Hmm. Kamu pernah disapa Tuhanmu? Aku pernah. Yup, saat ini Tuhan sedang sayang-sayangnya padaku. Jangan tanya gimana cara Tuhan menyayangimu, dan jangan protes loh ya.
Rasanya? kalau dirasain ya nggak enak hehe. Tapi cobalah menyelam lebih dalam, atau mengangkasa lebih tinggi, terserah, maka akan kamu temukan. Tentram yang tidak sepi, ada suara nyaring yang tak berbunyi. Masih belum mengerti? tidak masalah, karena rasa memang kadang tak bisa dimengerti. Dan memang tak perlu untuk dimengerti. Di situ letak keistimewaan melangkah menuju sejati.
Kalau dihitung sudah 3 kali. Bukan piring cantik yang Tuhan beri, apalagi payung yang meski cantik hanya berguna sesekali. Mungkin karena aku yang kebangetan. Aku rasa memang ada yang salah dengan diriku. Tapi apa? aku tidak tahu.
Apa yang musti ku lakukan? embuh mbuuh. Apapun Tuhan asalkan Kau tidak marah. Berapa kalipun Tuhan asalkan Kau tak bermasam muka. Akan aku kuat-kuati. Akan aku coba syukuri. Akan aku terima tanpa tangis dalam hati.
Seberapapun besar masalah yang menimpa. Sebenarnya tergantung yang ada di hatimu. Seberat apapun, selama manah tansah nrima lan legawa, apa yang kan jadi masalah? Yang tampak di luar sesungguhnya bagian dari dalam dirimu. Kalau cara gampangnya, bumi adalah bagian dari langit. Yang ada di bumi berarti ada di langit. Selama ini kan kau anggap bumi berbeda dengan langit. Bumi ada di dalam langit. Dirimu seluas langit. Dan sesungguhnya masalahmu hanyalah seperti sebutir bumi. Paham? tapi sekali lagi kamu tak perlu untuk paham.
Kalau Tuhan sedang sayang, maka hatimu akan dibikin keropos. Satu-satunya cara ya terus maju. Sampai Tuhan sendiri yang menghampirimu.
Tuhan sedang mengusap-usap rambutku. Tuhan, dengan namaMu aku menerima. Dengan ketidakberdayaan aku melepaskannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar