Senin, 19 September 2016

Terbaliknya gagang pedang

     Masih ada sisa kesedihan di dalam dadaku. Sahabatku Hati mengetahuinya. Dia lebih banyak menutup mulutnya. Entah. Mungkin kegaduhan di dalam diriku menular kepadanya. Beginilah kami, karena kejujuran memang kebanyakan pahit. Tetapi tak pernah kami halang-halangi, kami buka sebloko-blokonya.

     "Kenapa ya, rata-rata orang sibuk menebas-nebas dengan pedang yang dimilikinya, tapi mereka ndak kunjung sadar  jika sedang melukai tangannya sendiri.", lirih Hati berkata dengan kepala menengadah ke atas dan menyandarkan tangannya ke belakang,
     "Kamu itu lho, sedari tadi diam, sekalinya berkata, ee yang keluar retorika. Itu maksudnya bagaimana?"
     "Maksud saya, pedang kita ibaratkan ketajaman pikiran. Dan manusia selalu asyik menebas saling bertanding di sana-sini. Mereka asyik masyuk sibuk mempertandingkan masa depannya. Padahal, selama ini pegangan pedang mereka terbalik!"
   
     Meledak tawa Si Hati.

     "Orang-orang kuwalik memegang pedang pada mata pedangnya, akibatnya tangan mereka sendiri yang ambyar, dan dengan susah payah mereka memungut pedang yang terjatuh karena saking mantapnya genggaman mereka sehingga malah sering lusut." Hati meneruskan.
     "Ya memang begitu", aku setuju dengan pendapat sahabatku, "jaman ini adalah ajang pertarungan logika. Yang membuat kita sering merasa sedih adalah tajamnya pikiran mereka hanya mentok kepada yang bisa mereka raba dan lihat, hal wadak atau kasat mata. Tetapi, peristiwa ini perlu dilihat runut kejadiannya."
     "Memangnya dulu bagaimana?" Hati bertanya.
     "Sebentar, nanti aku jelaskan. Kita mesti lihat dulu akar masalahnya."
     "Di mana akarnya, dan jenis pohon apa yang mereka tumbuh di dalamnya?"
     "Akar mereka adalah panca indera. Mereka menjadi tumbuhan raksasa, pohon angkuh yang sering rubuh oleh angin kecil yang membelainya. Tetapi di dalam tumbuhan itu tidak terjadi proses dinamis pengolahan nutrisi. Pembuluhnya tersumbat, daging kayunya keropos, kayunya gapuk. Jika ibarat anak kecil, ia sedang menumpuk-numpuk mainan Lego, kemudian roboh karena tak tahu bahwa konstruksi yang dibangun miring, tak seimbang, lalu jatuh karena hukum gravitasi yang telah Tuhan tetapkan."
   
     Hati senyam-senyum mendengar perkataanku.

     Kemudian aku meneruskan, "Dahulu, simbah-simbah kita menghuni peradaban yang lembut, mereka adalah orang-orang baik yang tawadhu. Perasaan adalah yang utama, sehingga itulah yang selalu mereka jaga. Tetapi, karena mungkin telah terlalu nyaman, mereka menjadi tak mau belajar. Nenek moyang kita lupa, jika yang baik tentulah harus benar."
     "Terus, terus?"
     "Maka ada yang berinisiatif membangun sistem pendidikan akademis untuk melatih logika mereka, agar mereka menjadi pedang seutuhnya. Ya mantap pegangannya, ya tajam mata pedangnya," aku mengambil nafas, "dan hal itu berhasil."
     "Lha, lalu di mana letak kekeliruannya?"
     "Kekeliruannya bertempat di generasi setelahnya. Orang-orang tua yang sedang bergembira karena sekarang mereka semakin pandai, lantas dengan sangat bersemangat mendidik anaknya sedari kecil dengan logika-logika. Mereka malah lupa mendidik perihal rasa kepada anak-anaknya. Mereka juga lupa, yang benar juga kan harus baik. Pikiran juga harus diimbangi dengan perasaan."
     "O ngono, pantas saja yang akrab di telinga saya adalah 'olah raga', nggak ada yang tertarik lagi dengan 'olah rasa'."
     "Ya, seperti itulah. Lalu anak-anak kecil yang pandai itu beranjak dewasa, tapi modalnya hanya otak di kepala. Mereka hanya benar, tetapi belum menjadi generasi yang baik karena keteledoran didikan orang tua mereka. Mereka tahunya logika, dan yang membikin jadi makin parah, pikiran mereka jadikan alat untuk meraih ego kepuasan diri dan dengan tak berperasaan menginjak-injak hidup orang lain."
     "Subhanallah.. Hanya milikMu kesucian, sesungguhnya kami ini kotor oleh pikiran-pikiran kami sendiri." kalimat thoyyibah yang terdengar wagu karena keluar dari mulut Si Hati, "astaghfirullah.. ampun Tuhan, hanya ampunan dan kasih sayangMu yang mampu membenahi kerusakan ini."
   
     Aku malah terdiam karena ucapan sahabatku hati. Begitu rumitnya jalan menuju Tuhan, Begitu manusia bodoh karena mau menjadi khalifah atau pengganti Tuhan di muka bumi. Pengganti macam apa yang malah dengan rakus melahap bumi yang dititipkan kepadanya?
     Manusia berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu, apa yang kita wakili itu butuh kemegahan? Apa yang kita wakili itu butuh hal-hal fisik serta kepuasan yang kita selalu cari?
     Jika Tuhan tidak membutuhkan itu semua, dan menurut saya pasti Tuhan tidak memerlukan hal itu dari kita, lalu kita ini mewakili siapa?
   
     "Ada satu lagi." kata Hati.
     "Apa itu?"
     "Jika pikiran adalah mata pedang, hati nurani adalah gagangnya, lalu apa yang menjadi sarungnya?" Hati serius bertanya.
     "Entahlah" jawabku, "mungkin kita tidak membutuhkan sarung pedang, tetapi bisa juga jadi butuh. Karena pedang yang disarungkan sebisa mungkin jangan sampai digunakan. Sebab jika tidak hati-hati, pedang hanya akan melukai."
     "Jika tidak digunakan, untuk apa matanya harus kita poles, gagangnya harus sering dibersihkan?"
     "Agar kitalah yang menjadi pedang itu sendiri. Maka simpanlah pedangmu. Jika pada dunia persilatan, orang paling sakti adalah mereka petarung tangan kosong. Mereka tak memerlukan senjata, karena dirinyalah senjata itu."
     "Oh, jadi itu yang dimaksud pendekar kehidupan."
     "Engkau benar Kisanak, pendekar kehidupan."

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar