Rabu, 13 Juli 2016

Cacing(an), Kutu(an), Bajing.....

     He'eh, tulisan ini tentang cacing. Kenapa cacing? Karena saya sedang akrab dengan cacing. Tubuh saya menyusut, dan stamina tubuh saya berkurang drastis. Saya mudah lelah. Akhirnya saya putuskan minum combantrin. Semoga saya bisa berdamai dengan gerombolan cacing perut saya. Saya tidak sedang ngasih testimoni obat loh ya huehue.
     Memang ada yang aneh, baik ibu, bapak, dan kakak saya untuk urusan badan termasuk yang berbobot. Tapi saya kebagian kurus sendiri. Kan rodo wagu. Selain karena memang saya sedikit makan, kayaknya program Keluarga Berencana cacing di perut saya gagal. Jadi makanan yang sedikit tadi jadi rebutan, ealah, empunya perut nggak kebagian. Gusti Allah itu kok ya kepikiran ya naruh cacing di perut manusia. Nggak ada henti-hentinya kekaguman saya.
     Jadi kalau akhir-akhir ini saya banyak makan, bukan berarti saya doyan hehe. Itu hanya bentuk tanggung jawab kepada tubuh saya. Udah dikasih hidup sama Tuhan, eh kok masih nggak tanggung jawab sama tubuh. Tuhan udah ngasih hidup, masa ya kita masih minta dikasih sehat. Kok rasane nranyak.
     Kok obat? Katanya kunci kesehatan adalah pikiran yang sehat? Lha iya emang begitu. Obat cacing hasil dari ijtihad manusia. Zat-zat yang terkandung di dalamnya ya ampuh buat mengatasi cacing. Sebenernya terserah-terserah Tuhan mau menyembuhkan penyakit lewat zat-zat yang terkandung dalam obat, daun, rempah atau bahkan batu sekalipun. Cuman saya doyannya obat. Beneran, saya ngga doyan makan batu. Sebenernya kan yang bagus memang langsung ambil dari alam, tapi manusia juga bisa dan mampu membikin praktis. Kan jadi lebih enak nyarinya. Mosok apotek isinya tumbuh-tumbuhan yo ra lucu.
Tapi, seampuh apapun obat di-klaim, kejujuran pikiran tetap yang paling berpengaruh. Dan meski pikiran kita jujur, pengetok palu kesembuhan ya tetap Gusti Allah. Saya hanya berusaha menyembuhkan memakai cara yang masuk akal. Sisanya lagi-lagi berdoa. Karena hikmah sakit itu ada di proses penyembuhan, keindahannya terletak di situ. Bukan sembuh atau tidaknya kita. Bagaimana kira-kira menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar