Aku dan Hati naik ke atas dipan. Kami bertiga duduk melingkar, jika dilihat dalam termin sudut, posisi kami membentuk bangunan segitiga, tapi aku lebih suka jika menyebutnya melingkar, karena tiga sudut ini sesungguhnya bagian dari garis pada sebuah lingkaran. Lingkaran adalah segi tak terbatas. Tak terbatas karena lingkaran adalah batasan itu sendiri. Sesungguhnya, kalau kita hayati lebih dalam, batasan-batasan adalah rukun kehidupan. Sekali lagi, jika kita hayati lebih dalam.
"Terima kasih Mas," kataku, "Mas mau menjamu kami, padahal Mas nggak kenal siapa kami. Apakah Mas ndak takut jika sebenarnya kami ini orang jahat?"
"Wah, njenengan ini lucu. Mana ada orang jahat yang mau jalan-jalan ke tengah belantara seperti ini? Tempat orang jahat bukan di sini, di sini hanya ada kesunyian, dan itu yang panjenengan berdua cari, bukan? Jalan kesunyian yang agung yang kejahatan seringkali menghindarinya."
Aku menggaruk-garuk kepala dan merasa sedikit malu. Tuan Rumah ini pikirannya sungguh tajam. Tetapi aku bertanya-tanya, apa yang beliau lakukan di tengah belantara seperti ini? Apa yang beliau cari? Dan sejak kapan beliau di sini?
"Maaf, kalau saya boleh tau, Mas ini siapa?" tanyaku.
"Saya bukan siapa-siapa, tetapi njenengan boleh memanggil saya..." kalimat beliau berjeda, "Bait... ya, panggil saya Bait." nada bicara beliau mengisyaratkan bahwa Bait bukan nama yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau mempermasalahkannya lebih jauh akan hal itu.
"Sekali lagi terima kasih Mas Bait, di samping ini sahabat saya, namanya Hati, kalau nama saya..."
"Sudah, cukup!" Mas Bait memotong perkenalanku, "biarlah saya tidak mengetahui nama njenengan, Dik, hal itu lebih baik untuk kita, terutama saya. Supaya perjumpaan kita tidak terjebak pada batas nama-nama. Supaya saya tercegah dari mengharapkan sesuatu dari panjenengan."
Sungguh aneh. Bukannya tadi beliau sendiri yang menyebut nama kepada kami? namun sekarang malah beliau melarangku menyebutkan namaku. Tapi tak apa lah, yang satu ini juga tidak akan aku permasalahkan lebih jauh.
"Monggo, ini ada Wedang Secang," tebakanku mengenai isi ceret itu salah. Mas Bait menuangkan minuman ke gelas kami, "sudah lama saya tidak menjamu tamu seperti ini. Itu juga ada rokok kesukaan panjenengan, silahkan diudud."
Bagaimana Mas Bait tahu rokok kesukaanku? aneh, aneh, aneh. Kebetulan rokokku habis, aku nyalakan sebatang rokok sambil memandangi sekeliling. Ternyata pandanganku dari luar tadi tidak salah. Lampu! aku memandang lampu! Lalu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau.
"Bait, berarti rumah," pandanganku tajam ke mripat beliau, "nama yang Mas pilih bukan nama yang wajar."
"Pikiran sampeyan runcing," kata beliau, kalimat yang sesungguhnya lebih pantas ditujukan pada beliau sendiri, "saya adalah rumah dari diri saya sendiri, sedangkan siapa tuan rumahnya tentu panjenengan juga sudah paham dan mengerti."
"Tuhan," jawabku pendek, "dan Kanjeng Nabi ajudannya."
"Jika benar begitu, lalu di mana letak njenengan pada rumah itu? Tentu rumah ada bagian-bagiannya, ada fungsinya, dan ada tata letaknya. Njenengan mengerti kan maksud saya?"
"Masih belum paham, Mas." jawabku.
"Begini, di dalam rumah tentu ada dinding, ada pintu, kemudian ada jendelanya, lantainya, atapnya, dan terutama kerangka penopang dan fondasinya. Nah, diri sampeyan terletak di mana?"
Aku melirik ke arah Hati, ternyata dia juga terdiam dan tampak sedang berpikir.
"Keseluruhannya, mungkin?" aku menjawab sekenanya.
"Baiklah, jawaban njenengan masuk akal." kata Mas Bait sambil mengangguk-anggukkan kepala, "tetapi coba njenengan jawab, jika saya menyebut pintu, apakah itu bagian dari diri njenengan?"
"Ya... " jawabku singkat.
"Lalu, jika saya menyebut serat-serat kayu adalah bagian dari pintu, berarti itu juga bagian dari njenengan?"
"Leres, Mas.."
"Lalu, jika saya menyebut unsur-unsur pembentuk serat-serat kayu, apakah itu juga bagian dari diri panjenengan?"
"Betul."
"Dan jika saya menyebutkan yang lebih kecil hingga lebih kecil lagi berupa senyawa dan atom-atom, dan mungkin lebih kecil lagi berupa quark yang sementara ini manusia hanya mampu meneliti sejauh itu, apakah itu bagian dari diri panjenengan juga?"
"Benar sekali, Mas. Pengetahuan Mas sungguh luas, sebenarnya Mas ini siapa?"
"Berarti," Mas Bait meneruskan bicaranya dan tidak menghiraukan pertanyaanku, "bukankah tembok, lantai, genteng, dan lainnya juga disusun dari hal yang sama, sebutlah, quark itu tadi?"
"Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Mas Bait."
"Bolehlah saya mengarang-ngarang bahwa alam semesta ini terdiri dari bahan yang sama, bumi, langit, semuanya. Jika memang begitu, bukannya menjadi batal pernyataan njenengan tadi?"
"Pernyataan saya yang mana, Mas?"
"Jika diri njenengan adalah kesuluruhan dari rumah."
"Bisa benar, bisa juga salah, Mas."
"Maksudnya bagaimana?"
Aku berhenti sejenak, menyeruput Wedang Secang yang terasa begitu hangat di kerongkongan. Terasa sangat pas karena dingin udara akibat hujan di luar yang masih deras.
Aku menyalakan lagi sebatang rokok karena pembicaraan kami ternyata serius. Dan merokok adalah tanda jika aku sedang serius melakukan sesuatu.
"Begini Mas, jika rumah tadi adalah badan saya, maka akan salah jika saya menyebut itu diri sejati saya. Hal itu sekedar batas kesadaran saya, daerah otonomi saya. Wajah dan jiwa, tubuh dan ruh, dan dikotomi-dikotomi lain yang ada pada saya, adalah pinjaman dari Tuhan untuk syarat hidup di dunia, yang tujuan sejatinya adalah pemilik dari kesuluruhan itu, yaitu Tuhan Sang Khalik. Jika saya ada pada kesadaran itu, berarti pernyataan saya menjadi benar."
"Jawaban yang bagus!" Mas Bait tertawa gembira dan bertepuk tangan.
Aku malah keheranan, ternyata Mas Bait juga bisa meledak-ledak ekspresinya.
"Mari kita kerucutkan," kata Mas Bait, "seberapa besar kewenangan sampeyan dalam kesadaran berupa diri tadi?"
"Hampir mendekati nol, Mas."
"Berarti apakah njenengan ini benar-benar ada?"
"Tergantung dari sudut pandangnya. Jika dari sudut pandang materi, ya. Tetapi dari sudut pandang kesadaran tadi, tidak. Jangankan saya sadar siapa saya, mengenal diri saya sendiri pun saya tidak mampu. Dan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan saya tadi justru membuat saya yakin."
"Yakin mengenai apa?"
"Yakin tentang siapa, apa, di mana, dan bagaimana diri saya."
"Bersyukurlah, Dik." Mas Bait menepuk-nepuk bahuku. "bersyukurlah kepada Allah yang lebih mengenal siapa dirimu melebihi dirimu sendiri dan memperjalankanmu hingga ke titik ini. Dan nanti, ketika Allah bermurah hati membuka sedikit rahasianya kepadamu, bergembiralah."
Aku membalas ucapan Mas Bait dengan senyuman. Sungguh aneh perjumpaan kami. Seakan-akan beliau adalah Dewa Ruci yang pernah aku temui. Tetapi siapapun beliau yang terpenting adalah isi dari ucapan-ucapannya. Undzur maa qoola, wa laa tandzur man qoola, begitu Sayyidina Ali pernah berkata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar