Dingin.
"Udah bangun Bro?" Hati menyapaku.
"He'eh, jam berapa ini?"
"Tidur sampeyan nyenyak sekali, padahal aku sudah bersiap kalau-kalau ada yang ngelindur lagi hehehe.."
"Taek ah! aku tanya, ini jam berapa?"
"Masih pagi, hampir subuh."
Aku beranjak mencari air wudhu. Air. Yang sanggup mensucikan. Apa yang disucikan? ya yang perlu disucikan. Bagian-bagian tubuhku, pikiranku, hatiku, semua yang ada pada diriku. Semua harus kembali suci. Atau mungkin, moga-moga saja suci. Sudah suci atau belum aku juga ndak akan tahu. Semoga saja.
"Bro, sudah ada tanda-tanda dari yang sampeyan cari?"
"Aku baru saja bertemu dengan Dewa Ruci."
"Lho, kapan?"
"Tadi di dalam mimpiku."
"Waaah, berarti udah sampai finish jalan-jalan kita."
"Masih jauh, bahkan aku tidak tahu kita sudah benar-benar melalui starting line atau belum."
"Ya sudah to, wong kita udah jalan berhari-hari."
"Itukan menurut kita. Untuk menapaki jalan ini tentu ada kualifikasi."
"Kita sedang ikut lomba apa sih? kok ada kualifikasi-kualifikasi segala."
"Kita tidak sedang berlomba. Perjalanan ini hanya bisa dilakukan oleh manusia. Menapaki as-shirath bagi para mustaqim. Masalahnya, untuk menjadi manusia saja aku belum tentu lulus."
"Sampeyan ini gimana sih, sampeyan kan jelas-jelas manusia. Sampeyan bukan hewan, apalagi jenis tumbuh-tumbuhan."
"Itukan menurutmu. Belum tentu aku jadi manusia di hadapan Tuhanku. Inilah yang butuh kualifikasi."
"Untuk tahu lulus kualifikasi atau tidaknya?"
"Itulah istimewanya, aku baru tahu lulus atau tidaknya setelah melewati garis akhirnya. Dan lebih istimewa lagi, aku tak akan pernah tahu apakah aku sudah melewati garis akhir itu atau belum."
"Gendheng.."
"Ya, bagi manusia-manusia zaman ini, mungkin aku dianggap gila. Atau minimal dianggap sesat. Mereka sudah lama tinggal landas."
"Tinggal landas bagaimana?"
"Mereka asyik terbang di udara. Bahkan ada yang begitu lahir langsung mumbul ke udara. Karena sejak awal dikiranya hidup mereka hanya sekitaran udara-udara itu. Orang-orang itu tak mau tahu lagi cara berpijak. Atau paling tidak, mencari tahu dari mana mereka tinggal landas. Mereka tak tahu lagi sangkan paran-nya, asal usulnya, awal mulanya."
"Iya juga ya."
"Mereka lupa bahwa awal mereka terbang adalah untuk landing. Mereka tak tahu lagi kalau ada daratan. Karena tujuan mereka adalah 'terbang' itu sendiri. Mereka berlomba mencapai ketinggian tertinggi. Bersyukurlah mereka kalau diberi kesempatan mendarat karena bahan bakar habis. Lha kalau dibikin jatuh, atau njeblug di udara. Repot kan."
"Bikin gemes ya Bro."
"Iya, celana wanita pun juga mereka bikin gemes."
"Bisa aja sampeyan."
"Ya mereka-mereka ini manusia celana gemes."
Terdengar sayup suara adzan. Suara panggilan. Katanya sih memanggil orang sembahyang. Terkadang saking khusyuk-nya, malah Tuhan sendiri yang mereka panggil-panggil pakai pengeras suara. Ada-ada saja.
Aku gelar matras, aku bertakbir. Aku selami makna setiap gerakan. Aku cucup nikmatnya cinta tiada tara. Percintaan segitiga. Duh Gusti kang murbeng dumadi, seakan tiada lagi yang aku butuhkan. Hampir aku tak sadarkan diri. Kemudian jawaban salamlah yang menyadarkanku.
"Bro, apakah sampeyan juga mencari surga?"
"Memang kenapa?"
"Iya atau tidak?"
"Nggak, sejujurnya aku tak tertarik. Semisal Tuhan tidak jadi membikin surga pun tak masalah buatku."
"Syukurlah kalau begitu. Surga zaman ini sudah jadi tempat pelampiasan bagi manusia yang tak kebagian kekayaan dunia. Kalau di surga pun mereka masih rebutan, saya juga jadi malas ke surga."
"Yap, kita cari Tuhan aja, nanti manut Tuhan mau nge-kost-in kita di surga atau di mana. Yang penting ketemu Tuhan. Saya nggak mau ikut-ikutan mengejar surga, bisa-bisa lupa sama yang punya surga. Kan jadi berabe kalau kayak gitu."
"High five, Bro!"
"Sampeyan ini gimana sih, sampeyan kan jelas-jelas manusia. Sampeyan bukan hewan, apalagi jenis tumbuh-tumbuhan."
"Itukan menurutmu. Belum tentu aku jadi manusia di hadapan Tuhanku. Inilah yang butuh kualifikasi."
"Untuk tahu lulus kualifikasi atau tidaknya?"
"Itulah istimewanya, aku baru tahu lulus atau tidaknya setelah melewati garis akhirnya. Dan lebih istimewa lagi, aku tak akan pernah tahu apakah aku sudah melewati garis akhir itu atau belum."
"Gendheng.."
"Ya, bagi manusia-manusia zaman ini, mungkin aku dianggap gila. Atau minimal dianggap sesat. Mereka sudah lama tinggal landas."
"Tinggal landas bagaimana?"
"Mereka asyik terbang di udara. Bahkan ada yang begitu lahir langsung mumbul ke udara. Karena sejak awal dikiranya hidup mereka hanya sekitaran udara-udara itu. Orang-orang itu tak mau tahu lagi cara berpijak. Atau paling tidak, mencari tahu dari mana mereka tinggal landas. Mereka tak tahu lagi sangkan paran-nya, asal usulnya, awal mulanya."
"Iya juga ya."
"Mereka lupa bahwa awal mereka terbang adalah untuk landing. Mereka tak tahu lagi kalau ada daratan. Karena tujuan mereka adalah 'terbang' itu sendiri. Mereka berlomba mencapai ketinggian tertinggi. Bersyukurlah mereka kalau diberi kesempatan mendarat karena bahan bakar habis. Lha kalau dibikin jatuh, atau njeblug di udara. Repot kan."
"Bikin gemes ya Bro."
"Iya, celana wanita pun juga mereka bikin gemes."
"Bisa aja sampeyan."
"Ya mereka-mereka ini manusia celana gemes."
Terdengar sayup suara adzan. Suara panggilan. Katanya sih memanggil orang sembahyang. Terkadang saking khusyuk-nya, malah Tuhan sendiri yang mereka panggil-panggil pakai pengeras suara. Ada-ada saja.
Aku gelar matras, aku bertakbir. Aku selami makna setiap gerakan. Aku cucup nikmatnya cinta tiada tara. Percintaan segitiga. Duh Gusti kang murbeng dumadi, seakan tiada lagi yang aku butuhkan. Hampir aku tak sadarkan diri. Kemudian jawaban salamlah yang menyadarkanku.
"Bro, apakah sampeyan juga mencari surga?"
"Memang kenapa?"
"Iya atau tidak?"
"Nggak, sejujurnya aku tak tertarik. Semisal Tuhan tidak jadi membikin surga pun tak masalah buatku."
"Syukurlah kalau begitu. Surga zaman ini sudah jadi tempat pelampiasan bagi manusia yang tak kebagian kekayaan dunia. Kalau di surga pun mereka masih rebutan, saya juga jadi malas ke surga."
"Yap, kita cari Tuhan aja, nanti manut Tuhan mau nge-kost-in kita di surga atau di mana. Yang penting ketemu Tuhan. Saya nggak mau ikut-ikutan mengejar surga, bisa-bisa lupa sama yang punya surga. Kan jadi berabe kalau kayak gitu."
"High five, Bro!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar