Berkali-kali langkahku terhenti. Si Hati pun lebih banyak diam. Entah karena menahan lelah atau merasa tidak enak kepadaku.
"Bro, nganu", sekuat apapun Hati menahan diri. Lama-lama dia tak tahan juga, "sampeyan nggak lapar?"
"Ya lapar to, tapi karena aku ngga bawa bekal, apalagi uang, ya aku diam saja. Toh aku sudah akrab dengan lapar."
"Kenapa sampeyan nggak bilang dari tadi sih", Si Hati mengeluarkan sebungkus ransum dari tas kecilnya, "sini, sini, mangga dipundhahar sesarengan."
"Makanan apa ini?"
"Sega uyah."
"Heh?"
"Nasi garam."
"Bah, mbok ya kalau bawa bekal yang lebih enak. Minimal ayam goreng atau sega ndog."
"Ndogmu kuwi, mana kita punya makanan selain ini."
"Jadi nggak selera."
"Sampeyan nggak mau?"
"Ya terpaksa saya makan."
Akhirnya sebungkus kecil nasi lauk garam kami makan berdua. Kebetulan kami duduk di seberang sebuah warung makan kecil yang lumayan ramai. Aku lihat beberapa orang duduk sembari makan gulai kambing yang cukup membikin seret makanku dan membuatku menelan ludah berkali-kali.
"Enak ya makanannya." ujarku.
"Nasi garamnya?"
"Ndak, itu gulai kambingnya."
"Hahaha sampeyan ini nggak belajar juga."
"Aku sedang makan, bukan sedang belajar." aku apatis, "anyep cuuk, anyep rasanya makanan kita."
"Ya jelas nggak enak. Sampeyan ini mbok ya jangan gitu. Kehidupan itu tentang menerima. Kita punyanya nasi garam ya harus disyukuri, dinikmati."
"Nikmat-nikmat gundhulmu."
"Coba sampeyan pikir, jika sampeyan tidak merasa cukup dengan yang sampeyan punya, kapan sampeyan sempat merasakan bahagia?"
"Maksudmu?"
"Udah gulai kambingnya nggak dapet, nasi garamnya terasa anyep pula. Kan jadi nggak nikmat makan kita."
"Ya, ya, tumben pinter kamu."
Perut kami sudah terisi. Tidak sampai kenyang memang. Hakikat hidup di bumi adalah berpuasa. Puasa itu mengendalikan diri. Termasuk masalah perut. Sudah sejak lama aku menghindari rasa kenyang. Karena bagaimanapun rasa lapar itu lebih baik. Begitu yang aku pelajari selama ini.
"Bro, seret nih, aku cari minum dulu ya."
"Oke, kalau bisa yang ada rasanya ya."
"Nah kan mulai lagi."
"Ya kan kalau bisa, kalau nggak bisa ya sudah."
"Yooh"
Sembari menunggu Hati yang tak kunjung datang, aku melihat lalu lalang orang-orang di sekitarku. Sama sekali tidak ada yang memperhatikanku. Lagian kupikir, siapa juga yang bakal tertarik padaku? Dari segi apapun, sudut manapun, tak ada yang bisa diandalkan pada diriku.
"Hmm apa ini?" aku menggumam.
Aku masih memegang kertas bungkus bekas ransum yang kumakan tadi. Aku bolak balik aku amati. Ternyata aku mengenal kertas ini. "Kurang ajar", batinku. Kertas ini adalah selembar dari tumpukan kertas tulisan-tulisan lamaku. Sudah nampak kusam dan lawas. Mungkin sahabatku Hati asal ngambil sewaktu buru-buru pergi.
Lalu kubaca sebaris kalimat di situ.
"...Gusti Kang Murbeng Dumadi..."
Terhenti sejenak degup jantungku. Aku tak merasa pernah menulis kalimat ini. Bahkan aku tak tahu apa maksud kalimat itu.
"Gusti Kang Murbeng Dumadi. Hyang Tunggal. Sangkan Paraning Dumadi."
Mungkinkah? mungkinkah ada hubungannya dengan Dewa Ruci yang kucari. Apakah ini sebuah pesan? Atau aku cuma ke-geer-an. Hmm...
"Djancuuk!" umpatku. Ada air yang muncrat-muncrat ke wajahku.
"Ngelamunin apa sampeyan?" wajah Hati yang muncul makin membuatku emosi,
"Nih diminum"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar