Jumat, 18 November 2016

Ngerokok udud, ngudud rokok...

     Seusai menyantap hidangan suguhan dari Mas Bait, ternyata malam telah memuncak. Sejak dari tadi Mas Bait minta izin untuk keluar rumah sebentar. "Mau menengok tembakau", katanya. Dan dari situ aku tahu, Mas Bait adalah seorang petani tembakau. Memang biasanya pada tengah malam begini para petani tembakau menjereng rajangan tembakau di luar, diangin-anginkan dan dibiarkan terpapar udara dingin malam hingga dini hari. Alasannya agar rajangan tembakau menjadi lembab sehingga tidak kering dan sepa ketika sudah dilinting menjadi rokok kretek.

     Masalah baik atau tidaknya rokok, nanti dulu. Aku tidak punya hak judging apakah rokok itu baik atau tidak. Soalnya aku sendiri adalah Atlet Rokok. Maka ketika kubilang merokok itu baik, orang-orang tidak ada yang akan percaya. Begini saja, sebaiknya kita mengubah sudut pandang agar perdebatan rokok yang selama ini nyaris tidak menjumpai titik temu menjadi sedikit lerem atau mereda.

     Yang aku pahami, benar-salah, baik-buruk, ya atau tidak, bukan terletak pada barangnya, tapi pada cara, sudut, titik, dan jarak pandang kita. Itu pun masih belum cukup, karena setiap orang mempunyai persepsi dan presisinya sendiri-sendiri. Jadi sesungguhnya perdebatan semacam itu akan menjadi batal dan tidak pernah benar-benar ada. Pernah juga aku tulis pernyataan bahwa: perdebatan akan sah jika pihak-pihaknya sama-sama berangkat dari nol, ketidakberpihakan, walaupun pada mulanya yang berdebat adalah pihak yang sedang berlawanan.

     Lagi pula, fenomena rokok ini sudah tidak lagi tentang sehat atau tidak sehat. Jika kita mau mencari sejarah rokok kretek, maka akan ketahuan, apa dan siapa serta alasan dibalik pertentangan-pertentangan itu. Polanya mirip dengan penghancuran pertanian olive oil di Nusantara pada masa lampau. Aku hanya merasa kasihan dan tidak tega kepada tumbuhan tembakau, apalagi kepada petaninya. Yang membikin Tembakau itu ya Tuhan sendiri, maka jika kau membenci tembakau, berhati-hatilah, bisa-bisa Sang Pencipta Tembakau tersinggung. Lagian, mbok ya kalau berdebat itu tahu posisi, tahu patrap, tahu empan papan. Petani tembakau itu para kawulo alit, kalau mau 'menyadarkan' para petani ya mohon dicari solusinya dulu, jangan asal mbabat suket tapi kambing pun ternyata belum punya.

     "Dul.." aku memanggil Hati.
     "Dal dul gundhumu," si Hati sewot, "ada apa?"
     "Coba lihat ini," aku menyodorkan bungkus rokok pemberian Mas Bait kepada Hati.
     "Kenapa bungkus rokok ini?" Hati membolak-balik bungkus rokok itu.
     "Merasa ada yang aneh tidak?"
     "Hmm..bungkus rokok biasa, cuman agak enteng karena sampeyan udud nyepur daritadi." tawa hati karena memang isi bungkus rokok itu hanya tinggal separuh.
     "Coba kamu lihat tanggal pembuatannya."
     "Woh!" Hati pura-pura kaget, "tanggal sekian, memang kenapa?"
     "Kamu tahu kan kalau itu hari ini?"
     "Wah, saya sudah sejak lama melupakan tanggal, lagian tidak penting penanda waktu semacam itu, karena saya tidak mau terpenjara oleh batas-batas waktu. Saya dan sampeyan kan mencari keabadian."
     "Lambemu duuul dul. Kita tidak sedang membahas itu. Apa kamu nggak ngerasa aneh? Sebelum masuk ke belantara ini, kita berjalan selama 2 hari dan hanya semak belukar yang kita jumpai. Lalu, dari mana Mas Bait mendatangkan rokok ini?" tanyaku keheranan.
     "Lho, lho, lho... kok sampeyan tanyanya ke saya? pertanyaan salah alamat."

     Sejenak aku terdiam.

     "Apa Mas Bait itu punya ilmu linuwih ya? semacam sakti atau menguasai klenik"
     "Gawaat, gawaaat," Hati menepuk jidatnya, "loh sampeyan ini ngobrol dengan Mas Bait panjang lebar sejak tadi itu masih ndak sadar juga tho? kalau saya sih sejak memandang beliau pertama kali langsung tahu."
     "Tahu apa?"
     "Tahu kalau akan disuguhi makanan." jawab Hati cengengesan.
     "Lha saya sudah sejak awal curiga Mas Bait bukan orang sembarangan, tapi sekarang saya benar-benar yakin."
     "Ya sudahlah" ujar Hati, "sampeyan ini kayak ndak pernah mengalami hal-hal ndak wajar semacam itu. Setelah perjalanan panjang kita, seharusnya sampeyan tidak kagetan, tidak gumunan, tidak jirih. Lha wong kuasa Allah itu sangat besar dan luas, hal-hal semacam itu sepele di tangan Allah." Si Hati malah menasihatiku.
     "Aku tidak merasa kaget, apalagi takut. Justru aku gembira, karena aku akan menyadari betapa kecilnya aku di tangan Allah, betapa aku tidak berdaya karena Sulthon Allah yang ditampakkan begitu jelas di hadapanku. Betapa aku menyerah kalah di hadapan Allah."
     "Tapi ingat,"

     Hati mengacungkan tangannya ke arahku,

     "jangan pernah sampeyan menganggap Mas Bait itu yang sakti. Karena saya teramat yakin, Mas Bait juga tidak akan sudi jika kita takdzim kepadanya karena hal-hal ajaib yang terjadi pada kita. Sebab, Mas Bait begitu dekat dan teramat cinta kepada Tuhannya. Sehingga hal ajaib semacam ini di luar kesadaran beliau. Karena beliau selalu sibuk bermesraan dengan Tuhannya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah."

     "Kalau itu aku juga paham..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar