Sore hari, karena Si Hati masih dalam pertapaannya, sepilah hariku belakangan ini. Maka kuhampiri Akal yang nampak sedang ketawa-ketiwi di bawah pohon talok.
"Ngapain kamu cekikikan sendirian di situ?" tanyaku.
"Oh, kamu Bro, ini lho ada yang lucu."
"Apa to cuk?"
"Itu, lihat orang-orang di sana sedang berebut sesuatu. Mereka sedang berlomba mengalahkan satu sama lain. Sungguh lucu sekali."
Aku keheranan, "Bukannya itu hal biasa ya? Bukannya kehidupan sudah umum seperti itu? Dulu saat aku sedang berapi-api, aku juga sering ikut kompetisi semacam itu, dan sungguh mengasyikkan. Melihat lawan terjerembab, iri, putus asa, dengki, sungguh sangat puas rasaku. Apalagi melihatku mengangkat piala dan memakai mahkota kemenangan. Lalu perasaan itu mereka pelihara dan tumpuk-tumpuk menjadi dendam. Tapi bagaimanapun, susah mereka mengalahkanku. Jadi nostalgia ini hahaha."
"Lalu, mengapa sekarang kau memutuskan jadi pihak yang kalah?" Akal tak kalah heran.
"Sudah nggak sehat kamu rupanya."
"Mana ada akal yang tidak sehat? Ngaco kamu Bro."
"Aku tidak kalah, aku hanya naik ke tangga pertandingan yang lebih tinggi. Sudah kuputuskan tak lagi ikut belepotan di arena penuh lumpur itu."
"Bagaimana maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, kamu hanya ingin menguji jawabanku kan? sudahlah.."
Akal berjalan maju beberapa langkah, ia sedekapkan tangan dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia berbalik badan kepadaku. Raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Mengapa kau tak kembali ke sana? Bukannya kamu butuh perlombaan semacam itu? Kau punya naluri dangkal yang harus kau penuhi, kau butuh persaingan, kau manja-manjakan perutmu, memperindah tubuhmu, mementerengkan penampilanmu, membangun mercusuar 'religiusitas'mu, menumpuk-numpuk uang di gudang milikmu? men...."
"Cukup!! aku tak lagi tertarik akan hal-hal itu. Jika pun aku tampak melakukan semua hal itu, tak lebih untuk memenuhi kebutuhanku, tanggung jawab kepada pemberi kehidupanku. Sama sekali tak ada secuil ingin-inginku. Aku tak mau lagi merengek untuk yang remeh semacam itu."
"Kenapa begitu? bukannya kamu akan dipandang, bukannya orang-orang akan sibuk padamu?"
"Kullu man 'alaiha faan. Apa yang tidak binasa di kehidupan ini? Aku mengejar kesejatian."
"Raimu Broo.."
"Yo opo, aku tak mau terlambat menyadari saat aku diberi kesempatan menua nanti. Kebanyakan orang-orang sadar ketika mereka semua sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan baru bisa menikmati esensi kehidupan di sedikit usia hidupnya. Sungguh, aku ingin mengunyah kenikmatan itu mulai dari saat ini."
"Oh jadi begitu, lantas apa kamu membenci mereka?"
"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku senang berada di sekitar mereka."
"Agar bisa puas menertawai mereka?"
"Tidak juga, tapi terserah jika mau beranggapan begitu. Jika berada di tengah-tengah mereka, aku selalu tahu mana yang putih, abu-abu, maupun yang hitam. Tapi sebenarnya aku juga mengambil jarak. Jika tidak, mana bisa aku tahu aku sedang melukis yang putih, abu-abu, atau yang hitam itu. Terdengar egois memang. Tapi apa hakku melarang-larang mereka."
"Tapi hangan herlehihan hitu hoamm."
"Ya, aku selalu menjaga porsi dan konteksnya."
"Aku ngantuk, Bro.."
"Bagaimana kamu nggak ngantuk, dari tadi kan kamu hanya berpura-pura bodoh. Bagaimanapun berpura-pura itu melahkan."
"Lha kamu ngapain meladeni kepura-puraanku?"
"Karena bukan hanya kamu yang sedang berpura-pura."
"Hehehehe..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar