Rabu, 27 Juli 2016

Mencari Dewa Ruci

     "Oi Bro! mau kemana sampeyan?" Wajah pekok Si Hati melongok dari balik jendela.
     "Dasar kepo, bukan urusanmu lah." Sedikit geli rasaku. Aku sering sulit menahan tawa jika lama-lama memandang sahabatku yang satu itu. Mungkin Allah sedang iseng sewaktu mencipta bentuk wajah sahabatku itu. Tetapi sayangnya Allah tak mungkin begitu, itu hanya sebatas anggapanku.
     "Sampeyan kok gitu, ayolah, kalau menarik kan aku bisa ikut hehe."
     "Aku hanya ingin berjalan saja. Terserah kau jika mau mengikutiku, aku tak peduli. Itu pun kalau kamu kuat."
     "Bereees, pokoknya beres, aku ikut, sampeyan tenang saja."

     Memang aku akan pergi dari rumah untuk sementara waktu. Ke manakah aku akan melangkah aku juga belum tahu. Aku hanya merasa bahwa harus pergi, harus berjalan. Yep, karena hidup itu bukan persinggahan, hidup adalah perjalanan menuju. Perjalanan menuju apa ya terserah sampeyan sendiri-sendiri.

     Setelah beberapa jam berjalan, si Hati mulai tak sabar dan penasaran.

     "Sebenarnya kita mau ke mana sih Bro?" pertanyaan Hati menghentikan langkahku.
     "Kan aku sudah bilang, aku juga tak tahu. Kenapa? kau kelelahan?"
     "Lelah is for the weak. Aku hanya butuh istirahat sejenak."
     "Lha berarti kamu lelah?"
     "Tidak, aku hanya butuh istirahat."
     "Berarti lelah kan?"
     "No!"
     "Hahaha Yoh karepmu."

     Sahabatku ini memang jarang berjalan jauh. Aku maklumi, karena nalurinya memang cenderung untuk diam. Aku tuntun dia ke sebuah pohon yang cukup rindang.
   
     "Bro, jujurlah padaku, apa sih yang sampeyan cari?" tanya Si Hati.
     "Bukannya sudah jelas dan kau sudah lama tahu. Aku mencari kesejatian."
     "Bukan itu maksudku, apa yang sampeyan cari di perjalanan ini?"
     "Ya kesejatian. Beberapa waktu lalu sebuah sosok muncul di kepalaku. Dia hanya memperkenalkan dirinya sebagai Dewa Ruci. Sungguh, sosoknya bercahaya. Dan hanya sekejap aku langsung jatuh cinta. Dan kuputuskan untuk mencarinya. Aku ingin bertanya tentang banyak hal kepadanya."
     "Apa benar sosok itu ada?"
     "Loh ya jelas ada kan. Kan aku pernah menemuinya sekali di dalam kepalaku."
     "Tapi kan belum tentu benar-benar ada."
     "Karena kau tidak melihat jisimnya, jasadnya, yang kasat mata, maka kau anggap tak ada? Sejak kapan pikiranmu jadi buntu? Jangan sering-sering kau sumbat kepalamu."
     "Tapi kan..."
     "Sahabatku tercinta, hidup itu luas, berapa persen yang kau ketahui dalam kehidupan ini? Berapa persen yang kau mengerti? maka jangan kau tutup kemungkinan-kemungkinan, jangan buru-buru membenarkan apa lagi menyalah-nyalahkan. Maka berjalanlah biar kau tahu seberapa luas kehidupan ini."
     "Ya ya ya."
     "Ayo, kita berjalan lagi."

     Sebenarnya aku juga tidak begitu mengenal siapa Dewa Ruci. Dewa Ruci di dunia pewayangan adalah sesosok yang dicari-cari oleh Bhima, anggota Pandhawa. Terkisah dalam Serat Dewa Ruci atau apa namanya aku sendiri lupa, yang jelas babad itu ditulis oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Diambil dari kisah Nawa Ruci yang disesuaikan dengan ajaran tauhid islam yang memang disebarkan pada masa itu. Karena sosok yang aku jumpai memperkenalkan diri sebagai Dewa Ruci, maka aku wajibkan diriku sendiri untuk mencari. Maka kucari.

     "Bro, apa sampeyan yakin bisa bertemu dengan beliau?"
     "Ah kau cerewet sekali, jangan buat aku mengusirmu. Kau diam saja, kau cukup menyaksikan."
     "Mana bisa sampeyan mengusirku, kita ini kan tunggal. Aku ada maka sampeyan ada, kalau aku tidak ada ya sampeyan nggak ada."
     "Oke, oke, cukup, aku juga paham. Tentang keyakinanku? Boleh saja kan aku meyakini sesuatu. Toh tak ada yang bisa melarangku. Aku pede saja dengan diriku."
     "Diri sampeyan yang mana? kan ada beribu-ribu diri pada diri sampeyan?"
     "Yang mana saja."
     "Termasuk diri api dan segala diri keburukan pada dirimu?"
     "Ya, yang mana saja. Yang beribu-ribu itu sesungguhnya tunggal. Yang tunggal itu adalah anasir Ilahi. Itu yang aku yakini. Seperti yang kau bilang tadi, kita ini tunggal. Kau adalah diriku dan diriku juga dirimu."
     "Mbuh, mbuuh.."


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar