Selasa, 26 Juli 2016

Rahasia

     Aku bangun dari tidurku. Ah, di sini sepi. Tak ada siapapun.
    "Hati..? Akal..?" kupanggil mereka. Kutunggu tetap tak ada jawaban.

     Hening.

     Senyap, sunyi, sepi. Kucari. Tak ada suara-suara kecuali bisikan dari dalam benakku sendiri. Lalu pandanganku terjatuh di sudut ruangan. Aku usap-usap mataku. Kemudian aku bangkit berjalan ke sudut, aku dekatkan kepalaku. Terbaca coret-coretan kata, yang entah apakah ada yang menulisnya.
     Aku usap-usap lagi mataku seakan tak percaya. Apa mungkin hanya halusinasiku? Hmm, aku tak tahu, aku tak pedulikan hal itu. Aku tarik nafasku kemudian kubaca:

Rahasia.
Tersembunyi rapat.
Pesan samar.
Mengetahui.
Tahu yang paham.
Paham yang mengerti.
Mengerti yang menjalani.
Esoteris.
Nyata berjubah maya.
Maya bergaun nyata.
Manusia.
Cahaya.
Cahaya berlapis-lapis cahaya.
Kanjeng Nabi.
Allah Ta'ala.
Rahasia.

     Aku menangis. Mataku menangis. Mata hatiku menangis. Nuraniku menangis. Jangan tanyakan sebabnya padaku. Aku tak mengerti.
     Apa gerangan ini?
     Sebuah rahasia. Yang ternyata dari sebuah itu ada berlapis-lapis rahasia lain di dalamnya.

     "Tuhanku, apakah ini?" Tanyaku kepada siapa. Kepada satu-satunya siapa. Kepada Yang Maha Siapa.

     Plakk, plakk!
   
    "Bro, bangun!" aku dengar selantun suara. Sambil menahan perih di pipi, aku usap-usap mataku yang entah untuk keberapa kalinya.

    "Apa yang sampeyan lakukan?" Oh, ternyata Si Hati yang aku cari sedari tadi.
    "Loh, memangnya kenapa? apa yang kulakukan?" aku heran.
    "Sampeyan tadi ngelindur."
    "Aku ngelindur?"
    "Ya, sampeyan tadi menari-nari. Awalnya lemah gemulai, tapi semakin lama semakin tak jelas sampeyan sedang memperagakan apa. Entah meniru gerakan orang mengamuk atau malah orang kesurupan."
     "Aku? Menari?"

     Mana mungkin? pikirku. Lalu apa yang aku alami tadi?

     "Mungkin aku hanya lelah. Maafkan aku."

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar