Senin, 18 Juli 2016

Musuh sejati, rival abadi, pertandingan hakiki

     Sekarang menurut sampeyan, siapa musuh terbesar dalam hidupmu? tentu kita akan mendapatkan jawaban berbeda minimal beberapa ratus macam jawaban dari ribuan responden. Kalau tidak percaya coba di-survei saja. Kalau saya sih sudah melakukan survei, cuma hanya sebatas responden-responden di alam pikiran saya. Baiklah, coba kita mundur sedikit ke belakang. Bagaimana cara kita mengidentifikasi musuh kita? Perlukah kita mengenal musuh kita? Perlukah kita meladeni apa yang kita anggap musuh itu? Apakah penting kita mengalahkan musuh itu? Apakah, apakah, apakah.. (akan panjang jika diteruskan)
     Lagi, seberapa besar ruang lingkup pertandingan kita itu? Maksudnya begini, seorang petinju bertanding dibatasi ring tinju. Pebalap motor bertanding dibatasi lintasan sirkuit. Sedangkan di wilayah apa sampeyan menghadapi musuhmu?
     Saya tawarkan satu pintu. Pintu menuju ruang pertandingan agung. Menghadapi satu-satunya musuh abadimu. Musuh yang satu ini tidak membencimu sama sekali. Dan mungkin juga tidak punya maksud mengalahkanmu. Menurut sampeyan siapa dia? Bukan, bukan setan. Tapi suatu saat mungkin juga berproduk melahirkan setan.
     Dirimu.
     Hanya dia yang pantas kau sebut musuh. Secerdik-cerdik kamu, selicik-licik kau meng-akali, seluas-luas pengetahuanmu, sedalam-dalam ilmumu, dia akan tetap jadi musuh yang setara denganmu. Ya karena musuhmu adalah dirimu sendiri. Sampeyan bertanding di kosmik milikmu sendiri. Wilayah ini sempit, tak lebih dari sekitaran badanmu, namun sekaligus luas, karena cakrawala dalam dirimu terhampar hampir tanpa batas.
     Tetapi, apakah musuh itu harus kita kalahkan? Ya sumangga kersa. Jika kau menang, dia tak lantas hilang. Lha terus apa poin pertandingannya? Siapa yang kalah, dialah yang takluk. Maka yang menang berhak menggendalikan. Karena dirimu yang lain itu menggebu-gebu. Dia jelmaan api. Tetapi sampeyan juga harus hati-hati. Siapa tahu selama ini dirimu yang ini (bukan yang itu) ada di posisi siluman api.
     Maka merenunglah, identifikasi-lah. Harus sampeyan pilah. Mana dirimu yang akan memimpin keseluruhanmu. Karena jumlah dirimu ada beribu-ribu. Carilah mana yang benar-benar dirimu  Lalu siapkan segala sesuatu untuk bertarung sepanjang hidupmu. Jadilah pengendali atas dirimu sendiri, menyalalah, tapi jangan membakar, mengalirlah, tapi jangan jadi air yang membanjiri.
     Jadilah nyala yang mengendalikan api, jadilah aliran yang mengatur air. Khalifahilah dirimu sendiri sebelum kau khalifahi yang lain-lain.
     Mumet? saya juga hehehe.
   
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar