
Ikhlas. Hati yang selesai. Ilmu yang sederhana tetapi sukar dipahami. Selama ini aku menyamakan ikhlas dengan pasrah, nerimo. Ternyata lebih dari itu.
"Sana, kau temani mereka."
"Nggih, Eyang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar