"Lama nggak kelihatan jadi edan kamu?" sapaku. Jujur, aku sedikit rindu dengan sahabatku yang satu ini. Lama dia menghilang, yang entah kalau dari kabar yang beredar katanya sedang bertapa, bersemedi, meditasi, atau apalah itu namanya.
"Samlekum, gimana kabar sampeyan? he he he.." wajahnya tetap cengengesan, semakin geli rasanya.
"Salam macam opo kuwi, nggak usah basa-basi cuk. Sekrup-sekrup di kepalamu sudah mulai rontok rupanya. Kenapa kamu?" tanyaku.
"Alah, apalah arti kata-kata, hubungan kita kan sudah pasca-perkataan. Ini lho, saat sedang berjalan tadi aku kejatuhan sesuatu. Anehnya, aku tidak rasakan sakit sama sekali. Malah perasaanku campur aduk tidak karuan, antara bahagia, ngeri, malu, gabung semua jadi satu."
"Dasar kenthir, kejatuhan kan sakit to ya. Benda apa yang jatuh ke kepalamu?"
Hening sejenak.
Hening sejenak.
"Cinta." jawabnya singkat.
"Hahahaha ealaaah. Tirakat macam apa yang kamu lakukan? Katanya sedang berdiam diri, menjauhkan diri dari hingar bingar, menelusuri sepi, menyelami sunyi. Bisa bisanya.."
"Loh, apa sampeyan tidak pernah mengalami sepi di tengah hingar bingar? mengalami sunyi di tengah keramaian?"
"Ya ya, aku juga sering melakukan tirakat semacam itu. Tapi kok bisa-bisanya kamu malah nyelamur di tengah tirakatmu. Cinta macam apa yang kau alami?"
Si Hati nampak diam sejenak. Wajahnya seperti sedang merangkai-rangkai sesuatu. Lalu tersimpul senyum di bibirnya.
"Aku mencintai yang lain Bro."
"Maksudnya..?"
"Ya aku mencintai hati milik orang lain. Aku jatuh cinta."
"Waaah gawat ini namanya."
"Kok gawat?"
"Ya gawat, bukannya kita sepakat untuk mencintai hanya kepada satu-satunya cinta. Cinta yang menuju abadi. Bisa-bisanya kamu mencintai yang berlainan dengan hal itu. Dasar nggak konsisten kamu. Fokuus, fokuus!" aku toyor jidatnya.
"Bro, apa pernah sampeyan memaksa mencintai sesuatu? Kan cinta itu datang seperti tamu."
"Ya benar, tapi ingat, tamu itu selalu datang dan pergi. Terserah-serah bagi seorang tamu memutuskan kapan dia datang dan kapan dia pergi. Apakah kamu sudah siap ditinggalkan cinta yang datang itu?"
"Sampeyan nggak usah khawatir, aku sudah lama membentengi diri. Akarku sudah kuat. Kejadian semacam itu tidak akan membuatku tumbang."
"Lantas kenapa tidak sejak awal kau bentengi kemungkinan cinta-cinta lain yang datang itu. Bukannya kau malah menunjukkan betapa ringkihnya akarmu?"
"Tidak, tidak. Untuk mengetahui cahaya, kita harus melihat kegelapan, putih akan putih jika bersanding dengan yang hitam."
"Hubungannya?"
"Laa illaha dulu, baru kemudian kita mampu illalLah."
"Karepmu."
Sebenarnya aku kaget dengan jawaban Hati. Ada benarnya juga.
"Jika kamu sudah tahu illalLah yang kamu tuju, untuk apa kamu repot-repot di laa illaha?" tanyaku lagi.
"Kan aku hanya sekedar tahu, untuk mengerti aku harus menjalani, hingga nanti aku benar-benar mengerti dan sadar bahwa hanya ada satu cinta yang sejati."
"Siap-siap patah hati dong.."
"Lhaiya to ya. Aku siap berkali-kali patah hati. Sampai yang patah itu melebur menjadi butiran-butiran kecil. Butiran-butiran itulah cinta sejati. Baru saat itu aku siap mencintai apapun dengan butiran-butiran itu."
"Sak cangkem-cangkemmu lah."
Matahari telah terlelap. Kemudian aku pergi. Aku ambil air. Aku basuh semua yang ada pada diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar