Kamis, 04 Agustus 2016

Anak-anak virtual

     Ketika itu aku sedang leyeh-leyeh di sebuah warung jajanan. Tentu saja bersama sahabatku Hati yang tak bosan-bosan menemaniku. Warung itu terletak di samping sebuah sekolah dasar. Kami kebetulan mampir di sebuah desa di lereng gunung. Aku hanya duduk-duduk, nunut ngeyup. Mau jajan juga uang nggak ada. Tetapi sang ibu warung sungguh berbaik hati memberikanku teh hangat. Lumayan maknyes di siang bolong ini.

     "Bro, lihatlah, betapa cerianya anak-anak itu."
     "Iya ya, tapi apa mereka mengerti ya betapa runyam dunia yang nanti mereka hadapi?"
     "Ah sampeyan ini, jangan merusak suasana, jangan merusak kebahagian mereka. Ngelihat mereka bermain aja udah bikin kita ikutan seneng."
     "Ya, aku tahu. Tapi lihatlah, seumuruan mereka dulu aku masih akrab dengan sungai beserta ikan-ikannya, berenang-renang bersama, berenang bareng kotoran manusia pun sering. Mandi lendhut mencari belut di sawah. Main jamuran, jethungan, bahkan main jailangkungan. Apa mereka tahu betapa akrabnya antara kita dengan alam sekitar? Betapa alam mengajari kita banyak hal."
     "Sekarang jaman udah maju, dasar kuno. Mereka tak ketinggalan jaman. Nggak kayak sampeyan."
     "Maju? ya maju. Balik badan kemudian maju ke arah belakang."
     "Yo ndak, jaman kan semakin canggih. Tuh lihat mereka fasih memegang gadget. Coba kamu kasih pertanyaan apapun kepada mereka, pasti mereka bisa jawab. Tinggal googling semua hal juga ada. Pinter-pinter kan mereka."

     "Pengetahuan mereka memang sudah banyak, mereka selalu up to date. Tapi pengetahuan yang menggunung itu tidak disertai dengan ngelmu, mencari ilmu, melakukan riset secara alamiah. Padahal kan pengetahuan itu produk dari perjalanan seseorang yang menuntut ilmu. Anak-anak mengira mencari ilmu hanya di sekolah, kalau di rumah tidak, di pergaulan tidak, bahkan di WC pun juga tidak. Mereka taunya tempe, nggak ngerti kedelai, mereka taunya nasi, nggak kenal lagi gabah, apalagi pupuk-pupuknya. Kalau ditanya 'nasi diolah dari apa?', jawabnya 'dari karung di Superindo,bu!', kan gawat."
     "Nggak lah, tidak akan sampai segitunya. Lebay sampeyan."
     "Siapa tahu besok gitu. Begitu sudah dewasa, kalau pengen punya pacar tinggal download, pengen punya anak tinggal copy paste. Mungkin kan jadi begitu? Dan yang membuatku iba adalah, mereka jadi tidak mengerti lagi betapa luasnya hidup ini. Mereka melihat 'A' hanya sebagai 'A', padahal kan tidak, mungkin saja 'B', atau 'M', atau 'Z', atau tak terhingga. Padahal yang terpenting bagi seseorang adalah melakukan proses, menikmati proses. Apapun hasilnya juga nggak begitu jadi masalah. Lebih penting menyala dari pada jadi api, lebih penting mengalir daripada jadi air."
     "Ah, mumet lama-lama dengerin sampeyan."

     Bel tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak yang tadi bermain telah bubar dan berlarian masuk kelas. Tapi aku masih sibuk berjibaku dengan lubernya pikiran-pikiranku sendiri.

     "Anak-anak itu adalah anak-anak virtual. Kosmik 'kasunyatan' mereka lebih luas. Kalau kita kan masih memahami antara yang semu dan tidak, yang mana primer dan mana sekunder. Mereka melihat melalui layar-layar smartphone mereka. Mereka berbicara lewat sentuhan pada touch-screen di genggaman mereka. Lama-lama mata dan mulut mereka menganggur. Syukur-syukur pikiran tidak ikut menganggur," omonganku bertubi-tubi, seakan menumpahkan duka lama yang tertahan-tahan, "Kenyataan bagi mereka adalah sosmad-sosmed, donlat-donlot, chat-chit-chut. Entah itu menjadi batu sandungan atau malah jadi batu loncatan pada kehidupan mereka, aku juga tidak tahu. Tapi semoga saja hal itu jadi keunggulan dibanding generasi kita ini."
     "Mereka kan nggak tahu apa-apa. Mereka lahir jaman ini ya tahunya kehidupan ya seperti ini. Mereka masih polos. Mereka seperti kertas putih. Mereka sama sekali tidak salah."
     "Siapa juga yang menyalahkan. Aku hanya merasa kasihan. Sebagai generasi yang lahir duluan aku jadi merasa ikut tanggung jawab, utang rasa kepada anak-anak itu."
     "Gayamu mikir anak-anak. Anak-anak dari mana? Emang sudah ada yang jadi calon pendampingmu? tanggung jawab dari mana? anak-anak orang kok dipikirin."
     "Asu..."





Tidak ada komentar:

Posting Komentar