Minggu, 17 Juli 2016

Dialog tuan rumah

     "Oi hati, kenapa sih kamu diam saja, lagakmu berlebihan, gayamu pertapa." Aku protes. "Bro, aku diam bukan berarti menganggur, aku hanya bersiap-siap, aku kosongkan ruang, barangkali nanti ada yang mau menempati." jawab hati dengan santai. "Ah sok kamu!" sahutku sengit.
     "Bro, sampeyan itu santai sajalah, tugas sampeyan hanya melihat, tanpa tahu kapan memejam, hanya mendengar, tanpa perlu menutup pendengaran, nanti tugas saya lah yang menampung, jadi sampeyan nggak usah ribut." si hati mulai kesal. "Ngomong apasih kamu?" aku juga tak kalah kesal.
     Kemudian mereka hanya saling diam, kedua-duanya malas dengan tabiat satu sama lain. "Sudah, sudah, mbok ya kalian yang santai to, jangan menarik urat satu sama lain." ternyata akal datang dan nimbrung. "Ah kamu lagi, tumben kamu jadi sok bijak, ada mau apa kamu?" aku pelototi akal yang tiba-tiba datang. "Aku sama sekali tak pernah punya kemauan, aku hanya memberi batas-batas, aku hanya mengatur. Kemarilah kalian, kita jagongan di sini dulu." ujar si akal.
    Dengan malas aku menghampiri si akal. Tapi si hati tetap tak bergeming di tempatmya. "Oi, sudahlah akting pertapanya, aku tau busuk-busukmu, kemarilah, kita ladeni ini akal maunya apa." ucapanku agak bernada tinggi. "Ya, ya,ya.." tukas si hati.
    "Hei kalian berdua, sudahlah, kenapa sih kalian ribut terus? apalagi kamu Bro, bukannya kita masing-masing sudah mengerti posisi satu sama lain. Kenapa kamu masih uring-uringan?" tanya si akal. "Ya gimana, itu si hati nggak becus sama sekali."jawabku singkat. "Apa maksudmu nggak becus?" sahut si hati. "Asu kalian, dinginkan kepala kalian dulu baru berbicara." si akal mulai naik pitam.
     "Begini, selama ini aku pontang-panting kesana kemari, berjalan kesana-sini, aku berusaha mencapai sesuatu, aku serap semua sumber yang tersedia, begitu aku pasrahkan ke hati, eh malah dia kosongkan dia buang semua, setan alas, kurang ajar." umpatku.
     "Akulah yang menyuruh hati membuang hal-hal itu." jawab si akal dengan sedikit tawa. "Apa ada yang lucu? bagian mana ha? kau pikir aku tidak punya batas lelah apa?" aku mulai hilang kesabaran. "Bro, kamu jangan berbicara tentang batas-batas kepadaku, aku yang paling mengerti tentang hal itu." masih tersisa sedikit senyum di wajah si akal. "Si hati diam karena dia memang bertapa, dia memperlambat masa waktu, meregangkan simpul-simpul dimensi, dan dari situlah aku tahu, akan ada yang mendatangi kita. Maka aku suruh ia kosongkan ruang-ruang." si akal menerangkan.
     "Memang, siapa yang akan datang?" aku mulai penasaran. "Bro, tugas kita hanya mempersiapkan, sebagai tuan rumah yang baik ya kita siap-siap saja. Masalah ruang yang sekarang kosong, kita sama sekali tak punya sesuatu yang pantas untuk disuguhkan kapada calon tamu. Yang kita punya hanya keridhaan menerima." hati tak tahan ingin ikut menjelaskan.
     "Kalian ini sungguh tidak jelas, omongan kalian ngawur!" aku bentak mereka berdua. Si akal menegakkan tubuhnya lalu berbicara, "Terserah mau bagaimana kamu mengejawantahkannya di dalam kepalamu, pokoknya aku dan hati menjalankan apa yang jadi tugas kami. Mengenai kelakuanmu, ya terserah-terserah kamu, nanti kamu juga yang repot sendiri."
     "Baiklah begini saja, dalam waktu dekat ini akan aku ikuti kata-kata kalian, tapi ingat, aku juga berhak menentukan kapan untuk berhenti." kataku.
     "Eeealah Bro, Bro, watakmu itu lho kayak batu akik. Uuuatos!" Si hati berdiri bersiap-siap pergi. Mungkin kembali ke pertapaannya. Pandangan si akal pun berlari ke awang-awang. Aku membaringkan badan lalu kuputuskan memejamkan mataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar